
Waktu SMP, Sultan dan Ardan sekelas. Ardan yang terlalu ramah penasaran dengan Sultan yang pendiam dan tak mau berteman dengannya. Padahal banyak orang-orang disekolah yang mau berteman dengan Ardan, walaupun hanya ingin mengincar duitnya saja.
Ardan heran dan jadi tertarik dengan sosok dingin yang siang malam selalu mengganggu pikirannya. Disaat seisi sekolah mengejar Ardan, Ardan malah mengejar Sultan. Padahal Sultan sudah menolak dan menghindar secara terang-terangan, tapi Ardan seolah selalu ingin menempel bak jaring manusia laba-laba super yang tak mau lepas dari sampingnya.
Semenjak itu, Sultan dan Ardan berteman dekat. Setiap ada masalah, Ardan yang berulah, Sultan yang kena getahnya. Mentang-mentang sultan, eh, kaya, Ardan jadi suka seenaknya. Masalah sekolah pun Sultan yang harus membantu Ardan yang malas untuk giat belajar.
Walaupun Ardan sifatnya begitu, tapi sebenarnya dia baik dan suka ceramah hal-hal baik pada orang yang sedang dalam masalah. Mungkin kebiasaan ceramahnya itu sudah keturunan dari keluarga.
Dan sekarang, didalam ruangan kantornya, Sultan mengingat-ingat lagi kata-kata Ardan barusan.
Hidup itu seperti roller coaster. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi didepan mata nantinya.
...***...
Waktu kecil dulu, aku tak kalah konyolnya dari Ardan.
Suka mengganggu tetangga. Suka menjahili teman sebaya. Ayah dan ibu sampai kelimpungan karena ulahku. Aku juga pernah menjahili Lena, sampai-sampai menangis kejer kubuat. Tapi, saat aku kasih permen tangisnya langsung mereda. Dasar bocah. Mungkin dia sudah lupa, karena waktu itu dia masih kecil jadi tak mengerti apa-apa.
Waktu itu, aku sangat bahagia. Hidup bahagia bersama keluarga lengkap yang aku punya. Ada aku, ayah, ibu dan adik-adik kecilku.
Karena bahagia, aku jadi terlena, sampai-sampai aku lupa kalau hidup manusia itu ada batasnya. Saat umurku 12 tahun, ayah meninggal karena kecelakaan. Meninggalkan aku, ibu dan adik-adik kecilku yang masih balita dan batita.
Aku syok tak percaya. Ditinggal orang yang sangat aku cinta. Semua berubah hanya dalam sekejap mata. Mengapa hidup harus setragis ini?
Saking tak terimanya, berhari-hari aku mengurung diri dikamar. Ibu sampai khawatir melihatku yang kurus karena tak makan. Urusan sekolahpun terbengkalai. Aku terlalu memikirkan perasaanku sendiri, sampai tak sadar kalau ibu yang paling terpuruk dan merana.
Aku yang aslinya nakal, jadi kasihan melihat ibu yang berjuang sendirian menanggung kehidupan kami dengan keterbatasan keahliannya.
Aku baru sadar kalau hidup itu seperti roda yang berputar. Perlahan-lahan aku mulai membenah diri. Memperbaiki sikap agar tak menambah beban bagi ibu lagi.
Aku tahu para tetangga heran melihat perubahan sikapku. Aku tahu teman-teman sebaya jadi enggan mendekatiku. Aku akan kuat menghadapi hidupku. Aku akan menjadi tulang punggung keluargaku. Aku akan membuat ibu dan adik-adikku bahagia.
Tak akan kubiarkan ada yang menggoyahkan tekadku. Bahkan, sampai masalah cinta sekalipun.
Aku tahu banyak perempuan yang suka padaku. Aku juga tahu, si kecil Lena yang aku kenal dulu juga malah menyukaiku. Aku tahu, karena setiap hari dia selalu mengintaiku, sampai-sampai aku merinding dibuatnya. Tapi, aku pura-pura tak tahu.
Yang aku tidak tahu, kenapa Lena masih tetap menyukaiku. Padahal sudah berbagai cara kulakukan untuk mengacuhkannya, supaya dia sadar kalau aku tak menyukainya. Terkadang, aku kasihan juga melihatnya, padahal aku tak bermaksud menyakiti hatinya. Tapi, bukannya paham, cintanya malah semakin menjadi-jadi.
Aku tak memiliki perasaan apapun padanya. Dia dan orangtuanya sudah kami anggap keluarga. Saat kami terpuruk setelah kepergian ayah, orangtua Lena selalu membantu kami yang dalam masalah. Kami jadi berhutang budi pada mereka. Aku tak mau merusak hubungan keluarga ini hanya karena masalah cinta semata.
__ADS_1
Aku hanya menganggapnya sebagai adik saja. Sungguh...
...***...
Dirumah, dikamarnya, Lena menangis tersedu-sedu. Sampai ayah dan ibunya bingung melihatnya yang pulang kuliah dengan wajah yang sembab.
Saking kecewa sama malunya, karena sudah salah mengira kalau puisi cinta itu buatan Sultan. Cintia cekikikan. Grace malah ikut menertawakan dirinya. Ingin rasanya Lena suruh Anisa mencubit pinggang Grace. Tapi sayang, Anisa kabur entah kemana karena bersembunyi dari Ardan yang berusaha mengejarnya. Rosi dan Emi yang selesai kelas yang akhirnya menenangkan Lena.
"Semua gara-gara Kak Ardan. Cintia juga. Grace juga sama." saking kesalnya yang lain jadi ikutan disebut juga.
"Hiks. Seharusnya aku sadar kalau ini buatan Kak Ardan yang suka ngegombal itu."
Dilemparnya sembarangan kertas puisi yang dipegangnya. Tak lama dirinya termenung. Dipungutnya lagi kertas puisi yang tergeletak dilantai habis dilemparnya tadi.
"Tak apa. Walaupun bukan buatan Kak Sultan, aku masih bisa membayangkan Kak Sultan yang membacakan ini seperti waktu itu." ucapnya tersenyum, sambil mengingat wajah Sultan yang lucu karena kikuk membacakan puisi itu dulu.
...***...
"Duh... Ini maksudnya gimana, ya?" tanya Lena bingung pada dirinya sendiri. Dia sedang belajar rupanya.
"Lena... Kalau belajar, jangan sambil nonton TV. Nggak fokus kan jadinya." tegur Bu Mila.
"Apa aku tanya ke Kak Sultan aja, ya?" batin Lena.
Biasanya, kalau ada pelajaran yang Lena tak mengerti, dia akan bertanya pada Sultan yang terkenal pintar. Maklum, otak Lena pas-pasan. Sekalian sambil modus-modus juga tujuannya.
Ting tong
Tiba-tiba suara bel berbunyi.
"Siapa yang malam-malam begini datang ke rumah kita?" tanya Bu Mila heran.
"Nggak tahu." sahut Pak Hadi polos.
Sedetik kemudian, Bu Mila dan Lena terkejut mendengar teriakan Pak Hadi.
"Astaghfirullah! Ayah lupa. Ada tamu yang bakalan datang malam ini." Pak Hadi bangkit dari duduknya dan berjalan tergopoh-gopoh ke arah pintu rumah mereka.
"Siapa ya, bu?"
__ADS_1
"Nggak tahu. Ibu lihat dulu."
Terdengar suara-suara berisik didepan rumah mereka. Tapi tak Lena hiraukan, dia melanjutkan belajarnya lagi.
Terdengar suara langkah kaki yang berlari. Ternyata Bu Mila. Dirinya menghampiri Lena dengan wajah sedikit panik.
"Lena... Astaga. Cepat ganti bajumu."
"Memangnya kenapa, bu?" tanya Lena bingung melihat tingkah ibunya.
"Pak Ibrahim datang sama anak dan istrinya." jawab Bu Mila sambil menyeret Lena.
"Apa, bu? Kenapa mereka malah datang kesini?" kaget Lena.
"Gara-gara kamu kabur kemarin. Jadinya, mereka datang malam ini."
"Cepat ganti bajumu." suruh Bu Mila.
"Tapi, bu..."
"Jangan membantah, Lena. Ganti baju. Setelah itu, keluar temui mereka." setelah mengatakan itu, ibunya keluar dari kamarnya.
"Uh, Ibu... Memangnya apa yang salah dengan bajuku?"
Piyama dengan gambar kodok hijau yang lucu-lucu.
Lena membuka lemari bajunya dengan kesal.
Cih! Gigih juga Pak Ibrahim ini. Padahal, aku sudah terang-terangan menolak perjodohan mereka. Apa mereka tak sadar kalau aku sampai kabur-kabur segala?
"Duh, sebalnya. Nggak usah ganti baju aja, deh" kesal Lena sambil berjalan keluar dari kamarnya.
"Akan kutunjukkan 'keanggunan'ku yang sebenarnya." batin Lena mencak-mencak.
Tak apa kalau ayah dan ibu marah padaku.
Lena berjalan ke ruang tamu dengan menghentakkan kaki yang dibuatnya sekeras mungkin. Seperti langkah kaki raksasa yang ingin memporak-porandakan bumi.
Semua yang berada diruang tamu terlihat kaget dengan kelakuan Lena. Tapi, setelahnya malah Lena yang jadi terkaget-kaget.
__ADS_1
"Loh?"