
"Dion Ecxel"
Deg...
Dion dan Ecxel terlonjak seketika, jantung mereka berpacu tidak beraturan.
Mereka serempak menoleh dan mendekati Gerrald.
"Ada apa paman? " Tanya Dion sembari mengatur detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.
Ecxel yang biasanya banyak bicara dan bertingkah bak cacing kepanasan, namun jika dihadapkan pada keadaan seperti ini ia bungkam.
"Giorgio mana? " Tanya Gerrald menaikan satu alisnya.
"Gio di kelas paman" Jawab Dion.
"Ini kami membawakan makanan untuknya" Ucapnya lagi, sambil menunjukkan plastik yang ada di genggamannya.
Gerrald mengangguk sembari melirik sekilas kearah plastik yang ada di genggaman Dion.
"Benarkah kalian tadi pagi datang terlambat? "
Deggg... Jantung Dion dan Ecxel berpacu tak beraturan, mereka yang tadi sudah bernafas lega karena mereka fikir Gerrald tak mengetahui keterlambatan mereka.
Ecxel menepuk dahinya "bodoh.. Kau bodohh, bagaimana bisa kau berfikir paman Gerrald tidak akan tahu, sedangkan dia pemilik yayasan pendidikan ini, mata dan telinganya pun dimana mana, bahkan jika ia minta, dinding dinding pun dapat bicara" Fikir Ecxel.
Sejenak Dion dan Ecxel sibuk dengan pemikirannya masing masing.
Sejujurnya tanpa bertanya pun Gerrald sudah mengetahuinya karena tadi sudah dijelaskan oleh kepala sekolah.
Namun ia ingin melihat kejujuran kedua keponakannya itu.
Yaaaaa.... Dion dan Ecxel selain sahabat Giorgio, mereka juga adalah saudara keponakan.
Dion tersadar dari pemikirannya. "Mmm i i iya paman maaf" Jawab Dion pelan menundukkan kepala sebagai rasa penyesalan.
Tanpa bicara apapun lagi Gerrald masuk kembali ke dalam ruang kepala sekolah.
Ia sampai lupa tadi keluar hendak kemana.
Setelah bicara dengan sang paman, Dion dan Ecxel bergegas kembali ke kelas untuk memberikan makanan yang mereka beli, dan juga menginformasikan bahwa sang paman sudah mengetahui keterlambatan mereka.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Gerrald kembali keluar dan mengikuti Dion dan Ecxel secara diam diam.
Giorgio terkesiap saat mendengar semua ucapan Dion.
Dia memalingkan pandangannya keluar kelas, seketika ia memicingkan matanya saat manik elangnya bersitatap dengan sorot tajam sang ayah.
Sejenak keduanya terlibat pembicaraan dengan mengedip ngedipkan matanya, sorot mata mereka yang berbicara, seakan mata sang ayah bertanya "apa benar kau terlambat, kenapa bisa kau terlambat" Dan dengan tatapan penuh tanya.
Ping...
Bunyi ponsel Giorgio menandakan ada pesan masuk kedalam ponselnya.
"Temui ayah di ruang kerja malam nanti, ayah ingin bicara" Isi pesan yang ternyata dari ayahnya.
"Ajak juga kedua saudaramu" Pesannya lagi.
Giorgio menelan saliva saat membaca pesan dari sang ayah.
Ia bertanya tanya apa yang ingin dibicarakan ayahnya padanya dan kedua saudaranya itu.
Giorgio melirik keluar kelas, ia mencebikkan bibirnya saat sudah tak menemukan keberadaan sang ayah.
"Tasha apa hubunganmu dengan Giorgio merenggang? " Tanya Nadin yang merasa hubungan percintaan sahabatnya itu merenggang.
"Tidak, hubunganku dengan Gio baik baik saja" Ucap Natasha tersenyum manis.
Laura dan Nadin hanya ber O ria.
Sepulang dari kunjungan ke sekolah, Gerrald kembali ke rumah, karena hari ini ia tidak ada kepentingan yang mendesak.
"Sayang sudah kembali? " Tanya Guwen lembut sembari membantu melepaskan pakaian kerja suaminya.
"Hmm" Gerrald berdahem.
"Ku fikir setelah kau tak masuk sekolah dua hari, kepintaran mu menurun sayang" Seloroh Andini saat Graceva berhasil mengerjakan soal dari gurunya di papan tulis.
Nadiya menyentil dahi Andini dia tak habis fikir dengan sahabatnya yang satu itu.
"Heyy sakit kenapa kau menyentil dahiku? " Ucap Andini mengerucutkan bibirnya sedangkan satu tangannya mengusap dahinya yang terasa sedikit panas.
"Kau ini memuji Graceva, atau menghinanya? " Tanya Nadiya menatap tajam kearah Andini seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
Andini bergidik ngeri melihat tatapan tajam Nadiya.
"Hehee" Andini menyengir kuda sambil tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Graceva terkekeh melihat kedua sahabatnya itu.
"Graceva" Panggil seorang siswa seraya menepuk bahu Graceva.
Graceva menoleh saat merasa bahunya ditepuk seseorang.
"Kenapa Aldo? " Tanya Graceva.
"Apa ada yang bisa ku bantu do? " Tanyanya lagi.
"Pulang nanti ku antar ya" Aldo tak menjawab pertanyaan dari gadis itu, justru ia malah menawarkan mengantarnya pulang.
"Maaf do aku sepulang sekolah dijemput papah"
Aldo bernafas kasar saat mendengar ucapan Graceva. "Baiklah bisa lain waktu"
Graceva tidak mengiyakan namun tidak juga menolak, ia hanya berekspresi datar, dia tak ingin memberi harapan pada Aldo, karena ia tau Aldo menyukainya.
Aldo adalah salah satu siswa yang cukup berprestasi di kelas, ia tak jarang menduduki peringkat tiga besar, bersaing dengan Graceva dan Nadiya.
Ia menyukai sifat Graceva yang tidak memilih ingin berteman dengan siapapun dari berbagai kalangan.
Sore ini Graceva dijemput oleh papahnya, ia sangat bahagia, walau papahnya itu sibuk tetapi papahnya itu selalu berusaha dapat menjemput putrinya saat tidak terlalu sibuk.
Sesampainya di rumah, Giorgio masuk ke kamar, ia melempar tasnya asal ia menghempaskan tubuhnya keatas ranjang tak lama ia pun tertidur.
Giorgio terbangun saat mendengar suara ketukkan di pintu kamarnya.
Tok tok tokkk...
<<<<>>>>
Coba kau bayangkan bagaimana ekspresi Dion dan Ecxel saat Gerrald mengetahui keterlambatan mereka πππ
Bayangkan bagaimana ekspresi kebahagiaan Graceva saat sang ayah menjemputnya π€π€π€
Bagaimana tuh ekspresi Giorgio yang tidurnya terganggu dengan suara ketukkan di pintu kamarnya πππ
__ADS_1
<<<<<>>>>>