
...Ketika dalam kesulitanmu orang-orang meninggalkanmu, itu bisa jadi karena Allah sendirilah yang akan membantumu...
... Imam Syafi'i ...
...☘️...
Melihat sikap berani dari Khadijah, Marissa pun merasa cukup terkejut, dia tidak menyangka jika wanita seperti Khadijah yang mengenakan penutup di bagian seluruh tubuhnya, akan berani menentang dirinya.
Namun lagi begitu Marissa pun tidak sedikitpun merasa takut terhadap Khadijah, bahkan terhadap status istri yang telah disandang Khadijah sekalipun.
Marissa menatap tajam Khadijah dari atas sampai ke bagian bawah, agaknya semua yang ada dalam penglihatannya, bukanlah sesuatu yang disukai oleh Aksara, dan Marissa yakin akan hal itu.
"Jadi ini istri kamu ?"
Masih dengan tatapan tajam nya Marissa bertanya pada Aksara.
"Aku tidak menyangka jika setelah tidak denganku, seleramu berubah"
Ucapan bernada ejekan keluar begitu saja dari mulut Marissa, dan entah mengapa, mendengarnya saja Aksara merasa tidak suka.
Aksara merasa Marissa tidak hanya tengah mempermalukan Khadijah, namun juga seolah dia tengah memperoleh dirinya.
"Bukan urusanmu" Ucap Aksara, tidak kalah tajam menatap Marissa.
"Santai saja Aksa !, aku hanya tidak menyangka seleramu Ternyata jauh berbeda dengan dugaanku"
Terdengar tawa dari mulut Marissa, dan hal itu pun jelas didengar oleh Aksara dan Khadijah. Menyadari hal itu Khadijah pun tertunduk, jujur memang mungkin dirinya bukan selera Aksara, namun tidak ada yang salah dengan cadar yang dikenakannya.
"Tidak perlu membahas soal selera, karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalamnya, sama seperti dirimu yang aku tidak pernah tahu ternyata begitu busuk hatimu"
Terdengar begitu tajam lidah Aksara mengatakan hal itu pada Marissa, jujur saja Aksara memang telah menantikan kesempatan, untuk mengatakan semua itu pada Marissa, mantan kekasih yang telah meninggalkan dan mencampakkan dia begitu saja.
"Honey. Percayalah ini hanya kesalahpahaman saja !!"
Tidak terima dengan apa yang dikatakan Aksara, Marissa berusaha untuk meyakinkan mantan kekasihnya jika semua yang terjadi di antara mereka hanya karena kesalahan yang tidak di sengaja.
Mendengar ucapan Marissa, Aksara hanya mengulas senyum kecil di bibirnya. Meski dia pernah begitu sangat mencintai Marissa, namun Aksara tentu tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
"Jangan menilai orang dari apa yang tampak di luarnya saja, dan saranku, sebaiknya kamu introspeksi diri terlebih dahulu, sebelum mengatakan hal itu !!"
__ADS_1
"Oh ya !. Satu lagi, jangan memanggilku dengan kata itu, karena di antara kita sudah tidak lagi ada apa-apa !!!"
Mendengar ucapan Aksara, Marissa pun membelalakkan kedua bola mata nya, seolah tidak percaya jika Aksara akan benar-benar mengatakan hal itu pada nya, sebab seingat Marissa , Aksara begitu sangat mencintai dirinya.
Sementara Khadijah, tentu dia merasa begitu bahagia, sebab apa yang dikatakan oleh Aksara, tentu sangat tegas, dan cukup meyakinkan dirinya, jika Aksara tidak akan lagi tergoda dengan sosok wanita yang saat ini tengah berdiri tepat di sampingnya.
Bukan tidak iba terhadap kesedihan yang dialami oleh Marissa, hanya saja rasa cintanya pada Aksara tentu tidak dibenarkan, sebab Aksara telah memiliki Khadijah. Tentu sangat tidak dibenarkan jika Marissa masuk dan mengganggu.
Khadijah merasa kekhawatiran yang sempat dia rasakan sebelumnya, kini sirna begitu saja, dengan kalimat demi kalimat penolakan Aksara pada mantan kekasihnya.
Meski Marisa terkesan begitu memohon, namun Khadijah melihat Aksara pun juga tegas dalam keputusannya.
Merasa sudah cukup perbincangan antara dirinya dengan Marisa, Aksara pun bergegas meraih pergelangan tangan Khadijah dan berlalu meninggalkan mantan kekasihnya. Disusul dengan Dion yang langsung berjalan di belakang keduanya.
Sikap Aksara tersebut tentu menuai kemarahan di hati Marissa, sebab apa yang dia inginkan, tidak sesuai dengan kenyataan yang dia dapatkan.
Beberapa kali bahkan terdengar Marisa menghentakkan high hells nya, terlihat betapa dia begitu marah dan kecewa pada Aksara.
"Aksa !!"
"Aksara!!"
Sementara Khadijah masih tampak tidak percaya dengan situasi yang ada, meski Aksara saat ini tengah menggenggam tangannya, namun rasanya ini masih sangat sulit untuk dipercaya oleh Khadijah.
"Mas, tunggu"
Suara lirih Khadijah, seketika menghentikan langkah Aksara, Aksara pun kemudian berbalik dan menatap sosok wanita di belakangnya.
"Pelan-pelan saja Mas jalannya !"
Khadijah tertunduk dengan memegangi baju panjangnya. Jujur dia sungkan untuk mengatakan nya, namun tidak mungkin juga dia tidak mengatakan ada Aksara jika dia kesulitan berjalan dengan setengah berlari.
Untuk yang kedua kalinya Aksara mendengar suara lirih dan lembut dari Khadijah, Aksara menyadari jika Khadijah sulit mengimbangi langkah kakinya sebab sedari tadi Aksara terus saja menarik Khadijah tanpa memperdulikan dia yang tengah mengenakan gamis panjangnya.
Aksara pun terkekeh melihat sikap Khadijah yang begitu polosnya.
"Mas !"
Belum sempat Aksara kembali melangkahkan kakinya, Khadijah kembali menghentikan Aksara dengan panggilan nya.
__ADS_1
"Ada apa. Kamu mau protes, kita jalan saja belum !"
"Bukan itu mas"
Terlihat ragu Khadijah untuk mengatakannya hal itu, dan seketika membuat Aksara merasa penasaran dengan apa yang ingin istrinya sampaikan padanya, Aksara pun menautkan kedua alisnya, hingga menampakkan guratan-guratan halus di kening nya.
Terlihat Khadijah meraih sesuatu dari dalam tas kecilnya.
"Mas meninggalkan ini di kamar kita sebelumnya"
Khadijah pun lantas menyodorkan sebuah buku kecil yang sempat dia berikan pada Aksara saat berada di kediaman Abah dan Umi Amina.
Melihat hal itu, Aksara pun semakin menautkan kedua alisnya, menatap tajam pada Khadijah, namun pada akhirnya Aksara hanya diam saja.
Aksara memilih berlalu meninggalkan Khadijah dan berjalan menuju pintu masuk. Sementara Khadijah yang merasa bingung dengan sikap Aksara hanya bisa berlari mengejarnya, dan menanyakan Di mana letak kesalahannya, sebab Aksara terlihat begitu murka saat Khadijah mengatakan dan memberikan buku itu padanya.
'Bukankah memang ini yang diinginkan Mas Aksa' pikir Khadijah dalam hati.
Bukankah ini pula yang menjadi tujuan Aksara menikahi Khadijah, untuk mengikatnya agar Keluarga abah dan Umi Amina tidak dan menghilangkan tanggung jawab pada perusahaan Aksara.
Namun Kenapa saat ini Aksara justru terlihat begitu marah dan murka pada ucapan Khadijah.
"Mas. Mas Aksa !!"
Khadijah pun mengejar Aksara dengan sedikit berlari, sebab langkah kakinya Tentu saja tidak bisa mengimbangi langkah jenjang Aksara yang berjalan dengan begitu cepatnya.
"Mas. Lalu ini bagaimana ??" Bingung Khadijah.
Sebab tujuannya Khadijah menyusul Aksara tentu adalah untuk menyampaikan pesan Abah dan Umi Amina, untuk memberikan uang itu kepada Aksara. Namun entah mengapa justru kemarahan yang Khadijah saat ini terima.
"Mas !!!"
Setelah berhasil mengimbangi Aksara, Khadijah pun meraih tangannya dan seketika hal itu membuat Aksara menghentikan langkahnya.
"Bukankah ini yang Mas Aksa inginkan !!"
Khadijah memberanikan diri untuk mengatakan hal itu, meski sebenarnya dia ragu. Karena tidak mungkin Khadijah terus mengejar Aksara sementara dia pun diabaikan olehnya.
Mendengar ucapan Khadijah sebelumnya, tentu Aksara semakin tajam menatap Khadijah. Hingga Aksara pun mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Khadijah.
__ADS_1
***