
"Sepi ya, bu. Nggak ada Lena." celetuk Pak Hadi tiba-tiba.
"Apa boleh buat, yah. Dia kan harus ikut dengan suaminya." sahut Bu Mila sambil memijat bahu suaminya.
Dulu, sebelum Lena menikah, suasana rumah mereka lumayan berwarna karena Lena yang terkadang suka bikin ulah.
"Jadi kangen sama anak kita." ucap Pak Hadi sendu.
"Ibu juga kangen, yah. Tapi, masa kita harus nyuruh Lena sering-sering jenguk kita, dia kan baru beberapa hari di rumah suaminya. Lagian kita juga sudah sering nanya kabarnya lewat telepon." ucap Bu Mila.
"Iya, ya. Hhh... Seharusnya kita ikut juga ke acara itu. Padahal Pak Ibrahim sudah mengajak ayah, tapi ayah tolak karena ayah lagi capek banget. Maaf ya, bu. Kita jadi nggak bisa ketemu Lena, deh." sesal Pak Hadi sambil menyuruh istrinya memijat bahunya sedikit lebih keras.
"Iya, yah. Nggak papa kok." ucap Bu Mila maklum sambil mengganti mode memijat dengan memukul-mukul ringan bahu suaminya itu.
Ting tong! Ting tong! Ting tong!
Pak Hadi dan Bu Mila tiba-tiba kaget mendengar suara bel rumah mereka yang di pencet berkali-kali diluar sana.
"Siapa lagi sih itu? Asal bukan anak-anak komplek yang suka iseng mencet-mencet bel rumah orang saja. Tapi, kalau iya, ayah bakalan marahin mereka habis-habisan." ucap Pak Hadi kesal sambil menggulung lengan bajunya. Tapi dia tak jadi berdiri dari sofa karena istrinya menahannya.
"Sudah, yah, biar ibu saja." larang Bu Mila.
"Hehe... Katanya mau marahin, tapi malah menggulung lengan baju?" batin Bu Mila senyam-senyum.
"Tapi siapa ya yang datang malam-malam begini?" batinnya lagi.
"Lena?" kagetnya, setelah membuka pintu dia malah dikagetkan dengan Lena yang ada di depan pintu dengan wajah sendu dan air mata yang mengalir.
"Ibu... " isak Lena memeluk ibunya. Tubuhnya gemetaran karena kedinginan.
"Kamu kenapa, nak? Kenapa kamu begini?" tanya Bu Mila khawatir, hijabnya sampai melambai akibat angin malam yang sepertinya akan turun hujan. Dia sangat cemas apalagi melihat Lena yang tak memakai apapun dikakinya, alias nyeker.
Sebelumnya...
"Acara malam ini seru, ya?" ucap perempuan bergaun warna ungu gelap senang sambil memoles lipstik dibibirnya yang sudah menor didepan cermin wastafel toilet.
"Iya banget." sahut perempuan bergaun warna krem geregetan. Dia begitu senang bercerita bisa mengambil foto Sultan dan Ardan diam-diam tadi.
"Waduh, mereka sudah seperti kamera penguntit saja." batin Lena, dia malah jadi tak sengaja menguping.
"Tapi, hati-hati kecewa.Soalnya yang satunya sudah ada yang punya. Yah... walaupun dia sendiri yang memaksa punya." batin Lena mengingat Ardan yang suka mengejar-ngejar Anisa.
Mereka juga bercerita dengan begitu senangnya karena berhasil berfoto dengan Daniel, sampai-sampai harus menyeleding, menyikut bahkan menyenggol kerumunan perempuan lain seperti pemain rugby saja.
"Sayang banget aku nggak bisa berfoto sama Daniel. Tapi untunglah, aku nggak ikut berfoto." batin Lena bergidik mendengar betapa ngerinya kedua perempuan itu menggunakan berbagai cara hanya untuk bisa berfoto dengan sang idola.
"Tapi, gimana ya nasibnya Emi sendirian disana tadi?"
__ADS_1
Tiba-tiba Lena kaget, kedua perempuan itu malah membicarakan tentang dirinya.
"Kamu lihat nggak, istrinya Bram tadi? Kalau nggak salah... namanya Lena?" tanya perempuan uap (ungu gelap).
"Hn. Dia terlihat belagu, dinikahi anak orang kaya sekelas keluarga Pak Ibrahim, padahal dari keluarga yang nggak berada." sahut perempuan krem.
Karena penasaran, Lena mengintip dari balik pintu toilet yang dibukanya sedikit. Tapi dia tak kenal dengan kedua perempuan itu.
"Dia memang cantik sih... tapi masih nggak selevellah dengan kita. Rumor tentang dia yang menikahi Bram karena mengincar harta itu juga pasti benar, kan?" ucap perempuan uap sinis.
"Kamu ini, bilang aja kalau kamu juga sama aja. Aku juga pengen kali. Sudah tampan, dari keluarga kaya pula." ucap perempuan krem cekikikan. Si perempuan uap juga ikut tertawa.
"Apa? K-kenapa mereka bicara begitu? Kenapa ada rumor begitu tentangku?" batin Lena kalut.
Lama-lama dia kesal juga mendengarnya dan berniat ingin melabrak kedua perempuan itu. Tapi...
"Tidak, tidak. Nggak boleh. Kalau aku keluar dan melabrak mereka, pasti akan terjadi masalah lagi. Dan itu pasti akan membebani Kak Bram dan orangtuanya nantinya." batin Lena galau. Padahal tadi dia sudah begitu emosi dan tak tahan untuk melabrak kedua perempuan itu.
"Tapi, aku menikah dengan Kak Bram bukan karena harta, kok." batinnya kalut.
Setelah puas mengobrol, kedua perempuan itu akhirnya keluar dari toilet. Barulah Lena bisa keluar dari bilik toilet. Dia hanya bisa menangis karena tak bisa melampiaskan amarahnya yang menggebu-gebu tadi.
Sementara itu...
"Lena lama banget?" batin Bram gelisah sambil melirik ke arah Lena pergi tadi.
Dia mengirim Lena pesan, tapi tak di jawab oleh Lena. Karena sudah tak sabar dan gelisah, akhirnya dia pergi menyusul Lena ke toilet.
"Lena? Kamu kenapa?" tanya Bram bingung dan langsung mendekati Lena. Lena menoleh kearah Bram dan menyeka air matanya.
"Kenapa lagi dia?" batin Bram, hatinya nyeri melihat Lena yang menangis.
"Kak Bram... Aku mau pulang." ucap Lena sesegukan.
"Loh, kok mau pulang? Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Apa ada yang mengganggumu? Bilang sama aku." ucap Bram khawatir, dipegangnya kedua bahu Lena.
"Aku mau pulang, kak!" paksa Lena dengan suara yang agak nyaring.
"Baiklah, baiklah. Kita akan pulang." Bram menurut saja dengan keinginan Lena. Padahal dia sangat khawatir, tapi Lena malah tak mau mengatakan penyebab dia menangis.
Mereka keluar diam-diam dari sana dengan melewati tempat yang tak banyak ada orangnya. Lena bersembunyi di lengan Bram untuk menutupi wajahnya yang sembab.
Tapi saat keluar dari gedung tempat acara itu, tiba-tiba handphone Bram berbunyi di saku jasnya. Mereka jadi menghentikan langkah mereka.
"Halo, bu?" sahut Bram menerima telepon yang ternyata dari ibunya.
"Kamu dimana, Bram? Acara utamanya sudah sudah mau mulai." ucap Bu Dona di seberang telepon sana.
__ADS_1
"Maaf, bu. Tapi, aku dan Lena mau pulang duluan."
"Apa? Pulang? Nggak bisa, masa kalian pulang sekarang? Pokoknya kalian harus tetap disini. Nggak ada tapi-tapian." marah Bu Dona.
"Tapi, bu... " Bram ingin membantah, tapi ibunya sudah menutup teleponnya duluan. Bram dibuat pusing jadinya.
"Nggak papa, kak. Aku bisa pulang sendiri kok." ucap Lena dengan suara serak. Dilepasnya genggamannya pada lengan Bram dan berlari pergi dari sana meninggalkan Bram yang berteriak memanggilnya.
Nggak papa, nggak papa. Kak Bram lebih penting daripada aku. Hiks, kenapa ya setelah aku menikah aku jadi penakut begini? Padahal dulu, aku pasti bakal dengan berani melabrak orang yang berani macam-macam menggangguku.
Aku memang menyusahkan dan suka bikin onar. Tapi, aku baru mengetahuinya kalau ada rumor seperti itu tentangku yang beredar. Memang sih aku menikah dengan Kak Bram nggak berdasarkan cinta, tapi aku nggak berniat mengincar hartanya.
"Duh!" lagi-lagi Lena hampir terjatuh karena tersandung, untung dia bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Hiks. Aku lagi sedih, lagi-lagi high heels ini malah bikin masalah aja." kesal Lena. Dilepasnya asal high heels itu lalu menghentikan taksi yang kebetulan lewat disitu.
Bram yang tadinya ingin mengejar Lena, menghentikan niatnya karena ada seseorang yang tiba-tiba menyapanya.
"Loh, Bram kenapa diluar? Nggak masuk ke dalam?"
"Ah... Itu... Aku ada urusan." jawab Bram sambil melihat ke halaman gedung itu, tapi Lena sudah tak ada disana.
"Maaf, ya. Aku pergi dulu." ucap Bram berlalu pergi meninggalkan orang itu yang masih terlihat bingung dengan tingkah Bram.
"Kemana Lena? Cepat banget perginya." batin Bram cemas, menyugar rambutnya sambil melihat sekelilingnya.
Tanpa sadar, matanya melihat sepasang high heels yang di pakai Lena tadi tergeletak begitu saja di jalan beraspal. Bram berjongkok untuk mengambilnya, wajahnya terlihat kesal. Digenggamnya erat high heels itu lalu berjalan pergi ke arah parkiran mobil untuk menyusul Lena yang dia pikir kemungkinan Lena pulang ke rumah mereka.
...***...
Entah kenapa, aku jadi seperti Cinderella saja. Pakai acara lepas-lepas high heels, padahal bukan sepatu kaca. Aku pergi dari sana juga sepertinya belum sampai tengah malam. Dan aku malah pergi begitu saja meninggalkan Kak Bram.
Apa kakak bakalan marah? Dan apa jangan-jangan rumor tentangku akan jadi semakin bertambah? Tapi, apa boleh buat, aku sudah terlanjur pergi tanpa memikirkan apa yang bakalan terjadi nantinya.
Dan sekarang, aku menangis tersedu-sedu di pelukan ibu, sampai ibu jadi khawatir melihatku. Karena kalut, tanpa sadar aku malah pulang ke rumah orangtuaku. Karena aku tahu, hanya disinilah aku bisa mencurahkan semua perasaanku.
Aku mungkin egois karena hanya memikirkan perasaanku sendiri. Walaupun begitu, aku tetap tak akan tahan kalau mendengar rumor tentangku yang tak benar.
Selama ini aku sudah menyusahkan ayah dan ibu. Jadi, aku berniat akan memendam semua masalahku karena sekarang aku tak mau menyusahkan Kak Bram dan mertuaku karena aku sudah menjadi istri dan menantu.
Tapi, kenapa yang ada masalahnya jadi bertambah. Dari yang aku kena bully sebelum menikah dulu, sampai aku yang tak disukai oleh ibu mertuaku. Mungkinkah ibu membenciku karena pernah menolak dan kabur dari acara perjodohan dulu? Bahkan sekarang ada rumor yang tak tahu dari mana asal usulnya tentangku.
Setelah itu, apalagi yang akan terjadi nantinya? Dan aku harus bagaimana menghadapi semuanya?
Sementara itu...
"Lena nggak ada disana, bi?" tanya Bram pada pembantunya di seberang telepon sana.
__ADS_1
"Ya sudah. Kabari saya kalau seandainya Lena pulang kesana." ucapnya sambil mengakhiri telepon.
"Kalau nggak ada di rumah, kemungkinan dia ke rumah orangtuanya." ucap Bram, memacu mobilnya saat lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Dia mempercepat laju mobilnya karena melihat malam ini sepertinya akan turun hujan.