TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH


__ADS_3

...Yang baik biarkan. Yang buruk tinggalkan. Yang datang silahkan. Yang pergi Ikhlaskan. Yang cinta pertahankan, Tidak kuat Lepaskan....


...☘️...


Tidak salah lagi suara yang sebelumnya Aksara dengar tengah memanggilnya, benar merupakan Khadijah, 'istri nya'.


Belum hilang rasa terkejut Aksara sebab suara Khadijah begitu mengagetkan dirinya, saat ini Aksara kembali dikagetkan dengan penampilan Khadijah.


Aksara terperangah.


Untuk sesaat Aksara bahkan tidak bisa mengedipkan mata nya. Melihat Khadijah yang begitu mempesona dan sangat luar biasa dalam benak nya.


Tidak hanya Aksara saja, namun nyatanya Marissa pun juga tampak tidak percaya melihat wanita di hadapan nya. Wanita yang sangat jauh berbeda dari pertama kali Marisa melihatnya.


Sempat tidak percaya jika yang berada di hadapannya adalah Khadijah, namun Marissa seketika meyakini jika sosok tersebut benar merupakan 'Khadijah', sebab tidak ada orang lain lagi selain mereka bertiga disana.


"Mas..."


Suara lembut Khadijah seolah membius mata Aksara, hingga dia begitu tergoda, dan tidak dapat memalingkan mata nya, lingerie hitam dengan belahan dada yang terlihat mengekspos sebagian besar bagian sintal Khadijah, membuat Aksara kesulitan menelan ludah nya.


Glug.


Aksara memang pernah melihat Khadijah mengenakan pakaian yang sama, namun saat itu bagian bahu dan dadanya tertutup oleh inner dari lingerie yang di kenakan nya. Sementara saat ini semua terlihat jelas dan terpampang nyata di depan matanya.


Setelah menatap manja suami nya, Khadijah pun mengarahkan mata nya pada sosok wanita yang ada di belakang Aksara.


"Upss. Mba Marissa ada di sini juga ya?!"


Tanya Khadijah dengan nada menyindir wanita di balik tubuh suami nya. Khadijah dengan sengaja menutup bibirnya dengan satu tangan nya. Menatap Marissa dari atas sampai ke bawah, berulang kali dia lakukan, sama seperti yang pernah Marissa lakukan pada dirinya saat di bandara.


Khadijah pun lantas menarik tubuh Aksara, perlahan namun pasti, Marissa pun melepaskan pegangan tangannya pada Aksara, dan setelah Aksara berada tepat di hadapan Khadijah, tanpa rasa malu dan ragu Khadijah bergelayut manja begitu saja. Tanpa memperdulikan keberadaan Marissa yang juga tentu masih berada di sana.

__ADS_1


Bahkan tanpa ragu, Khadijah mengalunkan kedua tangannya di leher suami nya, bergelayut pada Aksara dengan senyuman yang sangat menggoda.


Memberanikan diri mengusap lembut dada kekar sang suami, tidak lupa Khadijah semakin mengeratkan tubuhnya pada Aksara.


Melihat sikap agresif Khadijah tentu saja Aksara masih tidak percaya, namun tidak di pungkiri dia begitu menyukai nya.


'Entah lah'. Khadijah hanya bersandiwara ataukah Memnag ini benar-benar sifat nya, yang jelas Aksara begitu menikmati nya.


Aksara pun tidak mau kalah dari Khadijah, hingga tanpa aba-aba dia melingkarkan tangan nya di pinggang ramping Khadijah.


Sontak hal itu juga seketika membuat Khadijah merasa geli.


"Mas. Jangan di sini, kan malu"


"Kenapa begitu ?" Tanya Aksara dengan senyum di wajah nya.


"Aahhh... Malu Mass...!!"


Melawan wanita seperti Marissa tentu tidak bisa dengan kekerasan atau umpatan, namun Khadijah memilih untuk menyadarkan Marissa, siapa dirinya di dalam hidup Aksara, dan memiliki posisi apa dalam hati nya.


Nyatanya hal itu manjur membuat Marissa kebakaran jenggot, terlebih penampilan Khadijah di dukung dengan akting Aksara yang seolah menyempurnakan drama percintaan mereka.


"Bagaimana jika di sana saja ?"


Tunjuk Khadijah pada kamar yang sebelumnya di tempati mereka berdua.


Melihat bagaimana Khadijah bermesraan dengan Aksara, tentu saja hal itu membuat Marissa merasa tidak suka. Bahkan rasanya Marissa ingin sekali memisahkan Khadijah dari tubuh Kekar Aksara


Tanpa pikir panjang Aksara pun menganggukkan kepala nya, seraya mengangkat tubuh ramping Khadijah. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan Marissa saat ini, sebab Aksara hanya memikirkan Khadijah saja, wanita halal yang saat ini sangat ingin dia buat bahagia.


"Masss..."

__ADS_1


Khadijah tidak menyangka jika Aksara akan begitu memperlihatkan ketertarikan pada dirinya, meski di depan Marissa sekalipun, bahkan saat ini mungkin Aksara menganggap jika dunia hanya milik berdua.


Niatnya Khadijah hanya ingin memberi pelajaran pada Marisa saja, justru saat ini Aksara benar-benar tergoda pada diri nya.


Jujur, mendengar setiap ucapan Marissa yang selalu mengatakan jika Khadijah bukan wanita tipe Aksara, secara tidak langsung mengisyaratkan jika dia tidak pantas bersama Aksara, sebab Khadijah mengenakan cadar dan hijab besar, tentu membuat Khadijah ingin menunjukan pada Marissa jika semua itu tidak lah benar.


Justru yang tersimpan dalam cadar nyatanya ada lelah sesuatu yang besar, dan dapat membuat Aksara bergetar. Point' yang ingin Khadijah sampaikan pada Marissa meski tidak secara langsung dengan ucapan nya.


Benar saja, penampilan Khadijah saat ini nyatanya tidak hanya bisa membius mata Aksara saja, namun Marissa pun tampak shock melihat nya.


Dan tentu saja penampilan Khadijah semakin mengobarkan api di dalam hati Marissa, Kulit wajah dan tubuh Khadijah terlihat putih dan bersih, wajah tanpa riasan dan rambut hitam yang tergerai panjang tentu membuat Marissa membandingkan antara dirinya dengan Khadijah yang nyatanya jauh berbeda.


'Sial' gumam Marissa dengan mengeratkan gigi nya.


Marissa sendiri hanya bisa menatap kepergian Aksara dengan Khadijah yang semakin lama menghilang di balik pintu kamar mereka.


Sedih ?, sudah pasti. Hanya saja semua sudah terjadi. Dan Aksara telah benar-benar menjadi milik wanita lain, mengingat wanita itu adalah Khaijah rasanya akan sulit bagi Marissa untuk kembali menguasai hati mantan kekasihnya.


Kekesalan Marissa membuat dia menghentikan kakinya berulang kali, dengan mengacak rambut nya, menyadari kekalahan dirinya bahkan sebelum berperang dengan Khadijah.


Disela-sela kemarahan nya, tiba-tiba saja Marissa di kagetkan dengan dering ponsel nya, yang tentu saja membuyarkan fokusnya pada Aksara.


Marissa pun melongo pada ponsel yang ada di tangannya, sebuah nama yang tidak asing tengah menyambungkan panggilan telepon pada dirinya.


Marissa pun celingukan.


Wajah nya pucat seketika, menyadari jika mungkin saat ini bukan waktu yang tepat bagi dia untuk melakukan panggilan dengan sosok di ujung telepon sana.


Namun sedetik kemudian wajah pucat tersebut menjadi merah karena menahan amarah, sebab dering telepon tersebut terus saja berbunyi dan memaksa Marissa untuk mengangkat nya.


***

__ADS_1


__ADS_2