Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Mimpi


__ADS_3

"Gelap." batin Lena memperhatikan sekelilingnya. Dirinya berdiri di suatu tempat kosong yang gelap dan terasa asing baginya.


Crang! Crang! Crang!


"Suara apa itu?" batin Lena kaget.


Dirinya celingukan mencari sumber suara. Entah kenapa dari suatu tempat muncul sebuah cahaya, tapi sinarnya samar-samar dan memendar agak suram.


Disana terlihat ada seseorang berambut panjang berjalan ke arah cahaya aneh itu. Dan di tangan kiri orang itu terlihat memegang rantai panjang yang menjuntai sampai ke lantai. Bunyi rantai yang menyentuh lantai terdengar nyaring dan menggema seiring orang itu berjalan.


Lena ingin menyapa dan menanyai siapakah orang itu, tapi diurungkannya niatnya karena hatinya meragu dan tetap menutup mulutnya. Lena mengikuti orang itu dalam diam.


Tiba-tiba orang itu berhenti, sontak Lena kaget dan ikut berhenti juga. Orang itu menolehkan wajahnya pada Lena. Seketika tubuh Lena merinding melihat orang itu yang ternyata menggunakan topeng orang tertawa lebar aneh yang bisa membuat orang merinding kalau melihatnya. Dan di mata topeng itu tergambar air mata seperti sedang menangis walaupun pahatan matanya di pahat seperti mata yang sedang tersenyum.


Orang itu tiba-tiba mengeluarkan suara tertawa yang aneh dan mengerikan. Lena semakin merinding dibuatnya. Karena takut, Lena mundur perlahan-lahan menjauhi sosok aneh itu.


"Lena. Lena!"


"Siapa?" batin Lena kaget karena ada suara yang tiba-tiba memanggil namanya.


"Lena!" teriak suara itu lagi dengan lebih kencang.

__ADS_1


"Hah?" kaget Lena.


Lena membuka lebar matanya dan... dan... bangun dari tidurnya?


"Oh, ternyata tadi cuma mimpi." batin Lena lega, memegangi kepalanya.


"Kamu ketiduran. Makanya aku bangunin. Maaf, ya." ucap seseorang disebelahnya serba salah. Ternyata orang itu adalah Ihsan.


"M-makasih sudah di... bangunin...?" ucap Lena tersadar.


"Eh, tunggu sebentar. Berarti aku ketiduran di kelas dong?" batin Lena kaget dan kepalanya langsung celingukan melihat sekelilingnya. Ruangan kelas itu sudah sepi dan hanya ada dia dan Ihsan saja disana.


"T-terus, bagaimana dengan belajarnya?" tanya Lena syok.


"Aaa... Yang benar saja. Kok aku bisa ketiduran saat belajar sih?" batin Lena kesal, memegangi kepalanya dan merutuki kebodohannya.


"Kamu sakit?"


"Hah? Ng-nggak, aku nggak sakit. Tapi, ya... akhir-akhir ini aku agak nggak enak badan aja sih." jawab Lena, memegangi tengkuknya.


"Hati-hati. Kalau sakit minum obat, istirahat yang cukup, terus juga jangan memaksakan diri terlalu berlebihan. Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya, Len." ucap Ihsan sambil pamit keluar dari ruangan jurusan mereka.

__ADS_1


"Eh, i-iya." sahut Lena mematung di tempat duduknya. Lalu cepat-cepat merapikan buku-bukunya dan keluar juga dari ruangan itu.


"Duh... Kenapa akhir-akhir ini aku merasa nggak enak badan, ya?" batin Lena berjalan di koridor kampus sambil memegangi keningnya.


"Malah sampai bermimpi buruk segala lagi tadi. Apa maksud mimpi tadi, ya? Uh... Nggak usah dipikirin, deh. Mimpi itu kan cuma bunga tidur aja. Ya... Kemungkinan gara-gara aku kecapekan aja kali, ya? Makanya mimpi yang aneh-aneh." batin Lena menghibur dirinya sendiri.


"Tumben masih ada disini? Biasanya sudah kumpul sama teman-temanmu. Kenapa kamu?" tanya seseorang dan Lena langsung tahu siapa pemilik suara angkuh itu.


"Oh, hai, Cintia." sapa Lena, tak dijawabnya pertanyaan Cintia tadi. Dilihatnya kesampingnya ada Cintia dan kedua dayangnya ikut berjalan bersamanya.


"Kamu kenapa?" tanya Cintia lagi.


"Nggak, nggak papa. Aku cuma nggak enak badan aja kok." jawab Lena apa adanya.


"Oh gitu?" sahut Cintia kalem, memandangi Lena.


"Ya sudah, aku duluan, ya." pamit Lena, melambaikan tangannya pada Cintia dan berlari kecil menghampiri teman-temannya di kantin.


Cintia melambaikan tangannya juga, tapi tak terlihat oleh Lena. Cintia terdengar menghela nafasnya.


"Kenapa, Cin?" tanya Soraya heran.

__ADS_1


"Nggak, nggak papa." sahut Cintia, melihat kebelakangnya. Dilihatnya Sonia dan Soraya dibelakangnya yang selalu bergandengan tangan dari tadi.


"Ya sudah, ayo jalan lagi." ucap Cintia.


__ADS_2