Takdir Cinta Graceva

Takdir Cinta Graceva
Bab 59 | Pindahan


__ADS_3

CITTTT......


Suara decitan ban mobil bergesekan dengan aspal, terdengar di sebuah jalan, Giorgio menghentikan mobilnya seketika, setelah mendengar perkataan Geraldine.


"Apa maksud kamu? "


Giorgio memelototi Geraldine dari spion tengah mobil.


"Ya itu, aku akan segera menjadi aunty, dari anak Kakak dengan Kakak ipar"


Geraldine berucap tanpa beban, tanpa melihat situasi saat ini, yang mana Giorgio sudah siap menelannya hidup hidup.


"Memangnya apa yang Kamu lihat dan yang lainnya semalam Ge? "


Graceva berusaha mencegah situasi yang akan semakin memanas, jika topik obrolan tak di alihkan.


"Kak, kembali lanjutkan perjalanan, kami sudah hampir terlambat"


Graceva berkata dengan nada biasa, namun entah mengapa ucapan itu terdengar seperti sebuah titah di telinga Giorgio, yang mana jika tak di lakukan, entah apa yang akan terjadi padanya nanti.


"Kami melihat di cctv, jika Kakak, dan Kakak ipar, tidur berpelukan, dengan selimut menutupi hampir sebagian tubuh Kalian, jadi kami berpikir jika Kakak sudah melakukan yang di namakan dengan malam pertama kak"


"Kami? Jadi yang lain pun menduga hal yang sama dek? "


Giorgio melirik Graceva yang duduk di sampingnya, bertanda jika ia setuju dengan pertanyaan yang di lontarkan Graceva pada Geraldine adiknya.


"Hmm"


Dengan polosnya Geraldine menjawab, dan kepalanya mengangguk beberapa kali, dengan wajah tanpa dosanya, sementara Giorgio dan Graceva hanya diam tak berkomentar apapun lagi, hingga membuat suasana di mobil tersebut kembali hening dan canggung, hingga mobil tiba di sekolah.


Geraldine langsung keluar dari dalam mobil, begitupun dengan Graceva, ia hendak turun dari mobil, namun tangan Giorgio menahannya.


"Apa kak? "


Graceva menatap Giorgio dengan kening berkerut.


"Mulai malam ini dan seterusnya kita akan tinggal di apartment, kau dan aku sudah menikah jalan delapan bulan, dan selama ini kita tinggal di rumah orang tuaku, dan itu tak adil untuk orangtuamu"


Giorgio menyampaikan apa yang ingin di sampaikan, perkataan Giorgio membuat Graceva tersenyum tipis.


"Kamu mau Grace? "


Graceva tampak mengukir senyum, kepalanya pun terlihat mengangguk.


"Ada lagi Kak? "

__ADS_1


"Tidak"


Graceva segera berlari menuju kelas, sebab pembelajaran akan segera dimulai.


Hari itu Graceva dan Giorgio menjalani aktivitas keduanya seperti biasa, Graceva bersekolah seperti biasanya, begitulah pun Giorgio disibukan dengan usaha minimarket miliknya dan juga hotel milik Ayahnya.


Siang harinya, seperti biasa Giorgio menjemput Graceva dan Geraldine, di mobil Geraldine menceritakan kegiatannya di sekolah hari ini dengan antusias, Giorgio dan Graceva hanya diam mendengarkan, hingga tiba di depan pelataran rumah.


"Terimakasih kak, bye kakak ipar"


Geraldine turun dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Kamu yakin Grace, akan tinggal berdua hanya denganku di apartment? "


"Iya kak"


Graceva tersenyum manis dan mengangguk.


Keduanya masuk ke dalam rumah, terlihat Geraldine sedang berbicara dengan ekspresi antusias bersama Guen.


"Sudah pulang? "


Guen menoleh sekilas pada Giorgio dan Graceva, hanya di tanggapi anggukan oleh keduanya, mereka terus melangkah menuju kamar, mereka bergantian membersihkan diri.


Giorgio dan Graceva mengemasi pakaian dan memasukannya ke dalam dua koper berukuran sedang.


Graceva mendekati Giorgio, berniat untuk membantu.


"Sudah Grace, ayo kita berpamitan dengan yang lain, Buku-buku sekolahmu tidak ada yang tertinggal? "


"Iya kak, sudah"


Kedua anak manusia itu menuruni anak tangga dengan menarik koper masing-masing.


Guen melihat anak dan menantunya yang turun dari atas dengan membawa koper, membuat Guen terkejut.


"Kalian mau kemana? "


Graceva tersenyum, kepalanya melirik Giorgio yang berdiri di sampingnya, sementara Giorgio hanya tersenyum tipis pada Guen.


"Kami sudah memutuskan untuk mandiri Bun"


Giorgio menjawab dengan kaki yang terus melangkah menuju sofa, diikuti Graceva, kemudian mereka duduk bersebelahan dengan Guen, Geraldine yang tadi sepulang sekolah nampak duduk berbincang dengan Guen, kini sudah tak nampak di ruangan tersebut.


"Bunda senang mendengarnya, jadi saat ini kalian mau pindah kemana? "

__ADS_1


Guen tersenyum, tampak terukir raut bahagia di wajahnya.


"Apartment ku Bun"


Jawab Giorgio mantap.


"Bunda mengizinkan dan merestui kalian, Ayah saat ini sedang berada di luar, kalian mau pergi sekarang? ”


Graceva melirik Giorgio di sebelahnya.


" Sekarang Bun"


Guen tersenyum mendengar jawaban Giorgio.


"Yasudah, nanti jangan lupa kabari Ayah Gio, dan kamu Grace nanti kabari juga orangtuamu"


"Baik Bun"


Jawab Giorgio dan Graceva bersamaan.


"Satu pesan Bunda untuk kalian, jangan pernah ada satu kebohongan pun di dalam pernikahan kalian"


Giorgio dan Graceva mengangguk mantap, Guen melepas Giorgio dan Graceva untuk hidup mandiri, Guen memeluk anak dan menantunya, memberikan sebuah kepercayaan pada keduanya.


Giorgio dan Graceva pergi setelah berpamitan pada Guen, Giorgio diberikan satu unit mobil oleh Bunda, sebuah mobil yang menjadi hadiah ulang tahun Giorgio yang ke tujuh belas tahun, Giorgio memarkirkan mobil di tempat parkir, kemudian keduanya segera menuju apartment yang akan menjadi tempat tinggal keduanya.


Graceva membuka pintu apartment, kedua koper berada di kedua tangannya, mereka masuk lalu meletakan koper di dalam lemari, mereka belum sempat untuk merapihkan pakaian di dalam lemari, Giorgio dan Graceva berbaring di tempat tidur, mata mereka menatap langit-langit kamar.


"Malam ini Kakak akan tidur sekamar denganku? ”


Suara Graceva membuka obrolan.


" Iya, memang kamu tak suka jika tidur sekamar denganku Grace? "


Giorgio balik bertanya, kini kepalanya menghadap pada Graceva dengan kening berkerut.


"Tidak Kak, bukan seperti itu"


sergah Graceva cepat, dan Giorgio tersenyum tipis.


"Sejujurnya awal kita menikah, aku merasa tak nyaman jika kamu tidur sekamar denganku, namun seiring berjalannya waktu, aku dapat menerima keberadaan mu dan mulai merasa nyaman dekat dengan mu dan mulai merasa tak bisa jauh dari mu Grace"


"Aku pun begitu Kak"


Pipi Graceva bersemu merah.

__ADS_1


Giorgio tersenyum, jawaban Giorgio membuat Graceva menoleh, membuat mata keduanya saling bertatapan, tanpa sadar mereka mengikis jarak, dan perlahan bibir mereka pun bertemu.


...****************...


__ADS_2