
"Syukurlah Anda baik-baik saja Bos, tidak ada luka dalam" ucap Mr J pada Giorgio yang sedang berbaring di atas ranjang pemeriksaan.
"Ya" sahut Giorgio.
Hari berlalu sore, dan malam pun tiba, hingga berganti hari.
"Pagi ini Anda sudah bisa pulang" dokter yang memeriksa Giorgio memeriksa keadaannya dan hasilnya semua baik, sehingga Giorgio sudah bisa pulang.
"Bagaimana dengan jasad-jasad mereka Mr J" Giorgio bertanya tentang mayat-mayat yang menjadi korban dari penyerangan itu.
"Malam tadi sudah kami kirimkan ke keluarga mereka" jawab Mr J.
"Yang lainnya dimana Mr J? " tanya Giorgio lagi, yang saat ini sedang berjalan keluar rumah sakit, hingga sampai di pintu utama rumah sakit, Giorgio tak melihat satupun bawahannya selain dirinya, Mr J dan 10 orang lainnya, sementara yang lainnya sudah tak terlihat lagi.
"Malam tadi, mereka yang tidak mendapatkan luka apapun saya perintahkan untuk kembali ke markas mereka Bos, dan yang rawat inap hanya Anda dan mereka saja Bos" jelas Mr J.
Saat ini Giorgio dan Mr J beserta ke sepuluh bawahan lainnya sedang dalam perjalanan menuju markas besar.
"Bisakah antar aku melihat pabrik persenjataan milik Gabriel? " Tiba-tiba Giorgio ingin melihat pabrik persenjataannya.
"Baik Bos" jawab Mr J dan langsung mengarahkan mobil menuju pabrik persenjataan milik Gabriel yang bergerak di bawah kepemimpinan Mr J.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan luas menyerupai sebuah gudang besar, Mr J, Giorgio dan yang lainnya segera masuk ke dalam pabrik tersebut, kedatangan mereka di sambut oleh 3 orang berpakaian lengkap dengan atribut senjata di dada, bahu dan pinggang, lengkap dengan helm di kepala.
"Selamat siang" satu orang dari ketiga orang itu berbicara dan memajukan satu langkah tubuhnya, tak lupa memberi hormat pada Mr J.
"Siang" bukan Mr J yang menjawab, melainkan Giorgio lah yang menjawab.
"Aku Giorgio, putra tunggal Gerald Alexander Gabriel, bisakah aku memasuki pabrik ini? " Giorgio memperkenalkan diri dan meminta untuk di beri ijin agar bisa masuk ke dalam pabrik tersebut,
"Maafkan kami yang tak dapat mengenali Anda Bos" ketiga orang itu membungkukkan tubuh sebanyak tiga kali sebagai permintaan maaf karena tak langsung mengenali Giorgio.
"Tentu Anda bisa masuk Bos" jawab tiga orang itu bersemangat dan membukakan pintu pabrik, dan terlihatlah tumpukan pistol, senapan dan senjata api lainnya berjajar rapih di meja-meja panjang dan berjumlah cukup banyak, dan Giorgio melihat beberapa jenis busur beserta anak panah tergantung di dinding.
"Terima kasih, secepatnya aku akan kembali ke tanah air" ucap Giorgio setelah merasa puas berkeliling di pabrik.
"Tunggu Bos, ini untuk Anda dan juga markas utama Gabriel" petinggi pabrik memberikan dua kardus besar pada Giorgio.
"Terima kasih, pisahkan dengan yang lainnya, besok biar melalui cargo saja" ucap Giorgio.
Giorgio beserta yang lainnya bergerak menuju markas besar, dan segera mengistirahatkan tubuh agar proses penyembuhan mereka lebih maksimal.
Beberapa hari kemudian, Giorgio dan para bawahannya pergi ke bandara, untuk kembali ke tanah air, Giorgio di kawal ketat oleh 100 orang anggota Gabriel Mafia yang sudah cukup terlatih.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Mr J" Giorgio menjabat tangan Mr J.
"Sudah menjadi tugas saya Bos, Berhati-hatilah dan sampaikan salam kami untuk Tuan Gerald" Mr J menyambut tangan Giorgio, dan mengantarkan rombongan Giorgio menuju pesawat yang akan mereka naiki menuju tanah air.
Pesawat pada penerbangan itu menggunakan pesawat komersil biasa, yang berkapasitas kan 100 hingga 220 orang, dan dalam penerbangan itu, terdapat 198 orang di tambah dengan awak pesawat hingga berjumlah keseluruhan terdapat 215 penumpang dalam penerbangan itu, yang setengahnya di isi oleh rombongan Giorgio, yang berjumlah 162 orang.
Pesawat yang di naiki Giorgio dan rombongan pun akhirnya terbang mengudara menuju tanah air, hingga 13 jam kemudian, pesawat tersebut mendarat dengan selamat di bandara internasional jakarta.
"Anda ingin langsung kembali ke rumah utama? " tanya seorang bawahan Giorgio yang berkepala botak.
"Markas" jawab Giorgio.
Mereka menaiki 3 bus menuju keluar bandara, dan selanjutnya menaiki taksi menuju markas utama Gabriel.
"Akhirnya, aku kembali lagi" Giorgio melihat langit di luar jendela taksi.
"Grace, apa kabar dengan mu? " batin Giorgio, dan mulai memejamkan mata untuk beristirahat sejenak.
...****************...
Besok tidak Up dulu ya, terimakasih.
__ADS_1