
Siang ini, Bram dan Lena sudah sampai di kampus. Lena salim pada Bram untuk berpamitan. Tapi, saat Bram ingin masuk kemobilnya, ada seseorang yang memanggilnya.
"Kak Bram!" teriak orang itu sambil berjalan menghampiri Bram dan Lena. Mereka menoleh ke sumber suara, ternyata orang itu adalah Alika.
"Kenapa kekampusnya siang begini?" tanya Alika berbasa-basi. Pertanyaannya mengarah pada Lena, tapi dia malah menghadap ke arah Bram.
"Lena ada kelasnya siang dan... kebetulan kami ada urusan tadi." jawab Bram sambil memegangi tengkuknya.
"Oh, gitu... " ucap Alika polos apa adanya.
Lena hanya diam, matanya pura-pura melihat ke arah lain dan sebelah tangannya memegangi pipinya yang merona.
"Oh iya. Kak, aku boleh ikut pulang bareng kakak nggak? Aku sudah selesai kelas dan nggak ada kegiatan lain lagi. Terus, nggak ada yang bisa jemput aku pulang." ucap Alika memelas.
"Loh, memangnya Pak Yono supirmu mana?" tanya Bram heran.
"Pak Yono lagi cuti pulang kampung. Kalau papa nggak bisa jemput aku gara-gara lagi sibuk." ucap Alika dengan raut wajah sedih di buat-buat.
"Ha? Pak Yono cuti lagi?" tanya Bram keheranan.
"Y-ya... Katanya ada keluarganya yang lagi sakit." ucap Alika gelagapan.
"Sebenarnya supirku itu ada aja sih. Tadi saat aku melihat Kak Bram baru datang, aku langsung kepikiran buat menelepon Pak Yono supaya nggak menjemput aku pulang. Karena aku ingin bisa berduaan dengan Kak Bram." batinnya licik.
"Ya sudah, aku akan mengantarmu pulang." ucap Bram, Alika terlihat senang.
Bram pamitan pada Lena. Lena mengantar kepergian mereka dengan senyuman indahnya dengan melambaikan tangan. Alika jadi kebingungan melihat hal itu.
"Aneh? Kenapa mereka terlihat biasa-biasa saja? Bukannya kemarin ada masalah, ya? Lena juga terlihat tak begitu cemburu, padahal aku terang-terangan berduaan dengan Kak Bram dalam satu mobil." batin Alika heran.
"Ya... pastinya dia nggak kepikiran buat cemburu sih, soalnya Kak Bram kan cuma menganggapku sebagai adik." batinnya lagi sambil melihat Bram yang menyetir disampingnya dengan wajah cemberut.
"Kak, masalah yang kakak bilang kemarin malam itu sebenarnya masalah apa, kak?" tanya Alika pura-pura tak tahu, sebenarnya dia bertanya karena penasaran melihat Bram dan Lena yang entah kenapa terlihat biasa-biasa saja tadi.
"Hm? Ah... Bukan masalah yang serius kok." jawab Bram apa adanya sambil fokus menyetir.
"Aku sendiri aja masih belum tahu apa masalahnya." batin Bram berpikir. Saat di rumah tadi, dia masih berusaha untuk membuat Lena bicara, tapi Lena hanya diam saja.
"Jadi, masalahnya sudah selesai, ya?" tanya Alika lagi, dia masih belum puas dengan jawaban Bram.
"Mm... Ya... Begitulah." jawab Bram kikuk. Wajahnya terlihat agak memerah sambil tersenyum-senyum tak jelas.
"Loh? Kak Bram kenapa terlihat aneh begitu? Ada apa, ya? Terus, kok bisa masalahnya selesai begitu saja?" batin Alika kebingungan. Dia terlihat berpikir begitu keras sampai keningnya berkerut.
"Hah? Apa jangan-jangan... " batin Alika, langsung tersadar setelah mengingat Bram yang terlihat aneh tadi.
__ADS_1
"Uh... Wanita itu... Dia pasti selalu menggoda Kak Bram kalau kakak lagi marah. Mau gimana lagi, mereka kan memang suami istri. Tapi, kalau begini aku bakalan susah membuat mereka berpisah." batin Alika kesal. Dia malah jadi membayangkan hal terlarang yang tidak boleh bocil dekati.
"Hiiih... Awas saja kamu, Len. Aku nggak boleh dan nggak akan menyerah begitu saja. Lihat saja, lihat saja." batinnya lagi. Saking kesalnya tanpa sadar dia menghentak-hentakkan kakinya.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Bram bingung melihatnya.
"Ng-nggak, kak. Kakiku kayaknya pegal." jawab Alika gelagapan. Dia jadi menjawab asal.
...***...
"Disini, Len...!" teriak Grace tak sabaran sambil melambaikan tangannya.
"Astaga... Mereka benar-benar masih menungguku." ucap Lena sambil memegangi kepalanya.
Saat Lena datang ke kampus tadi, teman-temannya mengatakan kalau akan menunggunya di kantin setelah dia selesai kelas. Dan sekarang, Lena sudah sampai di kantin dan berjalan mendekati teman-temannya.
"Nggak adil...! Kenapa sih kalian berdua bisa ketemu langsung dengan Daniel?" belum juga Lena duduk bergabung dengan mereka, Grace sudah berteriak kesal saja.
"Iya, nih. Mentang-mentang kamu istrinya Kak Bram, terus ayah kamu karyawannya Kak Bram. Kalian jadi bisa datang ke acara itu." Rosi malah ikut-ikutan juga sambil menunjuk Lena dan Emi bergantian.
Emi terlihat mematung dengan keringat dingin bercucuran, sepertinya dari tadi dia sudah duluan kena interogasi Grace dan Rosi. Anisa hanya diam mendengarkan mereka, tapi tangannya mencubit pinggang Grace dan Rosi.
"Hei, jangan marah-marah sama aku, dong. Aku nggak sempat berfoto sama Daniel. Tuh, Emi yang sempat berfoto." marah Lena sambil menunjuk Emi.
"Anu... Len. Aku nggak sempat berfoto sama Daniel." ucap Emi.
Emi memperlihatkan foto dihandphonenya. Daniel memang ada di foto itu, tapi ketutupan oleh para gadis dan ibu-ibu. Ternyata Emi hanya bisa mengambil gambar dari kejauhan, tak berani ikut mengerubungi Daniel karena melihat kerumunan yang saling seruduk-menyeruduk bagai banteng liar.
"Tapi, Len, kamu kenapa nggak ikut berfoto juga bareng Daniel?" tanya Anisa.
"Iya, kenapa? Kemarin aku sampai kaget karena baru sadar kalau kamu nggak ikut aku." tanya Emi juga. Dia ingat kemarin Lena mengiriminya pesan untuk tak mendekatinya.
"Ah, itu... Aku ada urusan soalnya." jawab Lena seadanya. Dia tak ingin menceritakan masalah yang sebenarnya.
Untung saja teman-temannya tak bertanya lebih lanjut lagi, masalah meributkan berfoto dengan Daniel pun selesai. Dan saat ini, Lena sedang memakan mi ayam pesanannya dengan lahapnya. Sedangkan disampingnya, Grace sedang memegang kartu kredit Lena dan memandang benda itu dengan tatapan takjub.
"Seandainya aku juga memiliki kartu ini, aku bakalan beli gerai bakso berlusin-lusin atau mendirikan restoran yang menunya khusus bakso semua. Pasti isi dari kartu ini masih tetap ada banyak kan?" ucap Grace takjub. Sejak kemarin dia selalu terkagum-kagum dengan kartu itu. Walaupun begitu, tak ada perasaan iri dihatinya, dia hanya kagum saja.
"Kamu sayang banget ya dengan adikmu." ucap Rosi tertawa mendengar keinginan Grace.
"Gitu, deh. Habisnya Ade suka banget sama bakso. Kalau di suruh memilih, dia pasti bakalan milih bakso daripada HP. Tapi untung deh, dengan begitu aku nggak akan terganggu kalau lagi mengurus jualan online. Jadi reseller ternyata menguntungkan juga. Kenapa nggak dari dulu ya aku ikutan. Untung aku dapat beasiswa, jadi aku nggak begitu pusing memikirkan biaya semester." ucap Grace.
"Lena... Tolong angkat aku jadi anakmu..." rengek Grace tiba-tiba. Lena yang masih makan hampir tersedak kaget mendengar kekonyolan Grace.
"Idih! Baru aja nikah, masa diusiaku yang begini aku sudah punya anak segede kamu?" protes Lena.
__ADS_1
Lena meronta-ronta berusaha melepas pelukan Grace. Grace tiba-tiba melepas pelukannya karena ada seorang perempuan menegurnya.
"Permisi... Maaf, Ang... ah! Grace? Ini ada kiriman buat kamu." ucap perempuan itu, dia terlihat kebingungan menyebut nama Grace sambil menyerahkan segelas besar boba pada Grace.
"Oh? M-makasih, ya." ucap Grace kebingungan, tapi tetap saja disambutnya boba itu sambil tangannya yang lain mengembalikan kartu kredit Lena yang masih dipegangnya dari tadi.
"Cie, cie... Ada pengagum rahasia, nih. Dari siapa sih itu?" tanya Rosi usil.
Lena menyikut-nyikut pinggang Grace dengan gemas.
"Boba? Bukannya Grace suka jus buah naga?" Emi malah bertanya dengan polosnya.
Grace tak menanggapi mereka. Dia malah terlihat takjub melihat segelas besar boba itu dan di gelas itu ada tulisan namanya, tapi disana tertulis 'Anggun'. Dan Grace langsung tahu siapa pengirim boba yang menggiurkan itu.
"Tapi, Grace. Memangnya siapa lagi selain keluargamu yang masih mamanggilmu dengan Anggun?" tanya Anisa tiba-tiba.
Di kampus orang-orang hanya mengenal namanya Grace saja. Walaupun yang satu jurusan dengan Grace tahu nama aslinya Anggun, tapi tetap saja mereka memanggilnya Grace.
Grace tak menjawab pertanyaannya Anisa, dia malah asyik meminum bobanya.
"Hei, jawab dong!" teriak teman-temannya kesal karena terus diacuhkan olehnya.
Tiba-tiba obrolan mereka teralihkan karena lagi-lagi ada seorang perempuan yang datang menegur Grace.
"Hai, Grace. Nih, ada kiriman buat lo." ucap perempuan itu sambil memberikan sekotak makanan. Grace kebingungan menyambutnya, lagi-lagi ada orang yang mengiriminya sesuatu.
"Dari siapa lagi itu?" tanya Lena penasaran.
"Ng... gak tahu." Grace juga kebingungan. Di kotak itu tertulis namanya 'Grace', saat di buka ternyata isinya pisang keju kesukaannya.
"Siapa lagi yang mengirimiku? Apa jangan-jangan ini dari Doni? Soalnya dia suka membelikanku pisang keju waktu kami pacaran dulu. Tapi, masa dia. Dia kan sudah bertunangan. Terus, dari siapa dong ini?" batin Grace, dia malah jadi mengingat mantan pacarnya.
"Hati-hati, Grace... Jangan sembarangan menerima sesuatu dari orang lain, khususnya makanan atau minuman." nasihat Anisa.
"Iya, takutnya ada seseorang yang sengaja mencampurkan sesuatu. Kan kami juga yang repot nantinya kalau kamu kenapa-napa." ucap Lena menambah-nambahkan.
"Iya, Grace. Hati-hati. Dengerin makanya." Rosi ikut menakut-nakuti.
"Betul betul betul." Emi malah jadi ikutan juga sambil menirukan suara Upin dan Ipin. Kepalanya mengangguk-angguk lucu.
Mereka ngomong begitu untuk melarang Grace, tapi tangan mereka terang-terangan mencomot pisang keju di hadapan Grace dan memakannya dengan lahap.
"Kalian ini. Menakut-nakuti aku, tapi kalian malah duluan memakannya mendahului aku." marah Grace.
Padahal tadi Grace sudah terpengaruh dengan kata-kata mereka dan sempat jadi takut juga. Tapi nggak tahunya, teman-temannya malah seenaknya mengambil pisang kejunya tanpa seijin darinya.
__ADS_1
"Nggak tahu, ah. Masa bodoh. Kalau aku sakit perut, kalian juga bakalan ikut." kesal Grace sambil ikut-ikutan juga mencomot pisang keju itu dan memakannya dengan lahap. Dia tak mau ambil pusing memikirkan siapa yang mengiriminya pisang keju itu.
Grace sepertinya sedang beruntung. Karena walaupun cerita cintanya ngenes, tapi putus satu muncul dua. Tahu-tahu malah muncul dua orang yang menyukainya.