
"Aduh... "
Lena terkaget mendengar suara rintihan seseorang. Saat menoleh ternyata itu adalah suara Wini.
"Hei, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?" tanya Lena panik melihat Wini yang kesakitan memegangi perutnya.
"Ah, i-iya, nggak papa. Perutku cuma kram." jawab Wini. Dia terlihat gemetaran menahan sakit perutnya.
"Duh, aku jadi takut. Apa jangan-jangan aku hamil bakalan seperti ini juga, ya?" batin Lena.
"Hati-hati, jangan terlalu banyak beraktivitas. Kehamilan di usia begini itu sangat rawan." nasihat Lena cemas.
"Oh, m-makasih nasihatnya. Apa kamu dari jurusan kesehatan?" tanya Wini tiba-tiba setelah terbengong beberapa saat tadi.
"Ah, nggak, bukan. Aku ada teman yang dari jurusan kesehatan, jadi aku tahu itu dari dia." jawab Lena salah tingkah.
"Begitu, ya... " sahut Wini dengan raut wajah sendu.
"Kamu nggak papa?" tanya Lena khawatir melihat Wini yang hampir menangis.
"Nggak papa. Aku cuma terharu saja. Setelah sekian lama, akhirnya ada yang menanyakan tentang keadaanku juga. Terima kasih atas perhatianmu." ucap Wini dengan kepala tertunduk sambil memegangi perutnya dengan erat.
"Eh, padahal aku nggak ngapa-ngapain. Apa jangan-jangan begini emosi bumil yang nggak stabil yang dikatakan Grace tadi, ya?" batin Lena berpikir.
"Yang penting tetaplah berjuang. Teruslah bersemangat demi hidupmu dan calon anakmu. Memang akan susah menjalaninya, tapi yakinlah akan ada pelangi sehabis hujan." ucap Lena tersenyum hangat.
Wini terdiam membeku. Raut wajahnya terlihat kaget dan melongo kagum.
"Ah, a... " Wini seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil Bram yang baru datang.
__ADS_1
"Suamiku sudah datang. Oh iya, kamu mau pulang juga kan? Mau ikut bareng kami?" tawar Lena ramah.
"Ah, tidak. Aku sudah pesan taksi online tadi." tolak Wini ramah.
"Begitu? Ya sudah, aku duluan, ya." pamit Lena sambil melambaikan tangannya. Wini melambaikan tangannya juga pada Lena.
"Terima kasih." ucap Wini lirih saat mobil itu melaju pergi.
Di dalam mobil...
"Tadi itu siapa?" tanya Bram.
"Wini. Perutnya tadi kram, jadinya aku tanyakan keadaannya tadi." sahut Lena apa adanya.
"Baiknya istriku." puji Bram, Lena tersipu malu mendengarnya.
"Oh iya, kak. Kakak mau nggak temani aku periksa ke dok... " ucapan Lena terputus karena tiba-tiba handphone Bram berbunyi.
"Maaf ya, Len. Ayah membutuhkan bantuan lagi. Nggak papa kan kalau kita langsung pulang lagi?" tanya Bram setelah selesai menelepon.
"Iya, nggak papa, kak." ucap Lena tersenyum maklum.
"Uh... Akhir-akhir ini kakak jadi semakin sibuk membantu ayah mengurus perusahaan. Aku tak boleh mengganggunya supaya nggak menambah pekerjaan kakak. Kalau begitu, aku akan pergi sendiri saja periksa kedokternya atau aku minta ibu untuk menemaniku, ya?" batin Lena berpikir.
"Oh iya, kalau nggak salah kayaknya tadi kamu pengen bilang sesuatu. Bilang apa?" tanya Bram tiba-tiba.
"Hm? Oh, itu aku... " Lena terlihat senang ditanya Bram.
Tapi saat melihat Bram, ucapannya lagi-lagi terputus karena melihat ada orang yang sepertinya dikenalnya di seberang jalan sana.
__ADS_1
"Itu kan... " batin Lena kaget.
"Berhenti. Berhenti sebentar, kak." teriak Lena tiba-tiba.
"Kenapa, Len?" tanya Bram bingung, tapi tetap diturutinya perkataan Lena untuk menghentikan mobil.
Lena langsung keluar dari mobil dan menyeberang jalan dengan hati-hati.
"Lena! Hati-hati!" teriak Bram kaget melihat Lena menyeberangi jalan sambil menghentikan mendadak kendaraan-kendaraan yang lewat.
Tak Lena hiraukan kata-kata kasar yang terlontar dari para pengemudi yang diberhentikan paksa olehnya.
"Itu mereka! Aku yakin pasti mereka. Aku tak mungkin salah lihat. Perempuan-perempuan itu yang pernah merundungku di toilet dulu. Ternyata mereka selama ini ada disini." batin Lena yakin.
"Tapi kemana mereka? Cepat banget hilangnya." batin Lena, celingukan kesana kemari karena dirinya kehilangan sosok kedua perempuan yang dilihatnya tadi.
"Lena!" teriak Bram yang berlari mengejar Lena.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba menyeberang kayak tadi?" tanya Bram cemas saat sudah sampai dihadapan Lena.
"M-maaf, kak. Kayaknya tadi ada orang yang aku kenal."
"Siapa? Temanmu?"
"Mungkin. Tapi, kayaknya bukan deh. Maaf ya, kak. Kayaknya aku salah lihat tadi." ucap Lena menyesal karena sudah membuat Bram khawatir.
"Ya sudah, tapi jangan begini lagi, ya. Aku kaget banget tadi." ucap Bram mengingatkan.
"Iya, maaf ya, kak." sesal Lena lagi.
__ADS_1
Lalu mereka menyeberang jalan lagi dan masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.
"Hm... Aku yakin banget tadi, aku nggak salah lihat. Itu tadi kedua perempuan yang waktu itu." batin Lena berpikir.