
Giorgio menatap dingin orang orang yang berada di dalam sel di depannya.
"Belum tuan muda"
Ricard menundukkan kepala menunjukkan jika ia merasa menyesal.
"Siapa yang memerintahkan mu? "
Giorgio menatap orang yang duduk tak terlalu jauh dari pintu sel.
*****
Diam, tak ada jawaban dari orang yang berada di dalam sana, hingga suara sesuatu memecahkan keheningan di tempat tersebut.
DOR! π«
Terdengar suara tembakan bersamaan dengan suara teriakan seseorang, membuat semua orang memusatkan pandangan pada orang yang terkapar dengan darah yang mengalir deras dari kepala orang tersebut, mata Ricard beralih pada tangan kanan Giorgio yang memegang sebuah pistol lipat, membuat Ricard terpaku seraya berusaha menelan saliva yang merasa tercekat di tenggorokan.
Graceva yang melihat suaminya membunuh seseorang di depan matanya, membuatnya terdiam membisu bukan karna takut, tetapi ia hanya terkejut saja, sementara Gabriella yang melihat kembarannya begitu mudah menembak seseorang tanpa berkedip, membuatnya bergidik, bahkan ia jika akan menembak seseorang berpikir 2/3 kali sebelum melakukannya.
"Ternyata Gio lebih kejam dari ku, hh" Batin Gabriella.
Excel dan Dion saling bersi tatap, "Kakek Alexander kembali! " Gumam Excel dan Dion bersamaan dengan sangat lirih.
"Siapa yang memerintahkan mu? "
Giorgio bertanya lagi dengan nada bicara yang sangat pelan, namun terdengar lebih mengerikan di telinga semua orang.
Sama seperti sebelumnya, tak ada jawaban dari orang orang yang tersisa.
"Siapa yang memerintahkan mu? "
Kini Giorgio sedikit meninggikan suaranya, membuat suasana di sana semakin mencekam, bahkan orang orang yang tersisa hingga terkencing kencing melihat satu teman mereka yang mati begitu saja di tangan seseorang yang entah siapa.
"Berapa orang yang mati Paman? "
"3 tuan muda"
DOR DOR! π«π«
2 peluru menembus 2 kepala lagi, semakin membuat sel tahanan tersebut penuh dengan darah yang mengalir dari 3 kepala yang sudah pecah, perempuan yang berada di sel sebelah pun sudah pingsan, entah sedari kapan.
Suara 3 tembakan yang berasal dari penjara ruang bawah tanah, menarik perhatian sebagian anggota organisasi, yang membuat mereka melangkahkan kaki menuju tempat asal suara tembakan terdengar, seketika mata mereka terbelalak saat melihat 3 tubuh terbujur kaku dengan lubang berada di kepala 3 tubuh yang kini sudah tak bernyawa lagi.
"Tuan besar Alexander kembali! " mereka membatin dengan perasaan bergidik.
__ADS_1
"Bawa perempuan itu, pastikan dalam keadaan baik baik saja! "
Segera beberapa orang masuk kedalam sel yang di tempati perempuan yang pingsan tersebut, dan membawa perempuan tersebut ke ruang kesehatan yang berada di markas besar organisasi tersebut.
"Katakan Siapa yang memerintahkan kalian? "
Pertanyaan yang sama di lontarkan oleh Giorgio, sejenak hening,, dan nampak satu orang mengangkat kedua tangannya diikuti 1 orang lainnya.
"Aku menyerah, aku akan mengatakannya, tuan william yang membayar kami"
Berkat ucapan orang tersebut, berhasil membuatnya dan temannya terbebas dari kematian,, segera beberapa orang membawa 2 orang itu keluar dari sel dan membawanya ke ruang kesehatan dan setelahnya akan di interogasi.
"Periksa, dan pastikan jika tidak ada sesuatu yang akan merugikan kita"
Giorgio memerintahkan beberapa orang untuk memeriksa 3 tubuh kaku tersebut dengan teliti, dan memastikan tidak akan ada sesuatu hal yang berpotensi membahayakan atau merugikan organisasi.
"Ada lagi yang ingin kau tunjukkan padaku Paman? "
Giorgio melangkahkan kaki seraya tangannya kembali memasukan pistol lipat nya ke dalam saku celana.
Ricard membawa Giorgio melihat para anggota organisasi berlatih di sebuah ruangan besar, dapat Giorgio lihat para anggota berlatih dengan parang di tangan, Giorgio pun melihat ada anggota organisasi yang tengah berlatih menembak, berlatih baris berbaris, dan berlatih ilmu bela diri dengan sangat serius.
Ricard kembali membawa Giorgio ke belakang gedung markas besar organisasi, menuju sebuah kandang besar yang di dalamnya terdapat 2 ekor Citah dengan ukuran yang cukup besar, setelahnya menuju ke sebuah kolam besar yang terdapat beberapa ekor ikan piranha perut merah dengan ukuran yang lumayan besar di dalamnya, dan mengakhiri wisata satwa di depan kandang tak terlalu besar, yang terdapat lebih dari 10 ekor anjing berjenis pit bull.
Setelah puas berkeliling di markas besar, Giorgio dan yang lainnya kembali ke rumah utama keluarga Gabriel.
**********
Kediaman Keluarga Gabriel...
**********
Mobil yang membawa Giorgio dan yang lainnya tiba di depan kediaman keluarga Gabriel, mereka segera turun dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam rumah.
Giorgio berjalan menuju kamarnya diikuti Graceva, sementara Gabriella beserta Excel dan Dion berjalan menuju ruang keluarga menghampiri para orang dewasa yang tengah duduk sambil berbincang santai.
Giorgio dan Graceva masuk ke dalam kamar, dan mendudukkan bokong di tepi ranjang.
Giorgio meminta berkas yang tadi ia minta simpankan dari Graceva, dan mempelajari berkas tersebut dengan seksama,, sementara Graceva hanya duduk diam di sebelah Giorgio, sembari mengamati Giorgio yang nampak fokus dengan berkas di tangannya.
"Apa kau tak takut padaku? "
Giorgio memalingkan wajahnya melihat kearah Graceva yang duduk di sebelahnya.
"Mengapa takut? "
__ADS_1
Graceva menaikan satu alisnya melihat Giorgio yang kini juga tengah menatapnya.
"Karna ku tadi sudah membunuh 3 orang sekaligus di depan matamu! "
Graceva tersenyum melihat Giorgio yang kini tengah menampilkan dahi yang berkerut.
"Kakak tahu?, bahkan aku sendiri pun pernah melakukan hal yang sama"
Mata Giorgio membulat, setelah mendengar perkataan Graceva.
"Aku hidup di lingkungan yang harus menuntut ku tak takut dengan hal seperti itu, karna aku lahir dari rahim wanita yang notabenenya istri dari anak seorang mafia"
Giorgio hanya manggut manggut menanggapi ucapan Graceva.
Giorgio meletakan berkas yang sedari tadi ia baca di kasur, dan menurunkan kaki ke lantai dan berjalan menuju laci samping ranjang, dan hal tersebut tak luput dari pandangan Graceva.
Di ruang keluarga, Excel, Dion, dan Gabriella ikut duduk bergabung di sana, berbincang dengan seru, perbincangan tersebut dipenuhi dengan canda tawa bahagia.
Kembali ke kamar Giorgio dan Graceva, Giorgio mengambil sesuatu dari dalam laci, dan menyerahkan benda tersebut di tangan Graceva, setelahnya melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Graceva melihat benda yang kini sudah berada di tangannya, sebuah black card kini berada di sana, kartu ATM yang dulu sempat diberikan oleh Giorgio padanya dan di kembalikan lagi pada Giorgio, Graceva menautkan kedua alisnya melihat benda pipih tersebut.
...Percayalah meski bentuknya pipih, benda apapun dapat di beli dengan benda yang sangat di sukai oleh kaum hawa itu....
Giorgio keluar dari kamar mandi, sudah rapih dengan kaos polos putih, dan celana pendek hitam polos, Giorgio melangkahkan kaki menuju ranjang dengan tangannya sibuk memasangkan arloji di tangan kirinya, Giorgio melihat Graceva yang menatap bingung pada ATM yang tadi ia berikan di telapak tangannya.
"Belilah benda benda keperluanmu dengan kartu itu"
Giorgio mengambil jaket dari ruang ganti dan mengenakannya, Giorgio mendekati Graceva, tangannya spontan terulur mengelus lembut rambut Graceva.
"Saya mau ke Gio Plaza Mall"
Wah, Wah, Wah, nampaknya kini Giorgio sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada Graceva ni ππ, tetapi entahlah memang begitu, atau mungkin hanya terkaan autor saja π.
...****************...
Catatan Penulis :
- Maaf ya untuk temen temen yang namanya ada dalam cerita ini, tak bermaksud apapun, sebab nama nama itulah yang ada dalam pikiranku kala itu.
- Maaf ya jika bahasa yang ku gunakan untuk menjelaskan sesuatu, baik latar tempat dan latar waktu yang bertele tele, hal itu ku lakukan agar kamu para pembaca dapat mengerti dan memahami situasi dan kondisi/keadaan yang terjadi.
- jangan lupa tinggalkan, Like komen & vote nya!
Terimakasih.
__ADS_1