
...Bab 36...
Happy Reading πΉπΉπΉπΉπΉ
"siapa? " sahut Ecxel kepo, membuat Andini dan Nadiya semakin senyum senyum kuda.
"Nadiya" jawab Dion singkat, Giorgio dan Ecxel tampak mengangguk anggukan kepala.
Sedangkan Nadiya yang mendengar namanya di sebut, membuat jantung gadis itu berdeguk tak beraturan, kakinya ia hentak hentakan ke lantai, sampai tanpa sengaja menginjak kaki Andini, membuat gadis itu memekik kesakitan, sontak hal itu berhasil membuat tiga pria yang asik dengan olahraga dan pembicaraannya menoleh seketika.
Tiga pria tampan itu terkejut, saat menoleh dan mendapati tiga gadis cantik yang mereka bicarakan berada di sana.
"kalian, sejak kapan di sana? " tanya salah satu dari ketiga pria tersebut, yang bernama Giorgio.
ruangan gym yang semulanya terdengar suara percakapan orang - orang, mendadak hening,
ketiga gadis yang di tatap tajam Giorgio, menelan saliva susah payah, Andini memukul mukul mulutnya dengan kedua tangan nya, merutuki perbuatannya, tiga gadis itu menyengir kuda.
Graceva menunduk saat manik matanya bersi tatap dengan manik tajam Giorgio, gadis itu melangkahkan kaki pelan mendekati Giorgio, tak lupa melemparkan senyum.
"pagi kak" ucap Graceva.
di angguki Dion dan Ecxel, sedangkan Giorgio masih dengan tatapan tajam mengarah pada gadis itu, seolah meminta penjelasan.
"mereka mau ngajak aku joging di taman kak" ucap Graceva lagi.
Giorgio menatap Graceva dan dua sahabatnya bergantian, lalu membalikan tubuh melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti.
Graceva menghela nafas, "boleh kak? " tanya Geaceva lembut.
Giorgio kembali menoleh, ia menatap wajah Graceva lekat lekat.
Dion dan Ecxel berjalan mendekati Andini dan Nadiya.
"sejak kapan kalian di sini? " tanya Dion pada Andini dan Nadiya, Dion menatap Nadiya lembut, sementara itu, Ecxel menatap Andini dengan tatapan mengintimidasi, bukannya takut, Andini membalas tatapan tajam Ecxel.
"sejak kamu ngomong tertarik sama salah satu temen Grace" ucap Nadiya menunduk, gadis itu tak ingin Dion melihat raut wajah malunya.
Dion tersentak mendengar jawaban Nadiya, Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Andini dan Ecxel serempak menoleh, Ecxel memicingkan matanya, melihat mata Dion dengan saksama, Ecxel dapat menangkap jelas ada cinta di mata Dion untuk Nadiya, matanya beralih pada sorot mata Nadiya, dan dia dapat melihat hal yang sama.
"kenapa dengan jantungku? " batin Giorgio, sebab ia merasa jantungnya berdetak tak beraturan saat matanya menatap lekat wajah cantik nan polos sang istri.
tak jauh berbeda dengan Giorgio, Graceva pun merasakan hal yang sama, jantung gadis itu berdetak tak beraturan.
"ada apa denganku, apa ini cinta? " batin Graceva, namun ia segera menepis nya, gadis itu tak ingin menduga duga perasaannya.
"hei" ujar Giorgio menyadarkan Graceva dari lamunannya.
"iya kak" balas Graceva gelagapan.
"jadi pergi? " tanya Giorgio lagi, sembari beranjak menyeka bulir keringat dari tubuhnya dan pergi membersihkan diri, Dion dan Ecxel pun melakukan hal yang sama.
di sini lah mereka sekarang, di taman yang tak jauh dari rumah Giorgio, mereka tengah lari bersama, sampai akhirnya mereka terhenti kala Ecxel meminta berhenti.
"kenapa? " tanya Dion penasaran.
"balap lari yuk" ajak Ecxel.
Dion dan Giorgio mengiyakan.
"dari mana sampai mana? " tanya Dion lagi.
Ecxel pun mengatakan posisi start dan finish balap lari mereka, Andini pun di tunjuk untuk memberi aba aba.
"1.. 2...3....."!
balap lari di mulai, Giorgio, Dion, dan Ecxel, berlari kencang berusaha menjadi yang tercepat.
" Giorgio mau kemana tuh? " tanya Ecxel menghentikan larinya, saat melihat Giorgio berlari ke arah berlawanan dengan arena balap lari mereka.
__ADS_1
sedangkan Giorgio, pria itu lari ke arah lain, sebab tadi ia melihat ada seorang wanita seusia bundanya berteriak dan meminta tolong karna dompetnya di rampas pencopet.
Dion dan Ecxel yang tadi berusaha mengejar langkah Giorgio, mengurungkan niatnya sebab mereka sudah tak melihat kemana arah langkah Giorgio, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat awal mereka berlari.
setelah Giorgio berhasil mengejar lelaki yang adalah copet, tanpa basa basi, Giorgio mencekal lengan copet itu lalu memukulnya kuat hingga copet tersebut tersungkur ke tanah, dengan cepat pria itu mengambil dompet yang tadi di curi copet tersebut, meninggalkan sang copet yang mengaduh kesakitan.
Giorgio melangkah cepat menghampiri pemilik dompet, yang terduduk di rumput dengan uraian air matanya.
Giorgio menyamakan tubuhnya dengan wanita baya itu dan menyodorkan dompet yang ia bawa ke hadapan sang pemilik dompet.
"permisi bu, ini dompet ibu" ucapnya lembut.
wanita di hadapan Giorgio mendongakkan kepala, masih dengan linangan air matanya.
tangan wanita itu bergetar menerima dompet dari tangan Giorgio.
"terimakasih mas" bibir wanita baya itu bergetar mengucapkannya.
Giorgio mengangguk dan tersenyum lalu melenggang pergi, setelah berpamitan dengan wanita baya itu.
Di sisi Graceva dan yang lainnya, Graceva mulai cemas, karena suaminya tak kunjung kembali.
"Yon lo bawa HP nggak? " tanya Ecxel.
"untuk? " jawab Dion menaikan kedua alisnya.
"telfon Giorgio, HP gue ketinggalan di meja sofa ruang gym" balas Ecxel.
Dion merogoh kantong celananya, dan pria itu tak menemukan ponselnya.
"sepertinya HP gue juga ketinggalan" ucapnya.
Ecxel menghela nafas kasar, matanya menoleh pada tiga gadis yang tengah menatap nya dengan saling berbincang.
"Ndin gue pinjem HP lo dong" ucap Ecxel menengadahkan tangan di hadapan gadis itu.
Dengan malas, Andini merogoh ponselnya dari dalam saku celana, dengan cepat Ecxel merampasnya.
Ecxel menempelkan ponsel Andini pada daun telinga.
"maaf pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan" terdengar sahutan dari operator.
Ecxel melempar ponsel itu pada Andini, sang pemilik ponsel menangkap ponselnya dengan gelagapan.
"lo jangan ngerusak HP gue dong" sewot Andini menatap tajam Ecxel.
"untung nggak lecet" gumam Andini mencium dan membolak balikan ponselnya.
Ecxel melengos saja menanggapinya, pandangannya beralih pada Nadiya dan kembali menengadahkan tangan.
"HP" ujar Ecxel.
Nadiya merogoh ponsel dari saku celana.
"maaf HP aku lowbat" ucap Nadiya seraya menunjukkan ponsel pada Ecxel.
Ecxel lagi lagi menghembuskan nafas kasar, pandangannya beralih pada Graceva.
"kaka ipar, tolong hubungi Giorgio" ucap Ecxel.
Graceva mengambil ponselnya dan menyerahkan ponselnya pada Ecxel.
"kenapa kaka ipar? " tanya Ecxel bingung.
"aku tidak punya kontak kak Giorgio" jawab Graceva cengengesan.
Ecxel menepuk keningnya.
"ya ampun masa kaka ipar nggak punya kontak Giorgio? " gerutu Ecxel, namun ia mengambil ponsel kaka iparnya, lalu mengetikan nomor Giorgio pada ponsel Graceva, dan kembali menyodorkan pada sang pemilik.
Giorgio melangkahkan kaki panjangnya, berjalan keluar dari taman tersebut.
__ADS_1
"dert... dert... dert... ".
getaran panjang pada ponselnya, menghentikan langkahnya, sejenak ia menatap nomor yang menghubunginya, dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu dan meletakkannya pada daun telinga.
" halo" suara bariton dari seberang telfon menembus indra pendengaran Graceva.
"halo kak" ucap Graceva pelan namun masih dapat di dengar orang di seberang.
"maaf kamu siapa? " sahut lagi dari seberang.
"aku Graceva kak".
" hmm".
"kakak dimana? " tanya Graceva lagi.
"pintu keluar taman" ucap Giorgio singkat, lantas memutus panggilan.
"gimana kaka ipar? " tanya Ecxel saat Graceva memasukan kembali ponselnya.
"pintu taman".
setelah mengetahui posisi Giorgio, mereka bergegas pergi ke pintu keluar taman.
" mana si kulkas? " seloroh Ecxel, dan mendapat toyoran dari Dion, tepat di kepala.
mereka mengedarkan pandangan mencari Giorgio.
"itu" tunjuk Graceva pada kedai penjual bubur ayam, semua orang kompak mengikuti arah telunjuk Graceva, lantas beranjak pergi menghampiri Giorgio di penjual bubur ayam.
"oiyy" teriak Ecxel menggebrak meja yang ada Giorgio yang sedang asik memakan bubur ayamnya.
Giorgio yang tengah asik dengan bubur ayamnya, terjingkat saat mejanya bergetar karna digebrak seseorang, membuat semua benda yang ada di mejanya melompat dari tempatnya, pria itu menaikan pandangannya, menatap tajam orang yang menggebrak mejanya, yang tak lain adalah Ecxel.
Graceva duduk di samping Giorgio, setelah memesan satu mangkuk bubur ayam dan segelas susu hangat.
Giorgio melirik Ecxel tajam, lalu kembali fokus dengan bubur ayam di hadapannya.
"buburnya nggak di aduk kak? " Graceva berucap lembut, seraya memperhatikan Giorgio.
"nggak" jawab Giorgio singkat.
Dion dan yang lainnya turut duduk di kursi panjang hadapan Giorgio dan Graceva setelah memesan bubur ayam untuk mereka masing - masing.
"lo nggak di aduk buburnya Grace? " tanya Andini penasaran, karena Graceva tak mengaduk buburnya.
"nggak" jawab Graceva tersenyum pada Andini, Giorgio menoleh pada Graceva dan tersenyum samar.
"di aduk enak lho" goda Ecxel menunjukan mangkok buburnya dan mengaduk ngaduknya di hadapan Graceva.
"iya enak tahu" bujuk Nadiya lagi, sedangkan Dion hanya diam dan memperhatikan saja.
"aduk.. aduk... aduk...! sorak Andini Nadiya dan Ecxel bersamaan.
" Diam" ucap Giorgio dingin, namun penuh penegasan, seketika semua orang terdiam.
"makanlah senyaman mu" ucap Giorgio pada Graceva.
Graceva mengangguk, semua orang makan dalam diam, hanya terdengar sesekali suara sendok yang bersinggungan dengan mangkuk.
setelah membayar bubur, mereka kembali ke rumah Giorgio dan bergegas pulang ke rumah masing - masing.
"bos, mata - mata kita mati di tangan tuan Gerrald" ucap seorang lelaki.
brag!
orang yang di panggil bos itu, menggebrak meja di hadapan nya dengan keras.
"sial, aku akan membalas-mu Gerrald" teriak lelaki yang di panggil bos itu, dada lelaki itu naik turun menahan emosi.
Bersambung...
__ADS_1