Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Meminta Resep Makanan Dari Ahlinya


__ADS_3

"Ini kan pin kemeja. Kenapa suamiku menaruhnya disini?" ucap Bu Dona agak kesal dan bingung, mengambil kotak kecil persegi dan membukanya.


"Hm... aku membeli ini beberapa tahun yang lalu untuk suamiku." batinnya tersenyum. Dirinya jadi teringat kenangan dulu saat melihat isi kotak kecil itu yang berupa pin kemeja berbentuk persegi panjang kecil berwarna hitam.


Dulu suamiku sangat menyukai pin kemeja ini dan selalu memakainya. Tapi, entah kenapa dia sudah lama tak memakainya lagi karena salah satu pinnya hilang entah kemana dan malah jadi menyimpannya begitu saja di lemari?


Waktu itu dia terlihat sedih dan terus-terusan meminta maaf melihatku yang sedikit kecewa karena tak sengaja menghilangkannya.


Aku memang sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi kalau sudah hilang ya hilang saja kan. Padahal aku sudah memilihnya dengan sepenuh hati. Tapi ya sudah, nggak papa.


Tetapi anehnya, semenjak hilangnya pin itu, sikap suamiku mulai jadi aneh. Terkadang suka merasa ketakutan dan suka marah-marah tak jelas sendiri. Ya... walaupun sifatnya memang keras dan pemarah juga sih. Mungkinkah karena dia kelelahan dengan urusan perusahannya?


Hhh... Tapi, bagaimana suamiku bisa kehilangan sebelah pin kemejanya ini, ya? Padahal dia orangnya sangat teliti dan begitu menyukai pin kemeja yang aku berikan untuknya. Dia memang selalu menyukai apa yang kuberikan untuknya.


Dan tahu-tahu, setelahnya mendadak malah ingin menikahkan Bram dengan anak yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja karena berhutang budi pernah ditolong oleh mereka saat dibegal orang-orang tak dikenal.


"Aku jadi semakin tak mengerti mengapa sikapnya jadi seperti itu? Aku tahu kalau suamiku orangnya memang baik pada siapa saja, tapi entah kenapa rasanya agak aneh." batin Bu Dona, menutup kembali lemari baju suaminya setelah meletakkan kembali kotak pin kemeja ke tempat asalnya.


...***...

__ADS_1


"Kamu nggak mau pulang bareng kami, Len?" tanya Anisa menawari Lena untuk ikut pulang bersamanya dengan Cintia dan Ardan.


"Iya. Kak Bram tadi sudah menghubungi akan menjemputku walaupun agak terlambat karena ada urusan. Kalian pulang saja duluan." tolak Lena.


"Hei, yang lain sudah pulang duluan tahu. Apa nggak apa-apa kamu menunggu sendirian disini? Apalagi kamu kan lagi hamil." ucap Cintia mengingatkan dengan gaya angkuhnya.


"Iya, nggak papa, nggak usah khawatir. Sudah biasa kok, kakak terkadang suka terlambat menjemputku." ucap Lena agak kesal pada Anisa yang dari tadi terus memaksanya dengan wajah yang begitu khawatir. Apalagi melihat Cintia dengan gaya tsunderenya, bersikap tak peduli tapi peduli dan khawatir juga.


"Sudahlah... Kalau Lenanya nggak mau ya jangan dipaksa. Kita nggak bisa memaksakan keteguhan seorang istri yang berbakti pada suaminya kan." celetuk Ardan dari dalam mobil. Lena tersenyum kesal mendengarnya sedangkan Anisa dan Cintia menatap tajam kearah Ardan.


"Sudah, aku nggak papa kok. Kalian pulang sana." suruh Lena.


"Lena." tiba-tiba ada yang memanggilnya.


Lena menoleh pada suara yang memanggilnya.


"Wini? Ada apa?" tanya Lena ramah.


"Anu... Mm... Ini, aku mau memberikan kue buatanku padamu." ucap Wini malu-malu sambil menyodorkan sekotak kue pada Lena.

__ADS_1


"Untukku? Kenapa?" tanya Lena bingung.


"A-aku mau memberikannya padamu. T-tapi, kalau kamu nggak mau... " ucap Wini terbata dan tak jadi menyodorkan kotak kuenya.


"Ah, aku mau kok. Kamu kan mau memberikannya padaku, aku nggak bisa menolak karena aku suka kue buatanmu yang enak." ucap Lena tersenyum sambil menyuruh Wini duduk disampingnya. Wini terlihat tersipu lalu diberikannya kotak kue itu pada Lena.


"Kudengar kue dan masakan buatanmu paling enak diantara teman-teman jurusanmu."


"Ah, ng-nggak juga kok." ucap Wini tersipu malu.


"Kue buatanmu memang beneran enak. Aku jadi iri, selama ini aku terkadang suka memasak untuk keluargaku hanya masakan yang sudah bisa kukuasai saja. Dan kadang menurutku rasa masakanku masih agak kurang." Lena menghela nafasnya lesu.


"Mm... Kalau boleh, apakah aku boleh meminta saran atau sedikit resep makanan darimu yang merupakan ahlinya? T-tapi, kalau kamu nggak mau, nggak papa kok."


"Tentu saja boleh!" sahut Wini senang dan langsung memberitahukan beberapa resep makanan pada Lena dengan begitu semangatnya.


"Anu, Wini..." ucap Lena tiba-tiba.


"Ya?"

__ADS_1


__ADS_2