Takdir Cinta Graceva

Takdir Cinta Graceva
Bab 49 | Kembalinya Gabriella 2


__ADS_3

"Siapa gadis nakal yang kau maksud sayang? "


Guwen menaikan alisnya, mendengar perkataan putri sulungnya, sementara Gerald, ia mengerutkan kening seraya jarinya mengusap dagu, seolah ia memikirkan perkataan gadis cantik dihadapannya.


Mata elang Gerald tertuju pada sesuatu yang nampak bergerak dengan perlahan di belakang tubuh putrinya, kemudian matanya melihat pada lantai tepat di belakang tubuh Fany, yang nampak sedikit terdapat tetesan air.


Fany tidak menjawab pertanyaan dari sang bunda, dan tak menghiraukan gestur tubuh yang di tampilkan oleh kedua orang tuanya, gadis itu memilih diam, dan sibuk dengan pemikirannya, ia berpikir akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya pada mereka.


Terjadi keheningan di raungan tersebut, membuat gadis yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung sang Kakak semakin merasa tegang dan semakin gugup.


Tanpa disadari semua orang, Gerald beranjak dari duduknya, dan berjalan kearah balik punggung putri sulungnya, hendak memastikan ada apa di balik punggung sang putri, dan hendak memastikan keadaan sang putri.


Deg!


Langkah Gerald terhenti, kakinya mendadak terasa kaku, hingga tak mampu untuk melanjutkan langkahnya, jantungnya berpacu dengan cepat, matanya meneteskan buliran bening, tubuhnya mulai berkeringat dingin, dan nampak bergetar, ia berusaha menahan isak tangis dan berusaha menguasai tubuhnya.


...Bagaimana bisa, seorang Gerald Alexander Gabriel, ketua mafia yang cukup di segani di wilayah Asia Eropa, meneteskan air mata dan tubuhnya bergetar, melihat seorang gadis, yang tak lain adalah anaknya, yang sudah 3 tahun belakangan ini menjauh dari keluarga...


Setelah berhasil kembali menguasai tubuhnya, Gerald kembali melangkahkan kaki semakin mendekat pada gadis yang sangat ia rindukan, setelahnya ia langsung mendekap erat tubuh gadis tersebut, isak tangisnya sudah tak dapat lagi di bendung.


Guwen dan Fany yang mendengar isak tangis yang saling bersautan, tersadar dari lamunannya, kemudian mereka mengalihkan pandangan pada sosok Gerald, yang sudah berdiri di belakang tubuh Fany, dan tengah mendekap erat seorang gadis yang sangat mereka kenal sembari menangis tersedu.


Guwen segera ikut menghambur masuk kedalam pelukan Ayah dan anak tersebut, ia pun ikut menangis, melepaskan semua rasa kerinduannya, Fany yang melihat hal itu, melengkungkan bibirnya, ia senang akhirnya keluarganya kembali utuh, ia tak mau kalah, ia pun ikut masuk kedalam pelukan tersebut.


"Apa kabar malaikat kecil Ayah? "


Gerald menghapus sisa sisa air mata yang berada di pipi Gabriella.


"Malaikat kecil Bunda juga! "


Guwen masih terus memeluk erat Gabriella, seolah ia takut jika Gabriella akan kembali meninggalkannya.


Fany membawa ketiga orang yang sangat ia sayang, ke sofa ruang keluarga, dan mendudukkan tubuh ketiga orang tersebut di sofa, agar obrolan mereka semakin nyaman.


Ke empat orang tersebut duduk di sofa dengan tenang, dan saling bercengkrama, mulai dari menanyakan kabar Gabriella, bagaimana kehidupan gadis tersebut di sana, apakah gadis tersebut hidup dengan layak, hingga bertanya hal hal yang mungkin kurang penting, bahkan mereka lupa, jika Fany dan Gabriella baru saja melakukan penerbangan dalam waktu yang lama, dan pasti mereka merasa lelah dan membutuhkan istirahat, sementara kedua gadis tersebut, tak lagi merasakan lelah pada tubuh mereka, justru sebaliknya, mereka tak merasa lelah sedikit pun, setelah melihat raut wajah bahagia kedua orang tua mereka.


"Silahkan Tuan, Nyonya dan Nona"


Dona menyerahkan cemilan serta minuman ke atas meja di depan sofa tersebut, yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Dan, Selamat datang kembali Nona Gabriella"

__ADS_1


Dona membungkuk memberi hormat, dengan senyum mereka di bibirnya, setelahnya kembali melanjutkan pekerjaannya.


**********


Di Kamar...


**********


Gerraldine yang mendengar ada keramaian di ruang keluarga, membuatnya mengernyitkan dahi dan bertanya tanya, tumben sekali ruang keluarga yang biasa hanya terdengar suara kedua orang tuanya, yang memang biasa berbincang di sana, namun sekarang ia dapat mendengar, jika mungkin saja kedua paruh baya tersebut menerima tamu, namun ia berpikir, bukankah jika memang hanya tamu, tak seharusnya mereka berbincang di ruang keluarga, karena kamarnya tak jauh dari ruang keluarga, membuat semua yang terjadi di ruangan tersebut terdengar hingga kerumahnya.


Sebab sudah tak bisa menahan rasa penasarannya, ia berjalan keluar kamar, dan kebetulan berpapasan dengan Dona yang membawa nampan, nampaknya perempuan tersebut baru saja dari arah ruang keluarga, ia menghentikan langkah Dona, dan memutuskan untuk menanyakannya pada Dona.


"Ada apa Nona? Ada yang bisa saya bantu? "


"Ada tamu Mbak? "


"Tidak Nona"


"Lalu, Ayah dan Bunda, sedang berbincang dengan siapa di ruang keluarga, Mbak? "


"Nona Gabriella sudah kembali Nona"


Mata Gerraldine membulat, dan wajahnya berbinar senang, mendengar ucapan Dona, dengan langkah seribu Gerraldine berlari menuju ruang keluarga, tanpa berkata apa pun lagi pada Dona, sementara Dona, perempuan tersebut tersenyum melihat kehangatan yang di tunjukkan oleh keluarga Gabriel.


Teriakan seseorang berhasil membuat 4 orang yang tengah asik bersenda gurau, menghentikan aktifitas mereka, mata Gabriella membuat, merasakan ada tubuh yang menyentak tubuhnya, hingga membuatnya terpojok ke ujung sofa.


"Aku merindukanmu Kak! "


Gerraldine memeluk erat tubuh Gabriella, dan membenamkan wajahnya di balik ceruk leher Gabriella, dan menangis dengan tersedu.


Gabriella membalas pelukan adik kecilnya dengan sukacita, tangannya terulur mengelus lembut rambut Gerraldine.


"Kabarku baik, kabarmu bagaimana gadis kecilku, haha,... hmm nampaknya, kau sudah semakin besar ya"


Gerraldine mengangguk, membuat dagunya bergesekan dengan bahu Gabriella.


Mereka kembali melanjutkan berbincang, dengan Gerraldine yang bercerita panjang kali lebar tentang kegiatannya selama 3 tahun belakangan ini dengan semangat, sehingga membuat suasana ruang keluarga tersebut semakin ramai,seraya mendusel manja di pelukan Gabriella.


"Gio mana? "


Pertanyaan Gabriella membuat semua orang di sana diam.

__ADS_1


Sementara itu orang yang dicari Gabriella tengah asik terlelap di atas ranjangnya, tadi sesampainya di kamar, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, sementara Graceva langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelahnya menyibukkan diri dengan tumpukan buka pelajarannya, ia berniat untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi pembelajar di kelas 11,yang akan segera dimulai 2 minggu lagi.


"Wah, jadi sekarang aku sudah memiliki Kakak Ipar? "


Gabriella menutup mulutnya yang menganga lebar, sedangkan matanya membulat sempurna, ia merasa percaya dan juga tak percaya, namun ini yang mengatakan adalah wanita yang sudah melahirkannya ke dunia, dan tak mungkin jika Bunda nya akan membohonginya, baru saja sang Bunda menjelaskan semuanya pada Gabriella, jika kembaran dari gadis tersebut sudah memiliki seorang istri.


"Bolehkah aku bertemu dan berbincang dengan mereka? "


"Tentu sayang"


Dengan senang hati, Guwen mengiyakan permintaan putrinya, kemudian mengantarkan Gabriella menuju kamar Giorgio dan Graceva, sementara Fany dan Gerraldine kembali ke kamar, sementara Gerald, ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang, yang entah siapa.


Tok tok tok...


"Sayang"


Guwen mengetuk pintu kamar Giorgio dan Graceva.


"Iya Bun"


Terdengar sahutan dari dalam kamar tersebut, setelahnya pintu kamar tersebut terbuka, menampilkan sosok Graceva yang berpenampilan sederhana dengan pakaian rumahan nya, namun masih nampak sangat cantik dengan wajah naturalnya.


Dahi Graceva mengernyit serta matanya memindai wajah gadis yang berdiri di samping Bunda mertuanya, yang nampak sangat mirip dengan wajah Giorgio, namun dalam wujud perempuan.


"Giorgio dimana sayang? "


Suara Guwen membuyarkan pemikiran Graceva.


"Kak Giorgio sedang tidur Bun"


Graceva menggerakkan matanya kearah Giorgio yang tertidur lelap di atas ranjang.


"Mau ku bangunkan Kak Giorgio nya Bun? "


Graceva menawarkan diri untuk membangunkan suaminya, sebab ia berpikir mungkin saja ada sesuatu hal penting yang ingin di bicarakan oleh Bunda mertuanya, ditambah ada gadis yang menurutnya asing, juga berdiri di samping Guwen.


"Tidak sayang"


Guwen mencegah niat menantunya, ia berpamitan pada Graceva, hendak berlalu kembali ke ruang keluarga, di ikuti Gabriella, sementara sedari tadi, Gabriella memindai Graceva dari ujung kepala hingga kaki dengan diam diam, ia dapat melihat jika gadis dihadapannya yang ia duga adalah Kakak Iparnya mempunyai sifat yang lembut, terlihat dari raut wajah Graceva yang begitu menenangkan.


...****************...

__ADS_1


...Gabriella Amarta Yunior...



__ADS_2