
"Anu, Wini... "
"Ya?"
"Apa... aku boleh pegang perutmu?" tanya Lena memohon.
Beberapa saat Wini terdiam, ditatapnya Lena dengan wajah yang sendu. Setelahnya dia mengangguk mengiyakan dengan kepala tertunduk. Wini sekuat tenaga menahan matanya yang ingin menangis saat Lena mengelus-elus pelan perutnya yang membuncit.
"Perutku bakalan membesar seperti ini juga nantinya." batin Lena tersenyum.
"Perutmu sudah nggak kram lagi kan?"
Wini mengangguk mengiyakan.
"Baguslah. Tetap jaga kesehatan, ya." ucap Lena tersenyum.
"Kamu pasti mengalami banyak kesulitan kan?" tanya Lena hati-hati melirik Wini yang terdiam.
"Apa kamu baik-baik saja selama ini? Maaf, aku bukan bermaksud untuk ikut campur urusanmu, tapi aku merasa kasihan. Kamu kan orang baik. Rasanya kamu nggak pantas diperlakukan seperti ini. Apapun yang orang lain katakan, kamu nggak usah terlalu mendengarkan mereka. Aku yakin, kamu juga nggak menginginkan hal yang seperti ini. Jangan pikirkan perkataan orang lain, kamu hanya perlu pikirkan tentang dirimu saja." ucap Lena panjang lebar menyemangati.
"Tapi... bagaimana kalau sebenarnya aku juga bersalah?" tanya Wini sendu. Lena terdiam, tak bisa berkata-kata, mencerna apa yang dikatakan Wini barusan.
"Maksudnya dia juga salah?" batin Lena berpikir.
__ADS_1
Tin... tin...!
"Oh, suamiku sudah datang." ucap Lena melihat mobil Bram yang baru datang. Bram keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"Mau ikut bareng kami?" tawar Lena ramah.
"Nggak, makasih." tolak Wini menggeleng-geleng.
"Ya, sudah. Aku duluan, ya." pamit Lena.
Wini mengangguk mengiyakan, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah jadi ketakutan karena Bram melihat kearahnya dengan tatapan tak senang.
"Apa itu?" tanya Bram melihat sebuah kotak di tangan Lena saat mereka sudah meninggalkan area kampus.
"Mulai sekarang kamu jangan dekat-dekat lagi dengannya." ucap Bram.
"Eh? Kenapa?" tanya Lena bingung.
"Dengar-dengar wanita itu hamil diluar nikah. Aku nggak mau dia membawa dampak buruk untukmu kalau kamu dekat-dekat dengannya."
"Dari mana kakak bisa tahu?" tanya Lena kaget.
"Nggak penting aku tahu dari mana. Pokoknya kamu jangan dekat-dekat lagi dengannya."
__ADS_1
"Tapi... "
"Lena, jangan membantah. Ini demi kebaikanmu juga. Mengerti kan?" ucap Bram tegas. Ditatapnya Lena dengan begitu serius, sampai-sampai harus menghentikan laju mobilnya.
"Iya, kak." sahut Lena tertunduk dan menggigit bibir bawahnya. Digenggamnya erat kotak kue pemberian Wini.
"Kamu juga jangan terlalu dekat dengan laki-laki berkacamata yang satu jurusan denganmu itu?"
"Yang kakak maksud itu Ihsan?"
"Hm."
"Tapi, kami kan satu jurusan dan berkat bantuan darinya aku bisa memahami pembelajaranku." ucap Lena hati-hati.
"Kamu tetap nggak boleh terlalu akrab dengannya." ucap Bram menatap tajam.
"I-iya, kak." ucap Lena lirih. Ada perasaan bingung juga dalam hatinya dengan sikap Bram.
"Sebenarnya ini masih belum cukup. Tapi, aku tak mau Lena merasa terbebani dan takutnya akan membuatnya jadi memberontak." batin Bram, melajukan lagi mobilnya yang terhenti tadi.
Masa dia sama laki-laki berkacamata itu duduk dekat-dekatan terus? Memang sih kita nggak bisa melarang siapapun duduk di tempat mana saja yang dia mau, tapi seharusnya orang itu sadar diri juga dong kalau dia terlalu dekat dengan istri orang dan semestinya Lena harus menjaga jarak juga kan seharusnya? Apalagi aku juga dengar kalau Lena cukup populer juga dikampusnya.
Dan untung saja aku tahu dari Alika kalau perempuan yang bernama Wini tadi perempuan nggak benar dan hamil diluar nikah.
__ADS_1
Lena harus dijauhkan dari orang-orang seperti itu. Aku nggak mau istriku terkena pengaruh buruk bergaul dengan orang yang salah.