
Happy Reading πΉπΉπΉπΉπΉ
3 bulan kemudian....
Di gedung Gabriel Group, Gerrald keluar dari ruang rapat, sebab ia baru saja selesai memimpin sebuah rapat penting.
"Terimakasih banyak pak" Ujar Gerrald menjabat tangan satu per satu rekan kerjanya.
Gerrald berlalu menuju ke ruang kerjanya.
"Halo" Jawab Gerrald setelah mengangkat telfon.
"Halo tuan Gerrald" Sahut dari seberang.
"Gimana Luck ada yang bisa ku bantu? " Tanya Gerrald.
"Tidak tuan, hanya mengabarkan ekspor senjata sudah tiba dan berjalan lancar".
" Bagus bagus" Jawabnya senang.
Luck sendiri adalah ketua dari client mafia Black Tiger, client mafia yang pernah menyekap Ricard, salah satu asisten Gerrald.
Luck bukan tanpa alasan ia tidak memerintahkan anak buahnya untuk menyiksa atau melukai Ricard, karena ia tau bagaimana sepak terjang triple G mafia dan ia tau betul jumlah anggota client mafianya kalah jumlah dengan triple G mafia.
Ia sedari awal memang tak ada niatan bersinggungan dengan client mafia yang di pimpin Gerrald.
Beberapa minggu belakangan ini client mafia mereka menjalin kerjasama impor ekspor senjata.
Memang pendapatannya dari hasil ekspor impor senjata tersebut sedikit berkurang, karena aktivitas transaksi di kawal ketat personil triple G mafia dan pemerintah.
Meskipun begitu, ia senang karena transaksi impor ekspor berjalan lancar dan bersifat legal.
Di suatu siang, Giorgio tengah mengantar Anggi pulang karna paksaan dari kedua saudaranya.
Memang sudah 1 minggu belakangan ini ia selalu mengantar gadis itu pulang.
"Nggi tadi gue dah chat Bimo di WhatsApp kalo lo gue anterin pulang" Ujar Giorgio sedikit berteriak, karena saat ini mereka sedang di atas motor perjalanan pulang.
"Ya gak papa Gio thanks ya" Jawab Anggi sedikit berteriak juga.
"Maafin dua temen gue, gara gara mereka, lo sama Bimo jadi pulangnya terpisah".
" Iya gak papa, Bimo gak mempersalahkan kok".
"Besok gue bilang ke mereka kalo lo dah punya pacar, biar mereka gak berharap lebih dengan hubungan kita" Ujar Giorgio.
"Iya Gio sebaiknya mereka tau, gue juga jadi gak enak sama lo" Jawab Anggi.
Giorgio memang sudah mengetahui jika sahabat sekaligus rekan sesama OSIS nya itu sudah memiliki kekasih.
Setelah mengantarkan Anggi pulang, ia bergegas menuju ke hotel tempatnya kerja.
Setelah beberapa bulan ini, ia masih membantu sang ayah, dan ayahnya itu membayarnya, jadi ia anggap ia tengah bekerja.
Ia masuk ke ruang kerja sang ayah, namun seperti biasa, sang ayah tidak ada di ruangannya.
Sejak satu minggu Giorgio membantu Gerrald di hotel itu, ia mulai melepaskan Giorgio secara perlahan sampai akhirnya Gerrald hanya menengoknya sesekali, bahkan ayahnya itu kerap memberikan saran pada dirinya di rumah.
Sama dengan Giorgio dan Anggi yang nampak sedang dekat.
Graceva dan Aldo nampak semakin dekat, bahkan Aldo pernah mengutarakan perasaannya, namun Graceva menolaknya secara halus, ia beralasan ingin fokus pada sekolahnya.
Makin kesini, sedikit banyak ia tau bagaimana sifat asli Aldo.
Makin kesini perasaan Aldo makin besar pada Graceva, namun tidak dengan Graceva, ia tak merasakan apapun saat berjalan atau berada dekat dengan Aldo.
Di suatu taman, Laras nampak mengoceh pada sahabatnya Kevin.
"Gila tu cowo ketus banget sih sama gue" Ujar Laras melempari tisu ke rumput yang bekas ia pakai untuk menyeka air matanya.
"Sabar ya" Jawab Kevin menenangkan.
"Masalahnya dia gak cuman sekali ketus kata gitu ke gue" Ujarnya lagi.
__ADS_1
Laras pernah beberapa kali mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari Giorgio, bukan perlakuan fisik melainkan ucapan ketus dari Giorgio.
"Kan dah gue bilang dari awal dia tuh siluman kulkas, apalagi setelah pacarnya meninggal" Ujar Kevin.
"Ya udahlah gue nyerah" Ujar Laras lesu.
"Yakin? " Tanya Kevin meyakinkan.
Laras mengangguk pelan.
Kevin mendekap erat tubuh Laras guna memberikan kekuatan.
Giorgio yang tengah di sibukkan dengan kegiatannya, menoleh ke arah pintu yang di ketok dari luar.
"Masuk".
Orang yang mengetuk pintu tersebut masuk dan nampak lah sang bunda berjalan mendekat.
" Sore sayang" Ujar Guwen duduk di sofa ruangan itu lalu meletakan barang yang ia bawa di meja depan sofa tersebut.
Giorgio beranjak kemudian turut duduk di samping Guwen.
"Sore bun" Jawab Giorgio.
"Kamu sudah makan? " Tanya Guwen".
"Belum bun".
" Nih bunda bawakan nasi padang dengan lauk ayam bakar" Ujar Guwen mengeluarkan satu bungkus nasi padang tersebut, kemudian membukanya.
Giorgio senang, lalu mengambil bungkusan nasi padang tersebut lantas memakannya.
"Gimana sekolahmu menyenangkan? " Tanya Guwen di sela sela makannya.
"Biasa aja" Jawab Giorgio.
"Gak ada cewek yang kamu taksir? ".
" Gak ada" Jawab Giorgio tanpa berpikir.
Guwen menghela nafas mendengar sang anak yang menjawab semua pertanyaannya tanpa banyak berpikir.
Keesokan Harinya.
"Bro itu kayanya ponsel Ryan? " Bisik salah satu siswa teman sekelas Giorgio pada teman sebangkunya.
"Mana? " Tanya teman sebangkunya juga berbisik.
Siswa itu mengarahkan kepala teman sebangkunya ke arah yang ia maksud.
"Danur, ponsel Ryan" Gumamnya menerka nerka seraya menatap sang teman dengan kebingungan.
Keduanya bersi tatap, kemudian menggerakkan bahu berbarengan.
"Ryan Ryan".
Siswa yang bernama Ryan mendekat ke arah siswa yang memanggil namanya.
" Kenapa ky? " Tanya Ryan saat tubuhnya telah berada di hadapan teman yang memanggil namanya.
"Itu HP lo kan? " Tanya siswa yang bernama Kiky menunjukkan ke arah satu titik..
Ryan menoleh ke arah yang di tunjukkan sahabatnya itu, dan menatap sahabatnya bergantian.
"Maksudnya? " Tanya Ryan lagi.
"HP gue dia yang ngambil gitu? " Tanyanya ragu.
Kiky dan teman sebangkunya serempak menggedikkan bahu tanda tak tahu.
Ryan berjalan mendekat ke satu siswa yang tengah duduk seraya memainkan ponsel di genggamannya.
"Bro, gak ke kantin? " Tanyanya basa basi.
__ADS_1
"Gak".
Ryan mengamati dengan seksama ponsel yang ada di genggaman teman di hadapannya itu.
" HP gue bukan sih? " Gumamnya dalam hati.
"Lo main apa sih? asik banget kayanya" Ujar Ryan.merebut ponsel di genggaman temannya itu.
"Fix ini HP gue! " Gumamnya dalam hati sebab ia dapat merasakan bahwa ponsel yang saat ini ada di genggamannya adalah ponselnya yang sudah hilang beberapa bulan yang lalu.
Setelah mengembalikan ponsel yang ia rebut, ia kembali mendekat ke dua temannya itu.
"Gimana? " Tanya Kiky menaikan alisnya.
"Ya gue bisa ngerasa itu HP gue, cuman gue masih gak percaya kalo dia yang ngambil" Ujar-Nya.
Beberapa siswa nampak mulai berdatangan memasuki kelas.
"Nur HP baru" Ujar salah satu dari mereka.
"Iya".
" Beli dimana? " Tanyanya lagi salah satu dari mereka.
"COD bro" Jawabnya cepat.
Mereka nampak mengangguk.
Mereka duduk di kursi mereka masing masing.
"Itu HP lo kan yang di pegang Danur? " Tanya salah satu dari mereka, setelah meletakan tas sekolah di kursinya.
"Iya" Bukan Ryan yang menjawab, melainkan Kiky.
Siswa yang bernama Boy itu mengeluarkan laptop dari dalam tasnya, kemudian menggerakkan jari jari lincahnya di sana.
"Oiy tu mereka ngapain ngumpul di sana" Tanya Ecxel bingung pada Dion dan Giorgio.
Tak lama mereka baru saja tiba di kelas, mata Ecxel melihat kearah kerumunan siswa di meja kelas bagian belakang.
"Nonton Film biru mungkin" Seloroh Dion.
Ecxel sontak memukul kepala Dion sampai pria itu mengaduh sakit.
Sedangkan Giorgio tak bersuara apapun.
"Iya itu HP lo yan, tuh rekam lokasinya ada di sekolah ini, dan memancarkan signal yang cukup kuat" Tukas Boy menunjukkan laptopnya yang menayangkan jejak rekam lokasi.
Boy tadi mencoba melakukan pelacakan dan peretasan lokasi pada ponsel temannya yang hilang beberapa bulan lalu.
"Malam ini kita bergerak" Ucapnya lagi.
Yang lainnya pun mengangguk setuju.
Di sebuah kampus ternama di jakarta nampak seorang perempuan berjalan memasuki lingkungan kampus.
"Oyy pelan pelan dong kalo bawa mobil, buta mata lo" Teriak perempuan itu, sebab mobil yang baru saja melintas dengan kecepatan tinggi menyiprati pakaiannya.
"Ahhh kotor kan celana gue" Gerutu perempuan itu menatap nanar celananya yang begitu kotor.
Perempuan itu berjalan gontai ke arah toilet, kemudian membersihkan celananya.
"Fan lo kenapa sih? " Tanya Anita sahabatnya saat perempuan yang tak lain adalah Geofany, nampak masuk ke kelas seraya menggerutu kesal.
"Celana gue kena cipratan genangan air depan kampus".
" Kecipratan genangan air? " Tanya Anita lagi.
"Ya, gara gara mobil sedan kuning ngeselin, buta kali matanya" Ujarnya menggerutu kesal.
Anita menelisik celana yang di kenakan sahabatnya itu, ia ingin tertawa namun ia berusaha menahannya.
Seperti biasa sepulang sekolah Giorgio bekerja di hotel milik sang ayah, kali ini Dion dan Ecxel ikut.
__ADS_1
Malam harinya Kiky, Boy dan yang lainnya mulai menyusun rencana untuk membuat Danur mengakui pencurian ponsel Ryan.
<<<<<... Bersambung... >>>>>