
Happy Reading πΉπΉπΉπΉπΉ
Di sebuah jalan pinggiran kota Helsinki.
Seorang pria kisaran usia 28 tahun berjalan gontai keluar dari sebuah gedung tua.
Pria itu akhirnya tiba di jalan yang lumayan besar untuk mencari taxi.
Pria itu turun dari taxi dan masuk ke dalam gedung pencakar langit di depannya.
Ia memasukan sandi kamar apartemennya.
Pria itu masuk, kemudian naik ke kamar lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan tubuhnya ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang king sizenya.
Ia menumpukkan kepala di kedua tangan yang di lipat di belakang kepala.
Ia menatap langit langit kamar.
"Akhirnya aku bisa keluar dari tempat terkutuk itu".
"Maafkan saya tuan tidak dapat menyambut kedatangan anda di negara ini tuan".
Pikiran pria itu berkecamuk.
Ia beranjak dari posisinya kemudian mengambil laptop dari laci meja kerjanya lalu mengoperasikan benda itu.
Jari jarinya bergerak lincah di atas keyboard benda itu ia mengetikkan kode kode rahasia kombinasi huruf dan angka yang bahkan tak ada ujungnya.
" Halo" Jawab suara bariton dari seberang sana.
"Aku Ricard"
" Tuan Ricard?, Tuan dimana? Apa tuan baik baik saja? " Suara bariton dari seberang bernada panik.
"Saya baik dan saat ini saya sudah berada di apartemen" Jawab Ricard.
INDONESIA.
Di sekolah, Giorgio Dion dan Ecxel sepertinya hari ini mereka akan pulang terlambat karena salah satu teman kelas mereka ada yang kehilangan ponsel, jadi sang guru yang tak lain wali kelas mereka, memutuskan menunda kepulangan siswanya untuk memeriksa siapa tau ponsel salah satu siswanya, di sembunyikan teman sekelasnya.
Giorgio mengambil ponsel dari saku celananya guna mengabari Sang kekasih jika ia tak bisa mengantarnya pulang.
Tadi jam istirahat keduanya berjanjian untuk pulang bersama.
"Tasha maaf aku gak bisa antar kamu pulang, karena ada masalah di kelas, jadi kami di pulangkan terlambat" Isi pesan Giorgio pada Natasha.
"Iya Gio, aku pulang ya".
" Hati hati ya sayang, maaf" Pesan Giorgio lagi merasa tak enak.
"Kalo dah sampai kabarin ya".
"Ya".
Satu persatu tas para siswa di periksa, namun sang guru tak mendapatkan apa yang mereka cari.
" Ayo siapa yang mengambil atau menyembunyikan ponsel Ryan? " Ucap sang guru di depan kelas.
Semua siswa yang ditanya tak menjawab apapun, karena mereka tak tau harus menjawab apa.
"Ayo geh ngaku siapa yang ngambil ponsel Ryan? " Ujar seorang siswa.
"Oiyy maling keluarlah wahai maling" Seloroh siswa lainnya.
"Ngaku oiyy gecee gua lapar nih sore nanti mau jalan ama ayang" Siswa lain menimpali.
"Ketemu orangnya gulung rame rame" Ujar siswa lain dengan nada meninggi.
Sedangkan Giorgio Dion dan Ecxel tak menanggapi, mereka hanya diam dan mendengarkan.
"Bapak beri waktu 10 menit untuk kalian mengaku melalui WhatsApp bapak".
10 Menit Berlalu.
Ponsel sang guru tak mendapatkan notifikasi pesan apapun dari para siswanya.
"Gak ada ya yang menghubungi bapak".
Sang guru keluar dari kelas kemudian menuju ruang kelas sebelah.
Sedangkan Graceva setia menunggu Giorgio dan yang lainnya di kantin.
Satu persatu siswa di introgasi oleh sang guru.
Sang guru ingin melihat raut wajah satu persatu siswanya, ia ingin memastikan ada kebohongan atau tidak.
__ADS_1
Giliran Giorgio di introgasi pun tiba.
Ia menjawab semua pertanyaan yang di tanyakan sang guru.
Karena Giorgio tak dapat mengantarnya pulang, ia menaiki taxi untuk pulang.
Natasha turun dari taxi, ia ingin menyeberang ke minimarket guna membeli pesanan dari sang ibu.
Namun ia tak terlalu memperhatikan keadaan sekitar, ia tak menyadari ada truk besar mendekat ke arahnya dalam keadaan kencang.
"Brakkkkkkk".
Tubuh Natasha terlempar jauh, cairan kental merah membasahi sekitar tubuh Natasha, baju putih yang gadis itu pakai telah berubah merah.
Seketika jalanan itu menjadi mencekam, karna ada gadis tergeletak tak berdaya berlumuran cairan kental berwarna merah.
" Piyarrrr".
Piring pecah.
Sarah tengah mencuci piring, namun ia tak sengaja menjatuhkan piring di genggamannya.
"Natasha" Gumamnya memegang dada.
"Kenapa perasaanku tidak enak" Lirihnya.
"Dert.. Deerrrtttt.... Dddeeerrrttt.... ".
Ponsel Sarah berbunyi.
" Halo bu, anak ibu kecelakaan di depan minimarket jalan xx keadaannya cukup menghawatirkan, saat ini kami membawa anak ibu ke rumah sakit xxx" Ucap seseorang yang membantu melarikan Natasha ke rumah sakit.
"Deggg".
Sarah jatuh pingsan.
Seorang pelayan yang melihat majikannya itu terjatuh pingsan, ia mendekat lalu mengambil ponsel Sarah yang masih menyala.
" Halo".
"Halo bu anak ibu sudah kami bawa ke rumah sakit xxx".
" Ada apa dengan anak majikan saja? " Tanyanya panik.
"Anak majikan ibu kecelakaan" Sahut dari seberang.
"BI antar saya ke rumah sakit xxx" Ujar Sarah terisak setelah tersadar.
Sarah dan pelayan itu pergi ke rumah sakit yang di sampaikan sang penelfon tadi.
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit, Sarah terus menangis memikirkan keadaan sang putri.
Pelayan di sebelahnya hanya diam, ia pun merasakan kesedihan yang di rasakan Sarah.
"BI tolong hubungi Mas Anton kabari keadaan Natasha" Pinta Sarah di tengah tangisnya.
Ia memberanikan diri untuk menghubungi tuan besarnya.
Anton yang memang sedang dalam perjalanan pulang, ia memutar balik mobilnya, kemudian ia menginjak pedal gas dalam dalam menuju ke rumah sakit yang di informasikan sang pelayan.
Sesampainya di rumah sakit... Sarah dan Anton berpapasan di depan lobi rumah sakit.
Sarah dan Anton berjalan ke ruang IGD.
Sesampainya mereka di depan IGD, bersamaan dengan dokter keluar dari IGD.
"Keluarga Natasha? " Tanya Dokter
"Kami dokter" Ujar Sarah dan Anton seraya mendekati dokter.
Sang dokter menghela nafas berat.
"Maaf tuan dan nyonya".
" Apa dok? " Sarah menyela.
Pria berpakaian jas putih itu menghela nafas berkali kali.
"Nona Natasha kehilangan banyak darah, dalam perjalanan menuju kesini jantung pasien tidak berfungsi semana mestinya"
"Sesampainya di IGD kami berusaha menghidupkan kembali fungsi jantung pasien, namun Tuhan berkehendak lain" Ujar sang dokter lesu dengan raut wajah sedih.
Tangis Sarah Pecah.
"Maksud dokter Natasha meninggal? " Tanya Anton tak percaya.
Sang dokter mengangguk pelan.
__ADS_1
"Pak bu saya izin pamit" Ujar seseorang yang membantu membawa Natasha ke sini.
Anton mengangguk.
Setelah dokter mengizinkan mereka masuk.
Anton dan Sarah masuk kemudian memeluk sang putri dengan erat, mereka menangis sejadi jadinya.
"Lama banget sih pulangnya" Gerutu Ecxel
"Kenapa Gio" Tanya Dion yang melihat Giorgio nampak gusar dengan ponselnya.
"Perasaan gua mendadak gak enak, Natasha gak ada kabar" Jawab Giorgio masih sibuk dengan ponselnya.
Ponsel Giorgio bergetar menampilkan nama sang penelfon.
"Om Anton" Gumamnya.
"Halo om".
" Nat Natasha meninggal Gio" Ujar Anton terbata masih dengan tangisnya.
Seperti tersambar petir di siang bolong.
Giorgio terduduk lemas.
"Kenapa tadi lu gak minta dia nunggu?".
"Lu bodoh Gio".
"Lu ga bisa jaga dia".
"Bodoh.. Bodohh... Bodohhh... ".
Giorgio memukul mukul dahinya dengan kepalan tangannya.
Dion dan Ecxel yang melihat perubahan raut wajah dari Giorgio mereka mensejajarkan tubuh mereka dengan Giorgio.
" Kenapa Gio? " Tanya Dion Mengusap lembut bahu Giorgio.
"Natasha meninggal" Jawab Giorgio bernada dingin.
Dion dan Ecxel tersentak.
Mereka tersentak atas ucapan Giorgio yang mengatakan kepergian Natasha dan juga terkejut dengan nada bicara Giorgio yang tak seperti biasanya.
Giorgio sebenarnya ingin melihat kekasihnya, namun ia tak dapat berbuat banyak karena sang guru memutuskan pulang jam 5 sore.
Bersambung... πΈ
Siapa sebenarnya yang mengambil ponsel Ryan π€
Hai Semua!
Kembali lagi bersama Author, aku enggak bosan bosan meminta support, saran dan pendapat yang membangun untuk karya ini.
Kalau kamu penasaran dengan kelanjutan cerita novel ini.
Jangan lupa tinggalkan...
Like. .
Komentar...
Favorit...
Vote...
Give...
__ADS_1
Sampai bertemu di cerita selanjutnya.... π