
Suasana pagi ini begitu cerah, sinar mentari menyebar ke segala penjuru arah dan orang-orang menyambut pagi ini dengan ceria. Tapi, sepertinya tak berlaku bagi para penghuni sebuah rumah mewah, yaitu rumah kediaman Pak Ibrahim. Suasana di sana terasa begitu suram, lebih tepatnya di tempat meja makan.
Saat ini para pelayan sedang berdiri di pojokan, memperhatikan nona dan nyonya rumah yang duduk berhadapan di meja makan dengan perasaan resah dan gelisah.
Sama dengan nona mereka, Lena, mereka juga menunggu pendapat dari sang nyonya rumah, Bu Dona.
Deg, deg, deg...
"Glek!" salah satu pelayan perempuan menelan ludahnya dengan suara nyaring, sampai pelayan lain yang ada disampingnya menatapnya kaget.
"Astaga, padahal aku yang sedang berhadapan dengan ibu mertua, kenapa malah dia yang jadi tegang begitu?" batin Lena kaget juga melihat pelayan itu sampai pelayan itu malu karena jadi pusat perhatian.
"Hm... " Bu Dona terlihat berpikir melihat makanan yang ada dihadapannya.
Diliriknya Lena yang duduk di seberang meja makan. Lena terlihat menunggu dengan harap-harap cemas. Bu Dona yang awalnya ragu-ragu, akhirnya menyendoki makanan itu dan mulai memakannya...
Deg, deg, deg, deg, deg...
"Hm... Lumayan." ucap Bu Dona dengan suara dan raut wajah yang masih datar.
"Makasih, bu." ucap Lena senang.
Para pelayan yang ada di sana juga terlihat lega, senang dan bersorak kegirangan atas keberhasilan Lena.
"Fyuh... " Lena menghela nafasnya lega.
Syukurlah respon ibu bagus. Tak sia-sia selama beberapa hari ini aku bersusah payah dan giat diajarkan ibuku untuk memasak.
Saat di dapur tadi, aku meminta para pelayan untuk tidak membantuku karena aku ingin bisa meluluhkan hati ibu mertua dengan usahaku sendiri. Dan ternyata respon ibu lumayan bagus juga.
Berkat tekad dan kekuatan cinta, akhirnya aku bisa memasak bahkan (mungkin) sampai meluluhkan hati sang ibu mertua.
"Aku berangkat ke kampus ya, bu." pamit Lena salim pada ibu mertuanya setelah selesai sarapan.
"Iya, iya." sahut Bu Dona ogah-ogahan menyambut uluran tangan Lena.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
...***...
Di kampus, Lena melakukan aktifitas belajarnya seperti biasa. Fokus mendengarkan dosen dan terkadang suka bertanya tentang hal yang tak dimengertinya pada Ihsan atau pada teman lain yang sejurusan.
Dan kumpul bersama teman-teman...
"Oh... jadi hari ini suami dan ayah mertua Lena pulang, ya?" tanya Emi polos. Lena mengangguk mengiyakan.
"Ohoho... Dia pasti kesepian banget selama ini di rumah kan? Kan, kan, kan...?" goda Grace merangkul bahu Lena dan menoel-noel pipinya.
"Ih, apaan sih?" kesal Lena pada Grace. Tapi wajahnya terlihat bersemu merah.
"Kamu kenapa, Ros?" tanya Anisa dengan hati-hati pada Rosi karena sejak tadi Rosi menatap Lena dengan begitu lekat.
"Hm? Nggak papa." sahut Rosi memalingkan wajahnya dan menyedot minumannya.
Suaranya terdengar santai, tapi auranya terkesan sedikit dingin. Sebelum berkumpul tadi, wajahnya terlihat begitu masam tapi perlahan-lahan bisa dikontrolnya menjadi agak tenang.
Lena dan yang lain terdiam. Mereka tak bisa bertanya lebih lanjut lagi karena masalah keluarga adalah hal yang paling sensitif bagi Rosi. Dan pastinya Rosi akan bungkam sampai amarahnya bisa terendam.
__ADS_1
Kemungkinan ayahnya lagi-lagi membela ibu dan adik barunya. Dan pastinya selalu Rosilah yang disalahkan. Padahal Rosi adalah anak kandung sang ayah.
"Hei, bagaimana kalau kita semua pergi nonton ke bioskop?" usul Lena tiba-tiba sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya pada Anisa, Grace dan Emi. Meminta dukungan dari mereka untuk menghibur Rosi.
"Aku yang bayarin." ucap Lena sambil memperlihatkan kartu saktinya.
"Boleh juga tuh. Aku mau." ucap Grace. Dia yang paling semangat.
"Film action, ya." usul Anisa senang.
"Film kartun yang imut-imut dong." ucap Lena dan Emi.
Dan entah kenapa, ke empat orang ini malah bertengkar meributkan masalah film yang akan mereka nonton nantinya.
"Kalau Rosi mau nonton apa?" tanya Emi tiba-tiba.
"Pokoknya yang thriller atau gore." jawab Rosi santai dan apa adanya.
"Gluk!" Lena, Grace, Anisa dan Emi meneguk ludah secara bersamaan.
Mereka sangat tahu kalau suasana hati Rosi sedang tidak baik, keinginannya pasti bakalan yang aneh-aneh.
"B-baiklah, karena tujuan kita ingin menghibur Rosi, kita pilih pilihannya Rosi. Tunggu ya, aku minta ijin dulu sama Kak Bram." ucap Lena mengambil handphonenya untuk menelepon Bram. Karena seperti biasa, sebelum menggunakan kartu pemberian Bram, Lena pasti selalu ijin terus pada suaminya.
"Lena salah satu contoh istri yang berbakti pada suami, ya." ucap Grace senyam senyum gemes.
"Aku sudah dapat ijin. Ayo pergi." ucap Lena ceria setelah selesai menelepon.
"Ayo... " sahut yang lainnya semangat.
"Tapi, wajahmu kenapa, Len?" tanya Emi polos melihat wajah Lena yang bersemu merah sehabis menelepon tadi.
"Hm? Nggak, nggak papa." jawab Lena kikuk.
"Oh iya, Anisa. Bagaimana dengan kakaknya Cintia?" tanya Rosi tiba-tiba.
"Aku tadi sudah memberitahunya buat nggak menjemputku. Tenang saja." sahut Anisa kalem.
"Kenapa?" tanya Anisa kebingungan karena di tatap dengan begitu seriusnya oleh teman-temannya.
"Ah... nggak." sahut mereka bersamaan.
"Kami hanya masih heran saja kenapa kamu bisa mau menerima Kak Ardan yang dulunya nggak kamu sukai." batin mereka bersamaan.
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari halte bus, Alika berjalan menghampiri mereka.
"Mau kemana nih pada rame-rame begini?" tanya Alika ramah.
"Oh, Alika. Kami mau pergi ke bioskop." sahut Lena.
"Wah, enak ya kalau punya banyak teman. Kemana-mana pasti selalu ada yang nemenin." ucap Alika sendu.
"Mm... Bagaimana kalau kamu ikut bareng kami?" tawar Lena tiba-tiba.
"Aku mau sih, tapi..." ucap Alika ragu-ragu.
"Nggak papa, ikut aja. Tenang aja, kan ada kami. Tapi maaf ya, kalau kami harus naik bus." ucap Lena.
"Baiklah, nggak papa. Aku juga akan naik bus bareng kalian. Ini pertama kalinya aku akan naik bus, ini pasti jadi pengalaman baru buatku. Kalau gitu, aku harus telepon supirku dulu buat nggak jemput aku." ucap Alika senang. Lena mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Hei, apa iya nggak papa nih?" tanya Grace cemas.
"Kenapa memangnya? Kita kan mau senang-senang nonton bareng." ucap Lena apa adanya.
"Kamu tahu kan kalau kita mau nonton film apa?" ucap Grace lagi mengingatkan.
Dan tentu saja di bioskop...
"Argh...!"
"Huwa...!"
"Hiii...!"
Lena, Grace dan Alika sudah berteriak ketakutan dan saling berpelukan menonton film di layar lebar itu. Anisa hanya diam walaupun sesekali suka menutupi wajahnya karena ketakutan juga. Emi sudah pingsan karena sudah tak sanggup menonton lagi. Sedangkan Rosi terlihat biasa-biasa saja seperti sudah terbiasa menonton film seperti itu.
"Kenapa nonton film seram kayak gini sih? Di saat aku ingin menutup mata tapi anehnya yang ada mata ini malah semakin melotot saja. Seharusnya aku nggak usah ikut kalau tahu bakalan menonton film beginian." batin Alika syok.
"A-aku mau pulang...!" teriak Alika dalam hati tapi dia tak bisa bergerak karena terjebak oleh Lena dan Grace yang begitu erat memeluknya.
Selesai nonton, di toilet wanita...
"Hoek..." Grace dan Alika muntah-muntah di wastafel.
"Maaf ya, Al. Kamu jadi begini. Kami nonton itu karena pengen menghibur Rosi." ucap Lena merasa bersalah.
"Ah... gitu. Nggak apa-ap...Bhufh!" ucap Alika menutup mulutnya, tapi karena sudah tak kuat menahannya dia muntah lagi.
"Awalnya aku pikir ini rencana yang bagus untuk terlihat ramah dan bersahabat pada mereka, tapi aku tak menyangka kalau kejadiannya bakalan jadi begini." batin Alika kesal.
"Tapi, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Begini saja sudah cukup. Tapi, uh... Apa aku akan baik-baik saja tidur sendirian malam nanti sehabis nonton film seperti tadi, ya?" batin Alika merinding, bertanya pada dirinya sendiri.
"Huh, dasar." ucap Anisa tiba-tiba dengan raut wajah manyun melihat layar handphonenya.
"Kenapa?" tanya Lena bingung.
"Kak Ardan katanya mau jemput aku. Dan sekarang, dia sudah ada di sini menungguku. Apa ada yang mau pulang bareng kami?" tanya Anisa.
"A-aku naik ojol aja." ucap Grace cepat.
"Aku sama Emi naik taksi online aja deh." tolak Rosi yang sedang menggendong Emi yang masih pingsan dipunggungnya.
"K-kalau boleh aku mau pulang bareng Lena di jemput sama supirku. Boleh kan, Len?" tanya Alika ragu-ragu.
"Boleh." sahut Lena tersenyum mengiyakan.
"Oh... Ya sudah." ucap Anisa datar.
Dia tahu kalau teman-temannya akhir-akhir ini selalu menolak untuk ikut dengannya karena tak mau mengganggu momen kedekatannya dengan Ardan.
"Oh iya, Len. Makasih ya untuk hari ini." ucap Rosi tiba-tiba.
"Iya, nggak papa kok." ucap Lena.
Rosi menatap Lena lekat dengan raut wajah sendu, Lena kebingungan dibuatnya.
"Dan kepada semuanya juga. Aku senang banget hari ini, semua beban pikiranku jadi menghilang. Kapan-kapan kita nonton bareng seperti ini lagi, ya." ucap Rosi tersenyum cerah dengan masih tetap menggendong Emi.
"A-akan aku pikirkan." ucap Lena.
__ADS_1
Anisa, Grace dan Alika hanya bisa diam, tak bisa menyahut karena mengingat film yang mereka tonton tadi.
"Lain kali aku akan paksa Rosi nonton film kartun atau romantis aja deh daripada yang tadi kalau dia lagi bad mood." tekad Lena dalam hati.