Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Ada Yang Bersembunyi


__ADS_3

Ceplas!


Lena membasuh wajahnya diwastafel lalu melap wajahnya dengan tisu yang ada disana. Selesai kelas tadi, dia pergi sendirian ketoilet wanita. Dipandangnya pantulan dirinya dicermin besar yang ada didepannya. Tiba-tiba ada yang membuka pintu toilet wanita.


BRAK!


Lena terkaget-kaget mendengar suara pintu yang ditutup dengan sangat keras. Dia langsung menengok kearah pintu, disana terlihat ada dua orang perempuan yang melihatnya dengan sinis.


"Apa-apaan sih mereka?" batin Lena kesal.


"Kamu kan yang namanya Lena?" tiba-tiba salah satu perempuan itu bertanya dengan nada kasar pada Lena.


"Iya... Ada apa?" tanya balik Lena dengan santai.


Tiba-tiba saja perempuan itu mencengkeram kerah Lena dan mendorongnya sampai pinggang Lena terantuk wastafel. Lena yang kaget karena ulah perempuan itu, refleks ingin memukulnya. Tapi, tangannya langsung ditahan oleh perempuan yang satunya lagi. Si perempuan yang mendorong Lena juga mencengkeram tangan Lena yang satunya lagi. Sehingga Lena tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa meronta.


"Kau pikir kau itu siapa? Sok hebat. Belagu. Padahal nggak ada apa-apanya. ******, *****, *******." ucap kasar si perempuan yang mencengkeram kerah Lena.


"Apa-apaan sih? Masuk-masuk main sosor aja. Nggak sopan lagi. Lepasin nggak. " ucap Lena tak kalah garangnya.


"Cih, ngelawan aja." ucap perempuan itu lagi.


"Sadar nggak sih yang salah itu siapa?" teriak Lena. Perempuan itu tersulut emosinya karena Lena berteriak padanya. Dia melayangkan tangannya untuk menampar Lena...


Cekrek!


Perempuan itu menghentikan aksinya karena mendengar suara seseorang memotret dari dalam salah satu bilik toilet. Mereka yang ada disana kaget, melihat orang yang keluar dari sana ternyata adalah Cintia.


"Menurut hukum yang berlaku, pelaku bullying verbal dapat dijerat dengan Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 yang menyatakan setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 76C, akan dipidana dengan penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan atau denda paling banyak Rp 72.000.000. Sudah ada bukti dan saksi mata yang bisa menguatkan bukti kekerasan kalian. Apalagi kalau ditambah dengan kalian melakukan kekerasan fisik, akan lain lagi ceritanya." ucap Cintia menyeringai sambil memperlihatkan video yang direkamnya tadi.


Kedua perempuan itu ketakutan melihat Cintia, mereka sangat tahu siapa yang ada dihadapan mereka. Mereka langsung kabur tanpa melihat kebelakang lagi.


"Kamu nggak papa?" tanya Cintia.


"Ngapain kamu disitu?" Lena malah bertanya balik sambil merapikan kerah bajunya.


"Hei... Ini kan toilet umum, wajar aja dong aku bisa ada disini." jawab Cintia santai.


"Maksudku... Ngapain kamu dari tadi sembunyi disitu? Perasaan tadi nggak ada orang, deh." ucap Lena bete.

__ADS_1


"Cuma nongkrong." ucap Cintia seadanya. Dia memang suka nongkrong ditoliet kalau lagi bosan. Saat mau keluar dari bilik toilet tadi, dia melihat Lena yang masuk toilet itu juga. Dia tak jadi keluar karena berencana ingin mengerjai Lena. Tapi, dia malah menyaksikan kejadian tak terduga tadi.


"Nongkrong? Disini? Sendirian?" tanya Lena bingung, tak menyangka seorang Cintia nongkrong ditoilet. Apalagi melihat Cintia yang tak bersama kedua dayangnya.


"Ya terserah aku, dong." jawab Cintia bete.


"Kamu kenal sama orang-orang tadi?"


"Nggak tahu, nggak kenal. Kenapa kamu menghentikan mereka tadi?" tanya Lena sebal, mengingat kedua perempuan tadi.


"Kalau nggak begitu, kamu bakalan menyerang balik kan? Bakalan susah kalau malah kamu yang jadi pelaku bullynya." ucap Cintia sambil geleng-geleng kepala.


Benar juga, kalau tadi Cintia tak menghentikan perempuan tadi yang ingin menampar Lena, bisa dipastikan Lena akan mengamuk.


Lena memang tak takut menghadapi kedua perempuan tadi, karena dirinya sudah terlatih menghadapi keadaan seperti itu. Dirinya sudah berguru dengan Anisa, Grace, dan Rosi. Perempuan bernyali besi yang kuat dan berani. Tapi, kalau yang lebih kuatnya lagi yang pasti adalah Anisa.


Cintia terlihat terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Jangan dilaporkan kedosen." ucap Lena seolah tahu apa yang dipikirkan Cintia.


"Kok gitu?" tanya Cintia kaget.


"Ergh! Kenapa dia?" batin Lena bingung melihat Cintia yang terdiam dengan wajah yang tersipu.


"Tapi, kenapa kamu malah menolongku? Padahal kamu sendirinya juga sering menggangguku." ucap Lena menyindir.


"Ah, kamu ini... Padahal aku sudah menolongmu. Bukannya berterimakasih, kamu malah mempelototi aku. Huh, nyebelin." ucap Cintia bersungut-sungut sambil berjalan ingin keluar dari toilet. Lena jadi bingung melihat tingkah Cintia yang terlihat kekanak-kanakan begitu.


"Cintia." Lena memanggilnya saat Cintia ingin membuka pintu toilet untuk keluar.


"Makasih." ucap Lena malu dengan suara yang setengah berbisik.


Cintia membeku mendengarnya dan tak jadi keluar. Dia langsung berbalik kearah Lena.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Cintia berbinar-binar.


"M-makasih."


"Sekali lagi."

__ADS_1


"Pergi sana. Nyesel aku bilangnya." ucap Lena mangkel sambil mengusir Cintia.


Dari keluar toilet sampai melewati lorong kampus, Cintia berlari riang sambil memutar-mutar tas mahalnya. Seperti habis bertemu dengan tambatan hati saja.


"Akhirnya... Si keras kepala itu bilang terima kasih juga padaku. Dia bahkan 'memujiku' juga." batin Cintia senang.


Untung lorong disitu sepi, kalau tidak, akan ada banyak orang kampus yang melihatnya begitu. Tunggu, sepertinya tidak juga, karena ada yang seseorang yang menyapanya.


"Ada apa nih dengan nona pengacara kita?"


Cintia kaget, dirinya berpapasan dengan seseorang dilorong itu.


"Cih, apaan sih? Bikin mood jelek aja." Cintia langsung kesal melihat orang didepannya.


Seorang pria tinggi berkacamata dengan rambut gondrong tak beraturan dan brewokan yang tumbuh diwajah pria itu berdiri dihadapan Cintia.


"Nggak nyangka, ternyata kamu aslinya begitu." ucap si pria tertawa.


"Huh. Daripada ngurusin aku, urus dirimu sendiri, hutan rimba." ucap Cintia kesal.


"Kamu itu sadar nggak sih kalau kamu itu berantakan?" ucap Cintia sambil melihat si pria dengan tak suka. Dia paling anti melihat orang yang berantakan. Si pria terdiam.


"Iiih... Jangan dekat-dekat!" teriak Cintia kaget, si pria tiba-tiba saja mendekatinya.


"Nanti kalau aku merubah penampilanku, kamu bakalan suka lagi." ucap si pria sambil tersenyum.


"Idih, ogah. Pede banget. Walaupun kamu bisa berubah jadi oppa ganteng juga, aku tetap nggak akan suka." ucap Cintia sambil berlari pergi meninggalkan si pria.


"Dia lucu juga ternyata." ucap si pria tertawa.


Si pria juga beranjak pergi dari sana. Saat melewati beberapa gadis, dia bisa mendengar kalau dirinya dicibir mereka.


"Idih, si Daniel nggak pernah ngaca ya kalau penampilannya begitu?" tanya salah satu gadis pada temannya.


"Hhh... Nggak tahu, deh. Masih mending idola kita Daniel. Lihat, deh. Dia tampan banget, aktingnya juga bagus banget. Duh... Pokoknya idolaku banget... " ucap teman si gadis sambil menonton film yang diperankan oleh idola mereka itu dihandphonenya.


"Kenapa namanya bisa sama-sama Daniel juga sih?" sungut si gadis sambil menyindir si pria tadi.


Si pria yang ternyata bernama Daniel itu hanya tersenyum-senyum mendengar mereka.

__ADS_1


__ADS_2