
Memang benar aku menikah karena perjodohan dan tak berdasarkan cinta karena menganggap Kak Bram sebagai kakak. Entah kenapa, kalau aku bicara seperti ini aku malah jadi seperti Kak Sultan saja. Ternyata cinta pertama itu memang sulit untuk dilupakan, ya. Tidak, tidak! Mulai sekarang lupakan dia.
Sekarang aku sudah menjadi istri Kak Bram. Dan sebagai seorang istri, aku harus menjaga martabat suami. Tidak boleh menimbulkan rumor dan jangan membuat masalah lagi untuk tidak merepotkan kakak dan orangtuanya.
Mulai sekarang, aku harus bisa berubah dan benar-benar membenah hatiku jadi lebih baik lagi dan mencintai Kak Bram yang merupakan suami.
Kakak sudah memberikan banyak cinta untukku, jadi aku bertekad akan memberikan lebih banyak cinta untuknya. Kalau orang lain saja bisa berubah, maka aku juga pasti bisa berubah. Aku akan berusaha.
...----Lena----...
Tapi masalahnya, di saat seseorang memiliki tekad yang baik untuk berubah, terkadang terbentang banyak rintangan dihadapannya untuk menggoyahkan segalanya.
Begitulah dengan Lena, di saat dirinya mulai ingin benar-benar berubah, di situ jugalah mulai muncul masalah sebenarnya yang akan menantinya di kemudian hari...
...***...
"Kalian kenapa?" tanya Anisa heran melihat Lena dan Grace yang terlihat lesu.
"Aku agak capek. Ada banyak pesanan online yang harus aku dan ibu urus. Selain kesibukan itu, aku harus belajar dan ke kampus. Terus akhir-akhir ini, Ade suka rewel nggak jelas lagi. Haduh... Di tambah lagi aku harus bantu bayar semua hutang-hutangnya ayah. Haduh... Pusing kepalaku, capek jiwa dan raga ini." Grace langsung curhat, berkeluh kesah panjang.
"Kalau dia ini pasti lesu gara-gara suaminya pergi dinas keluar kota beberapa hari kan? Iya kan?" goda Grace menyikut-nyikut lengan Lena.
Lena hanya tersenyun kikuk menanggapinya. Bisa-bisanya orang lesu menghibur orang yang lagi lesu juga.
Ya... Memang gara-gara itu juga sih. Aku akan kesepian beberapa hari kedepannya di rumah tanpa Kak Bram. Tapi, bukan itu yang sedang aku pikirkan.
Karena harus menjelaskan secara langsung pada Kak Bram yang masih belum mengerti tentang apa saja yang dikerjakan di sana nantinya karena baru pertama kali dinas keluar kota, jadinya ayah juga ikut menemani kakak.
Jadi, pastinya di rumah hanya ada aku dan ibu. Entah kenapa, aku jadi deg-degan. Apa aku akan baik-baik saja ya nantinya tanpa ayah dan Kak Bram?
Lena yang sedang asyik melamun, tiba-tiba pikirannya teralihkan karena pertanyaan Grace.
"Rosi kemana, ya? Kok nggak ngumpul bareng kita?"
"Mm... Kalian belum tahu, ya? Kalau Rosi ada masalah dengan keluarganya." ucap Emi dengan raut wajah sedih.
"Masalah dengan ibu dan adik tirinya lagi, ya?" tanya Grace kesal.
"Hm, aku ingin menghibur dan menemaninya, tapi Rosi menolak dan bilang ingin menyendiri." ucap Emi sedih.
Di antara ke empat orang ini, hanya Emi lah yang paling dekat dengan Rosi sebelum Lena, Grace dan Anisa berteman dengan mereka.
"Huh, kenapa ya ibu tiri sama saudara tiri itu sukanya bikin masalah? Mereka yang salah, orang lain yang kena getahnya. Apa semua ibu dan saudara tiri itu memang begitu?" tanya Grace emosi.
"Kasihan Rosi, dia pasti mengalami kesulitan. Tapi, kenapa dia selalu suka memendamnya sendirian? Padahal sebagai teman, seharusnya dia bisa cerita pada kita untuk mengurangi beban dihatinya." ucap Anisa sendu. Lena hanya terdiam mendengarkan mereka.
Memang sih, pada dasarnya manusia itu makhluk sosial. Selalu bersama-sama untuk saling membantu. Tapi, ada kalanya di saat ada masalah, orang hanya ingin menyendiri dan tak mau orang lain terlibat dalam masalah mereka. Sebenarnya itu nggak begitu bagus karena masalah yang selalu di pendam akan menyebabkan beban berat di hati.
__ADS_1
Aku sok-sokkan ngomong begitu padahal aku sendirinya juga sama saja.
Dan sekarang, aku sedang pusing memikirkan kalau pulang ke rumah nanti. Aku jadi gugup memikirkannya, aku takut kalau nanti akan terjadi masalah. Aku tak mungkin mengatakannya pada kalian, pasti akan ketahuan kalau hubunganku dengan ibu mertua tak begitu harmonis.
...***...
"Ibu kemana, bi?" tanya Lena pada seorang pembantu sambil mencari sosok sang ibu mertua.
"Nyonya lagi pergi keluar, non. Mungkin sedang kumpul dengan teman-teman sosialitanya." jawab pembantu itu sopan, lalu pamit pergi kepekerjaannya.
"Ibu pergi menemui teman-teman sosialitanya lagi, ya?" batin Lena sambil duduk bersandar di sofa keluarga. Entah kenapa, ada perasaan lega dan kecewa juga dihatinya.
"Apa yang sudah aku pikirkan? Padahal tadi sudah berpikiran buruk, sudah takut deg-degan tak jelas dan memikirkan yang tidak-tidak tentang ibu mertua." batin Lena menghela nafasnya sambil memegangi kepalanya. Ada perasaan bersalah dalam hatinya karena sudah berprasangka buruk pada ibu mertua.
Hening...
"Uh, sepi... Biasanya kalau habis kampus, kakak suka ngajak aku jalan-jalan walaupun di tengah kesibukannya. Aku nggak mungkin mengganggu pelayan dan mengajak mereka ngobrol denganku karena mereka ada kesibukan sendiri dengan pekerjaan mereka. Sekarang... Aku mau ngapain, ya?" batin Lena bingung.
Sementara itu...
Tring!
Terdengar ada pesan masuk di handphone Bram.
"Ck, lagi-lagi mengirim foto ini lagi." decak Bram.
Dia terlihat sangat kesal melihat pesan yang baru saja masuk yang ternyata merupakan sebuah foto yang di kirim oleh orang misterius yang selama ini selalu mengirimi foto-foto kedekatan Lena dan Ihsan saat di kampus.
Orang aneh ini selalu mengirimiku foto kedekatan Lena dan siapalah itu, aku sudah lupa namanya. Apa orang ini bermaksud untuk membuatku cemburu?
Dia pikir aku akan terpancing lagi? Asal 'siapa pun kamu itu' tahu saja, aku lebih percaya dengan istriku, tahu.
Setiap kali aku mencoba menghubungi pengirim foto-foto ini, orang aneh ini tak pernah bisa di hubungi. Dan kalau mengirim foto lagi pasti selalu dengan nomor handphone yang berbeda-beda dan pastinya lagi selalu sulit untuk menghubunginya lagi.
Karena terlalu pusing memikirkannya, aku tak begitu mencari tahu lebih lanjut lagi siapa pelakunya. Tapi yang ada orang ini malah semakin bebas saja.
Aku pernah sempat berpikir kalau pelakunya adalah ibu karena ibu yang tak menyukai Lena. Tapi, aku tak menemukan bukti apa-apa kalau ibulah pelakunya. Kalau aku mengatakan hal seperti ini, ibu pasti akan sedih dan marah kepadaku karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak tanpa bukti yang jelas.
Selain itu, aku juga pernah mencurigai kalau Alikalah orangnya. Tapi setelah kupikir-pikir, aku sudah lama berteman dengannya sejak kecil sampai kuanggap adik sendiri. Alika sifatnya memang keras kepala dan temperamental. Tapi... Dia tak akan mungkin melakukan hal seperti ini kan?
"Hhh... Aku harus bagaimana?" tanya Bram pada dirinya sendiri. Dirinya masih melihat foto tadi di layar handphonenya.
Selama ini aku tahu Lena masih berusaha untuk bisa mencintaiku. Tapi itu tak masalah, yang penting dia sudah menjadi milikku. Karena dia masih berusaha membuka hatinya untukku, aku juga jadi berusaha untuk menahan emosiku setiap kali dia memendam masalahnya sendiri.
Dia begitu pasti karena memikirkan tidak mau menyusahkan aku dan orangtuaku.
Aku pernah mencari tahu apa yang terjadi pada Lena waktu di acara antar perusahaan beberapa bulan lalu, ternyata dia begitu karena ada dua perempuan yang membicarakan yang tidak-tidak tentang dirinya di toilet.
__ADS_1
Saat kutanya, kedua perempuan itu mengaku tak sengaja membicarakannya dan berjanji tak akan mengulangi hal itu lagi.
Karena Lena memendam masalah itu, aku jadi memendamnya juga dan tak begitu membahasnya lagi untuk tak menjadi beban pikirannya. Tapi... Apakah tindakanku yang begitu sudah benar? Apa tidak apa-apa?
Dan sekarang, aku masih pusing dengan foto ini. Bagaimana dan apa yang harus aku lakukan? Di saat hatiku berkata ingin menghapus foto ini, tapi entah kenapa otakku malah berkata lain.
"Hapus... atau tidak, ya?" batin Bram bimbang.
"Hhh... Di saat begini aku jadi kangen sama istriku." ucap Bram galau.
Di tempat lain...
"Oh, video call dari kakak." ucap Lena senang dan langsung mengangkat video call dari Bram.
"Halo, kak... " sapa Lena tersenyum ceria. Di layar handphonenya, Bram juga tersenyum kepadanya.
"Aku kangen banget dengan istriku." ucap Bram langsung.
"A-aku juga kangen kakak." ucap Lena tersipu malu.
"Loh, kamu di mana?" tanya Bram heran melihat Lena yang sepertinya bukan berada dirumahnya.
"Aku di rumah ibu." jawab Lena apa adanya.
"Di rumah ibu mertua? Itu artinya dia bisa bertemu dengan Sultan kan?" batin Bram tak senang dengan dahi yang berkerut.
"Habisnya aku kesepian di rumah sendirian. Ibu pergi keluar bertemu dengan teman-temannya. Jadinya aku ke rumah ibu, sekalian belajar masak lagi." ucap Lena sambil menampilkan sosok ibunya di layar handphone.
"Assalamualaikum, nak Bram." sapa Bu Mila ramah.
"Waalaikumsalam, bu." sahut Bram di sana.
"Istrimu ini masih berusaha belajar memasak loh."
"Terus hasilnya bagaimana, bu?" tanya Bram senyam senyum.
"Ya... begitulah. Gimana, ya?" jawab Bu Mila tertawa. Lena terdengar mengambek pada ibunya. Bram tertawa melihat mereka.
"Mm... Maaf ya, kak. Aku datang ke rumah ibu nggak ngabarin kakak. Kakak pasti kaget. Tapi, HP kakak susah aku hubungi sih dari tadi. Nggak papa kan, kak? " tanya Lena merasa bersalah.
"Nggak papa. Seharusnya aku yang minta maaf karena HPnya lama aku matiin tadi." sesal Bram.
"Tapi syukurlah, setidaknya dia tak bertemu dengan Sultan. Tapi lagian orang itu kan kemungkinan masih kerja." batin Bram berpikir.
"Oh iya, Len. Karena kamu belajar memasak lagi, gimana kalau aku dan ayah pulang nanti kamu masak buat penyambutan kami?" usul Bram tiba-tiba.
"Eeeh... T-tapi kak, aku nggak bisa janji loh, kak. Kakak kan tahu kalau masakanku... " ucap Lena kaget.
__ADS_1
"Kalau dalam beberapa hari kamu berusaha dengan giat, pasti kamu bisa kok." ucap Bram yakin dengan tersenyum lembut.
"Y-ya sudah, kalau begitu akan aku usahakan." ucap Lena dengan wajah yang memerah.