
Ditrotoar, Grace dan Lena berdiri menunggu taksi online yang tak kunjung juga datangnya. Mereka terlihat menenteng tas berisi makanan dari restoran tempat mereka makan tadi untuk oleh-oleh dirumah mereka. Tapi, tas milik Gracelah yang paling banyak.
Mereka bisa berada disitu karena Ardan dan Cintia harus mengantarkan Anisa yang mendadak sakit perut, gara-gara kaget makan makanan orang kaya yang mahalnya tak terkira. Dan kebetulan rumahnya Grace dan Lena berlawanan arah dengan rumah Anisa.
Lena masih terlihat lesu. Grace yang dari pagi tadi melihatnya begitu, mulutnya sudah tak bisa ditahan lagi.
"Kamu kenapa sih, Len? Dari tadi pagi lesu gitu?" tanya Grace.
"Grace... Tau nggak? Aku cuma ngomong ini sama kamu aja loh... " ucap Lena menggantung kata-katanya. Grace masih menunggu mendengarkannya.
"Aku... Aku ditolak Kak Sultan kemarin, Grace." ucap Lena tertunduk lesu.
"Astaga. Kamu ngungkapin perasaan kamu juga akhirnya?" tanya Grace tak percaya.
"Iya... Tau nggak, Grace... Habis aku ngungkapin perasaanku, dia malah memarahiku. Rasanya sakit banget, Grace... " ucap Lena, tanpa sadar air matanya menetes jatuh. Grace yang melihatnya jadi merasa sedih juga.
"Hatiku rasanya hampa. Kenapa hidupku semenyedihkan ini? Kalau seperti ini, rasanya aku nggak pengen hidup lagi." ucap Lena kalut.
"Kamu ngomong apa sih, Len?" Grace tiba-tiba marah mendengar omongan Lena.
"Kamu nggak ngerti gimana perasaanku, Grace. Gimana merananya hidupku." ucap Lena sambil menyeka air matanya.
"Apaan sih kamu, Len? Baru segitu aja kamu sudah bilang hidupmu merana?" marah Grace.
"Kamu nggak ngerti bagaimana jadi diriku, Grace." ucap Lena membela dirinya.
"Bisa-bisanya kamu ngomong begitu. Cuma masalah 'cinta' aja, kamu pengen menyerah sama hidupmu?"
Lena ingin marah mendengar omongan Grace. Tapi Grace langsung menyerocos lagi.
__ADS_1
"Kan sudah aku bilang kalau Sultan itu nggak suka sama kamu. Kenapa kamu masih ngotot gitu sih? Cuma gara-gara dia nolak kamu, kamu malah bilang hidupmu merana?" ucap Grace dengan suara yang bergetar dan mata yang mulai berair.
"Kamu itu masih beruntung, Len. Masih ada pria yang tetap suka sama kamu, walaupun dia tahu kamu menyukai orang lain. Asal kamu tahu aja, aku selalu iri sama kamu. Kamu selalu mendapat kasih sayang dari orangtuamu. Keluargamu memiliki kebutuhan ekonomi yang cukup. Lalu apa lagi yang kurang? Apa lagi yang kamu mau? Cuma gara-gara cintamu ditolak aja, kamu malah mau mengakhiri hidupmu?" ucap Grace panjang lebar, suaranya mulai serak.
"Kamu itu lebih beruntung dari aku, tahu. Coba kamu tukar hidupmu dengan hidupku, kamu akan tahu seperti apa rasanya jadi diriku. Huaaa... Aku benci Lena..." Grace tiba-tiba menangis, sampai-sampai tas berisi makanan yang dipegangnya dari tadi jatuh ketanah.
Lena jadi tersadar dengan yang dikatakan Grace barusan. Langsung dipeluknya Grace dengan perasaan menyesal.
"Maafin aku, Grace. Aku nggak bermaksud menyinggungmu. Aku nggak bermaksud ngomong kayak gitu. Maaf, Grace... " ucap Lena ikut menangis bersama dengan Grace yang dalam pelukannya.
"Jangan sentuh aku. Pergi. Aku nggak mau jadi temanmu lagi." ucap Grace, tapi dibiarkannya Lena memeluknya.
"Maafin aku, Grace..."
Tak dihiraukan mereka banyak orang lalu lalang yang memperhatikan mereka.
...***...
Kalau dengan Rosi dan Emi, mereka berteman saat kuliah. Itupun terjadi gara-gara sebuah insiden yang mengakibatkan mereka jadi bermusuhan. Tapi, lama kelamaan mereka malah jadi teman.
Saat Lena dan Grace membuat masalah, Anisa yang akan menegur mereka. Sampai-sampai abi dan kedua kakak laki-laki Anisa melarangnya untuk berteman dengan mereka. Alasannya karena bisa membawa pengaruh buruk bagi Anisa. Tapi, entah karena kepala Anisa sudah konslet atau apa, Anisa masih tetap berteman dengan Lena dan Grace yang konyolnya nggak ketulungan itu.
Walaupun mereka satu kuliah juga, tapi jurusan mereka berbeda. Lena mengambil jurusan ekonomi karena mengikuti Sultan. Anisa mengambil jurusan pendidikan karena mengikuti jejak mendiang uminya. Sedangkan Grace mengambil jurusan kesehatan dengan jalur beasiswa karena ingin bisa merawat adiknya yang sakit dengan benar.
Karena sudah lama berteman, mereka jadi memahami satu sama lain. Tentang Lena, tentang Anisa dan tentang Grace. Lena dan Anisa sangat tahu, kalau Grace yang konyol dan usil itu suka menyembunyikan perasaannya. Memendam semua kesedihannya dibalik sikapnya yang usil.
Lena dan Anisa juga tahu, Grace mengganti nama panggilannya dari Anggun menjadi Grace karena suka merasa tak puas dengan dirinya sendiri.
Grace orangnya tak begitu percaya sama yang namanya 'cinta'. Tapi anehnya, dia suka menjodoh-jodohkan orang lain.
__ADS_1
Grace tak percaya cinta karena dia sering melihat ayah dan ibunya bertengkar didepan matanya karena masalah ekonomi. Ayah dan ibunya menikah hanya berdasarkan cinta semata. Sedangkan masalahnya dalam membina rumah tangga tidak hanya harus cinta saja, tapi harus seimbang dengan kebutuhan ekonomi juga.
Ditambah lagi, adik perempuan Grace yang duduk dibangku SMP yang sering sakit-sakitan. Kelelahan sedikit saja, adiknya akan langsung jatuh sakit. Grace memang bisa merawat adiknya berbekal dari ilmu yang dipelajarinya dikampus. Tapi kalau sudah sangat parah, adiknya terpaksa dibawa kepuskesmas terdekat yang ada disekitar rumahnya. Tak sanggup dibawa kerumah sakit karena keterbatasan ekonomi mereka.
Grace sangat sayang pada adiknya. Karena itulah, terkadang dia suka iri melihat Lena dan Cintia yang suka bertengkar bahkan jambak-jambakkan didepan matanya. Karena dia tak bisa begitu dengan adiknya.
Terkadang bagi Grace, makan nasi bertopping sambal dan kecap dengan lauk yang dilihat dari acara masak-masak di TV saja sudah untung baginya.
Masalah hidupnya saja sudah sedih, ditambah lagi masalah percintaannya yang harus karam karena dia yang terlambat menyadari cintanya sendiri.
Padahal selama ini, Grace tak pernah menunjukkan dirinya yang menangis kepada siapapun. Tapi, kalau sudah menangis, dia akan langsung menumpahkan segalanya. Karena sudah tak sanggup lagi menanggung beban hidupnya.
Tenanglah, Grace. Bersabarlah.
Suatu hari nanti akan ada waktunya. Masa disaat roda akan berputar keatas dan pucuk daun muda yang akan tumbuh diujung dahan yang akan menghijaukan pohonnya. Kapal yang selalu terombang-ambing dilautan luas yang tak bertepi, pasti akan menemukan pulaunya juga suatu hari nanti.
...***...
Setelah Lena dan Grace puas mencurahkan semua kesedihan mereka dengan menangis, taksi yang mereka tunggu-tunggupun akhirnya datang juga. Seolah-olah tahu kapan harus datang menjemput penumpangnya.
Selama perjalanan pulang, mereka berdua hanya duduk dalam diam. Entah bagaimana nasib makanan mereka yang berada dalam tas yang jatuh ketanah tadi, mungkin isinya sudah berantakan tak karuan.
Sesampainya dirumah, ayah dan ibunya Lena bingung melihat Lena yang pulang dengan wajah yang sembab. Lebih bingung lagi melihat tas berisi makanan yang dibawa Lena, isinya sudah campur aduk layaknya gado-gado.
Dikamarnya, Lena memandang rumah yang berada diseberang sana, rumahnya Sultan.
Dirinya mulai teringat lagi dengan kata-kata ibunya yang menasihatinya. Kata-kata Sultan yang menolaknya secara halus. Dan kata-kata Grace yang menyadarkannya. Lama dirinya termenung.
"Sudah kuputuskan." batin Lena mantap. Dia langsung menemui orangtuanya yang lagi asyik mengobrol diruang keluarga.
__ADS_1
"Ayah, ibu... Aku sudah putuskan. Aku... "