
"Sudah malam, udaranya mulai dingin. Kenapa jendelanya masih di buka?" tanya Bram langsung menutup jendela, pura-pura tak tahu menahu dengan kegiatan Lena yang melihat keluar tadi.
Lena kaget dan tersadar dari kegiatannya dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak disadarinya Bram diam-diam meliriknya.
"Aneh? Tanpa sadar aku tadi melihat keluar jendela. Kenapa, ya? Apa kebiasaanku yang dulu ini belum hilang? Padahal aku sudah tidak ingin begitu lagi. Atau... jangan-jangan gara-gara bawaan cabang bayi?" batin Lena berpikir.
"Kalau seandainya benar, kamu nakal banget, nak." batin Lena, cemberut melihat ke arah perutnya.
Bram ikut duduk disampingnya. Dipeluknya Lena dengan begitu posesifnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Lena.
"Aku tak sabar untuk bisa melihat anak kita." ucap Bram sambil mengelus-elus perut Lena.
"Waktu itu kamu pernah bertanya padaku, apakah aku masih mencintaimu kan? Waktu itu aku bilang aku masih dan akan tetap mencintaimu." ucap Bram tiba-tiba. Lena mengangguk mengiyakan.
"Aku hanya ingin memastikan, apakah perasaanmu juga sama sepertiku?" tanya Bram serius menatap Lena dan mempererat pelukannya.
"Kenapa kakak tiba-tiba begini?" batin Lena. Dia jadi terdiam beberapa saat saking bingungnya.
"Tentu saja, aku juga akan tetap cinta kakak." jawab Lena sambil mencium pipi Bram.
"Tapi, kenapa saat ini aku meragukan perkataanmu itu? Apa gara-gara tadi aku tak sengaja melihatmu yang menatap ke arah rumah orang itu? Dan, kenapa... kenapa dirimu selalu membuat hatiku bingung begini dengan sikapmu yang terkadang suka aneh dan pada akhirnya kamu akan selalu bisa meluluhkan hatiku dengan cara begini?" batin Bram.
"Mm... Kak, akhir-akhir ini aku merasa seperti bukan diriku dan selalu suka melakukan yang aneh-aneh, apa ini gara-gara bawaan cabang bayi ya, kak?" tanya Lena, raut wajahnya terlihat kebingungan. Bram terdiam beberapa saat.
"Iya, mungkin... itu bawaan cabang bayi." sahut Bram tersenyum, lalu mencium bibir Lena.
__ADS_1
...***...
"Hhh..."
Bram duduk lesu di salah satu meja sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari perusahaan keluarganya. Dia 'kabur sebentar' dari ruangannya di saat sibuk-sibuknya karena mabuk mengatasi pekerjaan yang menumpuk dan malah jadi mengandalkan sekretaris untuk mengatasi pekerjaannya sementara, tapi kebetulan saat ini memang waktunya makan siang.
"Hari ini banyak kerjaan, sebelum-sebelumnya juga sama aja sih. Aku jadi kagum pada ayah yang selama ini sudah berjuang menjalankan perusahaan sampai sekarang." batin Bram, memegangi tengkuknya lelah.
"Hei, apa yang dilakukan pak suami sendirian disini?" sapa seseorang. Bram menatap orang yang ada dihadapannya itu.
"Lama nggak ketemu, Freedom." sahut Bram tersenyum usil sambil mempersilahkannya duduk.
"Sudah sering kukatakan berkali-kali, panggil aku Fri saja." ucap pria itu. Walaupun nada suaranya kesal, tapi wajahnya tetap datar.
"Terkadang nama seseorang tak ada kaitannya dengan sifatnya. Dan mau bagaimana lagi, itu nama yang sudah diberikan oleh orangtuaku. Kita tak bisa menentang keinginan mereka kan, karena pasti ada do'a yang baik dalam nama yang diberikan pada kita. Jangan mengejekku terus!" kesal Fri sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Benar juga, maaf, kakak... " sahut Bram menghentikan tawanya.
"Sekarang dia memanggilku kakak. Tapi wajar saja sih, dia kan adik kelasku." batin Fri jengah.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Bram.
"Aku habis bertemu dengan klienku tadi. Kebetulan saja ingin mampir kesini." sahut Fri santai.
"Kamu sendiri juga aneh. Semenjak menikah, kamu malah berubah jadi bodoh. Padahal selama yang kukenal kamu bukan orang yang seperti itu." ucap Fri, menatap Bram dengan lekat di balik kacamatanya.
__ADS_1
"Karena aku sudah jatuh cinta." sahut Bram tersenyum.
"Jatuh cinta? Yang benar saja? Apa kamu baik-baik saja sampai mau begitu saja dijodohkan orangtuamu dengan perempuan yang dari keluarga biasa-biasa begitu? Ya... walau harus kuakui istrimu memang cantik sih." ucap Fri.
"Fri, aku tak memandang status istriku saat menikahinya. Aku jatuh cinta padanya pertama kali memang karena kecantikannya. Dan aku sangat mencintainya." ucap Bram tulus.
"Begitu? Kamu tahu, aku pernah dengar rumor kalau istrimu itu memiliki pacar sebelum menikah denganmu dan terpaksa menikah karena menginginkan hartamu saja. Ya... walaupun hidup itu segalanya memang membutuhkan uang sih. Tapi, untuk apa kamu masih mempertahankannya? Bisa saja kan suatu hari nanti dia akan mengkhianatimu." singgung Fri serius.
"Itu... nggak benar." sangkal Bram.
"Hm... Seperti ada keraguan dalam ucapanmu itu. Apa itu berarti memang benar?" pancing Fri.
"Itu nggak akan terjadi. Tapi, memang benar sih ada orang yang begitu sangat disukainya sejak lama. Bahkan masih tetap mencintainya walaupun tahu cintanya bertepuk sebelah tangan." curhat Bram. Dia dan Fri terdiam beberapa saat.
"Karena itulah aku tak mau percaya pada yang namanya cinta." ucap Fri serius.
"Tapi, aku tak akan menyerah untuk mencintainya. Dan istriku juga sudah mulai menyukaiku, jadi usahaku nggak sia-sia kan?" ucap Bram tersenyum puas.
"Walaupun konyol, tapi semangatmu boleh juga." sahut Fri tersenyum walaupun sebentar.
"Oh iya, kudengar kamu akan jadi seorang ayah. Selamat, ya." ucap Fri.
"Ahaha... Iya, terima kasih." sahut Bram tertawa.
"Dasar, kamu juga aneh. Memberikan ucapan selamat dengan wajah datarmu itu setelah tadi mengucapkan kata kata yang menyinggung hati." batin Bram.
__ADS_1