
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar yang gordennya tak tertutup sempurna, sampai mengenai wajah tampan seseorang dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Dia bangun lalu duduk sambil meregangkan tubuhnya.
"Tidurku nyenyak juga." batinnya sambil tersenyum. Tapi, saat dia menoleh ke samping...
"Astaga!" teriak Bram kaget bukan main melihat sosok berantakan disampingnya.
"K-kamu kenapa, Len?" tanyanya dengan jantung yang dag dig dugan. Bangun-bangun dia malah melihat Lena yang juga bangun tidur berpenampilan seperti zombi dengan rambut berantakan dan mata pandanya.
"Hm? Kenapa, kak?" tanya Lena bingung, suaranya serak khasnya suara yang baru bangun tidur.
"M-mending kamu mandi duluan sana, biar segar." suruh Bram.
"Iya, kak... " jawab Lena masih bingung tapi dia tetap menurut dengan perkataan Bram. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan gontai ke kamar mandi mirip seperti jalan zombi.
"Hati-hati, Len. Jalannya yang benar." ucap Bram khawatir dan takut-takut melihat Lena yang begitu.
"Jangan-jangan dia begitu gara-gara kelelahan aku ajak jalan-jalan sampai malam, ya?" tanya Bram pada diri sendiri.
"Kalau gitu, aku nggak akan mengajaknya jalan-jalan sampai malam lagi, deh." janji Bram karena merasa bersalah.
Sementara itu, di kamar mandi, Lena sampai kaget melihat pantulan dirinya sendiri di cermin wastafel.
"Astaga. Pantas saja Kak Bram kaget melihat penampilanku yang begini. Duh... malu banget..." ucap Lena panik sambil merapikan rambutnya dengan tangan.
"Aku begini gara-gara nggak bisa tidur memikirkan kalau... Kak Bram... " batin Lena dengan wajah yang seketika memerah.
"Iiih... Mandi aja deh, Len. Jangan mikirin yang nggak-nggak." batin Lena lagi sambil memegang kedua pipinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat ini, Lena sudah selesai berdandan. Mata pandanya sudah tertutup sempurna berkat keterampilan make upnya. Dan sekarang, dia sedang duduk manis di depan meja rias menunggu Bram yang sedang memasang dasinya. Sampai-sampai Bram jadi salah tingkah dilihat olehnya.
"Ehem, ehem... " Bram sesekali berdehem dan kadang-kadang suka melirik pantulan diri Lena di cermin didepannya.
"Duh... Ini gimana sih cara pasangnya? Aku jadi lupa." batin Bram bingung. Saking groginya dilihat oleh Lena, dia sampai lupa cara memasang dasi.
"Kak Bram kenapa, ya?" batin Lena bingung melihat Bram yang gelisah. Dia lalu berjalan mendekati Bram.
"Sini aku bantuin, kak." ucap Lena menawarkan diri setelah melihat Bram yang kesusahan memakai dasinya.
"Bukannya kakak bisa sendiri masang dasinya?" tanya Lena sambil tangannya melilit-lilit dasi Bram.
"Habisnya kamu cantik sih." ucap Bram sambil menatap lekat wajah Lena.
Deg!
"Ih, K-Kak Bram ngomong apaan sih? Jangan bikin aku ge-er dong, kak. Nanti leher kakak bisa kecekek." ucap Lena gelagapan dengan wajah yang sudah merah padam sambil mempercepat tangannya memasang dasi. Bram cekikikan melihatnya.
"Tuh kan, apa kubilang? Kalau kakak... " batin Lena panik sambil memegangi pipinya setelah selesai memasang dasi.
Lalu merekapun keluar kamar bersama-sama untuk sarapan bersama orangtua yang sudah menunggu mereka di meja makan. Dan seperti biasa, Bu Dona terlihat tak senang melihat Lena.
Mereka sarapan dengan tenang, walaupun Pak Ibrahim terlihat curiga melihat Lena yang salah tingkah dan Bram yang senyam-senyum tak jelas.
__ADS_1
"Ehem. Kalian sebenarnya kenapa? Kok nggak seperti biasanya. Apa jangan-jangan kalian sedang dalam proses bikin cucu buat ayah dan ibu?" tanya Pak Ibrahim tiba-tiba.
Trang!
Sendok yang Lena pegang sampai jatuh ke lantai karena kaget mendengarnya. Sedangkan Bu Dona tersedak sampai makanan yang dikunyahnya menyembur keluar saking kagetnya.
"Uhuk, uhuk." Bu Dona terbatuk-batuk sampai Pak Ibrahim jadi panik dan memberikan air minum pada istrinya itu. Selesai minum, Bu Dona menatap tajam ke arah Lena.
"Nggak kok, bu. Kami nggak ngapa-ngapain... " teriak Lena dalam hati, takut-takut dengan tatapan tajam dari ibu mertuanya.
"Eh, ehem. Nggak, yah. Bukan begitu. Kami masih belum... " ucap Bram terbata-bata dengan wajah yang memerah, dia tak melanjutkan kata-katanya. Mendengar kata-kata Bram, raut wajah Bu Dona mulai terlihat tenang. Yang terlihat kecewa malah Pak Ibrahim.
"Oh iya, Bram. Kamu tidak lupa kan kalau malam ini kita harus menghadiri acara antar perusahaan?" tanya Pak Ibrahim.
"Iya, yah. Aku ingat." jawab Bram.
Karena alasan itulah, kemarin Bram mengajak Lena shopping sampai malam untuk membeli pakaian baru untuk Lena pakai di acara itu nantinya.
"Lena harus ikut juga, ya." ucap Pak Ibrahim.
"Mm... Tapi, yah. Acaranya kan malam. Kalau Lena ikut, takutnya Lena sakit." ucap Bram dengan perasaan serba salah karena mengingat kejadian bangun tidur tadi. Lena yang duduk disampingnya kebingungan mendengarnya.
"Aku bisa ikut kok, kak." ucap Lena yakin tapi pikirannya penuh dengan tanda tanya.
"Itu acara besar, hanya orang-orang elit saja yang bisa datang." celetuk Bu Dona.
"Bu, Lena itu sudah jadi bagian keluarga kita, menantu kita. Apa ibu lupa?" ucap Pak Ibrahim tajam pada istrinya. Bu Dona jadi terdiam. Lena jadi merasa bersalah melihat mertuanya begitu.
Pak Ibrahim sudah keluar area rumah memacu mobilnya, lalu disusul oleh mobil Bram dan Lena.
"Huh, aku tak sudi dapat cucu dari menantu seperti dia." ucap Bu Dona tak terima sambil melihat kepergian mobil-mobil itu.
Di dalam mobil yang sedang melaju, Bram yang sedang menyetir sesekali melihat ke arah Lena yang sedang diam sambil melihat keluar kaca pintu mobil.
"Heran, deh. Perasaan aku nggak pernah bikin salah sama ibu. Tapi kenapa ibu terlihat tak begitu suka padaku? Untung saja aku kuliah, jadi aku nggak terlalu sering ketemu ibu. Apa aku bakalan baik-baik saja ya nantinya?" batin Lena galau.
"Len, ucapan ibu tadi jangan diambil hati, ya." ucap Bram dengan wajah terlihat serba salah. Lena menoleh kearahnya.
"Ah, nggak papa kok, kak." sahut Lena gelagapan. Bram ternyata tahu apa yang dipikirkannya.
"Nggak usah terlalu dipikirkan, ya. Kalau lama-lama kenal dengan kamu juga, ibu nantinya bakalan ramah." ucap Bram lagi.
"Semoga aja, kak. Kalau begitu terus, aku kan jadi bingung salahku itu apa?" batin Lena.
Saat di rumah tadi saja bikin Lena galau, sekarang di kampus saat mata kuliah sedang berlangsung, dia jadi bingung dengan seseorang yang duduk tak jauh didekatnya.
"Lagi-lagi Ihsan duduk didekatku." batin Lena melirik Ihsan. Entah kenapa ada perasaan risih dan tak nyaman menyelimuti hati Lena. Tapi, dia berusaha mengabaikannya. Kan nggak enak kalau harus mengusir orang yang cuma duduk disampingnya.
...***...
"Coba lihat, deh. Lagi-lagi Cintia memperhatikan Lena dan teman-temannya." bisik Sonia pada Soraya.
__ADS_1
Terlihat Cintia tengah serius memperhatikan Lena dan teman-temannya yang juga sedang makan di kantin.
"Kamu masih ingat kan kalau akhir-akhir ini Cintia suka menghilang tanpa sepengetahuan kita. Dan dia mulai terlihat akrab dengan Lena. Kalau seperti itu terus lama-lama dia bisa membuang kita." bisik Sonia lagi.
"Ini nggak bisa dibiarkan. Kalau hal itu sampai terjadi, papa bakalan marah sama aku." ucap Soraya cemas.
"Mama juga bakalan marah sama aku." ucap Sonia cemas juga.
"Cih, kenapa sih kamu anak kesayangannya papa?" Soraya tiba-tiba kesal. Wajah Soraya mirip seperti mama mereka.
"Kamu juga, kenapa sih kamu anak kesayangannya mama?" Sonia ikutan kesal juga. Kalau wajah Sonia mirip seperti papa mereka. Dan entah kenapa mereka malah jadi bertengkar saja.
"Haduh... Si kembar ini pada kenapa lagi?" batin Cintia jengah menyadari si kembar tapi beda disampingnya malah sedang jambak-jambakkan. Pertengkaran mereka terhenti setelah ditatap tajam oleh Cintia.
"Hei, lihat disana. Itu bukannya Ihsan?" tanya Sonia yang matanya sangat tajam sambil menunjuk ke salah satu meja kantin. Cintia dan Soraya melihat ke arah yang ditunjuknya.
"Iya, itu Ihsan. Dia kenapa, ya? Memperhatikan Lena dan teman-temannya sampai serius begitu. Dia jadi terlihat mencurigakan, bukan?" tanya Soraya dan disahuti anggukan semangat dari Sonia.
Sama dengan mereka, Cintia juga merasa ada yang aneh dengan tingkah Ihsan. Tapi, tiba-tiba dia malah bertanya dengan polos.
"Ihsan itu siapa?"
"Astaga? Kamu nggak tahu? Ihsan itu satu jurusan dengan Lena, loh." ucap Sonia kaget.
"Orangnya pintar dan terkadang suka menyendiri." tambah Soraya sambil memegang dagunya. Mereka langsung terlihat serius seperti detektif yang sedang menganalisa seseorang.
"Kok mereka bisa tahu, ya? Aku aja nggak tahu." batin Cintia takjub pada mereka.
Kalau urusan seperti ini, si kembar sangat bersemangat. Karena cita-cita mereka yang sebenarnya adalah ingin menjadi detektif. Karena waktu kecil dulu, mereka pernah membaca buku detektif yang hebat dan langsung jadi terobsesi karenanya. Tapi sayangnya, orangtua mereka malah memasukkan mereka kuliah dengan jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Walaupun begitu, mereka tetap menuruti keinginan orangtua mereka.
Tapi anehnya, walaupun mereka bisa menganalisa seperti detektif, mereka tetap tidak bisa menemukan dimana tempat persembunyian Cintia saat diam-diam kabur dari mereka. Mereka pasti tak akan menyangka kalau Cintia sebenarnya bersembunyi di toilet.
Waktu itu, Cintia pernah meminta bantuan mereka untuk melacak dua perempuan yang merundung Lena di toilet dulu. Tapi tak ada hasil, karena dari penelusuran mereka, dua perempuan itu bukanlah orang yang satu kampus dengan mereka atau kemungkinan hanya orang biasa.
Dan orang yang menyiram Lena pun tak diketahui siapa orangnya. Tak bisa dilacak lewat CCTV, seolah orang itu mengetahui dimana saja letak CCTV.
Saat jiwa kepo si kembar menjadi-jadi, mereka jadi menanyakan kenapa Cintia menyuruh mereka melacak orang-orang itu. Mereka langsung bungkam karena di ancam oleh Cintia kalau bertanya terlalu berlebihan atau bahkan mengumbar-umbar kejadian itu pada orang lain. Katena takutnya dalang yang menyuruh orang-orang yang merundung Lena akan lepas begitu saja.
Saat ini, entah kenapa Ihsan yang duduk disana terlihat sedang membaca sesuatu dihandphonenya. Kemungkinan ada pesan masuk dari seseorang dan dia terlihat kaget membacanya. Setelahnya dia terlihat tenang, lalu beranjak pergi dari kantin dengan sikap yang masih terlihat tenang juga. Dan hal itu tak luput dari penglihatan Cintia dan si kembar.
...***...
Sementara itu, di perusahaan keluarga Bram...
Diruangan kerjanya, Bram yang tengah asyik mengurus dokumen yang ada didepannya mengalihkan pandangannya kehandphonenya yang berbunyi di atas meja kerjanya.
"A-apa-apaan ini?" ucapnya kaget melihat layar handphonenya. Bram terlihat sangat kesal sampai tangannya mengepal erat.
Di waktu yang sama di suatu tempat, terlihat seseorang sedang memainkan handphonenya. Sepertinya dia habis mengirim sesuatu dari handphonenya.
"Aku sangat tahu seperti apa sifat Kak Bram itu sebenarnya. Dia pasti sangat kesal melihat ini. Hi, hi, hi... " ucapnya sambil tersenyum licik.
__ADS_1