
...Status seorang wanita sebagai ibu rumah tangga, merupakan karir yang paling mulia, dan disana banyak ladang pahala. ...
...☘️...
Melihat jari Khadijah dengan lelehan darah di ujung jari nya, seketika membuat Aksara berjongkok dan langsung menyesap jari telunjuk Khadijah yang tengah terluka. Membersih kan sisa-sisa darah di ujung jari istrinya.
Sengaja atau hanya reflek saja, namun Khadijah begitu terkejut dengan tindakan Aksara.
Entah karena sebab apa namun Khadijah merasakan dunia nya berhenti seketika, tatkala Aksara menyentuh tangan nya, dan hangat bibir Aksara menyentuh permukaan kulit nya, hal itu seketika membuat debaran jantung yang sulit Khadijah definisikan arti nya.
Bahagia ?. Tentu saja, Setidaknya tindakan kecil dari Aksara, sudah cukup menjelaskan pada Khadijah jika Aksara perduli pada diri nya.
"Bodoh !!" Umpat Aksara.
Meski tengah mengumpat, namun Khadijah begitu terkejut tatkala Aksara mengangkat tubuhnya begitu saja. Membopong tubuh Khadijah dalam pelukan nya.
Hingga untuk sesaat Khadijah hanya bisa terdiam, tidak percaya jika Aksara akan melakukan itu untuk diri nya. Untuk pertama kali pula Khadijah bisa memandangi wajah suaminya yang saat ini begitu dekat dengan dirinya.
Jujur saja Khadijah masih tidak mengerti, Bukankah hanya jari tangan nya saja yang terluka, tapi kenapa Aksara harus mengangkat tubuhnya.
Aksara terlihat menyingkirkan sisa kaca dengan sendal yang dia kenakan, dan berlalu meninggalkan dapur , masih dengan Khadijah dalam gendongan nya.
"Jangan GR !!"
"Aku hanya tidak ingin kaki mu yang jelek itu, terkena pecahan kaca !!"
Khadijah hanya menghela nafas nya saja, jujur memang sakit rasanya di hina, hanya saja Khadijah menilai kebaikan Aksara dari tindakan baik nya, bukan dari ucapan yang begitu menyakitkan di hati nya.
'Dari mana juga Aksara mengetahui kaki Khadijah jelek', Batin Khadijah. Sementara Khadijah selalu menutupi dengan gamis panjang nya, tidak jarang mengenakan kasut di kaki nya.
Hingga tanpa terasa Aksara sudah menurunkan Khadijah di kamar nya, tepat dia atas tempat tidurnya pula.
"Makasih mas" Ucap Khadijah.
Namun nyatanya ucapan Khadijah tidak bersambut baik dari sang suami, Karena Aksara lebih dulu berlalu dan pergi meninggalkan kamar nya.
Menyadari keteledorannya, Khadijah hanya bisa merasakan sisa perih yang masih berada di ujung jari nya. Tidak lebar, hanya saja, seperti kaca yang menancap sebelum nya cukup dalam .
Melihat arah jam di dinding, masih ada kurang lebih 2 jam hingga waktu subuh datang. Khadijah memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya kembali, melepas dan meletakkan cadarnya di meja samping tempat tidur.
Meski merasa tidak nyaman di bagian jari, perlahan Khadijah merebahkan tubuhnya diatas kasur, berharap sakit nyabakan hilang dengan sendiri nya.
Ceklek.
Belum sempat Khadijah memejamkan mata nya, dia kembali harus di kagetkan dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka begitu saja.
__ADS_1
Terkejut ?. Tentu saja. Hingga untuk sesaat Khadijah terdiam. Melihat sosok di hadapannya.
'Kenapa dia kembali lagi' pikir Khadijah dalam hati.
Tidak hanya Khadijah yang terkejut, nyatanya Aksara juga begitu terkejut, melihat untuk pertama kali nya wajah Khadijah, jelas tanpa penutup nya.
'Apa ini ?'
'Tidak mungkin ini dia'
'Kenapa dia sangat --'
Aksara menghentikan pikiran liar nya, tidak ingin kekaguman menguasai hati kecil nya, meski tidak di pungkiri Khadijah begitu cantik di mata nya.
Jujur saja dia tidak menyangka jika di balik kain penutup itu ada bidadari yang ternyata itu istri nya.
Aksara tersadar sepenuhnya tatkala melihat Khadijah kebingungan mencari cadar nya.
Dengan wajah dingin dan menyebalkan nya, Aksara mendekat dan duduk di samping Khadijah yang tertunduk karena rasa malu.
"Kamu cari ini ?"
Cadar yang sedari tadi di cari Khadijah ternyata jatuh di bawah meja, dan saat ini Aksara memberikan nya pada Khadijah.
Cepat-cepat Khadiah menerima dan kembali mengenakan nya. Bukan apa-apa hanya saja mungkin belum terbiasa. Terlebih mengingat jika mungkin saja Aksara tidak menyukai nya.
Deg.
Pertanyaan yang seketika membulatkan kedua bola mata Khadijah. Jujur memang tidak perlu, hanya karena Khadijah sungkan saja sepertinya.
Sementara Khadijah yang tidak cukup memiliki keberanian untuk mengatakan, memilih untuk tetap diam dan tetap kembali melanjutkan untuk menggunakan cadar nya.
Tanpa permisi, Tangan Kekar Aksara menarik lengan Khadijah. Aksi nekat suaminya cukup membuat Khadijah kaget sepertinya, Entah apa tujuan nya Aksara menarik tangan Khadijah yang sebelumnya terluka.
"Jangan GR !"
"Aku hanya ingin memberikan plester pada luka nya"
Terdengar pelan dan dingin suara Aksara memasuki pendengaran Khadijah.
Jujur saja mendapatkan perlakuan manis dari suami nya, Khadijah begitu merasa bahagia, bahkan sempat bersarang dalam otak nya , jika Khadijah menginginkan perhatian lebih dari suami nya.
"Tidurlah. Tidak usah kelayapan malam-malam"
Pesan yang sempat Khadijah dengar dari mulut suaminya. Entah apa maksudnya, hanya saja hati kecil Khadijah menghangat mendengarnya. Meski tidak secara langsung, Khadijah merasa ucapan Aksara, Semacam suami yang begitu protektif pada istri.
__ADS_1
"Terima kasih mas"
Meski Aksara telah berlalu meninggalkan nya, Khadijah tidak lupa mengucapkan kata itu pada suami nya.
"Em"
Suara Aksara terdengar dari ambang pintu kamar Khadijah. Samar namun masih jelas terdengar.
***
Pagi-pagi sekali Khadijah telah berada di dapur, meski semalam baru saja mengalami tragedi kecil di tangannya, hal itu tidak menyurutkan niat nya untuk melayani keluarga baru nya.
Khadijah baru saja selesai membereskan sisa kekacauan semalam, jujur saja Khadijah khawatir, Mbok Nah akan mengalami hal yang sama dengan dirinya.
"Mba Dijah istirahat saja, biar mbok yang teruskan masak nya"
Mendengar ucapan Asisten rumah tangga tersebut, Khadijah hanya mengulas senyum kecil di wajah nya.
"Nggak papa mbok, lagian Dijah bosan di kamar terus"
Keduanya tampak bekerja bersama, menyelesaikan sisa masakan yang belum matang sepenuh nya.
Masih begitu pagi, bahkan Masakan yang sudah jadi belum di hidangkan di meja, Khadijah mendapati suaminya begitu terburu-buru, 'Mau kemana' batin Khadijah dalam hati nya.
Namun melihat tampilan sang suami yang begitu rapi, agak nya Khadijah tahu jika Aksara akan ke kantor nya, 'Tapi kenapa lagi sekali' pikir Khadijah lagi.
"Mas Aksa memang selalu ke kantor pagi Mba. Dia itu tipe pekerja keras, Apa lagi setelah bapak tidak bekerja, dia yang menjadi harapan satu-satu nya keluarga"
"Tapi di tangan Mas Aksa, semua usaha yang di rintis pak Lukman berkembang dengan begitu pesat"
Entah apa maksudnya, Namun ucapan Mbok Nah nyatanya begitu menjawab rasa penasaran di hati Khadijah.
"Mbok nah tahu dari mana kalau Dijah lagi mikirin mas Aksa ?" jujur saja Khadijah penasaran.
"Lah itu matanya nggak kedip liatin Mas Aksa"
Deg.
Malu sekali rasa nya, nyatanya Mbok Nah diam-diam mengamati diri nya. Dan Khadijah hanya bisa tersenyum dibalik kain penutup wajah nya.
"Mbok bentar ya"
Khadijah lantas berlari menyusul Aksara yang sudah berada di teras rumah seperti nya, Namun langkah nya kalah cepat dengan Supir yang telah menutup pintu mobil Aksara.
Mobil di hadapan nya berlalu begitu saja, meninggalkan Khadijah yang berdiri di ambang pintu rumah megah itu.
__ADS_1
Tidak ada tujuan lain, Khadijah hanya ingin mencium punggung tangan suami nya saja. Seraya berharap dan berdoa untuk kelancaran pekerjaan dari suami nya.
***