
Ting tong!
Pak Ibrahim menekan bel rumah yang mereka kunjungi.
"Ayah, aku sudah bilang aku tidak mau." ucap sang anak, wajahnya tertekuk sebal.
"Jangan membantah ayah, Bram!" ucap Pak Ibrahim garang. Anaknya yang ternyata Bram seketika terdiam.
Sang ibu yang berpakaian glamor mendekati Bram.
"Turuti aja kemauan ayahmu dulu. Ibu juga nggak mau kamu dijodohin sama anak keluarga ini." bisik ibunya menenangkan Bram. Bram hanya diam.
Tiba-tiba pintu didepan mereka dibuka oleh si pemilik rumah.
Bram kaget melihat seorang bapak memakai tongkat yang menyambut mereka.
"Kenapa dengan bapak ini?" batin Bram melihat ke arah kaki sang pemilik rumah.
"Duh, maaf, Pak Ibrahim. Anda menunggu lama. Saya lupa kalau Anda sekeluarga akan datang malam ini." ucap Pak Hadi dengan wajah yang terlihat menyesal.
"Tak apa-apa, pak. Saya maklum." ucap Pak Ibrahim tersenyum ramah. Mengingat Pak Hadi yang kadang suka lupa kalau sudah serius bekerja.
"Masa bisa lupa sih?" celetuk Bu Dona sinis.
"Bu!" tegur Bram pada ibunya, melihat ayahnya menatap mereka dengan tajam.
Pak Hadi semakin merasa bersalah mendengarnya.
"Eh, Pak Ibrahim ternyata. Kenapa berdiri saja? Mari masuk, pak, bu." ucap Bu Mila kaget dan langsung mempersilahkan para tamunya masuk.
"Oh, pasti ini anak Anda ya, pak? Anaknya tampan." ucap Bu Mila menyadari ada satu orang lagi yang bersama mereka. Bram hanya diam.
"Ya, ini anak kami, Bram. Bram, beri salam." ucap Pak Ibrahim menyuruh Bram. Bram menurut dan salim pada Pak Hadi dan Bu Mila.
"Bu, panggil anak kita." bisik Pak Hadi dan disahuti anggukan istrinya.
"Pak, bu, nak Bram, silahkan duduk. Kami akan memanggil anak kami." ucap Pak Hadi pada tamunya.
"Sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan Lena, ya, pak." ucap Pak Hadi setelah mereka duduk.
"Namanya anak muda... Wajar, pak. Anak saya ini juga kemarin pakai acara kabur-kabur juga." ucap Pak Ibrahim sambil memegang keras pundak Bram.
"Hah? Lena?" batin Bram kaget.
Terlihat Bu Mila membawa nampan berisi minuman dan kue-kue untuk tamu mereka. Dirinya pun ikut berbincang dengan mereka. Bram hanya diam mendengarkan obrolan mereka dengan debaran jantung dan rasa penasaran yang menjadi-jadi.
__ADS_1
Tiba-tiba, mereka dikagetkan dengan suara hentakan kaki seseorang yang mendekati mereka. Pak Ibrahim dan istrinya kaget. Apalagi Pak Hadi dan Bu Mila yang lebih terkaget-kaget lagi melihat kelakuan anak mereka. Bram tersenyum-senyum menahan tawanya.
"Loh? Kak Bram?" ucap Lena kaget melihat orang yang dikenalnya. Bram tersenyum kearahnya.
"Lena! Kenapa kamu belum ganti baju? tanya Bu Mila kaget.
"Biarkan saja, bu. Ayo, Len. Ikut duduk sama kami." ucap Pak Ibrahim.
"Jadi, kalian sudah saling kenal?"
"I-iya... " jawab Lena tergagap, tak menyangka anak Pak Ibrahim adalah Bram.
...***...
"Duh... Kalau tahu Kak Bram yang datang aku nggak akan pakai baju kayak gini." ucap Lena malu sambil memegang pipinya yang memerah.
"Nggak papa kok. Lucu." ucap Bram cekikikan.
"Ih, kak. Jangan ketawa terus dong." sungut Lena marah.
Setelah berbincang sebentar dengan orangtua mereka, mereka minta ijin keluar untuk membahas perjodohan mereka berdua. Dan sekarang, mereka sudah mengobrol dengan akrab dihalaman samping rumah.
"Anu, kak... M-maaf, ya. Kemarin aku ngomong yang nggak-nggak tentang ayah kakak. Aku nggak maksud." ucap Lena gelagapan, mengingat dirinya mengomel tentang Pak Ibrahim. Walaupun Lena tak menyebutkan nama Pak Ibrahim secara langsung, tapi sekarang kan jadi ketahuan kalau Pak Ibrahim itu ayahnya Bram.
"Ah, nggak papa kok. Aku juga terkadang suka sebal sama ayah yang suka maksa-maksa."
"Loh, bukannya kakak sama-sama nggak mau dijodohin?" tanya Lena bingung.
"Kalau kamu orangnya sih, aku mau aja."
"Ih, kakak... Bisa aja." ucap Lena sambil tertawa.
"Aku serius kok." ucap Bram, tak ada nada bercanda dari kalimatnya.
Seketika mereka terdiam dengan mata yang saling bertatapan.
"B-bukannya ada orang yang kakak sukai?" tanya Lena tiba-tiba untuk mengalihkan kecanggungan tadi.
"Orang yang aku sukai itu... ya kamu."
"Eh? Eh? Kok aku? Bukannya waktu itu kita baru ketemu?" tanya Lena tak percaya, saking kagetnya Lena berjalan mundur menjauhi Bram.
"Tapi, kak. Aku kan sudah bilang kalau aku suka seseorang, jadi aku nggak mungkin nikah sama kakak." ucap Lena lagi.
Senyum Bram yang mengembang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Tiba-tiba suara mobil yang masuk kerumah diseberang sana menghentikan obrolan mereka. Bram kaget tiba-tiba Lena menariknya kebalik pohon mangga yang ada dihalaman rumah.
"Dia sudah pulang."
"Siapa?" tanya Bram bingung.
"Orang yang kusukai." jawab Lena tersenyum.
"Hah? Maksudnya orang itu tinggal disini? Didepan rumahmu?"
Lena mengangguk mengiyakan.
"Namanya Sultan, kak." ucap Lena lalu terus menyerocos tanpa menyadari perasaan orang yang ada disampingnya. Karena jarak mereka yang terlalu dekat, Bram jadi bisa melihat wajah Lena yang berseri-seri. Hati Bram langsung sakit melihatnya.
"Seandainya senyuman itu untukku." dipandangnya Lena dengan sendu. Entah Bram mendengarkan omongan Lena atau tidak, yang pasti hatinya terasa sakit.
"Kak Sultan itu ya... "
"Mangga ini sering berbuah, ya?" Bram tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan Lena.
"Ya? Tentu saja. Kalau berbuah, pohon mangga ini jadi incaran satu komplek sini loh, kak. Kapan-kapan kalau berbuah kita ngerujak yuk, kak." ucap Lena senang. Tapi setelahnya, Lena tersadar kalau omongan tadi teralihkan saat melihat Bram yang senyum-senyum kearahnya.
"Ih, Kak Bram sengaja ya?" Lena bersungut-sungut, dipukulnya lengan Bram. Tapi, tiba-tiba Lena menghentikan kegiatannya memukul-mukul Bram, karena merasakan ada sesuatu yang hinggap dikakinya.
"Aaakh... Kodok... " teriak Lena histeris melihat kodok kecil sudah hinggap dikakinya. Lena lari tunggang langgang masuk kerumahnya meninggalkan Bram sendirian. Bram tertawa cekikikan melihat Lena.
Takut kodok tapi kok pakai piyama gambar kodok?
"Kenapa tadi teriak-teriak?" tanya Pak Hadi khawatir.
"T-tadi ada kodok... " ucap Lena, wajahnya terlihat pucat pasi. Mereka yang ada diruang tamu tersenyum-senyum melihat kelakuan Lena. Bram yang sudah menyusul dibelakang Lena terlihat memegang wajahnya karena menahan tawa.
"Jadi, bagaimana? Apa kalian sudah memutuskan untuk menikah?" tanya Pak Ibrahim tiba-tiba.
"Astaga! Aku lupa." batin Lena tersadar.
"Itu urusan nanti, yah. Sekarang ini kami ingin menjalin pendekatan pelan-pelan dulu." Bram yang menjawab.
"Oh, begitu? Ya sudah. Pelan-pelan saja." ucap Pak Ibrahim.
"Makasih, kak." ucap Lena dalam hati dengan tatapan matanya ke arah Bram.
"Sama-sama." batin Bram membalas tatapan Lena.
Orangtua mereka yang melihat mereka jadi tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Sepertinya, pernikahan akan dilaksanakan secepatnya." pikir mereka. Tapi, ada satu orang yang tak senang, yaitu Bu Dona, ibunya Bram.