Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Ada Yang Sepertiku


__ADS_3

"Temui kami dikantin. Ada kejutan loh buat kamu... " Lena membaca pesan teman-temannya digrup chat.


"Apalagi ini? Mereka nggak bikin masalah kan?" tanya Lena bingung membacanya. Dia pun langsung bergegas kekantin. Setelah sampai, betapa terkejutnya Lena melihat kalau disana ada Bram juga.


"Aku lupa kalau Kak Bram mau jemput aku. Tapi, kenapa dia bersama mereka?" batin syok Lena. Bram tersenyum melihat kedatangan Lena.


"Kak Bram sudah lama nunggu, ya? Kok bisa sama mereka?" tanya Lena cemas-cemas.


"Nggak kok. Kebetulan aku ketemu sama teman-temanmu. Ya... Jadi ngobrol aja."


"Apa iya hanya ngobrol?" tanya Lena sambil melihat kearah teman-temannya, lalu melihat kearah meja yang terdapat banyak gelas piring yang sudah kosong.


"Katanya Kak Bram mau jemput Lena kan? Ya sudah, kalian pulang duluan saja." ucap Anisa mengalihkan pertanyaan Lena sambil mendorong Lena.


"Hei, kok... "


"Oh iya. Kami pergi dulu, ya... Ayo, Len." ucap Bram. Lena terdiam dengan perasaan kesal tapi masih sempat melambaikan tangan pada teman-temannya.


"Yang mesra, ya... Kirim foto-fotonya juga." celetuk Grace.


"Apaan sih, Grace. Kami ini cuma teman tahu." marah Lena, wajahnya terlihat memerah.


"Masa sih? Teman tapi kok dijodohin...?" goda Grace.


"Sudah kuduga. Kalian tadi pasti menginterogasi Kak Bram kan?" marah Lena.


"Sudah, sudah. Ayo kita pulang." ucap Bram tersenyum. Didorongnya Lena yang masih bersungut-sungut. Teman-teman Lena cuma senyam-senyum melihat mereka, sambil tangan-tangan yang dibuat berbentuk hati.


"Maafin kelakuan teman-temanku, ya kak." ucap Lena, didalam mobil yang sudah melaju dijalanan.


"Nggak papa. Mereka orangnya asyik kok. Lucu lagi. Apalagi si Grace." ucap Bram tersenyum.


"Kalau dia itu orangnya usil." sungut Lena. Bram tertawa melihatnya.


"Sebelum pulang kerumah, gimana kalau kita jalan-jalan atau makan dulu mungkin?"


Krucuk...


Mendengar kata makan, perut Lena langsung berbunyi.


"Gimana kalau kita makan direstoran kami aja." ucap Bram tertawa.

__ADS_1


"Terserah kakak aja, deh." ucap Lena malu.


...***...


"Kudengar restoran kami ini tempat favorit kamu dan orangtuamu, ya?" tanya Bram setelah mereka sampai direstoran milik keluarganya.


"Kok kakak bisa tahu?"


"Ayahmu yang cerita keayahku. Makanya, ayah mengadakan perjodohan waktu itu disini. Tapi, kitanya malah kabur." ucap Bram tertawa diikuti Lena yang juga tertawa.


"Ternyata Pak Ibrahim perhatian juga." batin Lena.


"Kak Bram!" tiba-tiba teriakan seseorang mengagetkan mereka, sontak mereka menoleh kearah suara. Seorang perempuan cantik sudah berdiri dihadapan mereka.


"Loh, bukannya dia... " batin Lena mengingat perempuan itu yang mungkin dikenalnya.


"Alika? Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Bram kaget.


"Seharusnya aku yang tanya begitu. Kenapa kakak ada disini bersama perempuan itu?" tanya Alika sambil menatap Lena dengan garang. Lena bingung dan jadi takut-takut dibuatnya.


"Tentu saja. Kami kan sudah dijodohkan orangtua kami." jawab Bram sambil merangkul bahu Lena. Lena kaget dengan perlakuan Bram.


"Hah? Apa maksudnya?" batin Lena geram. Saking geramnya, tanpa sadar tangan Lena *******-***** baju bagian belakang Bram. Bram yang masih merangkul Lena, menyadari Lena yang dilanda amarah.


"Kamu salah, Al. Lena nggak seperti yang kamu bilang. Karena kamu nggak terima, makanya kamu jadi ngomong sembarangan begitu." ucap Bram. Lena jadi makin bingung mendengarnya.


"Keluarga kakak itu terkenal, apa kakak mau membuat malu keluarga kakak karena memiliki hubungan sama ayahnya yang cacat?" cecar Alika lagi, tanpa menyadari Lena yang sudah panas mendengarnya.


"Asal kamu tahu saja, Al. Ayah Lena begitu karena ayahnya korban tabrak lari orang yang tak bertanggungjawab. Itu juga diluar kehendak ayahnya Lena. Kenapa aku harus malu?" sangkal Bram.


"T-tapi... "


"Sebaiknya kamu perbaiki sikap dan omonganmu itu, Alika. Jangan suka bicara seenaknya saja." ucap Bram tajam, wajahnya memperlihatkan rasa tak senang. Alika kaget melihatnya.


"Padahal... aku yang lebih dulu menyukai kakak... Tapi, kenapa... " ucap Alika, suaranya terdengar bergetar. Lena kaget mendengarnya.


Sekali lagi Alika terkejut mendapati Bram yang menatapnya garang menunjukkan kalau Bram sangat marah kepadanya. Seketika wajah Alika memerah karena menahan tangis. Tak menyangka, kalau dirinya langsung mendapat penolakan dari Bram. Alika berlari pergi meninggalkan mereka sambil menutup wajahnya dengan tangan karena tak bisa membendung tangisannya lagi.


"Kakak nggak mau kejar dia?" tanya Lena. Bram sudah melepas tangannya dibahu Lena.


"Nggak usah, biarkan saja. Biar dia menyadari sikapnya yang suka ngomong seenaknya itu. Semakin dibiarin, dia malah semakin ngelunjak. Padahal, selama ini aku sudah bilang kalau menganggapnya sebagai adik sa...ja." Bram tersentak dengan perkataannya sendiri. Dia baru ingat dengan perkataan teman-teman Lena tadi, kalau cinta Lena bertepuk sebelah tangan pada orang yang dicintainya karena menganggap Lena sebagai adik juga. Dilihatnya Lena yang ada disampingnya. Lena terlihat sedikit murung.

__ADS_1


"Ternyata dia sama sepertiku." ucap Lena sedih.


"Kakak pasti sudah tahu juga kan? Tapi bedanya, aku yang jadi penghalang karena dijodohin orangtua kita."


"Kenapa kamu ngomong begitu?" tanya Bram serba salah.


"Tapi, kalau dipikir-pikir... Lebih mending dia sih. Dia bisa mengutarakan perasaannya secara langsung. Sedangkan aku, aku tak berani mengatakan perasaanku ke Kak Sultan. Soalnya, aku takut ditolak seperti itu. Makanya, aku hanya memendam perasaanku saja."


Bram terdiam, dia jadi merasa bersalah karena sudah membuat Lena teringat dengan kesedihannya.


"Maaf, aku tak bermaksud membuat luka hatimu." ucap Bram menyesal.


"Yang Alika bilang tadi juga benar. Aku ini suka bikin onar, kak."


"Nggak papa, aku suka yang bikin onar." ucap Bram menenangkan Lena. Lena memukul-mukulnya, Bram malah tertawa senang.


"Tapi, aku bukan perempuan yang nggak bener!" Lena bersungut-sungut.


"Iya, aku tahu." ucap Bram sambil tersenyum.


"Kakak kok bisa tahu? Tentang ayahku juga. Padahal aku kan belum bilang." ucap Lena heran.


"Tentang ayahmu, aku tahu dari ayah. Tapi, karena aku suka kamu, jadi aku harus tahu segalanya tentang kamu kan." ucap Bram tersenyum dengan begitu menawan. Lena terdiam. Mata mereka saling bertatapan.


"Seandainya Kak Sultan yang mengatakan hal itu padaku. Aku... aku... " batin Lena. Tanpa sadar raut wajahnya berubah jadi sedih, dan hal itu terlihat jelas dimata Bram.


...***...


"Kamu beneran sudah nggak papa?" tanya Bram.


"Iya, kak." jawab Lena sambil mencoba tersenyum. Mereka tak jadi makan dan langsung pulang ke rumah Lena, karena suasana hati Lena yang kalut.


"Oh, apa orang itu yang namanya Sultan?" tanya Bram tiba-tiba.


"Bukan. Itu adiknya, namanya Angga. Kalau yang itu Maya, lalu ibu mereka... " ucap Lena ceria.


"Bukannya waktu itu aku sudah cerita, ya?" tanya Lena. Bram hanya tersenyum hambar. Padahal tadi Lena terlihat sedih, tapi langsung berubah ceria saat membahas hal tentang Sultan.


Tanpa menyadari perasaan Bram, Lena turun duluan dari mobil dan malah mengajak Bram untuk berkenalan dengan adik-adik dan ibu Sultan yang sedang asyik mengurus tanaman hias. Bram ternyata cepat akrab bertemu dengan orang-orang baru. Mereka pun asyik mengobrol. Ternyata, keluarga Sultan sudah tahu kalau Bram dan Lena dijodohkan orangtua mereka.


"Kalau mereka sudah tahu, berarti Kak Sultan juga sudah tahu? Kalau begitu, apa satu komplek disini juga sudah tahu?" batin Lena. Entah kenapa jantungnya berdenyut nyeri.

__ADS_1


__ADS_2