
Sehabis dari bioskop, Lena saat ini ikut numpang di mobil Alika dan mereka duduk bersama di bangku belakang. Entah kenapa suasananya terasa canggung bagi Lena, tapi Alika malah terlihat santai dan biasa-biasa saja.
"Ternyata Rosi suka nonton film yang mencekam jiwa begitu, ya." ucap Alika yang masih terbayang-bayang dengan film bioskop tadi.
"Ya begitulah Rosi. Soalnya dia ada masalah dengan keluarganya." ucap Lena apa adanya.
"Hm... Menarik." batin Alika berpikir.
"Enak ya kalau ada teman yang akrab dengan kita. Di saat kita ada masalah, pasti ada sahabat yang akan selalu menemani dan menghibur kita. Aku, walaupun punya banyak teman tapi nggak ada yang begitu akrab denganku seperti kamu dan teman-temanmu." ucap Alika sendu.
"Selama ini yang paling akrab denganku cuma Kak Bram saja. Tapi, karena kakak sudah menikah denganmu, aku jadi tak bisa sering-sering menemuinya. Kenapa..." ucap Alika, kepalanya tertunduk dan wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Ah!? Maaf, jangan salah paham dengan perkataanku. A-aku nggak ada maksud buat ngomong begitu. Jangan salah paham, ya." ucap Alika tersadar. Dia jadi panik dan terlihat salah tingkah.
"Bodoh. Aku nggak sadar ngomong begitu tadi. Hampir saja aku kelepasan, kalau nggak rencanaku bisa kacau. Tapi, tadi dia nggak lihat ekspresi wajahku kan?" batin Alika panik.
"Ah iya, nggak papa. Aku maklum kok, soalnya kalian kan sudah akrab sejak kecil." ucap Lena tersenyum.
"Fyuh... syukurlah, dia tak sadar. Tapi kalau di pikir-pikir, dia ini agak naif ya." batin Alika sambil berpura-pura menampilkan senyum salah tingkahnya pada Lena.
"Hm... Kalau dilihat sih... Alika orangnya baik. Dan kayaknya perkataannya tadi juga nggak bermaksud berpikiran yang buruk-buruk. Tapi, kenapa tiba-tiba dia jadi curhat ya sama aku?" batin Lena bingung.
"Kupikir selama ini dia nggak begitu suka padaku karena aku terkadang melihatnya suka merengut kalau kami berpapasan. Atau... itu cuma perasaanku aja, ya? Apa aku salah lihat atau salah mengartikan raut wajahnya selama ini?" batin Lena berpikir.
...***...
"Tuan besar dan tuan muda sudah sampai." ucap heboh pelayan kepada Lena dan Bu Dona.
Lena dan ibu mertuanya itu sudah bersiap-siap menyambut kedua orang yang mereka tunggu-tunggu dari tadi kedatangannya.
"Assalamualaikum..." ucap Pak Ibrahim dan Bram.
"Waalaikumsalam." sahut Lena dan Bu Dona.
"Akhirnya... Kalian pulang juga. Ibu kangen." ucap Bu Dona terharu bahagia dan langsung menghampiri suami dan anaknya yang berjalan memasuki pintu rumah mereka.
"Ibu kangen banget..." ucap Bu Dona lagi sambil memeluk erat Bram dan menciumi kedua pipi anaknya itu.
"Loh? Sayang, kamu nggak menyambut aku juga?" tanya Pak Ibrahim manyun. Padahal dari tadi dia sudah merentangkan kedua tangannya.
"Kenapa? Aku kan ingin kangen-kangen juga dengan anakku." ucap Bu Dona manyun.
"Haha... Ibu... Aku dan ayah kan cuma pergi beberapa hari. Masa kangennya seperti nggak ketemu bertahun-tahun?" ucap Bram tertawa.
"Huh... Iya, iya." ucap Bu Dona, lalu memeluk suaminya.
__ADS_1
Lena hanya berdiri dan senyam senyum gemes melihat kelakuan suami dan kedua mertuanya itu.
"Sayang..." ucap Bram nyaring, menghampiri Lena dengan tak sabarannya.
"Eh? Sejak kapan kakak panggil aku 'sayang'?" batin Lena terkaget-kaget melihat perubahan Bram yang tiba-tiba sepulang dari dinas.
Bram memeluk Lena dengan begitu eratnya dan memberikan ciuman bertubi-tubi ke seluruh wajah istrinya itu.
"Ukh... K-kakak..." ucap Lena kaget sampai wajahnya merah padam karena tenggelam dalam 'siraman ciuman mesra' sang suami. Dirinya kewalahan dan pasrah saja dengan perlakuan Bram.
"Ya ampun. Melihat anak kita begitu, aku jadi teringat masa-masa kita baru menikah dulu." ucap Bu Dona terperangah tak percaya melihat kelakuan putranya itu.
"Haha... Benar juga. Awal-awal menikah dulu, kalau sudah kangen berat, aku juga menciummu seperti itu." ucap Pak Ibrahim tertawa.
"Haduh... Sifat bucinmu itu jadi menurun juga ke anak kita." ucap Bu Dona geleng-geleng kepala.
"Sayang, selama kami pergi, nggak terjadi masalah apa-apa kan?" tanya Pak Ibrahim dengan penuh selidik.
"Hei, a-apa maksudmu, sayang? Walaupun aku nggak begitu suka dengan menantu kita, tapi aku nggak mungkin melakukan hal yang di luar batas." ucap Bu Dona jujur sambil merengut.
Walaupun perkataan Bu Dona terkadang suka kasar dan menyayat hati, tapi dirinya tak pernah melakukan kekerasan fisik atau hal lainnya yang melewati batas pada sang menantu.
"Iya, iya. Maaf, aku percaya sama kamu." ucap Pak Ibrahim menenangkan istrinya yang mengambek.
"Hah? Oh iya." kaget Bram, memegangi tengkuknya.
Dia baru tersadar dan jadi malu juga dengan kelakuannya sendiri. Orangtuanya geleng-geleng kepala melihatnya sampai para pelayan pun jadi tersipu malu melihat mereka.
"Kakak pasti lapar. Aku sudah masak buat kita sesuai janjiku." ucap Lena tersenyum manis.
"Aku sudah nggak sabar." sahut Bram tersenyum juga.
Dan sekarang, keluarga ini sudah berkumpul di meja makan dan makan bersama-sama.
"Enak." ucap Bram.
"Ternyata kamu sudah berusaha dengan baik. Baguslah." ucap Pak Ibrahim.
"Makasih, yah." ucap Lena senang. Dia tersenyum bahagia mendengar pujian dari suami dan ayah mertuanya.
Bu Dona yang tadinya hanya diam dan makan dengan tenang, lama-lama terlihat jadi jengkel karena saat makan malah menyaksikan kebucinan anaknya yang minta suap-suapan dengan sang menantu tepat dihadapannya. Pak Ibrahim yang menyadari kejengkelan istrinya jadi ikut-ikutan juga cara anaknya yang sedang menggoda istrinya.
"Sayang, buka mulutnya." ucap Pak Ibrahim menyodorkan sendok berisi makanan pada istrinya.
"H-hah?" Bu Dona kaget dan kebingungan. Tapi, pada akhirnya disambutnya juga suapan dari suaminya itu.
__ADS_1
Lena dan Bram tersenyum bahagia melihat mereka. Para pelayan yang masih setia berdiri dipojokan, senyam senyum memperhatikan keluarga bahagia itu. Mereka seketika langsung terdiam karena Bu Dona menatap mereka dengan tajam.
Entah kenapa, Pak Ibrahim lama menatap Lena dan Bram. Lalu setelahnya tersenyum bahagia. Bu Dona yang melihat suaminya jadi bertanya-tanya dalam hati.
"Sampai sekarang aku masih tak habis pikir kenapa suamiku memilih dia sebagai menantu kami?" batin Bu Dona sambil melirik Lena.
...***...
"Sayang, aku kan baru datang, masa kamu malah belajar terus sih? Sini dong." ucap Bram cemberut, berbaring di tempat tidur.
Bukannya manja-manjaan, Lena malah duduk di tepi tempat tidur dan asyik belajar dengan buku-bukunya.
"Sebentar ya, kak. Aku belajar sebentar dulu. Sebagai seorang istri, aku kan juga harus membuat suamiku dan orangtua kita bangga dengan hasil kerja kerasku." ucap Lena mencoba membuat Bram maklum dengan kewajibannya sebagai mahasiswa. Bram bangun dari berbaringnya.
"Hebatnya istriku." puji Bram.
Dipeluknya Lena dari belakang dan diciumnya pipi istrinya itu sampai wajah Lena memerah dibuatnya.
Lama Bram terdiam sambil menyandarkan dagunya di bahu Lena. Ditatapnya lekat wajah Lena yang masih asyik belajar itu. Tak lama kemudian, Lena terlihat sedang berpikir dengan keras, sepertinya dia kesulitan mencerna pelajaran yang sedang dipelajarinya.
"Oh iya, Len. Selama aku pergi... nggak ada pria lain yang dekat-dekat denganmu kan?" tanya Bram, tiba-tiba sifat posesifnya keluar.
"Waduh, kenapa di saat begini kakak malah jadi cemburuan?" batin Lena bingung.
"Mm... Ada sih, kak. Tapi, cuma buat nanya pelajaran yang sulit aja kok. Lagian, aku yang deketin." jawab Lena apa adanya.
"Kamu yang deketin?" marah Bram dalam hati.
"Huh, pria yang itu, ya?" batin Bram kesal mengingat pria yang bernama Ihsan. Saking kesalnya, Bram semakin mempererat pelukannya pada Lena.
"Aku kan sudah bilang, kalau kamu belajar di rumah begini, kamu kan bisa nanya sama aku. Jadi kamu nggak perlu nanya sama orang lain lagi di kampus. Aku ini termasuk pintar juga tahu." Bram malah mengambek.
"Hihi... Iya, iya. Aku tahu kakak lulusan dari luar negeri. Tapi, selama beberapa hari kemarin kakak dinas keluar kota kan?" ucap Lena mengingatkan.
"Ya sudah, kalau begitu ada hal yang nggak aku mengerti. Jadi, aku boleh bertanya sama kakak kan?" tanya Lena mencoba untuk menenangkan suaminya.
"Tentu saja. Yang mana?" tanya Bram dengan semangat.
Dia langsung bisa menjawab semua pertanyaan Lena dengan lancar sambil masih terus memeluk Lena. Lama mereka tanya jawab, entah kenapa, lama-lama tangan Bram mulai bergerak kesana kemari. Lena sampai tak bisa fokus belajarnya dan hanya bisa membiarkannya saja.
"Duh... Ini nih yang aku nggak mau. Aku suka nggak fokus kalau belajar sama Kak Bram. Untung belajarnya sudah selesai." batin Lena pasrah.
"Sudah selesai kan belajarnya?" tanya Bram tak sabaran.
"Iya, sudah. Aku taruh bukunya di atas meja dulu ya, kak." sahut Lena tersenyum kikuk. Wajahnya sudah merah padam dari tadi gara-gara ulah Bram.
__ADS_1