Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Duel


__ADS_3

"Hm... aku kepikiran terus sama artis ini. Dia terlihat mirip dengan seseorang." batin Cintia melihat foto dihandphonenya.


Di tempat yang sama, Cintia dan si kembar juga juga ada di kantin. Tapi kali ini, Cintia tidak memperhatikan Lena dan malah terlihat asyik dengan handphonenya. Karena penasaran melihat Cintia yang tak seperti biasanya, si kembar diam-diam mengintip apa yang di lihat Cintia sampai terlihat serius begitu. Mereka langsung lemes, ternyata yang di lihat Cintia adalah foto mereka dengan Daniel kemarin.


"Tumben Cintia terlihat tertarik dengan orang yang nggak dikenalnya, laki-laki, artis pujaan semua orang lagi. Jangan-jangan..." bisik Soraya pada Sonia.


"Kalau saingannya Cintia sih, kita bakalan kalah saing." bisik Sonia lesu.


"Apa boleh buat. Walaupun kita berdua bisa melawan Cintia yang hanya seorang, kita tetap bakalan kalah karena pengaruhnya lebih besar dia daripada kita. Kemungkinan yang ada kita yang bakalan dibuangnya." bisik Soraya ikut lesu.


"Kenapa saat kita menyukai seseorang, kita selalu saja kalah saing dengan perempuan lain?" tanya Sonia ngenes.


Ceritanya, dulu si kembar pernah menyukai dan mengagumi Sultan, tapi setelah tahu Lena juga menyukainya dan Sultan yang orangnya terkenal kaku parah, mereka menyerah menjadi penggemarnya. Begitu pula dengan Ardan, mereka jadi takut karena saingannya Anisa. Dan sekarang Daniel, mereka tak bisa berkutik karena saingannya Cintia. Tapi, tetap saja mereka akan jadi penggemarnya Daniel.


"Walaupun kalah, kata papa kita nggak boleh menyerah begitu saja." ucap Sonia menyemangati.


"Kata mama, kalau kita mau ketemu jodoh, kita harus banyak-banyak berdo'a. Semoga kita bisa ketemu dengan jodoh kita." ucap Soraya.


"Aamiin." ucap mereka bersamaan sambil menyapu wajah dengan tangan setelah selesai berdo'a.


"Kenapa mereka?" batin Cintia kebingungan melihat si kembar yang terlihat habis berdo'a.


Hhh... Dasar, gara-gara kalian. Padahal kemarin nggak harus ikut berkerumun pun sebenarnya aku juga bisa berfoto dengan Daniel, bahkan aku juga bisa menyewa tempat termahal dan termewah khusus hanya untuk berfoto dengannya. Tapi, apa boleh buat, sudah terlanjur. Sampai-sampai ada gosip tentangku di kalangan sosialita.


Papa, mama dan kakek terdiam takjub dan kaget tak percaya melihatku yang sedikit demi sedikit sudah bisa membuka diri dengan orang lain. Dari yang bikin onar bahkan sampai ikut berkerumun hanya untuk berfoto dengn artis. Tak bisa dipungkiri, gen 'pembuat masalah' dari papa ternyata menurun juga kepadaku.


Sedangkan Kak Ardan, setelah mengirim video 'aku yang juga ikut berkerumun' di tambah dengan kata-kata jahil yang menyulut emosi, dia tak pulang ke rumah. Sepertinya dia menginap di rumah Kak Sultan, karena tahu aku bakalan mengamuk padanya. Hhh... Kenapa aku bisa punya kakak sepertinya?


"Woh, bukankah itu Daniel?" tanya seseorang sedikit membungkukkan badannya di samping Cintia. Melihat Cintia yang sedang asyik melihat foto di handphonenya yang menampilkan foto Daniel juga di sana.


Cintia kaget karenanya. Dia langsung kesal setelah melihat si gondrong, brewokan dan berkacamata tebal sedang senyam-senyum disampingnya. Si kembar juga ikutan kaget. Itu adalah Daniel yang suka Cintia panggil hutan rimba.


"Ih, apaan sih? Nggak usah ngurusin orang." kesal Cintia, tapi matanya bergantian melihat Daniel lalu melihat kehandphonenya seperti sedang membandingkan.


Daniel yang sadar kalau sedang di teliti oleh Cintia di tambah Sonia yang juga melihatnya dengan serius, pamit dan buru-buru pergi dari sana.


"Ya sudah, aku pergi dulu, nona pengacara." ucapnya sambil melambaikan tangan. Cintia memutar bola matanya bete menanggapi Daniel yang berjalan menjauh.


"Astaga, kaget aku." ucap Soraya yang masih syok dengan kedatangan Daniel tadi.


"Kamu kenapa, Son?" tanyanya melihat Sonia yang serius memperhatikan Daniel sambil memegang dagunya.


"Kalau nggak salah nama orang itu Daniel kan, Sor? Apa jangan-jangan..."


"Hah? Iya juga, ya." batin Cintia kaget, dia baru tersadar.

__ADS_1


"Ah... Kamu ini, nggak mungkin... Mentang-mentang namanya sama, bukan berarti dia Daniel artis terkenal itu kan?" bantah Soraya, mengibaskan tangannya.


"Iya kan, Cintia?" tanya Soraya.


"En... tahlah." jawab Cintia, dia juga bingung harus menjawab bagaimana.


Sementara itu...


"Fyuh... Untung saja. Pokoknya aku nggak boleh sampai ketahuan. Kalau nggak, aku bakalan nggak fokus belajar di kampus." batin Daniel.


"Duh, badanku masih pegal. Kemarin meladeni berfoto penggemarku yang setia. Mereka mengerumuniku seperti sedang rebutan beli minyak goreng langka. Sampai ada yang menyeruduk punggungku dari belakang. Tapi, demi penggemar tak masalah, sebab karena mereka jugalah aku bisa jadi seperti ini sekarang." batinnya lagi.


Dikeluarkannya handphonenya dari saku celana, dia tersenyum melihat foto kemarin yang di posting di akun sosmed Cintia dan langsung me-like postingan itu.


...***...


Di suatu tempat, di gedung olahraga karate...


Anisa duduk istirahat sehabis dari latihannya, meminum air minum dibotolnya yang dibawanya dari rumah. Lalu mengambil handphone ditasnya dan langsung asyik menatap layar handphonenya. Ternyata dia sedang menonton film action.


Selain suka menonton video karate, dia juga suka menonton film action karena suka melihat adegan bertarungnya. Kalau menonton, dia selalu suka membayangkan kalau dia adalah pahlawan yang ada di film itu dan menghajar orang-orang yang menjadi lawannya.


"Oh, jadi kamu suka menonton film berkelahi begini, ya?" tanya seseorang tiba-tiba yang juga ikut duduk disampingnya.


"Woah! Hai, Kak Ardan. Masih tetap rajin ya datangnya." sapa Ridwan, juniornya Anisa, melambaikan tangannya dengan semangat.


Ardan membalas lambaian tangannya sambil tersenyum. Yang ada disana juga ikut menyapa Ardan dengan ramah.


"Huh!" sungut Anisa kesal.


Kenapa sih dia mudah akrab dengan orang? Dia bisa dengan begitu mudahnya mengambil hati orang disekitarnya, bahkan hati keluargaku juga. Kenapa aku harus terus-terusan terlibat dengannya?


Memang aku yang salah karena waktu itu membantingnya. Tapi, itu kan sudah lama berlalu dan aku sudah mempertanggungjawabkan kesalahanku dengan mau saja di antar jemput ke kampus olehnya sampai di jemput juga di tempat latihan karate.


Tapi, apa-apaan? Kenapa dia bilang sudah ijin ta'aruf denganku pada keluargaku? Seenaknya saja memutuskan secara sepihak. Inginnya menolak, tapi yang ada Abi dan kedua kakakku malah menceramahiku.


Apa yang sudah dikatakannya pada keluargaku? Sampai mau saja termakan dengan kata-kata manisnya. Apa mereka tak tahu atau pura-pura tak tahu bagaimana sifatnya yang sebenarnya? Tapi, aku hanya bisa pasrah menerima keadaan dan tak bisa membantah lagi karena takut kalau dia benar-benar menuntutku.


Kupikir hidupku akan tetap tenang seperti sebelumnya, tapi setelah dia datang, hidup dan pikiranku jadi terbebani karenanya.


Kenapa? Kenapa waktu itu aku asal main banting saja? Aku memang tahu kalau keluarga Cintia itu terpandang dan berada. Tapi, karena aku tak begitu kepikiran dengan yang namanya laki-laki, aku jadi tak begitu ingat dengan wajah kakaknya yang merupakan pebisnis muda sukses yang terkadang suka muncul di televisi dan media lainnya yang menyangkut tentang bisnis.


Kalau saja aku ingat, aku tak akan membantingnya dan pastinya tak akan berurusan dengannya. Cintia juga hanya bisa diam, seperti tak ada niatan untuk menegur kakaknya saat kami bertiga dalam satu mobil.


Tapi, semua sudah terjadi dan sekarang dia sedang duduk disampingku. Padahal tadi aku sempat senang karena berpikir do'aku terkabul kalau dia tak akan datang menjemputku disini. Tapi ternyata aku salah, dia tetap datang walaupun terlambat. Uh... betapa kesalnya aku!

__ADS_1


Apa dia tak kelelahan, ya? Mau aja antar jemput aku terus, padahal dia kan ada kesibukannya sendiri.


"Maaf, ya. Aku terlambat datang soalnya ada rapat tadi." ucap Ardan memberitahukan keterlambatannya sambil menyugar rambutnya untuk tebar pesona, tapi Anisa tak mendengarkannya.


"Hei? Kok melamun? Apa aku setampan itu sampai kamu terlihat geregetan begitu?" tanya Ardan dengan PeDenya sambil tersenyum usil menyadari Anisa yang menatapnya dengan kesal dan tangan Anisa *******-***** botol minumannya sampai tak berbentuk lagi.


"Ih! Astaghfirullah! Jangan sembarangan. Aku itu cuma kesal melihatmu tahu. Sampai kapan sih kamu terus-terusan menggangguku?" ucap Anisa kesal.


"Ih, kenapa ya ada orang yang pemaksa begini?" batin Anisa bete.


"Hm... Kenapa sih sampai sekarang kamu tak pernah menyebut namaku?" tanya Ardan dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


Selama ini, Anisa tak pernah menyebut atau memanggil namanya Ardan. Anisa selalu memanggilnya 'kakaknya Cintia', 'kamu', 'orang ini' atau semacamnya. Tak sopan memang, tapi Anisa begitu karena berpikir Ardan akan menjauhinya karena ketidaksopanannya.


Tapi lagi-lagi, Anisa selalu salah, Ardan malah semakin gigih mengejarnya. Si tukang onar dan raja gombalan di lawan, ya pastinya bakalan menjadi-jadi kelakuannya.


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa menyebut namaku?" tanya Ardan lagi.


"Hah? Kenapa aku harus... " ucapan Anisa tiba-tiba di potong oleh Ridwan.


"Gimana kalau duel?" usul Ridwan sok polos. Tahu-tahu dia sudah di dekat mereka saja dan ternyata dia dari tadi menguping pembicaraan Anisa dan Ardan.


"Duh, apa-apaan lagi si ceriwis ini?" batin Anisa kesal dan agak kaget juga. Anggota karate yang lain jadi tertarik mendengarnya.


"Hah... Sudahlah. Tapi, aku nggak bermaksud sombong nih, ya. Kalian disini saja nggak ada yang pernah bisa menang melawan aku, apalagi dia." ucap Anisa sinis melirik Ardan.


Ardan langsung panas dan terpancing mendengarnya.


"Baiklah. Aku terima, aku mau duel. Kalau aku menang, kamu harus mau memanggil namaku." ucap Ardan dengan semangat berapi-api.


"Tapi kalau aku yang menang, kamu harus janji nggak akan ganggu aku lagi." ucap Anisa sambil berkacak pinggang.


"Eh... Ng... Kalau itu kayaknya nggak bisa dan nggak akan mungkin deh." tolak Ardan.


"Nggak bisa gitu dong. Masa sepihak sih?" kesal Anisa tak terima.


Perdebatan mereka berhenti karena di lerai anggota karate yang lain yang sudah tak sabar lagi melihat mereka untuk duel. Dan sekarang, Anisa dan Ardan sudah saling berhadapan dengan anggota karate yang sudah duduk mengelilingi mereka.


Tapi sebelum mulai, Ardan melepas jasnya dan jas itu di sambut oleh Ridwan dengan sopannya. Ardan lalu menggulung kedua lengan bajunya.


"Cih, kenapa Ridwan malah mendukung dia sih?" batin Anisa kesal melihatnya.


Lalu, mereka pun memulai duel mereka. Anisa dan Ardan sudah mengambil ancang-ancang. Tapi saat Anisa melancarkan serangan mematikannya, betapa terkejutnya dia dengan Ardan yang dilawannya.


Memangnya apa yang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2