
"Kakak kenapa?" tanya Lena bingung melihat wajah Bram yang duduk disampingnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, entah dia sedang kesal atau sedang bete.
"Nggak, nggak papa." jawab Bram datar sambil mengemudi menatap jalanan.
"Aku jadi kepikiran kata-kata ibu tadi pagi, sampai jadi nggak fokus di kantor seharian ini." batin Bram.
Bram tiba-tiba tersadar dan langsung mengubah mimik wajahnya menjadi tenang setelah menyadari Lena yang menatapnya dengan bingung dan sedih.
"Oh iya, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Bram membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
"Ya lancar aja, kak." jawab Lena tersenyum. Bram juga ikut tersenyum melihatnya.
"Kamu lapar?" tanya Bram sambil menahan tawanya mendengar perut Lena yang berbunyi nyaring. Lena mengangguk dengan wajah malu.
"Kita makan direstoran kita aja, ya?" ucap Bram. Dia mengatakan 'restoran kita' karena Lena sudah menjadi istrinya, menjadi bagian dari keluarganya.
"Terserah kakak aja." sahut Lena.
Sesampainya di restoran, mereka disambut dengan ramah oleh pelayan disana. Para pelayan langsung melayani anak dan menantu dari pemilik restoran tempat mereka bekerja itu dengan sangat istimewa. Lena sampai menenguk ludah melihat hidangan yang disajikan para pelayan dengan sangat rapi diatas meja.
"Kakak nggak makan?" tanya Lena sambil mengunyah makanannya.
Melihat Bram yang tak makan dan malah hanya melihat kearahnya dengan serius sambil menumpukan wajahnya di tangan.
"Entahlah. Aku tiba-tiba nggak nafsu makan." jawab Bram seadanya. Lena jadi bingung mendengarnya.
"Kak Bram kenapa, ya? Daritadi sikapnya agak aneh. Apa mungkin ada masalah ya diperusahaan?" batin Lena sambil berpikir.
"Kalau begitu aku harus membuat Kak Bram bersemangat lagi." tekad Lena dalam hati.
"Mm... Kak. Kalau aku suapin, kakak mau makan nggak?" tanya Lena. Beberapa saat Bram terdiam sambil menatap Lena.
"Boleh." sahut Bram akhirnya. Lena tersenyum dan langsung menyuapi suaminya.
Para pelayan yang ada disana terlihat senang melihat kedua pasangan itu yang selalu harmonis setiap datang ke restoran itu.
...***...
Bu Dona terlihat duduk dengan tak tenang di sofa ruang keluarga.
"Tenanglah, bu. Mereka kan pengantin baru, wajar aja kan." ucap Pak Ibrahim yang juga duduk bersama istrinya di sofa.
__ADS_1
"Tapi, yah... Mereka lama banget." ucap Bu Dona tak tenang.
"Mereka sudah besar, bu. Biarkan mereka menikmati waktu mereka. Bukannya sebelum nikah, mereka juga sering jalan-jalan?" ucap Pak Ibrahim geregetan melihat istrinya yang tak tenang itu.
"Tapi, nggak pernah sampai semalam ini! Ih, ayah... Kok santai-santai gitu, sih? Ayah lupa, ya? Kalau Bram pernah kabur waktu itu?" mangkel Bu Dona melihat suaminya.
Bu Dona sangat menyayangi putranya itu karena Bram adalah anak kesayangan dan anak satu-satunya.
Waktu Bram pulang dari luar negeri waktu itu, Bram tidak langsung pulang ke rumah mereka melainkan kabur karena mendengar dirinya akan dijodohkan oleh ayahnya. Bu Dona histeris, anaknya tak tahu ada dimana. Padahal dia sudah menanti-nantikan bertemu dengan putra semata wayangnya yang sudah lama tak bertemu dengannya.
Bram akhirnya terpaksa keluar dari persembunyiannya setelah Pak Ibrahim mengancam tak akan memberikan warisan kepadanya kalau Bram menolak perjodohan. Tapi, bukannya datang ke tempat perjodohan, Bram malah mangkir dan memacu mobilnya tak tentu arah tujuannya sampai tak sengaja bertemu dengan Lena yang juga kabur dari perjodohan mereka.
Gara-gara Bram yang lagi-lagi kabur, hampir saja dia di amuk oleh ayahnya. Tapi, untung ibunya bisa menghentikan mereka. Sampai Bram berhasil di bujuk untuk ikut datang ke rumah Lena malam itu.
"Gimana kalau ada yang menculik putra kita dan menyekapnya entah dimana? Kita nggak akan bisa melihat putra tampan kita lagi nantinya." ucap Bu Dona berpikir yang tidak-tidak karena saking khawatirnya.
"Siapa yang menculiknya, bu? Istrinya?" tanya Pak Ibrahim cekikikan mendengar kekonyolan istrinya.
"Kok malah ketawa sih, yah? Orang lagi serius juga." kesal Bu Dona pada suaminya.
Obrolan mereka terhenti setelah mendengar bel rumah mereka berbunyi. Bu Dona bergegas berjalan kearah pintu, dilarangnya pelayan yang ingin membukakan pintu. Dirinya sendiri yang menyambut orang yang baru datang itu.
"Bram... Kemana aja kamu, nak? Kenapa pulang malam begini?" tanya Bu Dona dengan suara yang sedikit bergetar. Dilihatnya putranya itu membawa banyak tas belanjaan ditangannya.
"Tuh kan, bu. Mereka nggak kenapa-kenapa, kan?" ucap Pak Ibrahim.
Dalam pelukan Bram, Bu Dona melihat kearah Lena dengan wajah yang garang.
"Jangan marah padaku, bu. Anak ibu sendiri yang maksa aku jalan-jalan sampai semalam ini." batin Lena takut-takut.
"Kamu sudah makan?" tanya Bu Dona melihat putranya sambil melepas pelukan.
"Kami sudah makan diluar, bu" jawab Bram yang disambut tatapan kecewa dari ibunya.
"Sudah, bu. Biarkan mereka istirahat. Mereka pasti capek, kan." ucap Pak Ibrahim.
Bu Dona terlihat tak terima, Bram malah pergi kekamarnya bersama Lena.
"Fuh... " Lena menghela nafasnya lelah, akhirnya dia bisa membaringkan tubuhnya di tempat tidur karena kelelahan di ajak Bram jalan-jalan. Dia terlihat segar karena sudah duluan mandi dan memakai baju tidur karakternya yang lucu-lucu.
Lena tiba-tiba bangun dan langsung duduk ditempatnya karena melihat Bram yang sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Bram juga duduk di tempat tidur disamping Lena.
__ADS_1
"Kamu capek, ya?" tanya Bram. Lena hanya tersenyum lelah menanggapinya.
"Maaf, ya. Kamu jadi kelelahan begini." ucap Bram lagi dengan menyesal.
"Nggak papa kok, kak. Seharusnya aku yang minta maaf. Soalnya, selama ini aku nggak pernah melakukan apapun buat kakak. Tapi, kakak dan orangtua kakak sudah berbuat baik sama aku dan orangtuaku." ucap Lena menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya. Bram hanya terdiam melihatnya.
"Aku ini nggak bisa masak, nggak bisa bantu beres-beres rumah..."
"Kamu kenapa ngomongnya begitu? Urusan masak dan beres-beres itu kan bisa diurus sama pembantu. Walaupun kamu nggak bisa masak juga nggak papa." ucap Bram memotong pembicaraan Lena.
"Tapi... "
"Jangan katakan apa-apa lagi, oke. Kamu hanya perlu kuliah saja. Buat orangtuamu dan kami bangga padamu. Kamu sudah jadi istriku saja itu sudah membuatku bahagia. Kamu paham, kan?" ucap Bram.
"Iya, kak." jawab Lena sambil mengangguk.
"Oh iya." Bram tiba-tiba mengambil dompetnya yang ada diatas nakas.
"Ini." ucapnya sambil menyerahkan salah satu kartu kreditnya.
"Loh, ini kenapa dikasih ke aku, kak?" kaget Lena setelah melihat kartu kredit yang dipegangnya. Pastinya isi dari kartu itu bernilai fantastis sampai bisa membuat jiwa misqueen meringis.
"Kamu kan istriku. Sebagai suami, aku harus menafkahimu kan. Pakai saja itu buat keperluanmu, oke. Nggak usah malu-malu, istriku." ucap Bram sambil tertawa usil.
Wajah Lena langsung memerah malu mendengarnya, dicubit-cubitnya lengan Bram. Tapi, setelahnya Lena terdiam dengan wajah yang terlihat agak sedih dan hal itu terlihat oleh Bram.
"Ya sudah, ayo tidur." ucap Bram sambil membaringkan tubuhnya membelakangi Lena. Tak disadarinya kalau Lena sempat melihat wajahnya yang terlihat kesal.
"Kenapa Kak Bram mendadak kelihatan kesal begitu, ya?" batin Lena bingung, lalu ikut merebahkan dirinya membelakangi Bram.
"Jalan-jalan seharian tadi, sikap Kak Bram suka berubah-ubah. Kadang senang, kadang terlihat bete. Kenapa, ya?" batin Lena sambil berpikir.
"Hah? Astaga! Apa jangan-jangan kakak mau... " Lena tiba-tiba terkejut sendiri karena pikirannya mendadak berubah jadi yang tidak-tidak.
Sementara itu, Bram...
"Hhh... Kenapa dia ngomong begitu? Seolah-olah dia sedang putus asa dan sudah pasrah dengan keadaannya. Padahal, sebagai suami aku ingin bersikap baik padanya, tapi dia malah terlihat berusaha menolak. Waktu shopping tadi juga, dia terlihat ogah-ogahan dan hanya mengiyakan saja apa yang aku belikan untuknya." batin Bram sedikit kesal.
Bukan begitu, Bram...
Lena begitu karena dia serba salah dan merasa tak enak hati kalau harus terus merepotkan Bram. Tapi, Bram malah salah mengartikannya. Karena sikap keduanya yang tak sejalan, malah menyebabkan mereka jadi salah paham.
__ADS_1
Dan sekarang, mereka tidur dengan saling membelakangi. Bram tidur dengan pikiran yang tak tenang karena memikirkan sikap Lena yang terlihat pasrah baginya. Dan Lena tidur dengan gelisah dan tak tenang karena pikiran-pikirannya yang tak karuan.