
Happy Reading πΉπΉπΉπΉπΉ
"Mana Giorgio? " Tanya Guwen yang tak melihat putranya.
"Gio di mobil ya? " Tanyanya lagi.
Geofany dan Gerraldine melepaskan pelukan sang bunda, kemudian mereka pun saling bersih tatap.
Dion mendekat.
"Giorgio tidak ikut Aunty" Ujarnya kemudian.
"Gio di rumah bun" Sahut Geofany.
"Kak Gio tadi lagi olahraga di ruang olahraga bun" Kali ini Gerraldine yang menyahut.
Semua orang berpamitan, lalu pulang ke rumah masing masing.
Sesampainya di rumah, Guwen melangkahkan kakinya menuju ruang olahraga, Gerrald membututi dari belakang.
Geofany dan Gerraldine memasukan koper bawaan kedua orang tuanya ke kamar mereka.
Guwen membuka pintu ruang olahraga, lantas masuk secara perlahan.
Mata mereka menangkap Giorgio yang tengah berjalan santai menaiki Treadmill, dengan tatapan kosong jauh ke depan.
Gerrald mengelus bahu sang istri guna menyalurkan kekuatan.
"Morning son" Ujar Gerrald menyapa sang putra.
"Morning yah, bun" Jawab Giorgio, dingin masih dengan tatapan kosong jauh ke depan.
Guwen mendekati sang pura, lantas serta merta memeluknya.
"Apa kabar sayang? ".
" Bunda merindukanmu" Ujar Guwen memeluk Giorgio erat - erat.
Giorgio berdahem.
Gerrald menarik nafas, kemudian menghembuskannya perlahan.
Gerrald dan Guwen mengajak sang anak berbicara dan memberikan wejangan pada sang anak agar dapat segera melupakan mendiang Natasha, walaupun mereka tau itu pastilah memerlukan waktu.
Giorgio menanggapi dengan mengangguk anggukan kepala.
"Kopernya sudah di kamar ya bun" Ujar Geofany saat Gerrald dan Guwen yang melewati ruang keluarga saat ini ia tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama Gerraldine.
Guwen dan Gerrald menghentikan langkahnya, "Terimakasih sayang" Jawab Guwen tersenyum, pada Kedua putrinya yang tengah duduk di sofa seraya menonton televisi di ruang keluarga.
"Gimana sayang? , tidak ada masalah kan dengan salah satu dari mereka? ".
" Kamu bahagia bersama mereka? ".
Tanya Gracia setelah mereka sampai di rumah, Gionino mendengarkan dengan saksama.
" Baik, Mah, Pah".
"Awalnya semua baik baik saja Mah, Pah" Ujar Graceva.
"Maksudnya gimana sayang? " Kali ini Gionino yang bersuara.
Graceva nampak menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Awalnya semuanya baik baik aja Mah, Pah, mereka semua hangat denganku, ya walaupun kak Giorgio yang begitu cuek".
" Sampai akhirnya semua berubah" Ujarnya menghela nafas.
Gionino dan sang istri fokus mendengarkan.
"Setelah pacar kak Giorgio meninggal, semuanya berubah, sikap kak Giorgio yang memang sedari awal bersikap dingin, semakin dingin saja".
" Dia kebanyakan ngelamun, sedikit bicara bahkan berkesan acuh tak acuh seperti kehilangan tujuan hidup" Jelasnya panjang lebar.
Gracia dan Gionino saling bersi tatap.
"Kasihan ya Pah, Giorgio pasti merasa sangat kehilangan" Ujar Gracia menatap wajah suaminya dengan berkaca kaca.
"Apa kalian membantu menguatkan Giorgio? " Tanya Gionino.
"Iya pah, saat ini kak Giorgio jauh sudah lebih baik" Jawab Graceva.
__ADS_1
Gracia dan Gionino bernafas lega.
"Sayang apa kamu mempunyai cara untuk menyibukkan Gio agar dia tak terlalu kepikiran Tasha" Ujar Guwen pada Gerrald saat mereka sudah duduk di tepi ranjang kamar.
"Iya sayang" Jawab Gerrald seraya satu tangannya mengelus kepala Guwen, kemudian mencium kening wanita itu beberapa kali.
Ia akan memikirkan bagaimana cara untuk menyibukkan putranya itu.
Sedangkan di ruang olahraga, Giorgio masih sibuk dengan peralatan olahraga di ruangan itu.
Keesokan Harinya...
Semua orang beraktivitas seperti biasa.
"Lu liat apaan? " Tanya Ecxel penasaran pada Dion yang sedang melihat ke satu sudut.
"Tuh" Jawab Dion menggerakkan kepala ke arah yang ia lihat.
Ecxel melihat ke arah yang di tunjuk Dion.
"Ngapain dia main basket sendirian? " Ujar Ecxel menyenggol tumit Dion.
Dion menggedikkan bahu.
"Yuk lah main basket bareng Gio" Ujar Ecxel kemudian ia ingin bergegas pergi guna ikut bermain bersama salah satu saudaranya itu.
Namun tangan Dion mencekal satu lengan Ecxel, langkah Ecxel terhenti.
"Biarkan saja dulu Giorgio" Ujar Dion.
"Tadi gue dah ngajak dia main, tapi dia ngediemin gue terus dia pindah ke sana" Ujar Dion lagi.
Dion sebelumnya memang sudah menghampiri guna menemani Giorgio bermain basket.
Di satu sudut lapangan sekolah, Giorgio nampak memainkan bola basket dengan seraya melamun.
Tanpa ia sadari tak jauh dari posisinya, dua pasang mata tengah melihat dan membicarakannya.
"Vin itu siapa yang main basket? ganteng banget" Seloroh siswi yang melihat ke arah Giorgio.
"Dia itu Giorgio ketua OSIS kita" Jawab satu siswa yang duduk di sampingnya dan juga tengah melihat ke arah Giorgio.
"Lo mau masuk OSIS gak? ".
"Tapi dia cuek dan dingin loh, apalagi setelah pacarnya meninggal" Ujarnya panjang lebar.
"Gak papa cuek yang penting ganteng".
" Ok bakal gue bantu, tapi ada syaratnya".
"Ucapkan mantra" Siswa yang bernama Kevin itu mengangkatkan kedua tangannya seolah olah tengah berdoa.
"Dasar alay" gumam siswi bernama Laras kesal, namun ia tetap menjalankan apa yang diminta teman yang duduk di sampingnya itu.
"Tolong bantu gue baginda Kevin yang paling ganteng sedunia" Ujar Laras mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.
Kemudian mereka nampak tertawa tawa.
Di kelas...
"Grace pulang bareng yuk! " Ucap Aldo pada Graceva, ketika jam pelajaran telah usai.
"Tapi mampir toko buku ya do, ada buku yang mau gue beli" Jawab Graceva.
"Oke".
Mereka pun pergi menuju toko buku yang di tuju Graceva.
Sesampainya di toko buku yang di tuju, mereka kemudian masuk lalu mencari buku yang dicari Graceva kemudian membayarnya.
" Kenapa berhenti? " Ujar Ecxel sambil sedikit berteriak, karena saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju pulang, perjalanan mereka terhenti karena melihat Giorgio menepikan motornya, sedangkan Dion hanya melihat seraya menanti jawaban dari Giorgio.
Giorgio menoleh, "Ayah telfon" Jawab Giorgio sambil menunjukan ponselnya.
"Halo yah" Jawab Giorgio.
Nampak terdengar suara bariton yang tak lain suara sang ayah.
"Iya yah" Jawab Giorgio lagi.
Giorgio menoleh ke arah kedua saudaranya kemudian ia berujar, "Pulang aja duluan, gue ada perlu".
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari kedua saudaranya itu, ia kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di tempat yang ia tuju Giorgio memarkirkan motor di lahan parkir gedung tersebut, kemudian turun lalu memasuki gedung.
"Selamat sore kak, selamat datang di Grand Edelweis Hotel" Sambut sang resepsionis ramah pada Giorgio.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Gerrald" Jawab Giorgio.
Resepsionis itu mengerutkan kening, mendengarkan jawaban pria berpakaian putih abu - abu di hadapannya.
Masih dengan keterkejutannya resepsionis itu menyampaikan dimana keberadaan Gerrald.
Giorgio masuk lift menuju lantai dimana sang ayah berada.
Ia mengetuk pintu yang di yakini ruang sang ayah.
"Masuk" Suara bariton terdengar dari dalam.
Giorgio masuk, kemudian duduk di hadapan sang ayah.
Gerrald menatap sang anak, "Sore son" Ujar Gerrald.
"Sudah makan? " Tanya Gerrald lagi.
Giorgio mengangguk.
"Nih" Ujar Gerrald, seraya memberikan satu tumpukan berkas.
Giorgio melirik ke tumpukan berkas, yang entah apa isinya.
" Kamu tangani ini, mulai hari ini dan seterusnya kamu sepulang sekolah kesini, bantu ayah" Ujar Gerrald menjelaskan, seakan mengerti kebingungan sang anak.
Giorgio meraih satu lembar berkas tersebut, kemudian ia membacanya.
Gerrald menatap Giorgio yang tengah membaca berkas yang di berikannya dengan perasaan was was, ini adalah salah satu cara guna mengalihkan perhatian sang anak dari kekasihnya yang belum lama meninggal.
Setelah membacanya, Giorgio menatap sang ayah.
"Maksudnya aku yang menghendel ini yah? " Tanya Giorgio menatap sang ayah.
Gerrald mengangguk.
"Tapi yah, aku tidak ada pengetahuan sedikit pun di bidang ini" Ujar Giorgio berusaha menolak secara halus.
Gerrald berjalan mendekati putranya itu.
"Ayah yakin kamu pasti bisa" Ucapnya meyakinkan sang anak, seraya kedua tangannya memegang kedua bahu Giorgio.
"Mungkin gue perlahan bisa ngelupain Tasha, walaupun pasti susah" Gumam Giorgio dalam hati.
Giorgio nampak menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, lalu Giorgio nampak mengangguk.
Karena Gerrald senang, ia kemudian serta merta memeluk sang anak.
"Selamat bergabung di Grand Edelweis Hotel" Ucap Gerrald seraya mengulurkan tangan guna menjabat tangan Giorgio.
Giorgio pun membalas menjabat tangan sang ayah.
"Gimana sayang dia mau? ".
<<<<<... Bersambung... >>>>>
Hai semua!
Selamat datang di novel ini, Terimakasih telah bersedia membaca novel ini. πππ
Jika kamu penasaran dengan kelanjutan dari novel ini, ku mohon dukungannya!
Jangan lupa tinggalkan.....
Like...
Koment...
Favorit...
Give...
Vote...
Terimakasih banyak semua! ππ
__ADS_1
Sampai berjumpa di lain kesempatan. π
<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>