
Saat ini, Lena dan orangtuanya sedang berada direstoran favorit mereka dulu. Restoran milik Pak Ibrahim. Mereka duduk satu meja dengan Pak Ibrahim, Bu Dona dan Bram disana.
Mereka sedang membicarakan tentang pernikahan Bram dan Lena nantinya. Walaupun, hanya satu orang yang terdiam dengan wajah yang terlihat tak suka, yaitu Bu Dona pastinya.
Sore tadi, ayah dan ibu Lena kaget sekaligus senang saat Lena memutuskan akan menerima perjodohan. Mereka langsung menghubungi Pak Ibrahim dan pihak pria memutuskan ingin membahas pernikahan malam ini juga. Lena sampai kaget, kenapa harus secepat itu responnya.
Kini, saat orangtua mereka membahas perihal pernikahan, Lena hanya terdiam ditempatnya. Ditatapnya Bram yang duduk diseberangnya. Bram tersenyum kearahnya, terlihat dari wajahnya kalau Bram sangat bahagia.
"Apa ini sudah benar?" batin Lena bimbang, tiba-tiba hatinya mulai meragu.
Sudah berjam-jam aku memikirkannya. Tapi, kenapa hati ini masih terasa nyeri juga? Apa benar tidak apa-apa?
Entah kenapa hati ini masih tak rela. Tak rela harus melepas orang yang aku cinta. Tapi, kalau aku terus bertahan, aku juga akan merana.
Semua jadi seperti buah simalakama. Semakin gigih aku mengejarnya, semakin sulit aku menggapainya. Tapi, saat aku ingin melepasnya, aku malah jadi semakin menderita. Masalah cinta memang selalu jadi dilema. Ada yang bahagia, tapi ada juga yang merana.
Mungkin benar kata ibu, dia memang bukan jodohku. Tapi, kenapa hati ini masih meragu? Seolah masih ada harapan yang menunggu. Aku juga inginnya begitu. Tapi, apalah daya. Dia... memang bukanlah jodohku.
...***...
Pagi ini, lagi-lagi Kak Bram datang kerumah untuk mengantarku kekampus. Wajahnya terlihat bersinar, menyiratkan kebahagiaan. Aku berusaha menunjukkan senyum terbaikku agar dia tak kecewa.
Kami sarapan bersama, menyantap masakan ibu yang enaknya tiada tara. Sesekali aku ikut tertawa, mendengar candaan orangtuaku dan dia.
Tapi... Apakah ini sudah benar?
Selesai sarapan, kami berpamitan pada orangtuaku. Terlihat ayah dan ibu menatapku sendu. Apa mungkin mereka terharu?
Saat keluar dari pintu, tak sengaja mata ini menatap orang itu. Diseberang sana, kebetulan orang itu juga ingin mengantar adik-adiknya yang masih bersekolah dibangku SMA. Tak sengaja dia juga menatap kearahku. Seketika hatiku jadi pilu.
Apakah ini sudah benar?
Kulihat Kak Bram mengulurkan tangannya padaku. Tapi, tangan ini ragu untuk menyambut uluran tangannya. Kak Bram menatapku dengan sendu, mungkin dia tahu kalau hatiku ini masih meragu.
Lagi-lagi keraguan menyusup kehatiku. Keraguan yang mengusik kalbu. Mempermainkan hati yang pilu...
Tidak!
__ADS_1
Aku tak boleh begini. Aku tak boleh egois, karena ada hati yang menanti disini. Aku harus melangkah maju. Aku harus memantapkan tekadku. Kusambut uluran tangannya, dia terlihat bahagia.
Mungkin ini sudah benar. Mungkin inilah yang terbaik untukku.
Akan kulepas cintaku dan membuka lembaran baru bersama cinta yang sedang menungguku. Menambatkan hati dan siap untuk berlabuh.
Ya Allah, kuatkan tekadku. Hanya satu pintaku. Aku hanya ingin bahagia menyongsong hari yang baru bersama dia yang sedang menggenggam erat tanganku.
...***...
Dikampus, teman-teman Lena heboh melihat Lena dan Bram yang berpegangan tangan. Teman-temannya langsung mengerubungi mereka.
"Ada apa nih? Katanya waktu itu cuma teman... Tapi, kok sekarang pegangan tangan?" tanya Anisa tersenyum sumringah.
Rosi dan Emi tersenyum bahagia melihat mereka. Sedangkan Grace, dia hanya terdiam disamping teman-temannya. Saat melihat Lena, dia terlihat serba salah. Padahal dia yang paling ember mulutnya.
"Kami sudah memutuskan akan menikah." ucap Lena tersenyum ceria.
"Benarkah? Kapan?" tanya Anisa, Rosi dan Emi kaget tak percaya.
"Waaah... Akhirnya... " ucap teman-teman Lena bahagia.
"Maaf, ya. Aku tak bisa berlama-lama, soalnya ada kerjaan. Aku pergi dulu." ucap Bram sambil melihat jam tangannya.
"Iya. Hati-hati ya, kak." ucap Lena tersenyum ceria sambil melambaikan tangannya pada Bram. Bram terpana melihatnya, wajahnya seketika merah merona.
"Duh, apa wajahku sudah jadi tomat?" batin Bram panik sambil berlari kearah mobilnya. Mobil Bram sudah tak terlihat lagi. Anisa tiba-tiba bersuara.
"Mm... Lena. Kamu nggak papa kan?"
"Aku nggak papa kok. Kenapa kamu nanya begitu?" ucap Lena tersenyum pada teman-temannya yang terlihat sedih menatapnya.
"Kami kaget banget. Habisnya, kamu tiba-tiba bilang mau menikah gitu." ucap Rosi.
"Apa terjadi sesuatu, Len?" tanya Emi takut-takut.
"Hhh... Kalian ini. Waktu aku menolak perjodohan, kalian marah. Tapi, saat aku bilang mau menikah, kalian malah kaget lagi. Nggak ada apa-apa kok. Aku sudah memikirkannya. Seperti yang kalian bilang, mungkin ini yang terbaik untukku." ucap Lena tersenyum. Teman-temannya ikut tersenyum juga melihat Lena yang sudah mau membuka hatinya.
__ADS_1
"Jadi, kalian harus datang ya nanti." ucap Lena mengingatkan.
"Tentu saja, kami pasti akan datang." ucap Anisa, Rosi dan Emi antusias.
"Iya kan, Grace?" tanya Anisa tiba-tiba kearah Grace.
"Eh? Oh. I-iya..." jawab Grace terbata-bata.
"Kamu dari tadi kenapa sih, Grace? Diam aja." ucap Grace bingung.
"Iya juga. Bukannya Grace yang paling heboh daripada kita, ya?" tanya Emi tersadar.
Grace terlihat salah tingkah karena Anisa, Rosi dan Emi menatapnya lekat dengan penuh tanda tanya.
"Nggak papa, Grace. Kamu nggak salah kok. Berkat kamu juga, aku jadi tersadar kalau hidup itu bukan tentang diriku saja. Tapi ada yang lainnya." ucap Lena tersenyum kearah Grace.
Grace terdiam. Sedetik kemudian, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Hiks, Lena... Maafkan aku. Waktu itu, aku nggak bermaksud ngomong kayak gitu." ucap Grace. Tiba-tiba dirinya malah menangis sambil memeluk Lena.
"Iya. Aku tahu, aku tahu. Aku juga minta maaf, ya." ucap Lena sambil menepuk-nepuk punggung Grace. Yang lain kebingungan melihat mereka berdua.
"Hei, ada apa nih? Kalian berdua kenapa?" tanya Rosi kebingungan. Tapi, tak ada sahutan dari Lena dan Grace.
"Loh, kalian berdua juga kenapa?" tanya Rosi lagi pada Emi dan Anisa.
"Nggak tahu, ah." ucap Emi ikut menangis dan memeluk Lena dan Grace. Anisa jadi ikut-ikutan juga. Padahal, mereka berdua juga tak tahu apa yang terjadi antara Lena dan Grace.
"Hei, memangnya Grace ngomong apa sama kamu, Len?" Rosi masih bertanya lagi, dia masih belum menyerah.
"Nanti aja kita ngomonginnya. Yuk, kita masuk, yuk. Kita ada kelas kan." ucap Lena tenang sambil mengajak teman-temannya berjalan masuk kearea kampus.
"Loh, kok gitu? Ada apa sih? Cerita sekarang aja, dong. Aku kan jadi penasaran." paksa Rosi. Tapi Lena tak mau mengatakannya.
Dikejauhan, tampak ada seseorang yang melihat mereka dengan penuh kebencian. Wajahnya terlihat memerah, menyorotkan kalau dia sedang dilanda amarah.
"Bisa-bisanya dia. Awas kamu, Lena. Aku akan buat hidupmu menderita." ucapnya garang.
__ADS_1