Takdir Cinta Graceva

Takdir Cinta Graceva
S2 #1


__ADS_3

Di sebuah rumah, berwarna putih, tampak seorang perempuan muda sekitar usia sembilan belas tahun sedang memperhatikan satu bayi yang sedang bermain dengan jari-jari mungilnya yang di masukan kedalam mulut kecilnya, sesekali bayi itu berceloteh sembari menunjuk-nunjuk perempuan berusia sembilan belas tahun tersebut.


"Kakak ipar"


Seorang perempuan lain kisaran usia dua puluh satu tahun, datang dan menyapa perempuan yang dipanggilnya Kakak ipar, namun perempuan yang di panggil, tak menyahut sapaannya, perempuan itu menghembuskan nafasnya kecil.


"Terjadi lagi" monolog perempuan tersebut, yang ternyata Gabriella.


Gabriella berjalan mendekati bayi yang tengah asik duduk di karpet bulu dan tengah asik bermain dengan beberapa mainannya dan menjilati jari-jari mungilnya.


"Hai keponakan aunty yang cantik" Gabriella menyentuh-nyentuh pipi gemas bayi tersebut, membuat bayi tersebut tertawa kencang, sambil berceloteh lucu, "Menggemaskan sekali" ucap Gabriella gemas dan mencubit kecil pipi bayi tersebut.


"πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚" bayi itu semakin tertawa kencang karena Gabriella, hingga bayi itu menggerak-gerakan kakinya.


"Haha, Aunty bicara dulu ya dengan Mamah"


"Mama Mamah, dada dada"


Gabriella tersenyum melihat bayi tersebut, Gabriella beranjak dan mendekat ke posisi duduk Kakak iparnya, yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Kakak ipar" Gabriella menepuk bahu Kakak iparnya, "Hmm, iya Gaby" jawab Kakak ipar Gabriella yang adalah Graceva, "Sedang memikirkan apa? " Gabriella menatap lekat wajah Kakak iparnya, Graceva tidak langsung menjawabnya, namun justru menundukkan kepalanya, "Tidak ada Gaby" tepis Graceva sambil menampilkan senyum kecutnya, "Kamu tidak bisa membohongiku Kakak ipar" jawab Gabriella menekankan setiap kata yang di ucapkan, "Kamu tidak bisa terus seperti ini, perhatikan juga putrimu" ucap Gabriella lagi, perkataan Gabriella membuat kepala Graceva mendongak dan balik menatap wajah Gabriella, "Lalu aku harus seperti apa Gaby? " tanya Graceva sambil tersenyum miris, Diam, Gabriella tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Graceva kepadanya.


"😭😭😭" Tiba-tiba Graceva menangis sesenggukan, Gabriella segera mendekap tubuh Kakak iparnya, "Tak perlu lagi di pikirkan Grace" Graceva mendongak melihat Gabriella masih dengan sesenggukan, dengan kasar Graceva. menghapus air matanya, "Jang di pikirkan bagaimana Gaby? apa kamu benar-benar yakin jika yang di makamkan benar-benar Kak Giorgio suamiku dan juga Kakak kembaranmu? " Gabriella menunduk mendengar ucapan Graceva, "Gaby, jasad yang sudah tak berbentuk itu, tak bisa membuatku untuk percaya bahwa Kak Giorgio sudah mati, justru aku merasakan bahwa Kak Giorgio belum mati, dan entah sedang berada di mana saat ini, terlebih Kak Giorgio pernah hadir dalam mimpiku" Gabriella merangkul bahu Graceva, "Aku pun berharap demikian Grace, namun ku minta kamu juga bisa memperhatikan anakmu dan juga anak Giorgio" Graceva menoleh pada bayi perempuan yang sedang menatapnya dengan kedua tangan yang di rentangkan meminta untuk di gendong, Graceva tersenyum lalu mendekati putri kecilnya dan langsung menggendongnya, "Mamah mah mah" celoteh bayi itu sambil jari-jari mungilnya menyentuh-nyentuh hidung Graceva.

__ADS_1


"Yasudah aku ke kamar, sepertinya dia ingin tidur" Graceva pergi dengan membawa putri kecilnya di gendongannya, "Dada dada" celoteh putri kecil Graceva sambil menggerakkan kedua tangan mungilnya pada Gabriella, Graceva membawa putri kecilnya ke dalam kamar, lalu membaringkan bayinya di tempat tidur.


"Sebentar ya sayang, Mamah mau mandi dulu ya, kamu yang tenang ya sayang"pamit Graceva pada putri kecilnya, Graceva meletakan dua guling besar sebagai pembatas, agar bayinya tak terjatuh ketika bayi tersebut bergerak.


"Dada Ma mah" balas bayi perempuan itu sambil menggerakkan kaki nya, seolah mengerti dengan apa yang di ucapkan Sangat Mamah.


Graceva ikut berbaring di sebelah buah hatinya, yang sudah tampak tertidur, "Sudah tidur" monolog Graceva, Graceva menatap lekat wajah mungil dan menenangkan putri kecilnya, wajah perpaduan dirinya dan juga Giorgio.


Graceva meraih Foto Giorgio dari meja yang berada di samping tempat tidur, di sentuhnya wajah Giorgio di foto tersebut, yang tampak ekspresi datar di wajah nya, bersanding dengan dirinya yang tampak mengukir senyum di foto tersebut, foto tersebut di ambil ketika pertama kali mereka mulai tinggal mandiri di apartment milik Giorgio.


"Kamu dimana Kak? aku harap dimana pun Kakak saat ini berada, selalu dalam keadaan baik, dan menepati janji mu Kak, kamu tahu Kak, jika sekarang sudah ada dia di tengah-tengah kita, sampai saat ini aku belum memberinya nama, aku ingin Kakak yang memberikan nama padanya, kamu benar-benar hebat Kak, sekali tancap langsung jadi" Graceva berceloteh pada foto yang berada di pegangannya.


Graceva mendongak melihat langit-langit kamar, kenangannya bersama Giorgio beberapa saat sebelum Giorgio pergi meninggalkannya hingga saat ini.


Pagi harinya Graceva terbangun dari tidurnya, ia menoleh pada sisi ranjang sebelahnya, yang sebelumnya Giorgio tertidur di sana, namun Giorgio sudah tak berada di sana, Graceva menepuk kasur di sebelahnya, dingin, sepertinya Giorgio sudah pergi sedari tadi, Graceva beranjak duduk dan hendak berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi dan membasuh wajah, namun Graceva meringis merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya, Graceva mengingat apa yang membuat bagian bawah tubuhnya terasa sakit, Graceva tersenyum setelah mengingat kejadian semalam, dengan susah payah, Graceva berjalan ke kamar mandi sambil menahan rasa sakit pada bagian bawah tubuhnya, Graceva berjalan menuju ruang gym yang selalu di kunjungi Giorgio sebangun tidur.


"Kak" Graceva menekan sebuah tombol di balik rak buku, seketika rak buku tersebut terbuka tak terlihatlah sebuah ruang gym yang cukup lengkap, Graceva memasuki ruangan tersebut, namun Graceva tak menemui Giorgio yang di carinya.


"Dimana Kak Giorgio? " monolog Graceva, lalu duduk di tepi ranjang, pandangannya tertuju pada ponsel, dompet, jam tangan dan kartu debit milik Giorgio yang berada di meja sebelah ranjang, "Bukannya ini milik Kak Giorgio? " gumam Graceva, Graceva mengambil semua barang-barangnya tersebut dan memindahkannya ke atas tempat tidur, terlihatlah sebuah kertas di bawah tumpukan barang-barangnya tersebut, Graceva mengambilnya dan mulai membaca kertas tersebut.


"Hai Grace, aku Giorgio, mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tak lagi berada di dekatmu, aku pamit Grace, ada keadaan darurat yang mengancam bawahanku di sebuah negara di benua Asia, aku harus kesana untuk turun tangan membantu mereka, secepatnya aku akan segera kembali Grace, terimakasih atas semuanya yang sudah kamu jaga dan berikan kepadaku, aku pergi Grace, aku menyayangimu Gace istriku β™₯" isi surat dari Giorgio.


Tanpa aba-aba, air mata Graceva luruh membasahi wajahnya, Graceva mendekap erat surat tersebut, tangisan Graceva makin mengeras tubuh Graceva bergetar, Graceva terus menangis hingga tertidur karena lelah menangis.

__ADS_1


Berbagai cara Graceva dan kedua keluarga besar Gabriel dan Wilson, berupaya untuk mengirimkan orang guna mencari keberadaan Giorgio dan seluruh orang yang di bawa Giorgio, hingga satu bulan lamanya mereka terus berupaya mencari informasi dari mereka, namun usaha mereka seperti hilang begitu saja, karena semua orang yang di kirim untuk mencari Giorgio dan para bawahannya, tak kembali ke tanah air, bertepatan itu juga, Graceva merasa aneh dengan tubuhnya yang lemas sudah beberapa hari belakangan ini, bahkan saat ini Graceva tinggal di rumah utama Gabriel.


"Hueg hueg" sudah ke sekian kalinya Graceva memuntahkan cairan bening, Guen dan Gracia yang merasa curiga dengan keadaan Graceva, kedua paruh baya tersebut meminta Graceva untuk memeriksa urinnya, dan hasilnya Graceva positif hamil muda, sejak saat itu, Gracia memutuskan untuk tinggal di rumah tersebut hingga Graceva melahirkan nanti, karena keadaan Graceva yang hamin, Gerald meminta seorang guru dari sekolah untuk khusus mengajar Graceva secara pribadi dari rumah, kehamilan Graceva membuat tubuh Graceva begitu lemah, karena Graceva tak memiliki nafsu makan yang baik, selama hamil Graceva tak mengidam apapun, seolah si jabang bayi mengerti keadaan Mamahnya.


sembilan bulan berlalu, akhirnya Graceva akan melahirkan anak pertamanya, Gracia dan Guen menemani Graceva melalui semua proses persalinan Graceva, sementara para pria dan anak-anak menunggu di luar ruangan, hingga akhirnya suara tangisan bayi terdengar kencang dari dalam ruangan dan dapat di dengar hingga keluar ruangan, Gracia dan Guen mendoakan cucu mereka setelah di bersihkan oleh perawat, bayi perempuan cantik kini berada di atas dada Graceva, saat ini Graceva sedang melakukan inisiasi mdnyusui dini, awalnya air susu Graceva tak keluar, hingga akhirnya setelah beberapa kali di hisap kuat bayi Graceva susu Graceva pun mulai mengalir, setelah satu malam Graceva di rawat di rumah sakit, akhirnya Graceva di perbolehkan pulang, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah keluarga Gabriel yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah sakit.


Sesampainya di rumah, semua orang di kejutkan oleh banyaknya peti yang berjajar di depan rumah kediaman keluarga Gabriel, Gerald memerintah seorang security untuk membuka peti-peti tersebut yang rupanya adalah mayat-mayat yang sudah tak berbentuk utuh, namun ada sebuah simbol yang membuat mereka mengenali mayat-mayat tersebut.


Duar jantung semua orang berhenti mendadak ketika melihat semua mayat tersebut, Graceva menangis kencang melihat ke sebuah peti yang berisi mayat yang di kirinya adalah Giorgio, Gerald bertanya siapa yang mengirimkan peti-peti tersebut, namun tak ada yang tahu siapa yang mengantar peti-peti tersebut.


Mulanya Gerald ingin melakukan otopsi pada mayat-mayat tersebut, namun Gerald tak jadi melakukannya karna begitu menghargai bawahannya yang sudah gugur, hari itu juga mayat-maya tersebut di makamkan dengan layak, termasuk mayat yang di duga mirip dengan Giorgio.


Flashback OF.


Di sebuah taman penuh bunga yang indah, Graceva duduk sendiri di bangku taman yang berada di sudut taman, Graceva tampak melamun memikirkan sesuatu.


"Grace" Graceva menoleh kearah orang yang memanggilnya, Graceva berbinar melihat orang yang memanggilnya, "Kak" Graceva segera beranjak berdiri dan langsung memeluk Giorgio erat, "Grace, aku pergi dulu, aku akan segera kembali" Giorgio melepas pelukan mereka lalu melenggang pergi, "Kak, Kak Giorgio" panggil Graceva sambil mengayun-ayunkan tangannya meminta Giorgio untuk tidak meninggalkan nya lagi"Kak"teriak Graceva ketika Giorgio berjalan semakin menjauh darinya, Graceva berteriak kencang, hingga akhirnya Graceva terbangun, karena merasa pipinya di tepuk-tepuk oleh sesuatu yang lembut.


"Mah mah Mamah" rupanya si kecil lah yang menepuk-nepuk pipi Graceva, "Terjadi lagi" gumam Graceva setelah terbangun dari mimpinya yang sudah beberapa kali mendapatkan mimpi yang sama, Graceva menghela nafas dan melihat jam digital di atas meja samping tempat tidur, "Sudah jam empat sore" ucap Graceva melihat angka yang berada di jam digital tersebut, Graceva tersadar jika ia sudah tertidur sejak jam du belas siang tadi, ia yang sebelumnya hanya berniat ingin menidurkan putrinya, namun justru ikut tertidur.


"Let's go mandi sayang" Graceva menggendong putri kecilnya dan fi bawa ke kamar mandi untuk di mandikan, Graceva tersenyum melihat putri kecilnya yang nampak asik bermain dengan mainan bebek dan bermain bisa di dalam bathtub, Graceva yang hanya berniat untuk memandikan bayi nya, Graceva ikut mandi karena pakaian yang di kenakan nya basah karena ulah putri kecilnya.


"Anak Mamah sudah cantik dan wangi, tunggu di sini ya sayang, Mamah ganti baju dulu" Graceva meletakan bayi kecilnya di tempat tidur, tak lupa memberi batas di kanan dan kiri tubuh putri kecilnya, setelahnya Graceva mengganti pakaiannya, lalu kembali ke tempat tidur untuk memberi makan putri kecilnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2