
"Iya Bun"
"Beli apa saja sayang? "
Guen melirik lagi pada kantong belanjaan yang kini sudah berjajar rapih di atas meja, rasanya ia ingin mengintip barang belanjaan apa saja yang di beli oleh sang menantu, Guen tersadar jika Graceva berbelanja lumayan cukup banyak, terlihat dari kantong kantong belanjaan di atas meja.
"MacBook, alat kosmetik, dan perawatan kecantikan Bun"
"Apa kamu juga membeli toner Grace? "
Graceva tidak menjawab, tangannya bergerak meraih semua barang belanjaan nya dan mengeluarkan semua isinya, mencari barang yang di maksud oleh mertuanya, mungkin Bunda menginginkan benda itu, begitulah pikir Graceva.
"Ini Bun, Bunda mau? "
Graceva menyerahkan 1 set lengkap Toner Tonic, Remover Make Up, hingga Facial Wash, ke hadapan Guen.
Mata Guen berbinar melihat benda benda di hadapannya.
Beralih pada Giorgio yang beberapa saat lalu pergi mengikuti Rio yang memintanya untuk mengikutinya menuju ke ruang kerja Gerald.
"Ini identitas semua anggota organisasi Gabriel"
Rio menyerahkan sebuah Flashdisk ke hadapan Giorgio yang langsung di Terima oleh Giorgio tanpa banyak bicara.
"Milikmu! "
Gerald menyerahkan sebuah tongkat dengan ukuran emas di sepanjang tongkat tersebut, dan terdapat patung kecil kepala citah yang terdapat di ujung tongkat, di atas meja yang menjadi penghalang keduanya.
Giorgio melirik sekilas tongkat yang ada di atas meja, dengan kening yang berkerut, tanpa ada niatan untuk mengambilnya, Gerald yang mengerti bahwa Giorgio tak paham dengan yang ia maksud, nampak dari kening yang berkerut di wajah Giorgio. pasti ia akan menjelaskannya nanti.
"Sisipkan ini di celanamu, keluarkan di saat mendesak, anggota organisasi dan juga orang orang yang mengenali organisasi akan mengenalimu sebagai pemimpin organisasi Gabriel"
"Iya Yah! "
Giorgio meraih tongkat tersebut dan menyisipkan nya di celana.
Setelah urusannya dengan Gerald dan Rio usai, Giorgio berlalu menuju kamar, meninggalkan Gerald dan Rio yang kini duduk berhadapan.
"Apa tak terlalu cepat Kak? "
"Tidak, menurutku memang sudah waktunya! "
Rio menghela nafas mendengar jawaban Gerald yang singkat, padat, jelas, dan tak ingin di bantah.
Ceklek!
Giorgio masuk ke dalam kamar, nampak lah Graceva yang duduk di tepi ranjang dengan MacBook yang baru ia beli tadi di tangannya.
Giorgio masuk kedalam kamar mandi langsung membersihkan diri.
Giorgio mengambil posisi duduk di samping Graceva, matanya ikut mengamati apa yang dilakukan oleh perempuan tersebut dengan MacBook barunya.
"Kamu sedang apa? "
"Memantau saham perusahaan parfum Papah Kak"
__ADS_1
Graceva menunjukan layar MacBook nya, yang menampilkan naik turun nya saham perusahaan milik sang Papah.
"Kamu mengerti? "
Giorgio mengerutkan kening melihat naik turun nya grafik saham yang menurutnya sulit untuk di mengerti.
"Iya Kak, sudah 1 tahun belakangan ini aku melakukan ini"
Memang sudah 1 tahun ini Graceva membantu sang Papah dalam memantau lajunya saham di perusahaan miliknya, terlahir sebagai anak tunggal di keluarga besar Wilson, membuatnya harus terjun ke dunia bisnis sedari dini.
Giorgio manggut manggut menanggapinya, sesaat kemudian Giorgio teringat dengan Flashdisk di saku celananya, kini benda tersebut sudah berada di genggamannya, mata Giorgio menatap lekat wajah Graceva yang tengah fokus menatap layar MacBook di hadapannya.
"Bolehkah aku meminjam MacBook mu? "
Graceva menoleh dan menatap Giorgio yang juga tengah menatapnya, tak lupa dengan senyuman di wajahnya, Graceva mengangguk menjawabnya.
Giorgio mengambil alih MacBook dari tangan Graceva, segera lah ia menancapkan Flashdisk ke slot yang semestinya, Giorgio mempelajari semua tentang identitas anggotanya dengan baik.
**********
2 Minggu Berlalu...
**********
2 minggu berlalu, masa pembelajaran awal semester di mulai, Graceva dan Geraldine kini sudah dalam perjalanan menuju sekolah dengan Giorgio sebagai supir.
Ceklek!
Giorgio membukakan pintu mobil untuk Graceva dan Geraldine turun.
Tangannya terulur mengelus pucuk kepala Geraldine, Geraldine meraih 1 tangan Giorgio lainnya dan menciumnya, di lanjut oleh Graceva, Giorgio mendekatkan kepalanya pada kepala Graceva yang tengah menunduk mencium tangannya, Giorgio mengecup pucuk kepala Graceva, yang membuat perempuan tersebut tersipu.
Memang sudah 2 minggu belakangan ini hubungan keduanya semakin menunjukan kemajuan dan kian dekat.
Jika orang yang tak mengenal mereka melihat ini, maka orang akan berpikir jika Giorgio adalah seorang Ayah yang tengah mengantar putrinya ke sekolah, bukan karena alasan orang akan memikir demikian, Giorgio yang mewariskan postur tubuh sang Ayah yang ber postur tinggi tegap, begitupun dengan Giorgio yang memiliki tinggi badan sekitar 186 cm, bahkan Gabriella kembarannya hanya setinggi bahunya.
Giorgio masuk ke dalam mobil dan kembali melajukan mobilnya, Graceva dan Geraldine menantikan hingga mobil Giorgio tak lagi terlihat dari pandangan.
"Grace! "
Graceva mengenali dengan baik siapa yang memanggil namanya dengan berteriak, Graceva menoleh dan diikuti Geraldine.
Bruk!
Andini dan Nadiya menghambur memeluk tubuh Graceva, dan kini ketiganya berpelukan erat.
"Kamu, adik ipar Grace bukan? "
Andini melepaskan pelukannya dari Graceva, menoleh pada Geraldine yang berdiri dengan senyuman tipis di bibirnya.
Hanya sebuah anggukan yang di berikan Geraldine, memang semua keturunan Gerald mempunyai sifat sedingin kutub, hanya Fany saja yang nampaknya sedikit waras, meski hanya 0,1,5 % kadar kewarasannya.
"Iya, jadi Geraldine kedepannya akan selalu bersama kita"
Graceva berucap dengan semangat, tangannya bergerak merangkul bahu Geraldine lalu melangkahkan kaki di apit Andini dan Nadiya yang berjalan di sisi kiri dan kanannya.
__ADS_1
*****
Di sisi lain, Giorgio tak langsung melajukan mobilnya meninggalkan sekolah, tetapi ia membelokan mobilnya ke belakang gedung sekolah, kedatangannya sudah di tunggu oleh 2 orang pria bertubuh tinggi tegap dan ber postur badan besar dengan pakaian pariwisata.
Giorgio turun dari dalam mobil, kaca mata hitam bertengger di hidung mancung nya, sebuah pisau lipat dan pistol mini terselip di kedua saku celananya.
"Selamat pagi Ketua! "
"Pagi, mana barang yang ku minta? "
Giorgio menengadahkan tangannya, 1 orang dari kedua pria itu memberikan sebuah ipad ke atas tangan Giorgio.
"Terimakasih, ku titip mereka! "
"Siap Ketua! "
Giorgio berucap kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam mobil dan kembali melajukan mobilnya benar benar meninggalkan sekolah menuju Grand Edelweis Hotel.
Meski memiliki usahanya sendiri, Giorgio tetap bertanggung jawab dengan hotel milik sang Ayah untuk membantu mengelolanya.
*****
4 perempuan yang berjalan bersamaan itu, kini menjadi pusat perhatian semua orang, wajah cantik mereka membuat siapa saja yang melihatnya terpana, terlebih melihat wajah cantik Geraldine yang cantik dengan senyuman tipis itu menjadi pusat semua orang, sedangkan orang orang yang menjadi pusat perhatian, mereka tak peduli, justru asik dengan obrolan mereka.
"Kamu sudah tahu masuk kelas apa? "
Graceva bertanya pada Geraldine.
"10 IPA 1 Kak! "
Mendadak Andini bersorak bahagia, membuat 3 perempuan lainnya mengerutkan kening.
"Itu tandanya kelas kita sebelahan"
"Memangnya kita masuk 11 IPA berapa Ndin? "
Nadiya menoleh pada Andini.
"11 IPA 1! "
**********
Pukul 15.00
**********
Mobil Giorgio sudah terparkir nyaman di depan lobi sekolah, dengan Giorgio yang menyandarkan tubuhnya di depan kap mobilnya, tak lama menunggu 2 perempuan yang ia tunggu akhirnya menunjukan batang hidungnya, di tambah 2 perempuan yang menjadi sahabat Graceva.
kala Graceva dan Geraldine sudah makin dekat dengan mobil, Giorgio segera membukakan pintu mobil untuk keduanya masuk.
*****
Mobil Giorgio masuk ke pelataran rumah keluarga Gabriel, Geraldine segera turun dari mobil, begitupun dengan Graceva, belum sempat membuka pintu mobil, Giorgio sudah mengunci pintu mobil dan kembali melajukan mobilnya, yang membuat Graceva mengernyitkan dahi, namun ia diam saja.
"Kita makan diluar! "
__ADS_1
...****************...