Takdir Cinta Graceva

Takdir Cinta Graceva
Bab 48 | Kembalinya Gabriella


__ADS_3

Mobil yang membawa Gerrald beserta anak menantunya tiba di pelataran rumah keluarga Gabriel.


Ceklek!


Ben membukakan pintu mobil untuk ketiga majikannya, dan kembali masuk ke dalam mobil untuk memarkirkan mobil tersebut di garasi.


"Sayang! "


Gerrald segera berjalan mendekati Guwen yang duduk di sofa ruang keluarga, dan tengah asik menonton televisi dihadapannya.


"Hmm, sudah kembali? "


Guwen menoleh pada sang suami yang tengah melangkahkan kaki kearahnya, sambil melengkungkan bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis.


"Sudah! "


Bukan Gerrald yang menjawab, melainkan sepasang pengantin muda Giorgio dan Graceva lah yang menjawab secara bersamaan.


Keduanya juga turut berjalan menghampiri Guwen, keduanya mencium punggung tangan Guwen dan tak lupa mengecup pipi wanita cantik tersebut.


Guwen tersenyum mendapati perlakuan Giorgio yang nampaknya sudah mulai membaik dan kembali ke sifat hangatnya seperti dulu.


"Bagaimana? Apa semuanya berjalan lancar? dan apa mereka dapat menerima Gio? "


Guwen melayangkan pertanyaan beruntun kepada ketiga orang yang baru saja mendudukkan tubuh mereka di dekatnya.


"Hmmm"


Ketiganya menjawab bersamaan dengan menganggukkan kepala secara kompak, jawaban mereka memang simpel, namun dapat menjawab semua pertanyaan dari Guwen dengan sekali jawaban.


"Yah, Bud, Aku ke kamar dulu ya"


Giorgio meminta izin hendak ke kamarnya, setelah berbincang sebentar bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga, meskipun ia tak banyak bicara, Giorgio berpamitan sebab ia sudah merasa jika tubuhnya lengket .


Giorgio segera pergi ke kamar setelah mendapat jawaban dari kedua orang tuanya, tak lama Giorgio pergi ke kamar, Graceva pun ikut pergi ke kamar.


**********


Di Ruang Keluarga......


**********


Gerald beserta Guwen kembali berbincang santai, dengan Guwen yang bermanja manjaan di dada bidang sang suami.


"Sayang, kau tahu kemana Fany? "

__ADS_1


Guwen teringat pada putri sulungnya yang sudah tak menampakan barang hidungnya, sedari usai makan malam di hari sebelumnya.


Gerald menjawab dengan gedikkan bahu, ia sebab memang ia tak tahu di mana keberadaan putri sulungnya.


"Apa di markas tidak ada sayang? "


Guwen kembali memastikan pada sang suami, ia berpikir barangkali sang putri berada di markas client milik suami tampannya.


"Tidak"


Gerald menjawab dengan sedikit ragu, namun ia memang tadi selama berada di markas tak melihat adanya tanda tanda keberadaan sang putri.


"Hmm, Sayang, tanganmu nakal! "


Gerald memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut tangan sang istri di dada bidangnya.


Guwen mengedipkan matanya nakal, bukannya berhenti, ia justru semakin menggerakkan lincah tangannya di dada bidang aan kokoh milih suaminya.


Gerald yang gemas dengan tingkah istrinya, Gerald segera menarik tengkuk Guwen, mendekatkan wajah mereka, lalu mengecup lembut bibir tipis sang istri, tak lepa memainkan perannya dengan baik.


**********


Di Perjalanan.....


**********


Tak lama mobil tersebut melaju, 3 mobil hitam berjajar rapih di depan kediaman keluarga Gabriel.


"Hmm"


Fany menggeliat kan tubuhnya, perlahan gadis tersebut membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk, setelah matanya terbuka dengan sempurna, gadis tersebut mengedarkan pandangannya keluar jendela, memperhatikan keadaan di luar mobil.


"Sudah tiba? "


Fany menaikan alisnya, bertanya pada sang supir yang duduk tepat di depan kursi yang ia duduki.


Supir yang Fany ajak bicara pun menoleh dan melihat sang nonanya melalui kaca tengah mobil, menganggukkan kepala sebagai jawaban dengan senyuman ramah melukis di wajah supir tersebut.


Fany menoleh pada Gabriella yang tertidur lelap di sampingnya, ia mengembangkan senyumannya, ia senang akhirnya ia berhasil membawa adik cantiknya kembali pada keluarganya.


"Gea, bangun dek, sudah sampai di rumah"


Fany menggoyang goyangkan tubuh sang adik dengan perlahan, dan berbisik di telinga gadis tersebut.


Gabriella yang meras tidurnya terganggu, perlahan membuka matanya, dan memperbaiki posisi duduknya.

__ADS_1


"Sudah sampai Kak? "


Gabriella bertanya, tangannya menutup mulutnya yang tengah menguap, dapat ia lihat, jika sang Kakak menganggukkan kepala dan tersenyum.


Fany segera mengajak Gabriella turun dari mobil, dan menurunkan koper milik Gabriella.


Gabriella tertegun, melihat bangunan yang berada di hadapannya, yang sudah ia tinggalkan selama 3 tahun terakhir ini, tak banyak yang berubah dari terakhir ia meninggalkan bangunan tersebut, matanya berkaca kaca, mengingat semua kenangan yang sudah ia lalui bersama keluarganya, sedari ia kecil, dan tanpa sadar, 1 titik kristal bening, meluncur bebas dari pelupuk matanya.


Fany yang melihat dan merasakan perasaan Gabriella, ia segera merangkul bahu sang adik, dan mengelus punggung gadis tersebut, Gabriella memeluk erat tubuh sang Kakak, seraya berusaha menahan isak tangisnya.


"Mari masuk dek"


Fany melangkahkan kaki perlahan, sambil satu tangannya merangkul bahu Gabriella, sedangkan satu tangan lainnya, menarik koper sang adik.


"Tapi Kak, "


Gabriella menahan lengan sang Kakak yang menariknya, matanya menatap lekat manik mata sang Kakak, dengan mata yang menyiratkan sebuah keraguan.


Fany tak menghiraukan tatapan keraguan sang adik, ia tetap membawa Gabriella berjalan kearah pintu utama, mereka dibukakan pintu oleh para pelayanan, sontak membuat para pelayan yang membuka pintu dan melihat kedatangan Gabriella menjadi terkejut, namun juga tersirat rasa kebahagiaan di hati mereka.


"Selamat datang kembali Nona Gabriella"


Salah satu pelayan menyapa Gabriella dengan senyum ramah, tak lupa membungkukkan setengah tubuh memberi hormat, mereka memang tersenyum ramah, namun mata mereka tak dapat berbohong, jika menyiratkan sebuah kesedihan dan juga kerinduan yang menjadi satu.


Keduanya berjalan perlahan memasuki rumah tersebut, mereka melewati ruang tamu, kemudian memasuki ruang keluarga, keduanya melambatkan langkah, saat mereka melihat ada sepasang suami istri yang tak muda lagi, namun masih nampak tampan dan juga cantik, tengah asik berperang lidah dengan penuh gairah.


Guwen melepaskan ciuman mereka, sebab ia merasa bahwa ada yang tengah mengawasinya, benar saja, setelah ciumannya terlepas, Guwen dapat melihat, bahwa putri sulung yang sedari tadi mereka bicarakan, kini tengah berdiri di depan ruang keluarga dengan tatapan mendelik kearahnya, dan berhasil membuat wajah Guwen bersemu merah, sementara Gerald, pria tersebut menatap tajam orang yang telah berani mengganggu kegiatan kesenangannya.


"Dari mana saja Kau?! "


Gerald bertanya pada Fany yang baru menunjukkan barang hidungnya setelah hampir sehari semalam menghilang tak ada kabar, bak di telan bumi, tak lupa ia memberikan tatapan tajam dan berkata dengan penuh mengintimidasi.


Fany memutar bola matanya jengah, melihat tingkah sang Ayah yang menurutnya terlalu bucin, bahkan kadar ke bucinnan nya melebihi anak muda yang baru saja masuk ke dalam fase puber.


"Menjemput seorang gadis nakal Bun! "


Fany menjawab pertanyaan sang Ayah, namun, ia justru mengucapkan Bunda, seakan dirinya menjawab pertanyaan dari sang bunda.


"Gadis nakal? "


Dahi Guwen mengernyit, ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh putri sulungnya.


Sementara itu, tangan Gabriella sudah berkeringat dingin, dengan wajah yang sudah pucat fasih, sedari tadi ia hanya mendengarkan percakapan 3 orang id ruangan tersebut, ia menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh tinggi nan semampai Fany.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2