Takdir Cinta Graceva

Takdir Cinta Graceva
Bab 3


__ADS_3

"Bagaimana ?" Tanya seorang paruh baya dengan ekspresi datar namun tegas.


"Semua permasalahan sudah usai, namun" Jawab asisten pria paruh baya dihadapannya.


Gerrald yang mendengar jawaban menggantung dari asisten yang ada di hadapannya, ia menaikan satu alisnya.


"Apa Beng? " Tanya Gerrald yang sudah sangat penasaran dengan ucapan lanjutan asisten yang ada dihadapannya.


"Maaf tuan, kami sedikit bertindak kekerasan, karena orang itu tak bisa diajak bicara baik baik tuan" Jawab pria yang bernama Beng sambil membungkukkan setengah tubuhnya sebagai tanda penyesalan.


Gerrald yang mendengar ucapan Beng, ia menghela nafasnya kasar.


"Hmm... Aku paling tak suka jika rekan kerjaku bertindak kekerasan" Ucap Gerrald pasrah.


"Tapi tak sampai fatal kan?" Tanya Gerrald yang khawatir jika rekan kerjanya itu bertindak terlewat batas.


"Tidak tuan" Jawab Beng dengan yakin.


"Kau yakin?" Tanya Gerrald untuk memastikan.


Beng nampak menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ada yang bisa saya bantu lagi tuan? " Tanya Beng.


"Tidak, pulanglah jika kau ingin pulang" Jawab Gerrald seraya melemparkan senyum tipisnya.


Beng yang mendengar tugasnya sudah usai, lantas ia bergegas meninggalkan gedung G group menuju kerumah keluarga Gabriel.

__ADS_1


Ya memang Beng tinggal di kediaman keluarga Gabriel.


Giorgio yang terbangun di tengah malam karena perutnya lapar.


Ia pergi menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan namun, usahanya tak berjalan seperti yang ia harapkan.


Ia tak menemukan apapun yang dapat ia makan.


Ia mencari apa yang bisa ia masak lalu makan, namun lagi lagi usahanya tak membuahkan hasil.


"Mungkin dimeja makan ada yang bisa ku makan" Pikirnya.


Giorgio pun menuju meja makan, ia dapat bernafas lega saat melihat ada beberapa buah.


Ia dengan cepat membersihkan dan memotong buah buah itu untuk ia makan.


Ia menghentikan langkahnya saat mendengar suara televisi di ruang keluarga menyiarkan tayangan sepak bola.


"Siapa yang nonton Tv? " Gumamnya


Karena penasaran ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga untuk melihat siapa yang ada disana.


Giorgio terkekeh saat melihat asisten sekaligus sahabat ayahnya itu tertidur di karpet bulu yang mendominasi berwarna merah dalam keadaan TV menyala.


Giorgio pun duduk di samping asisten ayahnya itu, bukan untuk membangunkannya dan meminta agar kembali ke kamarnya.


Ia berniat nonton pertandingan sepak bola yang disiarkan dihadapannya, namun tak lama ia pun ikut tertidur disana, dan menyandarkan kepala di kaki Beng sebagai tumpuan.

__ADS_1


Giorgio sontak terbangun dari tidurnya saat ia merasa air membasahi disekitar tempat ia tidur.


Giorgio mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


Setelah mendapatkan kesadarannya Giorgio lantas berdiri.


"Siapa yang menyiram air ke arahku" Tanyanya dengan nada sedikit meninggi.


Giorgio yang tak mendapat jawaban atas pertanyaannya.


Sejenak Giorgio mengedarkan pandangannya untuk melihat siapa yang sudah berani membangunkannya dengan cara tak manusiawi.


Giorgio mengernyitkan dahinya saat pandangannya menangkap kedua sahabatnya cekikikan kearahnya.


Seakan Giorgio mengerti siapa yang melakukan hal itu.


Yaaa siapa lagi jika bukan kedua sahabatnya itu pelakunya.


Tanpa rasa bersalah dan wajah tanpa dosa, mereka berjalan mendekati Giorgio yang nampak berdiri dengan ekspresi datarnya.


"Bangun orang mah, dah jam berapa nih.. " Sewot Ecxel


"Aelah hari jum, at ini santai aja kali... "


"Yeeee,, melek makanya, dah jam 6 : 45 nih" Ucap Ecxel sambil memperlihatkan jam yang melingkar di tangannya kearah Giorgio.


Tanpa bicara apapun Giorgio bergegas untuk bersiap pergi kesekolah dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2