Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Kikuk


__ADS_3

"K-kalau kakak pengen, boleh... kok... "


Duh, astaga! Apa yang sudah aku katakan? A-apa ini sudah benar? Tapi, aku harus membuktikan kalau aku menikah dengan Kak Bram bukan karena mengincar hartanya kan?


Selama ini aku sudah berusaha melupakan Kak Sultan dan berusaha untuk bisa mencintai Kak Bram. T-tapi, tapi... A-apa ini agak terlalu cepat dan terdengar seperti berharap juga? Tapi, aku kan istrinya. Duh... Kepalaku jadi pusing mikirinnya.


"Fuh, dasar. Bikin aku berharap saja. Dia ngomong begitu, tapi sekarang dia malah ketakutan. Tangannya juga gemetaran." batin Bram melihat Lena yang gelisah dan panik menggigit bibir bawahnya ketakutan. Tangan Lena terasa gemetaran dilengannya.


Tapi, kenapa dia tiba-tiba mengijinkanku buat... begitu? Padahal selama ini, dia selalu terlihat ingin menghindar bahkan terlihat ketakutan kalau tidur disampingku. Apa yang sedang dipikirkannya, ya? Hhh... Entahlah, aku tak tahu.


Bram pura-pura menggerakkan tubuhnya. Lena tersentak kaget karena ulahnya. Tubuhnya seketika menegang dan tangannya semakin erat memeluk lengan Bram.


"Dasar. Dia ini mengijinkan atau nggak sih?" batin Bram tersenyum usil.


Lena melepas pelukannya di lengan Bram. Dia tersadar setelah melihat Bram cekikikan kearahnya.


"A-apa Kak Bram sedang mempermainkan aku?" batin Lena, wajahnya langsung merah padam karena malu.


"Jadi... Beneran boleh?" tanya Bram setelah menghentikan tawanya.


Bram menghadap kearah Lena dengan wajah serius. Lena kaget dibuatnya, lagi-lagi wajahnya merah padam. Dia mengangguk-angguk pelan dengan posisi kepala yang menunduk.


"Ya sudah, kebetulan. Aku juga sebenarnya ingin memberinya pelajaran, supaya tak lagi seenaknya mempermainkan perasaan orang." batin Bram. Entah kenapa rasa kesal malah muncul dihatinya.


Keesokan harinya...


Pagi ini matahari bersinar begitu cerah setelah kemarin hujan turun semalaman. Bu Mila yang sudah selesai memasak, sibuk menata makanan untuk sarapan mereka di meja makan.


"Loh, Lena sama Bram belum keluar, bu?" tanya Pak Hadi, berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya, tangan kirinya terlihat membawa sebuah tas. Lalu duduk, menyandarkan tongkatnya di tepi meja makan dan menaruh tas itu di atas meja makan.


"Iya, nggak tahu tuh. Seharusnya sekarang Lena sudah keluar." sahut Bu Mila heran. Seingatnya selama ini, kebiasaan Lena kalau sarapan sudah tersaji di meja makan, Lena pasti bakalan keluar.


"Itu apa, yah?" tanya Bu Mila menunjuk tas di atas meja.


"Ini bajunya Bram. Tadi pelayannya Bram mengantarnya. Dia bilang, tadi malam Bram meneleponnya untuk dibawakan baju. Tapi, dia baru bisa mengantarnya pagi ini gara-gara kemarin hujan semalaman." ucap Pak Hadi. Bu Mila hanya mengangguk mendengarnya.


Sementara itu, di kamar...


Lena duduk di tepi tempat tidur, dia memakai bajunya yang sebagian masih ditinggalkannya di rumah orangtuanya. Dia terdengar merintih kesakitan disana.

__ADS_1


"Duh... Aku nggak nyangka, Kak Bram ternyata begitu orangnya. Apa mungkin gara-gara aku menahannya beberapa hari, makanya kakak jadi... " batin Lena.


"M-maafkan aku, Len. Kamu nggak papa?" tanya Bram serba salah, dia juga ikut duduk di samping Lena.


"Aku nggak papa, kak." jawab Lena berbohong dengan senyum yang dipaksakan.


"Hhh... Ya ampun. Apa yang sudah aku lakukan? Aku berniat ingin memberinya pelajaran, tapi yang ada aku malah jadi kebablasan." batin Bram, memegangi wajahnya yang memerah. Dia jadi merasa bersalah mengingat kebodohannya tadi malam.


"Apa kamu ada kelas pagi ini, Len?" tanya Bram mengingat Lena yang pastinya akan pergi ke kampus.


"Hm... Ada sih. Tapi, seingatku kelasnya siang." jawab Lena, berpikir sambil memegangi dagunya.


"Kamu mau kemana?"


"Ibu pasti sudah menyiapkan sarapan. Kita sarapan yuk, kak." ajak Lena, dia terlihat kesusahan saat berdiri. Bram memegang tangannya untuk menahannya pergi.


"Kita makan di kamar saja, aku akan mengambil sarapan kita. Kamu duduk saja disini." ucap Bram.


Lena terdiam sebentar, dia duduk lagi di tepi tempat tidur menuruti perkataan Bram.


"Loh, Lenanya kemana, Bram? Kok nggak bareng kamu keluarnya?" tanya Bu Mila heran melihat Bram sendirian keluar dan menghampiri mereka yang sudah menunggu di meja makan.


"Loh, kenapa?" tanya Pak Hadi kebingungan.


"Ya sudah, ibu akan siapkan sarapan untuk kalian." ucap Bu Mila mengalihkan topik sambil tangannya cekatan menaruh makanan ke piring untuk Lena dan Bram.


Bram terlihat lega karena tak perlu menjawab pertanyaan ayah mertuanya.


"Oh iya, ini bajumu, Bram. Tadi pelayanmu mengirimnya." ucap Pak Hadi teringat sambil memberikan tas.


"Makasih, yah." sahut Bram sopan, mengambil tas yang berisi bajunya itu.


"Jadi, bagaimana masalah kemarin, sudah selesaikah?" tanya Pak Hadi.


"S-sudah, yah. Masalahnya sudah beres." jawab Bram kikuk sambil memegang tengkuknya.


"Baguslah." ucap Pak Hadi senang. Dia jadi ikut diam karena Bram yang tiba-tiba terdiam.


Bu Mila sudah selesai menyiapkan dan menaruh sarapan di nampan. Dia berniat ingin membantu Bram membawanya, tapi Bram menolak.

__ADS_1


"Memangnya kamu bisa membawa semuanya, nak?" tanya Bu Mila melihat Bram yang juga membawa tas ditangannya.


"Tasnya nggak berat kok, bu." sahut Bram, menenteng tas di lengan sedangkan kedua tangannya masih bisa membawa nampan. Dia lalu pamit pada kedua mertuanya untuk kembali ke kamar.


"Dihabiskan ya makanannya." ucap Bu Mila sambil tersenyum.


"I-iya. Makasih ya, bu." sahut Bram tersenyum kikuk.


"Bram sangat pengertian ya pada Lena." celetuk Pak Hadi senang, melihat Bram yang sudah pergi. Bu Mila mengangguk mengiyakan.


Bram sudah sampai di depan kamar. Dia terlihat kesusahan saat membuka pintu. Bram tiba-tiba terdiam karena melihat Lena yang masih duduk di tepi tempat tidur memandang keluar jendela. Dan Bram langsung tahu yang di lihat oleh Lena pastinya adalah rumah di seberang sana.


"Ehem!" Bram berdehem nyaring. Lena terlihat kaget mendengar kedatangan Bram, dia menghentikan aksinya melihat keluar.


"Astaga. Aku nggak dengar kalau Kak Bram sudah kembali." batin Lena kelabakan, aksinya ketahuan oleh Bram.


"Itu apa, kak?" tanya Lena menunjuk tas di lengan Bram.


"Bajuku. Tadi Pak Surya yang membawakannya ke sini." jawab Bram sambil meletakkan nampan di tempat tidur. Dia terlihat tenang, berusaha menyembunyikan kekesalannya.


"Oh... " sahut Lena.


Lalu mereka memakan sarapan mereka dengan lahapnya.


"Kakak nggak berangkat kerja?" tanya Lena tiba-tiba dengan mulut yang masih menguyah sambil matanya melihat jam dinding dikamarnya.


"Aku berangkat kerjanya siangan aja biar sekalian mengantar kamu ke kampus. Lagian... aku mau temani istriku di sini." ucap Bram, terdengar ada penekanan di akhir kalimatnya sambil tangannya menyeka makanan yang menempel di sudut bibir Lena.


Wajah Lena terlihat memerah karena ulahnya, tanpa menyadari maksud perkataan Bram.


"Mm... Kak?" panggil Lena setelah mereka selesai sarapan.


"Hm, kenapa?" tanya Bram sambil menatap Lena.


"Aku boleh nggak pakai kartu yang di kasih kakak buat bayar biaya semester?"


"Ya ampun, kamu ini. Aku kan sudah kasih itu buat kamu, jadi kamu boleh memakainya sepuasmu. Nggak usah ijin terus sama aku, pakai saja, oke." ucap Bram tertawa sambil mengelus-elus gemas rambut Lena. Lena jadi malu karenanya.


Padahal maksud Bram memberikan kartu kredit itu supaya Lena bisa memakainya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau membeli apapun yang dia mau sepuasnya. Tapi, selama ini Lena selalu meminta ijin darinya kalau ingin memakai kartu itu.

__ADS_1


Itu karena Lena merasa serba salah kalau seenaknya saja memakai uang hasil kerja keras Bram. Padahal wajar saja kan, soalnya dia istrinya Bram.


__ADS_2