Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Mengapa Tak Seindah Puisi Cintanya?


__ADS_3

"Uh... Dingin... Jadi pengen cepat-cepat tidur aja." ucap Lena mempercepat langkahnya.


Lena hampir sampai dirumahnya. Tapi, betapa terkejut dirinya melihat banyaknya kerumunan orang didepan rumahnya.


Diantara kerumunan itu, terlihat orangtuanya yang gelisah menantikan dirinya.


"Lena!" teriak Bu Mila menyadari kedatangan putrinya.


Seketika semua orang menoleh ke arah datangnya orang yang mereka tunggu-tunggu.


"Sudah selarut ini, kamu kemana aja, nak?" tangis Bu Mila, memeluk-meluk putrinya.


"Kamu kemana aja, nak? Kamu nggak kenapa-napa kan?" Pak Hadi menanyakan hal yang sama, wajahnya terlihat hampir menangis.


Melihat orangtuanya histeris, Lena yang tadinya sudah tenang berubah jadi kalut.


Tak sengaja dirinya melihat Sultan diantara kerumunan itu. Melihat wajah Sultan yang datar menatapnya, semakin bertambah kekalutannya.


"Kamu kemana aja tadi? Kami khawatir, nak. Sampai-sampai tetangga membantu mencari kamu." ucap Pak Hadi, suaranya sedikit bergetar.


"Ah, ayah terlalu melebih-lebihkan."


Lena yang perasaannya kalut, menjawab asal-asalan. Padahal dia tidak bermaksud begitu.


Lena langsung memasuki halaman rumahnya.


Karena kata-kata Pak Hadi tak didengarkan oleh Lena, ia dan istrinya menyusul mengikuti putrinya masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke dalam rumah, Lena masih bisa mendengar para tetangga yang mencibirnya. Seketika saja hatinya langsung merasa sakit.


Lena langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Tak dihiraukannya orangtuanya yang memanggil-manggil dan mengetuk pintu kamarnya.


Sampai tak ada suara lagi yang terdengar. Mungkin orangtuanya sudah pergi untuk membiarkan dirinya tenang.


Lena mengambil kotak kecil miliknya lalu membukanya.


.........


Alangkah indah sang bunga


Kuingin memetik dan menaruhnya di vas kaca


Untuk kusimpan di museum cinta.


Cerita hidupnya sangatlah berwarna


Ingin rasanya kurengkuh jiwanya yang lara


Namanya hidup memang tak seindah yang diharapkan, bunga


Tapi aku akan setia sampai kau bahagia


Akhirilah semua duka.


Peganglah tanganku, kita rangkai asa bersama


Akan kutunjukkan betapa indahnya dunia


Dunia cinta yang penuh warna


Anugerah Tuhan yang tak terkira

__ADS_1


Mengarungi samudera cinta bersama


Untukmu, kupersembahkan dari hatiku, wahai bunga.


.........


Lena membaca puisi itu untuk menghilangkan kekalutan hatinya.


Tapi entah kenapa, semakin dibacanya, semakin sesak hatinya. Tanpa sadar air mata Lena mengalir jatuh membasahi kertas puisi yang dipegangnya.


Mengapa cerita cintaku tak seindah puisi cintanya?


Mengapa karena cinta aku harus jadi merana?


Orangtuaku menangisiku.


Para tetangga mencibirku.


Cinta pertamaku hanya menatapku.


Karena cinta, hidupku kacau bagai benang kusut yang tak bisa diurai.


Apa salahku?


Mengapa sesuatu yang namanya 'cinta' seolah mengolok-olok diriku?


Yang kupikir cinta itu nyata, ternyata hanya bayangan semu semata.


Tapi, kenapa diri ini masih menyukainya?


Sambil menangis, dipeluknya kertas puisi itu. Seolah sedang menemaninya melewati malam yang menyedihkan dengan hati yang merana.


...***...


Tampak Lena sudah terlelap dalam tidurnya.


Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Orang itu berjalan mendekati tempat tidur Lena.


Ditatapnya wajah Lena yang sembab karena terlalu lama menangis. Pelan-pelan dibetulkannya selimut Lena yang berantakan.


Lena terbangun karena ulah orang yang menyelimutinya.


"Ibu?" Lena bangun sambil mengucek matanya.


"Kenapa, bu?" tanya Lena heran, melihat ibunya yang menatapnya dengan sedih.


Bu Mila duduk ditepi ranjang Lena.


"Maafkan ayah sama ibu ya, Len. Karena kami, kamu jadi begini." ucap Bu Mila menyesal.


"Huh, memang." ucap Lena bersungut-sungut.


Bu Mila tersenyum melihat tingkah putrinya. Tak sengaja, matanya melihat sebuah kertas diatas nakas, lalu mengambilnya.


"Apa ini?"


"J-jangan, bu... " Lena berusaha mengambil kertas puisi ditangan ibunya, tapi ibunya menahannya.


"Astaghfirullah... "


"Lena! Kenapa kamu bikin puisi kayak gini? Ayah sama ibu nggak pernah ngajarin kamu kayak gini loh, Len." ucap Bu Mila garang. Saking kagetnya melihat puisi yang dibacanya.

__ADS_1


"B-bukan punyaku, bu... " Lena tergagap.


"Lalu ini punya siapa?"


"I-itu... punya Kak Sultan." jawab Lena takut-takut.


"Apa? Sultan? Ini buatan Sultan?" tanya Bu Mila, lebih terkaget-kaget lagi mendengarnya. Dan disahuti anggukan oleh Lena.


"Nggak kusangka, anak yang aku kenal itu bisa sepuitis ini?" syok Bu Mila tak percaya. Tangannya bergetar memegang kertas puisi itu.


"Tapi, kenapa ini bisa ada sama kamu?"


Tak ada jawaban dari Lena, dia hanya menggaruk-garuk pipinya.


Lama mereka terdiam.


"Namanya hidup memang tak seindah yang diharapkan, Lena." tiba-tiba Bu Mila bersuara mengikuti puisi yang dibacanya tadi.


"M-maksud ibu apa?" tanya Lena bingung.


"Kita tak bisa memaksakan cinta, kalau orang itu tak mencintai kita, nak."


"Ibu kenapa ngomong kayak gitu?" tanya Lena dengan perasaan yang sedikit tersinggung.


"Ibu tahu kalau kamu menyukai Sultan."


"Eh? K-kok ibu bisa tahu? Padahal Lena kan belum bilang." kaget Lena.


"Gimana ibu bisa nggak tahu, kalau saat pagi mau pergi ke pasar, ibu dihadang sama anak gadis yang nungging-nungging kayak goyang itik didepan rumah." jawab Bu Mila senyum-senyum.


Merah padam wajah Lena mendengar perkataan ibunya. Dia jadi teringat kelakuannya waktu SMP yang suka bersembunyi menunggu Sultan dan adik-adiknya yang keluar dari rumah untuk berangkat ke sekolah.


"Uh... Ibu... Kenapa jadi ngingatin kejadian waktu itu sih, bu?" Lena menutup wajahnya dengan tangan karena malu.


"Tapi, ayah tahu nggak, bu?"


"Ah, ayahmu itu orangnya nggak peka." jawab Bu Mila sambil tertawa-tawa. Disusul dengan tawa kikikan Lena.


Bu Mila terdiam, dipandangnya putrinya.


"Nak, sepertinya kamu juga sudah tahu kalau Sultan selama ini hanya menganggapmu sebagai adik saja, iya kan?" tanya Bu Mila hati-hati.


"Lena tahu kok, bu."


"Tapi... Lena menyukainya, bu... " kepala Lena tertunduk, suaranya sedikit bergetar.


"Kamu nggak bisa memaksakan Sultan yang nggak mencintaimu, nak."


"Aku juga nggak bisa dipaksakan menikah kalau aku nggak menyukai anak Pak Ibrahim." kilah Lena keras kepala.


Bu Mila jadi merasa bersalah.


"Kamu nggak tahu karena kamu belum mengenalnya, nak." bujuk Bu Mila.


"Memangnya ayah sama ibu pernah ketemu sama orangnya? Belum pernah kan?" sangkal Lena kesal.


Bu Mila terdiam.


"Aku sudah lama suka sama Kak Sultan, jadi aku bisa mengenalnya. Kalau sama anak Pak Ibrahim kan aku nggak tahu, bu. Lagian yang aku suka kan Kak Sultan, bukan sama anak Pak Ibrahim. Pokoknya aku nggak mau dipaksa nikah." ucap Lena sedikit bergetar.


"Tapi, nak... Lebih baik dicintai daripada mencintai." ucap Bu Mila sendu.

__ADS_1


Merasa kasihan melihat Lena yang terlalu keras kepala, sampai-sampai tak sadar dengan kenyataan yang ada. Kalau dirinya merana karena cinta yang tak kunjung menghampirinya.


Lena yang menyadari apa maksud ibunya, matanya mulai berkaca-kaca. Tak bisa ditahannya lagi, langsung tumpahlah tangisnya.


__ADS_2