Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Kami Tak Bisa Dibohongi


__ADS_3

"Haduh... Kenapa dokumen bisa sampai ketinggalan, sih?" batin Bram kesal pada diri sendiri.


Saat di kantor tadi, Bram baru sadar kalau dokumen penting yang seharusnya dibawa malah ketinggalan di rumah. Terpaksa dia harus balik lagi ke rumah. Saat melewati ruang tamu, tak sengaja Bram melihat ibunya duduk di sofa dengan raut wajah yang muram. Lalu didekatinya ibunya.


"Ibu? Ibu kenapa? Kok lesu begitu?" tanya Bram bingung.


"Hhh... Bram... " ucap Bu Dona lesu sambil melihat putranya, terdengar helaan nafas berat darinya.


"Ibu sakit? Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Bram khawatir melihat ibunya.


"Nggak usah. Ibu begini gara-gara istrimu itu." ucap Bu Dona, tiba-tiba wajahnya berubah jadi kesal.


"Lena? Memangnya Lena ada bikin salah sama ibu?" tanya Bram kebingungan.


"Iya. Dia salah. Dia penyebab ibu jadi begini. Aaa... " tiba-tiba Bu Dona berteriak histeris, Bram sampai kaget karena ulah ibunya.


"I-ibu? Ibu kenapa teriak-teriak begini?" tanya Bram kelabakan.


"Apa kamu tahu, Bram? Ibu malu banget waktu pernikahan kamu kemarin." ucap Bu Dona frustasi.


"Kemarin, ibu tak sengaja dengar teman-teman sosialita ibu pada mencibir ibu semua. Mereka mencibir kita, 'kenapa keluarga kita yang terkenal ini malah berbesan dengan orang cacat?'. Habis itu, mereka bilang istrimu yang hampir jatuh kemarin itu gara-gara istrimu punya penyakit yang sama seperti ayahnya." ucap ibunya menggebu-gebu.


"Lalu, Bram, ibu juga dengar mereka bilang istrimu yang jatuh pingsan kemarin itu karena dia bertemu dengan mantan pacarnya. Mereka juga bilang kalau istrimu menikah denganmu hanya untuk mengincar harta kita saja."


"Pokoknya mereka mengata-ngatai keluarga kita karena sudah salah mencari jodoh buatmu, Bram. Ibu malu banget mendengarnya. Ibu malu banget, Bram." ucap Bu Dona menangis histeris sambil memukul-mukul dadanya.


Bram hanya terdiam, dirinya jadi sedih melihat ibunya yang menangis. Dipeluknya sang ibu sambil menepuk-nepuk punggung ibunya untuk menenangkannya.


"Kenapa sih, ayahmu memilih jodoh perempuan seperti itu buatmu? Ibu masih nggak habis pikir sampai sekarang." ucap ibunya sesegukan dipelukan Bram.


"Kasihan kamu, nak. Kamu malah menikah dengan perempuan yang nggak kamu kenal dengan baik." ucap ibunya sedih.


"Maafkan aku, bu. Sebenarnya aku sudah tahu. Tapi, karena aku mencintainya, aku jadi menyembunyikan semuanya." batin Bram.


Entah kenapa, Bram jadi teringat kejadian kemarin malam. Dia terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Lena yang mengigau saat sedang tidur. Lena mengigau menyebut-nyebut nama Sultan. Waktu itu Bram langsung kesal mendengarnya. Dan saat bangun tadi pagi, dia merahasiakannya dan bersikap biasa-biasa saja.


"Hhh... Bahkan semalam dia tidur membelakangiku. Segitu terpaksanyakah dia menikah denganku? Jangan-jangan apa memang benar dia mau menikah denganku hanya karena harta saja?" batin Bram kesal setelah mengingat lagi kejadian kemarin malam.


...***...


Buk!


"Aduh!" Lena mengaduh kesakitan karena bahunya bersenggolan keras dengan seseorang.


"M-maaf, aku nggak sengaja." ucap seorang pria berkacamata yang sedang memegang handphonenya kelabakan.

__ADS_1


"Aku juga salah karena nggak lihat jalan. Maaf, ya." ucap Lena.


"Aku nggak fokus gara-gara sambil lihat HP tadi. Maaf, ya." ucap si pria lagi.


"Iya, nggak papa." ucap Lena memaklumi.


"Tadi itu Ihsan, kan?" tanya Anisa sambil melihat si pria yang sudah beranjak pergi. Lena mengangguk mengiyakan.


Pria yang bernama Ihsan itu sejurusan dengan Lena. Orangnya sangat rajin dan pintar. Orang-orang yang sejurusan ekonomi juga sering meminta bantuannya kalau ada hal yang tak dimengerti, termasuk Lena juga kadang-kadang.


"Sampai ketemu sehabis kelas, ya." ucap Grace riang. Kelima sahabat itu pun berpisah masuk keruangan jurusan mereka masing-masing.


Lena sudah duduk dengan tenang ditempatnya sambil memainkan handphonenya. Tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


"Hai, Len. Apa aku boleh duduk disini?" tanya orang itu yang ternyata adalah Ihsan.


"Hm? Oh, boleh." sahut Lena santai.


"Tumben." batin Lena heran sambil melihat sekitarnya yang masih banyak bangku kosong. Tumben-tumbennya Ihsan duduk disampingnya, padahal selama ini Ihsan orangnya suka duduk sendirian.


"Anu, Len. Soal yang tadi maaf, ya." ucap Ihsan tiba-tiba.


"Ya ampun, kamu ini... Nggak papa, kok. Namanya juga nggak sengaja." ucap Lena tersenyum memaklumi.


"Oh iya. Selamat ya atas pernikahanmu." ucap Ihsan tersenyum.


Tiba-tiba dosen masuk, mereka langsung diam dan memulai pelajaran dengan tenang.


...***...


Sehabis kelas, Lena selalu pergi ketoilet. Dan disana dia sudah disambut oleh Cintia.


"Apaan?" tanya Lena bingung melihat tangan Cintia yang terulur seperti ingin berjabat tangan.


"Selamat atas pernikahanmu." ucap Cintia serius.


"Pft. Yang benar aja, masa ngucapinnya di toilet sih?" ucap Lena menahan tawanya sambil membalas jabatan tangan Cintia.


"Ya mau gimana lagi. Habisnya nggak sempat salaman gara-gara kamu pingsan sih. Pas kamu sudah keluar lagi, kami sudah keburu pulang." ucap Cintia.


"Ha, ha... Maaf." ucap Lena sedikit bersalah.


Cintia terdiam, ditatapnya Lena dengan ekspresi serius sambil memegang dagunya.


"Kenapa?" tanya Lena bingung melihat Cintia yang menatapnya lekat.

__ADS_1


"Nggak, nggak papa. Sudah, ya." ucap Cintia sambil berjalan keluar dari toilet.


"Dasar. Dia pikir aku nggak tahu apa, kalau dia masih menyukai Kak Sultan. Dia kira dia bisa membohongi semua orang?" batin Cintia.


"Duh?" Cintia kaget, tubuhnya tiba-tiba oleng karena high heelnya selip saat berjalan. Saat dirinya panik karena hampir jatuh, untung ada seseorang yang menangkapnya.


"Huf, untung saja.Kamu nggak papa?" tanya orang itu yang ternyata adalah Daniel. Daniel sigap menangkap Cintia, tangannya memegang punggung Cintia untuk menahannya agar tak jatuh.


"K-kamu..." kesal Cintia melihat orang yang tak disukainya memeluk dirinya seenaknya.


Saat Cintia ingin mengeluarkan kata-kata penuh amarahnya, tiba-tiba dia terpesona melihat mata Daniel yang begitu indah dibalik kacamatanya. Rambut Daniel yang gondrong kebetulan diikatnya sehingga membuat wajahnya semakin terlihat jelas.


"Kenapa? Kamu terpesona, ya?" tanya Daniel tersenyum usil melihat Cintia yang tak berkedip menatapnya.


Cintia kaget dan tersadar dari bengongnya. Dirinya langsung melepas pelukan tangan Daniel dari tubuhnya.


"Iiih. Seenaknya aja main peluk-peluk." ucap Cintia kesal dengan wajah yang memerah malu.


"Hei, aku kan sudah menolongmu. Heran deh, kenapa sikapmu begitu? Bukannya bilang terima kasih, kamu malah marah-marah." sungut Daniel.


"Nggak akan!" ucap Cintia sambil berjalan pergi dengan hati-hati meninggalkan Daniel.


"Duh... Kenapa aku bisa jatuh sih tadi?" batin Cintia malu.


"Hati-hati, nanti jatuh lagi." teriak Daniel memperingatkan.


Cintia menengok kearahnya dengan wajah yang terlihat sangat marah. Ditempatnya, Daniel terlihat menautkan jarinya menjadi berbentuk hati sambil tersenyum kearah Cintia.


"Cih, dia pikir gombalan begitu mempan sama aku. Aku nggak seperti Kak Ardan yang bisa jatuh cinta dengan mudahnya." batin Cintia kesal.


Sementara itu...


"Hatsyi...!" Ardan tiba-tiba bersin.


Sultan yang sedang sibuk dengan pekerjaan dibalik meja kerjanya menatap sekilas Ardan yang duduk didepannya.


"Jadi, kamu sebenarnya juga sudah tahu kalau Lena itu masih suka sama kamu, kan?" tanya Ardan tiba-tiba.


"Argh... Kenapa kamu nanya itu terus sih dari tadi? Aku lagi sibuk, kamu nggak lihat?" ucap Sultan frustasi, Ardan malah mengajaknya ngerumpi.


"Aku kan juga harus mendengarnya langsung darimu." paksa Ardan.


"Kembali keruanganmu sana. Bukannya Anda juga ada banyak kerjaan, Pak Direktur?" tanya Sultan emosi.


"Bantu aku, ya." rayu Ardan.

__ADS_1


"Masa aku harus ngurus kerjaan kamu juga, sih?" marah Sultan.


__ADS_2