
"Maaf ya, bu. Saya nggak bisa kumpul bareng hari ini. Soalnya saya lagi nggak enak badan."
"Oh begitu. Ya sudah, nggak papa. Ibu istirahat saja dulu di rumah. Cepat sembuh ya, bu." sahut suara di telepon Bu Dona yang ternyata teman sosialitanya.
"Iya, bu, terima kasih atas pengertiannya. Kapan-kapan kita kumpul bareng lagi ya, bu." sahut Bu Dona menutup teleponnya.
"Haduh... Gara-gara lagi males pergi kumpul bareng, aku harus bikin alasan seperti ini. Hari ini aku hanya ingin di rumah saja." ucap Bu Dona, bersandar santai di sofa ruang keluarga.
"Aku lanjutkan lagi merajutnya." ucapnya, mengambil rajutan di atas meja didepannya lalu tangannya sudah sibuk melanjutkan rajutannya lagi dengan senyuman cerah yang mengembang diwajahnya dan tak henti-hentinya bersenandung ria.
"Hhh... Padahal aku nggak begitu suka dengan menantuku itu, tapi kenapa aku malah merajut baju untuk cucu darinya?" batinnya merenung.
"Tapi, walau bagaimanapun juga, anak yang dikandungnya adalah anak Bram, cucuku juga. Dan tak bisa kupungkiri, aku juga sudah sangat ingin memiliki cucu, seperti teman-teman sosialitaku yang suka memperlihatkan cucu mereka yang lucu-lucu." batin Bu Dona, ada harapan dan keinginan besar dalam hatinya untuk bisa menggendong cucu walaupun tak suka dengan menantu.
"Duh, tiba-tiba jadi haus." ucap Bu Dona, memanggil-manggil seorang pelayan, tapi pelayan yang dipanggilnya tak datang, begitu pula dengan pelayan yang lainnya.
"Aneh? Pada kemana mereka semua?" tanya Bu Dona bingung. Dia jadi penarasan dan pergi ke dapur memeriksa dan benar saja terdengar suara ramai dari sana.
__ADS_1
"Mereka asyik mengobrol disini rupanya." batin Bu Dona agak kesal.
"Kalian sedang apa?" tanyanya yang membuat para pelayan kaget dengan suaranya.
"Nyonya besar. M-Maafkan kami, nyonya." para pelayan kelabakan panik melihat nyonya mereka sudah berdiri dihadapan mereka.
"Ternyata mereka lagi ngerujak mangga muda yang di bawa Lena kemarin, ya?" batin Bu Dona melihat rujak di atas meja yang para pelayannya makan sambil mengobrol sampai tak mendengar panggilannya dari tadi.
"Ya sudahlah, nggak papa. Mereka kan perlu santai dan beristirahat juga. Tapi... kenapa menantuku itu membawa banyak mangga muda kesini? Padahal kita kan ada banyak buah-buahan dan nggak kekurangan stok juga di kulkas." batinnya lagi.
Sejak hadirnya menantuku itu, entah kenapa semuanya jadi berubah. suami dan anakku yang dulu selalu meluangkan waktu bersamaku, sekarang nggak begitu lagi.
Tapi, suami dan anakku tak ada waktu lagi denganku. Ya... walaupun aku tahu kalau mereka begitu juga karena sibuk mengurus perusahaan. Nggak papa, nggak papa, aku maklum kok.
Sebenarnya aku nggak suka dan ada rasa cemburu juga. Tapi karena menantuku itu sedang mengandung cucuku, aku jadi bingung harus bagaimana. Haruskah pada akhirnya aku menerimanya dengan lapang dada?
"Nyonya? Nyonya?"
__ADS_1
"Hah? Oh?" Bu Dona kaget dan tersadar dari lamunannya mendengar para pelayannya yang bingung dan menunggu perintahnya dari tadi.
"Ehem, cepat buatkan teh."
"Baik, nyonya."
Bu Dona kembali lagi ke ruang keluarga untuk melanjutkan merajutnya lagi.
"Wah... rajutan buatan nyonya sangat bagus dan lucu sekali." puji pelayan takjub. Bu Dona tersenyum bangga memamerkan hasil baju rajutannya yang berwarna oranye muda yang mungil dan lucu.
"Rapikan semuanya, ya." suruh Bu Dona pada pelayan untuk membereskan alat-alat merajutnya di atas meja.
"Aku akan simpan ini dulu." batin Bu Dona senang dan beranjak pergi ke kamar untuk menyimpan rajutannya itu ke lemari baju.
Ceklek!
"Eh? Malah salah buka lemari..." ucap Bu Dona terkekeh sendiri karena malah tak sengaja membuka lemari baju suaminya.
__ADS_1
Saat ingin menutup lemari, entah kenapa ada kotak kecil yang di taruh di bagian bawah lemari yang menarik perhatiannya.
"Ini... "