
"Hoek!"
Lena yang sedang asyik membaca chat konyol teman-temannya, tiba-tiba kaget mendengar suara dari orang yang duduk disampingnya. Belum juga sampai setengah perjalanan, ibunya sudah muntah-muntah.
"Ayah... Ibu muntah." panik Lena memanggil ayahnya.
"Aduh, ayah lupa bawa kantong plastik." panik Pak Hadi yang duduk disamping supir.
Si supir jadi ikut-ikutan panik. Dikasihnya kantong plastik kekursi belakang. Takut-takut penumpangnya muntah sembarangan, maka dia akan repot membersihkan mobilnya nanti.
Bu Mila memang tidak suka naik mobil karena mabuk perjalanannya. Dulu, waktu hidup mereka masih nyaman dan memiliki mobil, Bu Mila malah lebih memilih naik ojek kalau ada keperluan diluar rumah.
Terkadang Pak Hadi suka kecewa, dirinya tak bisa sering-sering mengajak istrinya jalan-jalan berdua. Karena istrinya menolak naik mobil mereka. Tapi, tenang. Pak Hadi masih tetap setia.
"Aduh, bu... Kalau begini terus, ibu nggak akan bisa naik mobil mewah." sungut Lena.
Bu Mila sudah duduk bersandar. Walaupun masih puyeng, tapi dirinya masih bisa mencubit manja Lena.
"Ayah, kita batalin aja datang keacaranya. Lihat tuh ibu." bujuk Lena melihat kondisi ibunya yang tidak memungkinkan.
"Nggak bisa. Kita sudah ditunggu." tolak Pak Hadi.
"Memangnya acara apa sih, yah?" tanya Lena curiga.
"Y-ya... Ada deh." jawab Pak Hadi kelabakan. Dirinya langsung diam, takut-takut kalau dirinya keceplosan. Lena yang melihat tingkah ayahnya, mulai berfirasat tak enak.
Ting!
Tiba-tiba lampu merah menyala, taksi mereka pun berhenti.
"Hoek." Bu Mila mulai muntah lagi.
Wahai lampu merah, cepat bergantilah.
...***...
__ADS_1
Lena dan orangtuanya sudah sampai ke tempat tujuan mereka. Sementara Pak Hadi membayar ongkos taksi, Bu Mila lebih dulu turun dari mobil dengan sempoyongan disusul oleh Lena.
Lena kaget melihat tempat tujuan mereka. Ternyata acara yang mereka datangi berada di restoran cukup mewah yang begitu dikenalnya. Lena berdiri mematung memandang restoran yang ada didepannya.
Dulu, saat ayah Lena dapat bonus dari kantor, restoran ini adalah tempat makan favorit Lena dan orangtuanya. Makanannya enak dan pelayanannya juga sangat istimewa. Sudah lama mereka tidak menginjakkan kaki ke tempat ini lagi, semenjak ayahnya mengalami kecelakaan parah dan segalanya langsung berubah.
"Tapi, kok biasa-biasa aja? Kalau ada acara, pastinya meriah dan banyak tamu yang datang kan?" batin Lena bingung sambil melihat kesekitarnya.
"Loh, kok malah diam?" tiba-tiba Pak Hadi mengagetkan Lena yang sedang dilanda kebingungan.
"Masih ingat kan? Ini restoran favorit kita dulu."
Lena mengangguk mengiyakan.
"Tahu nggak, Len. Ternyata restoran ini milik Pak Ibrahim, loh." celetuk Pak Hadi tiba-tiba.
"Oh... " jawab Lena seadanya. Padahal dalam hatinya kaget juga. Tapi, ketika mendengar nama Pak Ibrahim, perasaanya mulai tak enak.
Bu Mila mencubit tangan suaminya, tapi Lena tak melihatnya.
Mereka berjalan beriringan memasuki halaman restoran. Tanpa sadar, Lena memperhatikan ayahnya yang berjalan tertatih-tatih bersangga pada tongkatnya.
Ayahnya merupakan korban tabrak lari orang tak dikenal. Dan menyebabkan ayahnya mengalami kelumpuhan permanen pada kaki kanannya. Sayangnya, kasus tersebut tidak diusut tuntas karena tak adanya bukti dan saksi mata saat kecelakaan terjadi. Ayahnya hanya bisa mengikhlaskan keadaan yang sudah menjadi takdirnya.
Semenjak kecelakaan itu, kehidupan yang dulunya nyaman dan segala kebutuhan bisa terpenuhi, seketika berubah drastis. Karena keterbatasan fisiknya, ayahnya harus kehilangan pekerjaan. Jangankan bisa makan direstoran lagi, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka harus bisa berhemat.
Saat asyik dengan pikirannya, tiba-tiba mata Lena menangkap salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari halaman restoran tersebut. Lena merasa tak asing dengan mobil itu. Lena ingat. Mobil itu milik Pak Ibrahim.
"Itu mobil Pak Ibrahim kan?" tanya Lena menghentikan langkahnya. Sontak Pak Hadi dan Bu Mila menoleh menatap Lena dengan perasaan khawatir.
"Apa jangan-jangan Pak Ibrahim ada disini juga? Apa maksudnya ini?" tanya Lena emosi.
"Lena, tenang nak. Jangan marah-marah begitu." Bu Mila mencoba menenangkan putrinya.
"Pantas saja, ayah dan ibu nggak bilang apa-apa tujuan datang kesini. Ini pasti tentang perjodohan itu kan? Lena kan sudah bilang, Lena nggak mau dijodohin." suara Lena bergetar, wajahnya terlihat hampir menangis.
__ADS_1
"Maafkan ayah, Len. Ayah terpaksa. Pak Ibrahim sangat menginginkan perjodohan ini. Ayah tak bisa berbuat apa-apa, karena beliau atasan ayah. Apalagi beliau sudah banyak berjasa menolong kita selama ini. Beliau inginnya kamu yang menikah dengan anaknya. Dan katanya, anaknya sudah pulang dari luar negeri. Jadi, beliau ingin cepat-cepat menikahkan kalian." ucap Pak Hadi dengan hati-hati.
Karena tak ada jawaban, Pak Hadi mendekati Lena. Dengan suara yang merendah, dipegangnya pundak putrinya.
"Lena, ayah harap kamu mengerti. Kita harus membalas budi pada beliau."
PLAK!
Lena menghempaskan kasar tangan ayahnya yang memegang pundaknya. Lalu berlari meninggalkan orangtuanya yang hanya bisa berteriak memanggil-manggil namanya.
Lena menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Mencurahkan air mata dan segala kesedihannya bersama dengan laju taksi yang tak tahu entah kemana arah tujuannya.
...***...
Semenjak kecelakaan itu, hidup mereka begitu terpuruk. Untuk kehidupan sehari-hari saja susah, ditambah lagi Lena yang ingin masuk kuliah dan segala tuntutan Lena yang membuat beban semakin bertambah. Tak ada seorang pun yang mau menerima Pak Hadi bekerja, karena melihat kondisi fisiknya yang tak sempurna.
Terombang-ambing dalam keputusasaan. Tak disangka, secercah harapan muncul mengabulkan doa-doa yang selalu dipanjatkan. Saat Pak Hadi mulai menyerah mencari pekerjaan yang tak kunjung didapat, tak disangka dirinya melihat sebuah pemandangan tepat didepan matanya.
Disamping sebuah mobil mewah, seorang pria yang usianya lebih tua darinya dibegal oleh dua orang pria tak dikenal dengan menodongkan senjata tajam kearah pria itu. Situasi saat itu begitu mencekam.
Karena memiliki jiwa sosial yang sudah melekat pada dirinya, bak pahlawan Pak Hadi berlari kearah mereka. Tanpa menyadari kalau dirinya begitu kesusahan bertumpu pada tongkat yang menyangga tubuhnya. Kedua pembegal itu terkejut, mereka langsung kabur karena keributan yang Pak Hadi buat menyebabkan warga sekitar berhamburan mendekat.
Setelah diketahui, korban pembegalan tersebut adalah Pak Ibrahim namanya. Sejak saat itulah, Pak Hadi mengenal sosok Pak Ibrahim dan mulai berteman akrab dengannya.
Pak Ibrahim sangat ramah rupanya. Walaupun kaya dan dirinya seorang pengusaha terkenal, dirinya malah mau berteman akrab dengan Pak Hadi yang dari keluarga biasa-biasa saja. Sampai para tetangga heran melihatnya.
Karena melihat kesusahan yang dialami Pak Hadi, Pak Ibrahim menawarkan pekerjaan padanya. Berkat Pak Ibrahimlah, sedikit demi sedikit kehidupan keluarga Pak Hadi mulai berubah. Kehidupan nyaman yang dulu sempat menghilang, kini bisa kembali mereka rasakan.
...***...
"Memangnya dia itu siapa? Seenaknya mengatur-atur hidup orang." teriak Lena kesal. Dirinya berdiri ditepi pagar jembatan, setelah beberapa saat lalu turun dari taksi.
Sebal Lena mengingat Pak ibrahim yang memaksakan perjodohan. Lena memang tak begitu menyukai Pak Ibrahim. Karena beliau bisa menegur keras Lena yang selama ini tak pernah orangtuanya lakukan padanya. Apalagi mengingat perkataan ayahnya yang mengharuskan membalas budi pada beliau, semakin kesallah Lena.
Timbul niat untuk mengakhiri hidupnya. Lena sudah hampir menaiki pagar jembatan. Tapi, diurungkannya niatnya. Nyalinya tiba-tiba menciut, menyadari betapa tinggi jembatan yang disinggahinya.
__ADS_1
Ya Allah, Lena khilaf...