
Di sebuah gedung perusahaan, di kota samarinda, duduk seorang pria di kursi kebesarannya, berdiri 2 orang anak buahnya di depan meja kerja pria tersebut.
"Ada kabar apa untuk Ku? "
Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, tangannya ia tumpukan di meja kerjanya, matanya menyorot tajam 2 orang di hadapannya.
"Orang kita yang mengawasi triple G Mafia mengatakan, bahwa organisasi Mafia tersebut, menghilang secara misterius bos"
Salah seorang di antara mereka menjawab.
Brak!
Pria yang di panggil bos itu menggebrak meja kerjanya dengan keras, membuat orang orang yang berada di hadapannya, menundukkan kepala takut.
"Mengapa bisa tiba tiba menghilang secara misterius? "
Pria tersebut bermonolog.
"Perintahkan semua orang yang mengawasi markas mereka untuk menjauh! "
Perintahnya kemudian.
"Baik bos! "
Kedua orang tersebut membungkukkan tubuhnya, lalu pergi meninggalkan sang bos dengan pikiran nya yang melanglang buana.
*****
Jakarta...
Kembali pada pasangan Giorgio dan Graceva, keduanya baru saja usai menonton bioskop, raut masam tercetak jelas di wajah Giorgio, ia mengingat kejadian yang terjadi tadi di dalam bioskop, pasalnya tak seperti perkiraannya, Graceva bukannya ketakutan dan bermanja manja dalam pelukannya, justru perempuan tersebut nampak sangat antusias menonton film horor yang di putar, justru Giorgio lah yang menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Graceva karena ketakutan.
"Aku ingin mengajak Mu ke suatu tempat! "
"Kemana Kak? "
Giorgio tak membalas lagi ucapan Graceva, tangannya bergerak menggenggam tangan Graceva, kemudian membawa Graceva ketempat yang di tuju.
"Wah, danaunya indah sekali Kak! tak Ku sangka ada tempat seindah ini di Jakarta"
Graceva memandangi pemandangan danau yang sangat indah menurutnya.
"Disinilah tempat Ku meluapkan keluh kesah Ku, dan menenangkan pikiran Ku"
Rupanya Giorgio membawa Graceva ke tempat favoritnya, ketenangan dan kesunyian tempat tersebutlah, yang menjadikan tempat tersebut di sukai Giorgio untuk menenangkan diri.
"Kamu tunggu sebentar ya! "
"Iya Kak"
Tiba tiba Giorgio pergi meninggalkan Graceva begitu saja, entah pergi kemana, yang membuat Graceva bingung dan harap harap cemas, pasalnya ia tak membawa satu pun senjata untuk berjaga jaga bila ada yang mengusiknya selama Giorgio belum kembali.
"Tenangnya tempat ini, nampaknya aku pun akan menjadikan tempat ini sebagai tempat menenangkan diri"
Graceva bermonolog dan menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan, menikmati angin sejuk yang berhembus dan menerpa wajah dan rambutnya, yang membuat rambutnya bergerak kesana kemari, membuat kecantikan perempuan tersebut semakin terpancar.
"Aaa, Siapa? "
Tangan seseorang, tiba tiba menutupi kedua matanya, membuat Graceva terkesiap, tangannya bergerak spontan untuk memelintir tangan orang yang menutupi matanya, namun orang tersebut seakan mengerti dengan apa yang akan di lakukan Graceva, membuatnya berhasil menghindar dari serangan Graceva.
Ketika Graceva membalikan tubuhnya, setangkai bunga mawar merah, berada tepat di depan wajahnya.
"Untuk Mu! "
Giorgio mengambil tangan Graceva, di letakkannyalah setangkai bunga mawar merah tersebut di tangan Perempuan tersebut.
__ADS_1
Graceva menghirup wangi harum bunga di tangannya, senyum manis terbit di bibir Perempuan tersebut, bunga bunga bermekaran di hati Graceva.
"Maaf ya, tadi aku meninggalkan Mu begitu lama, aku tadi memetik ini untuk Mu"
Sesal Giorgio, sorot matanya pun menggambarkan penyesalannya.
"Terimakasih Kak"
"Kamu menyukainya? "
Kepala Graceva nampak mengangguk sebagai jawaban, wajahnya bersemu merah karena malu, terlebih saat Giorgio memeluknya secara tiba tiba.
"Ada satu tempat lagi yang ingin Ku tunjukan pada Mu! "
*****
Giorgio melajukan motornya membelah jalanan, Giorgio membelokan motornya masuk ke dalam taman hiburan, mereka mencoba semua wahana di taman bermain tersebut, dari wahana yang mudah untuk di mainkan, hingga wahana yang paling berbahaya, semua mereka coba, mereka bermain hingga lupa waktu.
"Untuk Mu! "
Giorgio menyerahkan boneka beruang cukup besar hasil memenangkan sebuah wahana yang mereka mainkan pada Graceva.
"Terimakasih"
Graceva menerima boneka yang di berikan Giorgio padanya dengan binar bahagia.
"Kamu mau itu? "
Giorgio menunjuk ke tempat pedangan permen kapas yang tak jauh dari tempat mereka saat ini berdiri.
Graceva melihat pedagang permen kapas yang di tunjuk oleh Giorgio, dilihatnya lah berbagai macam bentuk permen kapas, Graceva menelan saliva nya, membayangkan permen kapas tersebut masuk ke dalam mulutnya, dengan cepat Graceva menganggukkan kepalanya menjawab perkataan Giorgio.
*****
Giorgio dan Graceva kini duduk di salah satu kursi yang berada di taman hiburan tersebut, di tangan Giorgio terdapat sebuah permen kapas berbentuk doraemon, dan mereka memakan permen kapas tersebut bergantian, Giorgio menyuapi permen kapas tersebut ke mulut Graceva, dan Perempuan tersebut menikmati lembut dan manisnya permen kapas tersebut seraya memejamkan mata.
Giorgio kembali melakukan motornya menuju ke sebuah tempat, lalu menghentikan motornya di sebuah laundry dengan membawa plastik yang terdapat seragam sekolah Graceva dan bajunya, di serahkannya lah kantong plastik tersebut ke salah satu pegawai laundry tersebut.
"Selesaikan malam ini, akan saya ambil besok pagi! "
"Maaf Mas, harus sesuai antrian Mas"
Pegawai laundry tersebut berucap sangat lembut sekali.
"Bisa kan Bu?! "
Giorgio bertanya, namun dengan nada mengintimidasi, membuat lawan bicaranya menundukkan kepala.
"Mohon Maaf Mas, harus sesuai antrian"
Pegawai tersebut berucap lagi dengan ramah, tak lupa ia selalu melayangkan senyum ramahnya.
"Bisakah di usahakan Bu? "
Giorgio menurunkan nada suaranya, ia sadar jika ia memang tak sepantasnya memaksakan kehendaknya.
Pegawai laundry tersebut tersenyum, "Baik Mas, akan kami usahakan"
Giorgio menghembuskan nafas lega mendengar jawaban pegawai laundry tersebut, segeralah ia mengurus pembayaran dan langsung kembali melakukan motornya.
Di tengah tengah perjalanan, Graceva menepuk nepuk punggung Giorgio, membuat Giorgio menghentikan laju motornya.
"Kita tidak langsung pulang Kak? hari sudah menjelang Malam"
Pasalnya kini hari sudah mulai beranjak Malam, namun Giorgio justru melajukan motornya berlawanan dengan arah jalan pulang menuju rumah keluarga Gabriel.
__ADS_1
"Malam ini kita tidur di apartemen?! "
Giorgio kembali melajukan motornya, tak lama ia membelokan motornya ke gedung pencakar langit tak jauh dari tempat laundry yang sebelumnya ia singgahi, dan langsung memarkirkan motornya di area parkir gedung apartemen tersebut.
Keduanya menaiki lift menuju lobi utama apartemen tersebut.
"Selamat Sore Kak, Selamat datang di apartemen kami! ada yang bisa kami bantu Kak? "
Sapa ramah resepsionis pada Giorgio dan Graceva.
"Saya ingin minta akses apartemen saya"
"Kamar berapa Kak? "
"VIP 002 tower Gajah Mada, atas nama Giorgio! "
"Baik Kak"
Resepsionis tersebut memeriksa dan mencocokan identitas Giorgio dengan identitas yang berada di komputer resepsionis, setelah berhasil mencocokan identitas, resepsionis tersebut memberikan kartu akses pada Giorgio, dan memberikan petunjuk menuju kamar apartemen milik Giorgio.
"Silahkan Kak! "
Resepsionis tersebut membungkuk hormat dengan senyum ramah menghiasi bibirnya, diliriknya lah Gracevq sekilas yang selalu berada di samping Giorgio.
Ting!
Pintu lift terbuka, keduanya masuk ke dalam kamar apartemen Giorgio, lelaki tersebut menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tama apartemen tersebut, disusul Graceva yang ikut mendudukkan bokongnya di sebelah Giorgio, keheningan menghinggapi keduanya, hanya deruh nafas keduanya yang terdengar, hingga akhirnya Graceva membuka suara.
"Kak, tubuhku lengket sekali, aku ingin membersihkan tubuh ku"
"Disini ada tiga kamar, terdapat kamar mandi di setiap kamarnya"
"Kakak biasa tidur dimana? "
"Kamar atas! "
Graceva masuk kedalam kamar Giorgio yang terdapat di lantai atas, segeralah ia membersihkan diri, sementara Giorgio di lantai bawah, ia mengotak atik monitor besar untuk memesan makan malam untuknya dan juga Graceva, setelahnya ia juga membersihkan diri di kamar lain.
*****
Graceva mengeluarkan kepalanya dari dalam kamar mandi, kepalanya celingukan kesana kemari, khawatir jika Giorgio tiba tiba masuk ke dalam kamar tersebut, dan memergokinya yang dalam keadaan polos tanpa busana, ia sebelumnya ingin kembali menggunakan baju yang sebelumnya ia pakai untuk tidur malam ini, namun niatnya dia dia saja, pasalnya bajunya basah karena terjatuh saat hendak ia kenakan kembali, tak mungkin kan ia tertidur dengan menggunakan baju yang basah.
Setelah menimang nimang dan melihat sekilas keadaan kamar, dan merasa keadaan aman, ia keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan polos tanpa busana sehelai pun, di silangkannya lah tangan di depan dadanya, Graceva melangkahkan kaki kearah lemari, dibukanya lah lemari tersebut dan mengambil sebuah piama untuknya tidur malam ini.
"Syukurlah ada piama ini"
hembusan nafas lega keluar dari mulutnya, di lihatnya lah pantulan tubuhnya di depan cermin yang berada di pintu lemari.
"Tak apa lah sedikit kebesaran, namun tak nyaman juga memakainya, namun mau bagaimana lagi, tak apa dari pada aku tidur tanpa busana"
Perempuan tersebut merasa tak nyaman dengan tubuh bagian bawahnya, pasalnya ia memakai dalaman kebesaran yang ia pastikan itu milik Giorgio.
"Graceva mari makan! "
Terdengar suara Giorgio dari balik pintu, Graceva segera turun ke lantai bawah dan ikut makan bersama Giorgio, dilihatnya lah juga Graceva yang sudah berganti pakaian dengan pakaian tidurnya.
Keduanya makan dalam diam, setelahnya mereka tertidur dalam satu kamar yang sama, sementara di kediaman keluarga Gabriel, sedang dibuat khawatir dengan keadaan keduanya, ditambah ponsel keduanya yang tak dapat di hubungi, makin membuat semua orang kalang kabut dibuatnya.
...****************...
Catatan Penulis :
Mohon keikhlasan teman teman untuk mendukung karya Penulis, Terimakasih banyak utk temen temen yang sudah berkenan utk mendukung karya Penulis.
Baca juga karya Penulis lainnya!
__ADS_1
Sequel dari novel ini, menceritakan Fany, anak tertua keluarga Gabriel.
Terimakasih.