
"Lihat, itu Grace!" teriak Emi. Lena, Anisa dan Rosi langsung melihat kearah yang ditunjuk Emi.
"Hah, Grace kenapa?" tanya mereka kaget melihat Grace yang berjalan linglung, jadi terlihat sangat menyedihkan dimata mereka. Mereka langsung menghambur memeluk Grace dengan perasaan sedih.
"Grace... Maafkan aku yang sudah marah-marah tadi, ya... " ucap Anisa sedih.
"Kami akan selalu ada untukmu." ucap Lena iba.
"Cowok bukan cuma dia aja, Grace." ucap Rosi emosi.
"Kuatkan dirimu, Grace... " ucap Emi menangis.
"Loh, kalian kenapa?" tanya Grace bingung.
"Kamu lagi patah hati kan?" tanya Lena.
"Nggak kok." jawab Grace polos.
"Loh?" Lena, Anisa, Rosi dan Emi bingung mendengar jawaban Grace yang biasa-biasa saja.
"Oh iya. Kalian masih ingat nama asliku kan?" tanya Grace tiba-tiba.
"Anggunita Ramadhani? Memangnya kenapa?" ucap teman-temannya bersamaan.
"Kok dia bisa tahu, ya?" tanya Grace pandangannya sambil menerawang. Ternyata, dia jadi linglung gara-gara memikirkan Bandi yang tahu tentang dirinya.
"Siapa?" tanya teman-temannya tambah kebingungan.
"Bandi."
"Loh, kok malah Bandi? Bukannya mantanmu?" tanya Anisa bingung.
"Kenapa dengan mantanku?" tanya Grace bingung, rupanya dia sudah lupa kalau tadi dia menguntit mantannya.
"Jadi kamu tadi ngapain aja sih?" tanya Rosi mangkel.
Sementara teman-temannya ribut menginterogasi Grace, handphone Lena tiba-tiba berbunyi. Lena membaca pesan yang ternyata dari Bram. Dipesan itu, Bram akan menjemputnya selesai kampus nanti.
"Kenapa?" tanya Emi tiba-tiba mengagetkan Lena
"Eh? B-bukan apa-apa kok." jawab Lena gelagapan gara-gara kaget. Anisa, Grace dan Rosi yang ribut tiba-tiba berhenti karena melihat Lena yang bertingkah aneh.
"Siapa sih itu?" tanya Anisa sambil mendekati Lena.
"Kasih tahu kami... Jangan bikin kami penasaran... " ucap Rosi dan Grace yang juga mendekati Lena.
"I-itu... Itu... " Lena ciut melihat teman-temannya yang mengerubunginya. Kalau sudah penasaran, teman-temannya akan terlihat sangat mengerikan.
"Itu... Kak Bram." ucap Lena akhirnya.
"Bram? Siapa lagi itu Bram?" tanya mereka penuh selidik.
__ADS_1
"Ah, aku baru ingat kalau ada kelas. Nanti aja kita lanjutin, ya... " ucap Lena sambil menyelonong kabur dari teman-temannya.
"Lena kok ngegantung gitu sih? Terus gimana dong sama si Sultannya?" tanya Grace bingung, kepo akutnya semakin menjadi-jadi. Anisa, Rosi dan Emi hanya bisa angkat bahu.
...***...
"Loh, Lena mana?" tanya Anisa, kepalanya sambil celingukan mencari sosok Lena.
"Belum selesai kelas kayaknya." jawab Rosi seadanya. Teman-teman Lena sudah berkumpul untuk pulang sehabis kampus, tapi Lena masih belum kumpul bersama mereka.
"Astaga, astaga! Lihat disana!" Grace tiba-tiba berteriak histeris sambil menunjuk kearah lain. Anisa, Rosi dan Emi sontak melihat kearah yang ditunjuk Grace.
Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti didepan kampus mereka. Semua mata memandang kearah mobil tersebut dengan takjub. Semua orang yang ada disana langsung heboh saat melihat orang yang ada didalam mobil tersebut keluar.
"Subhanallah... Tampannya... " seru Grace takjub. Tapi, sedetik kemudian dia langsung mengaduh kesakitan karena pinggangnya dicubit Anisa.
"Akhir-akhir ini kampus jadi sering heboh, ya. Gara-gara kedatangan orang-orang tampan." celetuk Rosi tiba-tiba.
"Yang pertama, Sultan, cinta pertamanya Lena. Walaupun kedatangannya agak samar-samar." Anisa, Grace dan Emi cekikikan mendengar kata-kata Rosi. Rosi bisa aja.
"Kedua, Ardan kakaknya Cintia." Anisa yang mendengar nama Ardan wajahnya langsung berubah jadi masam.
"Yang ketiga, cowok baru itu." ucap Rosi sambil tangannya menunjuk pria didepan mereka. Pria yang ditunjuk Rosi terlihat sedang kebingungan, kepalanya celingak-celingukan seperti sedang mencari seseorang.
"Eh? Eh? Dia menghampiri kita." histeris Grace. Pria itu tiba-tiba saja berjalan menghampiri mereka.
"Permisi... Maaf, boleh nanya nggak?" tanya si pria terlihat kebingungan.
"Jangan sok akrab begitu, dong. Kita kan nggak kenal dia." bisik Anisa. Bisikan Anisa disahuti anggukan setuju Rosi dan Emi.
"Ya, makanya kita harus bantu dia." kilah Grace tak mau mendengarkan Anisa, karena ada orang tampan didepan mereka yang harus mereka tolong.
Bram yang melihat para gadis didepannya terlihat agak takut-takut, langsung menanyakan maksud tujuannya tadi.
"Anu... Apa kalian kenal dengan Lena?"
"Lena?" kaget Grace dan teman-temannya.
"Kami temannya Lena. Anda siapa dan ada apa mencarinya?" tanya Anisa sopan.
"Saya Bram, kenalannya Lena." jawab Bram.
"Hah? Bram?" bisik Anisa dkk kaget.
"Teman-temannya Lena, ya? Kalau melihat dari reaksi mereka yang begitu, sepertinya Lena belum cerita apa-apa tentang hubungan kami sama mereka." batin Bram penuh selidik.
"Ohoho... Gaes... Ayo kita interogasi dia" ucap Grace berapi-api. Bram langsung kaget melihat para gadis didepannya berubah jadi lain.
Dan sekarang, Bram dibawa kekantin oleh Grace dkk. Mereka duduk dimeja kantin dengan suasana yang tegang seperti diruang interogasi.
"Jadi, nama Anda adalah Bram, benar?" tanya Rosi garang memulai interogasi.
__ADS_1
"I-iya." jawab Bram takut-takut.
"Umur Anda berapa?" tanya Emi berseri-seri.
"Umurku 23 tahun." jawab Bram, wajahnya mulai terlihat tenang.
"Lalu, apa hubunganmu dengan Lena?" tanya Grace galak sambil menggebrak meja. Langsung Anisa cubit pinggangnya.
"Aku dan Lena... " Bram terdiam beberapa saat.
"Kami dijodohkan sama orangtua kami." jawab Bram mantap.
"Tunggu sebentar, jadi Anda ini anaknya Pak Ibrahim?" tanya Anisa kaget. Bram mengangguk mengiyakan.
"Yang dari luar negeri itu kan?" tanyanya lagi. Bram mengangguk lagi.
"Tuh kan... Benarkan kataku. Apa kubilang..." ucap Grace mengutarakan yang sudah mengganjal dihatinya dari tadi.
"Kapan kamu bilang begitu?" tanya Anisa marah.
"Tahu nggak, kak? Ayahku kerja ditempat ayah kakak, loh." ucap Emi senang.
"Oh, begitu. Akan kuingat." ucap Bram sambil tersenyum melihat tingkah Emi.
"Tapi... maaf ya, kak... Bukannya apa-apa sih, ya kak... Tapi, kak... Apa kakak... Duh, gimana ya?" ucap Emi belepotan, takut-takut mengatakannya. Grace yang tahu maksud Emi langsung menyerobot.
"Apa kakak nggak tahu kalau Lena mau menolak perjodohan?" tanya Grace berani. Teman-temannya yang mendengarnya kaget dengan bocornya mulut Grace, sampai mereka membekap mulut Grace.
"Aku tahu." ucap Bram sambil tertunduk. Mereka yang melihat Bram tersenyum hambar jadi kasihan melihatnya.
"Aku juga tahu kalau dia menyukai seseorang diseberang rumahnya." lanjut Bram lagi.
"Kok kakak bisa tahu?" tanya Grace.
"Lena sendiri yang bilang." ucap Bram berusaha tersenyum.
"Terus, kakak bagaimana?" tanya Anisa.
"Aku suka padanya. Aku suka pada pandangan pertama, cintaku tulus padanya. Walaupun, dia menyukai orang lain, aku akan terus berusaha mendapatkan hatinya. Aku akan membuatnya bahagia. Bagaimanapun caranya." ucap Bram mantap.
"Wah... Ini baru gentleman." batin Grace dkk takjub.
"Tenang aja, kak. Kami akan mendukungmu." ucap Emi.
"Kami yakin, Lena pasti luluh sama ketulusan hati kakak." ucap Anisa.
"Pepet terus aja, kak. Jangan dikasih kendor." ucap Grace dan Rosi. Bram tersenyum melihat antusiasnya teman-teman Lena mendukungnya.
"Sebagai bentuk terima kasihku, aku yang akan bayar semuanya. Kalau mau lagi, pesan aja."
"Beneran, kak?" tanya mereka dan disahuti anggukan Bram.
__ADS_1
"Asyik nih... Sering-sering aja traktir kami, ya kak." Grace yang paling semangat. Sejak awal, tujuannya memang ingin memalak Bram juga. Dia pun langsung memesan makanan lagi.