Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Maksudnya?


__ADS_3

"Maaf, bu. Malam ini aku bakalan menginap disini." ucap Bram pada ibunya di telepon.


"Aku akan cerita pada ibu nanti. Iya. Iya, bu." ucap Bram lagi, lalu mengakhiri teleponnya.


"Hhh... Aku bahkan nggak tahu apa yang terjadi pada Lena." batin Bram menghela nafas sambil memegangi kepalanya.


Dilihatnya Lena yang sedang tertidur lelap di tempat tidur dengan wajah yang sembab.


Saat Bram sampai ke rumah mertuanya menyusul Lena tadi, cuacanya sudah hujan gerimis. Saat memencet bel, yang menyambutnya adalah Pak Hadi karena Bu Mila sedang berusaha membangunkan Lena dipelukannya.


Kedua mertuanya itu kalang kabut karena Lena yang tiba-tiba pingsan, mungkin gara-gara kelelahan menangis. Untunglah Bram datang, jadilah dia yang langsung menggendong Lena ke kamar, tak mungkin Pak Hadi yang menggendong Lena karena kondisi kakinya yang lumpuh sebelah.


Bram berdiri di dekat jendela, disibaknya sedikit gorden jendela. Dilihatnya di luar sedang hujan lumayan derasnya. Dari jendela itu, dia juga melihat rumah Sultan yang ada di seberang sana.Entah kenapa, dia jadi kesal mengingat Sultan yang memeluk Lena di acara tadi. Walaupun tahu Sultan hanya menolong Lena. Cepat-cepat ditutupnya gorden jendela itu daripada dia kesal terus-terusan.


Tapi, saat dia menutup gorden, tiba-tiba matanya melihat sebuah kotak kecil yang menarik perhatiannya di atas nakas di samping tempat tidur Lena.


Diambilnya kotak kecil itu, dilihatnya sebentar Lena yang masih tidur. Karena penasaran, dibukanya kotak kecil itu. Dia heran karena didalamnya hanya ada selembar kertas saja, dan kertas itu terlihat seperti kertas lama.


Tapi setelahnya, dia jadi kaget saat membacanya, ternyata itu adalah puisi cinta. Tangannya bergetar dan wajahnya terlihat sangat kesal membacanya. Sampai timbul niat untuk merobek kertas yang dipegangnya itu. Tapi diurungkannya, takutnya terjadi masalah karena dia melihat barang pribadi Lena tanpa sepengetahuan dari Lena.


Dikembalikannya lagi kotak kecil itu ke tempat semula. Dia berdiri dengan gelisah dan kesal jadinya karena sudah membaca sesuatu yang seharusnya tidak dibaca olehnya.


"Sudah kuduga. Dia menikah denganku pasti tak berdasarkan cinta. Bukankah dia menikah denganku setelah dia di tolak oleh Sultan kan? Dan apakah puisi itu dari Sultan? Tapi, kalau Sultan menganggapnya sebagai adik, kenapa bisa ada puisi cinta begini? Tapi yang jadi masalahnya adalah 'secinta itukah Lena padanya'?" batin Bram sambil menyugar rambutnya.


"Hhh... Aku jadi haus." ucapnya kesal sambil keluar dari kamar.


Saat Bram hendak berjalan menuju dapur, langkahnya terhenti karena ternyata kedua mertuanya yang terlihat khawatir sedang menunggunya keluar.


"Bagaimana keadaan Lena, nak?" tanya Pak Hadi cemas.


"Dia masih tidur, yah." jawab Bram sambil memegangi tengkuknya.


"Apa ada yang kamu inginkan, Bram?" tanya Bu Mila karena tadi melihat sepertinya Bram ingin ke dapur.


"Aku mau ambil air minum, bu."


"Ya sudah, biar ibu yang ambilkan." Bu Mila menyahut cepat. Bram ingin mencegahnya, tapi Bu Mila sudah keburu pergi ke dapur.


"Duduklah, nak." ucap Pak Hadi, berjalan tertatih-tatih ke sofa ruang keluarga. Bram mengikutinya duduk disana.


"Bram, apa yang terjadi sebenarnya? Lena nggak bilang apa-apa pada kami tadi." Pak Hadi langsung menanyainya.


"A-aku juga nggak tahu, yah. Tadi Lena pergi sendirian ke toilet. Saat aku susul, dia sudah menangis saja disana. Aku juga nggak tahu apa yang terjadi karena Lena yang nggak bilang apa-apa." jawab Bram apa adanya.


"Pasti ada yang begitu mengganggu pikirannya. Soalnya, selama ini Lena tak pernah sampai pingsan kalau lagi sedih." ucap Bu Mila sudah datang dari dapur sambil membawa segelas air minum untuk Bram.


"Itulah yang sedang aku pikirkan, bu." sahut Bram, kepalanya jadi pusing. Disambutnya gelas dari tangan Bu Mila, lalu meminumnya tapi tak sampai habis.


Mereka terdiam sejenak.


"Kalau begitu, aku kembali ke kamar lagi ya, ayah, ibu." pamit Bram, bangkit berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Iya, iya." sahut Pak Hadi.


"Bram. Tanyakan baik-baik saja pada Lena, ya. Pelan-pelan dia pasti akan cerita juga padamu." Bu Mila berpesan. Bram mengangguk mengiyakan dan berlalu pergi dari sana.


Saat berjalan ke arah kamar Lena, handphone Bram tiba-tiba berbunyi. Setelah dilihat ternyata ada pesan masuk dari Alika.


[ Kak Bram dimana? Om sama tante tadi gelisah banget loh mencari kakak yang tiba-tiba menghilang. Ada apa, kak? ]


[ Nggak papa kok. Tadi ada sedikit masalah. Jadi aku pulang duluan. ]


[ Masalah apa, kak? Apa masalahnya serius? ]


[ Itu aku nggak bisa bilang. Maaf, ya. ]


[ Ya sudah, semoga masalahnya cepat selesai ya, kak. ]


[ Makasih, Al. ]


Alika menyeringai membaca pesan itu.


"Pft, maaf ya, kak. Sebenarnya aku sudah tahu masalah apa yang kakak alami." ucapnya.


Saat di acara tadi, Alika juga melihat Sultan yang menolong Lena dan Bram terlihat marah karena kesalahpahaman itu. Dia jadi terus memperhatikan Lena dan memikirkan bagaimana caranya mencari kesempatan untuk mengusik emosi Lena. Dan rupanya dua perempuan yang membicarakan Lena di toilet tadi adalah suruhan darinya.


Benar saja usahanya berhasil. Dia sangat senang ketika mengintip dari jendela, dia melihat diluar gedung tadi kebetulan Lena berlari meninggalkan Bram sendirian yang mulai terlihat kesal.


"Hihi... Pasti akan ada masalah besar nantinya." ucapnya menyeringai senang.


"Lena!" teriaknya gelisah sambil melihat sekeliling kamar, tapi Lena memang tak terlihat disana.


"Dimana dia?"


Saat Bram hendak membuka pintu kamar untuk keluar lagi, tiba-tiba suara Lena menghentikannya.


"Kakak kenapa?" tanya Lena bingung melihat Bram yang khawatir.


"Kamu dari mana tadi?" tanya Bram panik sambil memegangi kedua pipi Lena.


"A-aku dari kamar mandi, buat cuci muka." jawab Lena terlihat gugup karena Bram yang memegangi pipinya.


Bram menghela nafas lega. Dilihatnya wajah Lena yang terlihat lebih segar daripada tadi dan wajahnya jadi terlihat natural karena make upnya sudah di hapus.


"Mm... Kita pulang ke rumah kakak, ya?"


"Nggak. Kita menginap disini saja malam ini, soalnya di luar masih hujan deras." sahut Bram sambil melepas tangannya dari wajah Lena.


"Ayo duduk, Len." suruh Bram sambil menarik tangan Lena untuk duduk di tepi tempat tidur.


Saat mereka sudah duduk, kening Bram mengernyit karena dia tak lagi melihat kotak kecil yang tadi ada di atas nakas.


"K-kenapa, kak?" tanya Lena mengalihkan perhatian Bram.

__ADS_1


"Ah, nggak papa." jawab Bram pura-pura terlihat biasa-biasa saja.


"Duh... Semoga Kak Bram nggak membuka kotak itu tadi." batin Lena cemas.


Waktu aku berkemas untuk pindah ke rumah Kak Bram dulu, aku tak membawa kotak kecil itu karena takutnya akan membuat masalah nantinya.


Tapi betapa bodohnya aku, kenapa waktu itu aku tak menaruhnya di dalam lemari dan malah menaruhnya begitu saja di atas nakas.


Saat bangun tadi, aku panik dan langsung menyembunyikan kotak kecil itu karena melihat jas Kak Bram yang tergeletak di ujung tempat tidur. Aku takut kakak bakalan membacanya, yang ada kakak bakalan makin kesal nantinya.


Tanpa Lena sadari, dirinya yang begitu gelisah terlihat jelas di mata Bram. Bram melirik ke arah nakas, dia tahu apa yang membuat Lena gelisah begitu.


"Ternyata memang benar, puisi itu dari Sultan." batinnya.


"Ehem, Len. Sebenarnya apa yang terjadi padamu saat di toilet tadi?" tanya Bram mengalihkan kegelisahan Lena. Lena terdiam beberapa saat.


"Nggak, jangan bilang. Aku nggak mau kakak terlibat masalah karena aku nantinya." batin Lena cemas sambil *******-***** gaunnya.


"Lena?"


"Nggak ada, kak. Nggak ada apa-apa kok." sahut Lena pada akhirnya.


Diangkatnya kedua kakinya untuk duduk menyamping lebih dekat menghadap Bram. Dipeluknya lengan Bram dan menyandarkan kepalanya di bahu Bram. Bram terlihat agak kaget dengan perlakuan Lena.


"Apa... dia sedang merayuku untuk tak menanyakan lagi apa yang menimpanya tadi?" batin Bram, matanya berkedip-kedip saking kagetnya.


"Len, katakan padaku. Jangan dipendam sendiri begitu. Aku ini suamimu." paksa Bram lagi.


"Nggak ada apa-apa, kak. Nggak ada." Lena bersikeras sambil mempererat pelukannya di lengan Bram.


"Hhh... Ya sudah, ya sudah." Bram mengalah, dia menghela nafas karena Lena yang bersikeras tak mau bicara.


"Kakimu nggak papa kan, Len?" tanya Bram tiba-tiba, melihat ke arah kaki Lena.


"K-kakiku nggak papa, kak. M-maaf ya, kak. Sepatunya aku lepas di jalan." sahut Lena gelagapan. Dia jadi merasa bersalah, padahal Bram sudah bersusah payah membelikan itu untuknya. Tapi dia malah melepasnya begitu saja di jalanan.


"Ya... Nggak papa, nggak papa." ucap Bram maklum.


Lama mereka terdiam. Entah kenapa, tiba-tiba Bram jadi gelisah gara-gara Lena yang masih menempel memeluk lengannya.


"Duh, kenapa jantungku jadi berdegub kencang begini?" batin Bram semakin gelisah.


"Ehem, Len. Bisakah kamu bergeser sedikit. Entah kenapa aku... jadi... " ucap Bram malu-malu dengan wajah yang agak memerah.


"K-kalau kakak pengen, boleh... kok... " ucap Lena lirih, setengah berbisik dengan kepala yang masih bersandar di bahu Bram.


Hah?


Mata Bram sampai terbelalak mendengarnya. Lagi-lagi dia kaget dengan tingkah Lena yang menurutnya jadi agak aneh.


Maksudnya?

__ADS_1


__ADS_2