
"Cantiknya anak Mamah, sudah bersih, wangi dan juga kenyang, mau tidur sayang?" Graceva membaringkan bayinya di tempat tidur, yang baru saja selesai di susui, Graceva memandangi wajah lugu bayinya.
"Ma ma ma Mah"
"Hahaha" Graceva tertawa geli, merasakan jari mungil nan lembut bayinya yang meraba-raba bibirnya.
"Keluar ya, giliran Mamah yang ingin makan" Graceva menggendong bayinya keluar kamar. "Pa Papah" bayi mungil itu berceloteh menunjuk-nunjuk foto Giorgio yang berada di meja televisi kamar, "Iya Papah ya" Graceva mengusap lembut kepala putri kecilnya
"Cucu Oma" Gracia berlarian kecil mendatangi cucu perempuan putrinya, lalu meraih sang cucu untuk di gendong, Gracia menciumi dua belah pipi cucunya dengan gemas, membuat bayi perempuan tersebut tertawa-tawa.
"Ini untuk cucu cantik Mamah" Gracia menyerahkan sebuah tote bag berwarna coklat kertas kepada Graceva, "Terima kasih Mah™ Graceva meraih barang yang di berikan Gracia, kemudian meletakkannya di meja kayu depan televisi.
"Kamu sudah siapkan nama untuknya sayang?" Gracia sudah kesekian kalinya menanyakan hal yang sama pada ibu muda tersebut, sejujurnya Graceva sudah menyiapkan sebuah nama untuk sang putri, namun ia tak melakukannya, ia ingin agar Giorgio lah yang memberikan nama pada putrinya.
“Jika Mamah menanyakan hal itu, maka jawaban Grace tetap sama Mah, aku ingin Kak Giorgio yang
memberikan nama, walau Grace pun sudah menyiapkan nama untuknya Mah"
"Iya sayang Mamah mengerti, namun selama kita belum mengetahui bagaimana keadaan Giorgio yang sebenarnya saat ini, kamu juga tak apa Grace yang memberikan nama untuk putri kalian, Mamah yakin jika Giorgio kembali, ia akan mengerti dengan apa yang kamu lakukan sayang"
Graceva menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, Graceva menganggukan kepala. pada akhirnya Graceva yang memberikan nama putrinya.
"Maaf Kak izinkan aku yang memberikan nama untuk putri kita" batin Graceva
"Nastusha Mishall Qiana" ucap Graceva menyebutkan nama yang sudah di siapkannya bagi sang putri.
"Wah, bagus sekali sayang, kamu menyukainya sayang? Gracia tersenyum mendengar nama yang sudah di siapkan putrinya untuk sang cucu, Gracia menepuk-nepuk kedua tangan mungil cucunya, seolah bayi tersebut menyukai nama yang di berikan Graceva untuk bayi itu.
"Jika Mamah boleh tahu, artinya apa sayang?" penasaran Gracia tentang arti dari nama cucu cantiknya
yang begitu bagus di dengar.
"Iya Mah" Graceva tersenyum dan mengangguk, kemudian menyebutkan arti dari nama putrinya
"Nastusha memiliki arti perempuan baik, cantik, dan ramah, MIshall memiliki arti cahaya, Qiana memiliki arti anak perempuan yang berhati lembut. Jadi harapan Grace semoga dia menjadi anak perempuan yang baik, cantik dan lembut hatinya" terang Graceva tersenyum pada Gracia, Mamahnya.
"Bagus sekali sayang" Gracia mengangguk-anggukan kepala mengerti dan setuju dengan nama yang di berikan Graceva pada cucunya.
"Tidak kamu selipkan nama Wilson atau Gabriel sayang?" tanya Gracia pada Graceva yang tak menyelipkan nama dua keluarga mereka di nama cucunya.
__ADS_1
"Tidak Mah" jawab Graceva
"Kenapa sayang?" tanya Gracia bingung dengan kening berkerut, di gendongan nampak sang cucu yang asik memandangi dan memainkan rambut panjang nan lurus miliknya.
"Aku berharap kelak ia bisa berdiri di kakinya sendiri, tanpa embel-embel nama keluarga kita di belakang namanya, dan harapan aku juga, agar kelak tak menjadi sasaran kejahatan orang-orang yang menjadi musuh keluarga Wilson ataupun keluarga Gabriel Mah" jawab Graceva menjelaskan mengapa ia tak menyelipkan nama dua keluarga yang mengalir dalam darah putrinya, dan Gracia nampak senang dan mengerti dengan apa yang di katakan putrinya.
"Lalu kita akan memanggilnya siapa sayang?" tanya Gracia yang belum tahu hendak memanggil sang cucu dengan nama yang mana.
"Qiana saja bagaimana?" usul Gracia yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Graceva atas pertanyaan yang sebelumnya di tanyakan. Graceva diam tak langsung memberikan reaksi pada ucapan Gracia, "MIshall akan kita panggil dia jika kita sedang berada di luar rumah, seperti artinya, agar dia menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya, dan kita akan panggil dia Qiana selama dia berada di rumah, harapan Mamah dia bisa bersikap lembut pada para pekerja dan semua orang yang berada di lingkungan rumah" jelas Gracia bersemangat.
"Iya Mah, aku setuju" jawab Graceva mengangguk.
"Oiya Mah, boleh Grace titip Qiana ke Mamah? Grace mau makan dulu dan nyusul kelas online kampus tadi siang yang Grace lewatkan karena tadi ketiduran sama Qiana"
"Iya sayang, makanlah, Qiana aman sama Mamah"
Graceva menitipkan Qiana pada Mamahnya, lalu pergi ke ruang makan untuk makan.
...----------------...
Di suatu negara kecil wilayah benua Asia Barat...
Pusat kota negara itu, banyak reruntuhan bangunan dimana-mana, mayat-mayat berserakan, sungguh pemandangan yang mengerikan... Di sudut kota, sekelompok orang tampak berdiskusi serius, sambil bersembunyi-sembunyi seperti mengawasi sesuatu.
"Ya, kamu benar" sahut sang Bos yang adalah Giorgio.
"Apa lagi yang akan kita lakukan kedepannya Bos?" salah seorang lagi melayangkan pertanyaan pada Giorgio.
"Entahlah, aku tak mengira hal ini akan terjadi, bukankah kalian tahu apa tujuan kita kesini?" Giorgio menjawab pertanyaan dari salah satu bawahannya, kemudian balik bertanya pada bawahannya.
"Tentu, kami tahu Bos tujuan kita kesini" jawab salah seorang bawahan Giorgio, dan mendapat anggukan dari teman-temannya.
"Kalian tahu aku begitu ingin kembali pada keluargaku, aku pun tahu kalian pun begitu, aku sudah berupaya agar kita dapat segera kembali ke tanah air, bahkan aku hingga bertransaksi narkotika, yang selama ini keluargaku hindari, dan sekarang justru lah aku yang masuk ke dalam bisnis gelap itu" Giorgio berbicara dengan lesu.
Benar, sudah beberapa bulan belakangan ini, Giorgio beserta bawahannya berusaha mati-matian untuk tetap hidup di negara tersebut, mulai dari bertahan dari serangan yang entah dari mana dan di tunjukan pada siapa, bahkan seluruh maunisi persenjataan dan pertahanan hidup seperti makan dan minuman habis, Giorgio dan bawahannya baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi di negara itu, hingga tiga minggu setelah mereka berada di negara itu, hingga delapan bulan lamanya Giorgio beserta bawahannya menyelamatkan diri dari serangan yang terjadi di negara itu, hingga menimbulkan dampak yang cukup besar, Giorgio hingga terpaksa untuk bekerjasama dengan mafia narkotika di negara itu, Giorgio bertransaksi narkotika dari mafia tersebut, lalu kembali menjualnya pada pengidap ketergantungan narkotika dengan harga yang sangat tinggi.
"Maaf Bos" seorang mengangkat tangan hendak berbicara.
"Ya" sahut Giorgio singkat.
__ADS_1
"Apa kita tak meminta bantuan dari markas kita yang berada di sekitar negara ini Bos?**
"Kamu tahu, sudah tiga bulan belakangan ini banyak helikopter dari markas kita yang berada di negara lain, melintas di atas langit sana?" jawab Giorgio sambil menunjuk langit, "Ku tahu, mereka pasti melihat kita, maka dari itu mereka sering sekali terbang rendah di langit" ucap Giorgio sambil mendongak memandangi langit, dan fi ikuti juga oleh yang lainnya.
Benar saja, belasan helikopter terbang melintas tepat di atas mereka, terlihat satu helikopter mengibarkan bendera putih sebagai lambang perdamaian, di arahkan kepada mereka, dan perlahan helikopter tersebut turun dan mendarat tak jauh dari posisi Giorgio dan yang lainnya, angin yang di ciptakan dari baling- baling helikopter yang turun mendarat, menerbangkan semua yang berada di sekitar helikopter tersebut.
Giorgio dan semua bawahannya berdiri ketika helikopter tersebut mendarat sempurna tak jauh dari mereka, tampak pria tinggi bertubuh besar turun dari helikopter sambil membawa bendera putih di tangan kanan nya, pria itu berjalan mendekat dan di ikuti dua orang lainnya yang juga turun dari helikopter yang sama.
"Selamat siang Bos" ketiga orang tersebut membungkuk memberi hormat pada Giorgio.
"Apa tujuan kalian selalu melintas di atas langit markas kami? Dan apa tujuan kalian mendatangiku?" Giorgio menatap tajam ketiga orang di hadapannya, para bawahan Giorgio yang semula bernafas lega, berpikir jika mereka akan kembali ke tanah air dengan helikopter yang saat ini terbang rendah di atas kepala, menjadi ikut mewaspadai orang-orang tersebut setelah melihat sikap yang di tunjukan oleh Giorgio.
"Maafkan kami Bos" Ketiga orang itu sujud bersimpuh di hadapan Giorgio, tentu perlakuan yang di lakukan ketiga orang tersebut membuat Giorgio menghela nafas.
"Bangunlah, aku tak perlu maaf kalian"
Tanpa berbicara lagi, Giorgio berjalan menaiki helikopter tersebut, dengan sepuluh orang bawahan bersamanya, Giorgio tahu bahwa cepat atau lambat orang-orangnya akan datang membantunya dan juga para bawahannya, setelah Giorgio dan semua bawahan yang di bawanya naik ke helikopter, rombongan helikopter itu terbang menuju markas besar yang berada di negara tak jauh dari negara tersebut.
"Selamat datang Bos" semua anggota G Mafia menyambut kedatangan Giorgio dan anak buahnya.
"Terima kasih" jawab Giorgio tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan Bos" orang yang tadi menjemput Giorgio menarik sebuah kursi di meja panjang dan berukuran sangat besar, dengan kursi-kursi yang berjajar memanjang dengan jumlah yang sangat banyak, mempersilahkan Giorgio untuk duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh orang tersebuttersebut.
"Terima kasih"
Giorgio duduk dan langsung di ikuti duduk yang lainnya memenuhi meja makan tersebut, beberapa perempuan membawa makanan yang cukup banyak dan menyajikan di atas meja, lalu juga ikut duduk di kursi kosong setelah selesai menyajikan makanan di atas meja.
"Selamat makan" Giorgio memberi perintah, dan langsung di ikuti oleh semua orang, tak ada satu pun yang berbicara selama mmaka, hingga semua orang menyelesaikan makan.
"Maaf Bos, bisa kami tahu ada apa Anda dan yang lainnya jauh-jauh datang ke negara itu, di saat negara itu terlibat konflik?" tanya orang itu lagi, yang tampaknya dia lah pimpinan markas tersebut.
Giorgio mengangguk, lalu menghembuskan nafas pelan, kemudian mulai membuka suara.
"Waktu itu aku di hubungi bawahanku yang berada di negara itu, dan dia berkata dalam keadaan darurat, jadi tanpa pikir panjang, ke esokan harinya aku pergi ke negara itu-"
Flashback ON...
Ketika setelah Giorgio dan yang lainnya mendapati keadaan kedua markas yang berada di negara itu tak lagi berbentuk, Giorgio dan yang lainnya berjalan dan mencari tempat untuk berlindung, satu malam berlalu, pagi harinya saat mereka terbangun, mereka di kejutkan dengan sebuah misi yang bergerak cepat menuju ke arah mereka, dengan cepat mereka berusaha menghindar, namun tetap saja berjatuhan korban. terdapat dua puluh hingga lima puluh orang yang menjadi. radius ledakan misil tersebut sangat besar, sehingga menciptakan keruskaan yang begitu besar, Giorgio mengirimkan mayat-mayat tersebut ke tanah air dengan pesawat kargo, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, Giorgio dan yang lainnya bertahan dari segala serangan, hingga akhirnya Giorgio bertemu dengan seorang mafia narkotika, yang akhirnya membuat Giorgio harus terlibat dengan bisnis narkotika, untuk menjamin kehidupan mereka selama belum ada tanda-tanda yang akan menolong mereka, hingga tanpa terasa sudah satu tahun lebih mereka berada di sana, hingga akhirnya Giorgio di selamatkan oleh bawahannya yang bermarkas tak jauh dari negara tempat Giorgio dan yang lainnya terlibat dalam konflik natar negara tersebut.
__ADS_1
Flashback OF...
...****************...