
Saat rasa dihati sudah tak terbendung, hal yang sebenarnya kecil bisa menjadi sangat berarti bagi mereka yang bucin. Begitulah yang terjadi pada Lena.
...***...
Pagi ini cuacanya cerah dan suasana dikomplek perumahanpun terlihat damai. Tampak dari salah satu rumah, seorang gadis berseragam SMP bersembunyi dibalik pagar rumahnya. Sesekali kepalanya menyembul. Raut wajahnya terlihat sangat gelisah.
"Aduh... Kapan keluarnya? Seharusnya sekarang mereka sudah keluar. " ujarnya tak sabaran. Kakinya sudah pegal karena kelamaan berdiri.
"Akhirnya... " serunya senang.
Wajahnya terlihat berseri-seri saat melihat orang yang dinantikannya keluar juga dari rumah diseberang jalan sana. Dirinya langsung merapihkan penampilannya yang sebenarnya sudah rapi. Dilihatnya lagi pantulan dirinya di cermin kecil.
"Oke, sip." ucapnya.
"Selamat pagi. Harinya cerah, ya." sapanya sambil keluar dari persembunyiannya dengan wajah ceria.
"Pagi, Kak Lena." sahut dua bocah berseragam SD.
"Hm, pagi." sahut acuh laki-laki yang berseragam SMA.
Walaupun perkataan laki-laki yang berseragam SMA itu ketus, tapi wajah Lena sudah memerah merona dibuatnya.
"Loh, kok kakak nggak naik mobil?" tanya Maya, yang merupakan adik si laki-laki.
"Ayah sedang dinas keluar kota."
"Oh... " sahut Maya. Diikuti oleh si kecil Angga, adik bungsunya. Biasanya kalau ada Pak Hadi, mereka juga akan diantar menggunakan mobil.
Diam-diam Lena melirik orang yang ada disampingnya.
Dialah cinta pertamaku.
Namanya Sultan.
Wajahnya tampan dengan tubuh yang tinggi menjulang. Orangnya pendiam tapi tatapan matanya menghunus tajam.
Dia tinggal bersama ibu dan kedua adiknya. Ayahnya meninggal saat umurnya 12 tahun. Meninggalkan dia, ibu dan adik-adiknya yang masih kecil.
Kata ibuku, sejak saat itulah dia mulai bersikap lebih dewasa untuk mengurangi beban ibunya yang menanggung kehidupan mereka sendirian.
Rumah kami saling berseberangan. Setiap kali membuka pintu, pasti selalu ada dia yang terlihat. Mungkin inikah yang dinamakan cinta lima langkah dari rumah itu sebenarnya?
"Nggak terasa, ya. Sebentar lagi Kak Sultan mau lulusan, kan?" tanya Lena tiba-tiba memecah kesunyian.
"Ya, begitulah."
Duh, ketusnya.
"Katanya kalau sudah lulus kakak mau kuliah, ya? Kuliah dimana?" Lena berusaha menghidupkan suasana selama perjalanan.
__ADS_1
"Di xxx, jurusan ekonomi."
Hiks, jawabannya selalu singkat, jelas dan padat.
Lena pernah berpikir, kalau tak bisa mendapatkan hati kakaknya, maka kau harus bisa mendapatkan hati adik-adiknya. Tapi sayangnya, mereka terlalu santun, sama seperti kakak mereka juga. Mereka hanya bicara kalau ada perlunya saja. Sampai-sampai Lena kesulitan mengobrol dengan mereka karena kehabisan kata-kata.
Begitupun, saat mereka dalam angkot sekarang. Duduk dalam diam.
Awalnya aku bingung dengan perasaanku. Apakah ini rasa suka atau rasa kagum kepadanya. Tapi, lama-lama aku menyadari kalau aku mulai menyukainya. Mungkin karena tetanggaan jadi kami sering ketemu, ya?
Rasanya aneh. Anak SMP kelas satu jatuh cinta pada orang yang 5 tahun lebih tua darinya. Tapi begitulah. Mungkin beginikah yang dinamakan cinta monyet itu?
Masalahnya...
Kak Sultan itu tak terlalu memikirkan masalah cinta-cintaan. Dalam kamus hidupnya hanya ada kata 'belajar dengan giat' saja. Sangat sulit mendapatkan hatinya.
Baru saja aku ngomong begitu. Siangnya, dijalan saat pulang sekolah. Aku kaget bukan main. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.
Kak Sultan menembak seorang perempuan?
Padahal selama ini aku selalu kesulitan mendapatkan perhatiannya, apalagi hatinya. Tapi sekarang, dia malah dengan mudahnya menyatakan cinta pada orang lain?
"Pakai dibacain puisi segala. Aku nggak terima. Kak Sultan itu milikku tahu." batin Lena mencak-mencak.
Lena berniat melabrak mereka. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya sembunyi kebalik sebuah pohon.
"Ssst... Kamu nggak lihat apa disana ada yang seru?" ucap Ardan sambil mengisyaratkan Lena untuk diam.
Ardan adalah teman Sultan. Tapi berbeda dengan Sultan, dia playboy dan suka bersikap seenaknya.
Dari balik pohon, mereka bisa melihat Sultan yang kikuk dan kesulitan membacakan 'puisi cinta' untuk si perempuan. Si perempuan pastilah sangat bahagia, terlihat dari raut wajahnya.
Lena bersungut-sungut menyaksikan pemandangan didepan matanya. Melihat orang yang disampingnya cemburu, timbul niat Ardan untuk memanas-manasinya.
"Sultan itu populer banget loh di sekolah kami. Banyak perempuan yang suka sama dia. Termasuk perempuan itu. Dan kebetulan dia sekelas sama kami." tunjuk Ardan pada perempuan berseragam SMA yang berparas cantik itu.
Huh!
"Dia juga sering dekat-dekat sama Sultan."
HUH!
"Kalau dilihat-lihat, mereka serasi, ya?" tambahnya lagi mengompori. Dia tahu anak SMP ini menyukai temannya.
"NGGAK!" bantah Lena, wajahnya memerah karena menahan marah.
Melihat Lena yang tersulut emosinya, malah membuat Ardan semakin senang jadinya. Saat Lena asyik memukul-mukul Ardan, mereka baru tersadar kalau sedang terjadi masalah pada dua insan yang dilanda cinta diseberang sana.
Ada apa gerangan?
__ADS_1
...***...
"Diakhir kata aku katakan, ak- aku... cin... cin... " ucap Sultan terbata-bata. Dia tak bisa menyelesaikan ucapannya.
"Hhh... "dirinya memegangi kepalanya yang pusing karena ulahnya sendiri.
"Nggak bisa. Aku harus ngomong yang sebenarnya." ucapnya tiba-tiba.
"Hm? Ya?" tanya si perempuan masih menunggu dengan penuh harapan.
"Maaf. Sebenarnya aku tidak bermaksud begini. Aku terpaksa melakukan ini karena Ardan yang memaksaku. Aku kalah taruhan darinya dan ini hukuman yang dipintanya. Maafkan aku. Kau juga pasti sudah tahu seperti apa sifatnya Ardan, kan?" ucap Sultan jujur untuk meluruskan kesalahpahaman.
"Apa? J-jadi... ini maksudnya cuma buat main-main?" tanya si perempuan tak percaya sekaligus kecewa.
"Sekali lagi maafkan aku." sesal Sultan sambil berlalu pergi meninggalkan si perempuan.
"T-tunggu dulu, Sultan... Tunggu... " teriak histeris si perempuan.
"Ah... Sultan nggak asyik, deh." sungut Ardan kecewa.
"Cih, ternyata dia biang keroknya." dongkol Lena dalam hati. Ditatapnya Ardan dengan tak senang.
Tapi... kalau dipikir-pikir. Kasihan juga kakak cantik itu. Setelah ditinggal Kak Sultan, penampilannya terlihat menyedihkan. Terduduk lemas ditanah dengan wajah pucat pasi. Wajahnya terlihat hampir menangis. Padahal tadi, dia sudah sangat berharap sekali.
Dasar, Kak Sultan.
Dia bisa membuat orang terbang melayang, tapi juga bisa menghempaskan sampai hancur berkeping-keping. Tapi, dia tak menyadari kalau sikapnya itu sudah menyakiti hati orang lain.
Kak Sultan mencak-mencak ke Kak Ardan. Ternyata dia kalau marah seram juga.
Dia menyadari kehadiranku, lalu mengajakku pulang bersamanya. Kalau kebetulan bertemu, kami memang akan pulang sekolah bareng. Tak dihiraukannya Kak Ardan yang memanggil-manggil namanya.
"Rasain. Emang enak." batinku meledek Kak Ardan.
Aku baru menyadari kalau Kak Sultan itu sangat populer. Ternyata bukan hanya aku, tapi ada banyak perempuan yang menyukainya. Kalau nggak ada kejadian tadi, aku nggak akan pernah tahu.
Entah kenapa, kalau mengingat Kak Sultan yang membacakan puisi buat kakak cantik tadi, aku jadi makin kesal.
"Oh? Puisinya!" batinku, mengingat kertas yang dibuang Kak Sultan ke tempat sampah tadi.
"Maaf, kak. Kayaknya tadi ada yang ketinggalan. Kakak duluan aja." ucapku beralasan.
"Oh, baiklah." sahutnya santai.
Lena berlari ke tempat sampah tadi dan bersorak kegirangan setelah menemukan kertas yang dicarinya.
"Akan kujadikan ini harta yang paling berharga." tekadnya dalam hati.
Tanpa disadarinya, ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya dari kejauhan.
__ADS_1