TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 78. MAAF


__ADS_3

Senja semakin menyelimuti kota, pertanda malam akan segera tiba. Kepanikan di hati Khadijah sirna begitu saja tatkala Aksara tiba-tiba memeluk dirinya.


Sempat merasa panik dan takut dengan tatapan Aksara, ditambah tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut suaminya membuat Khadijah merasa jika Aksara mungkin saha sangat marah pada dirinya.


Namun kekhawatiran itu menghilang begitu saja, tatkala hangatnya tubuh Aksara yang erat memeluk dirinya.


Degup jantung Aksara terdengar jelas di telinga Khadijah, entah karena marah atau Aksara tengah mengkhawatirkan dirinya yang jelas Khadijah merasa Aksara menyimpan sesuatu dalam hatinya.


"Mas"


"Malu, di lihat orang"


Bisik Khadijah dalam pelukan Aksara, menyadari banyaknya Padang mata yang tengah menatap pada mereka.


Namun bukan mendengar kan ucapan Khadijah, justru Aksara semakin mengeratkan pelukan nya. Dan hal itu membuat Khadijah tak berdaya dan terpaksa diam dan memilih menyembunyikan wajahnya dalam dada kekar Aksara.


***


Dua anak manusia yang tengah saling menyimpan kekecewaan namun juga nyatanya saling menyimpan kekhawatiran.


Bagaimana tidak, meski telah bertemu dan sempat saling berpelukan Khadijah dan Aksara hanya saling diam.


Suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi, sepanjang perjalanan Aksara terus saja fokus pada kemudi nya, sementara Khadijah memilih membuang pandanganya.


Jujur saja Khadijah merasa kecewa, namun untuk membuka suara, rasanya pun juga enggan seperti nya.


Hingga rintik hujan yang seketika mengguyur ibukota membuat Khadijah seketika berdoa, dan saat itu pula membuyarkan lamunan nya.


"Bukankah seharusnya ada yang mas Aksa harus jelaskan pada ku ?"


Meski ragu, namun Khadijah memilih untuk memulai perbincangan diantara mereka, sebab Khadijah paham jika orang seperti Aksara tidak akan semudah itu menjatuhkan wibawanya.


Belum mendapatkan jawaban, Khadijah justru mendengar helaan nafas dalam dari sosok laki-laki di sampingnya.


Cukup paham akan agama, membuat Khadijah tidak serta Merta berbicara kasar pada Aksara, sebab apa yang sebelumnya dia lihat tentu ada alasannya, meski sebelumnya Khadijah cukup terkejut dengan pemandangan Aksara bersama mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Maaf"


Meski terdengar pelan, namun Khadijah tentu sangat jelas mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Aksara


Mendengar hal itu, Khadijah pun hanya menautkan kedua alisnya, sekilas menatap pada manik mata Aksara, Jujur saja ingin sekali rasanya Khadijah menuntut penjelasan darinya.


Suasana tampak hening, setelah Khadijah tak bereaksi apa-apa pada Aksara. Helaan nafas Aksara saja yang terasa mendominasi suasana.


Raut bersalah semakin terlihat menghiasi wajah Aksara, sebab tidak biasanya Khadijah mendiamkan nya. Bahkan saat Aksara dulu tidak memperdulikan Khadijah, tidak sekalipun Khadijah mengabaikan nya, seperti saat ini.


"Percayalah, apa yang kamu lihat sebelumnya tidak seperti itu sesungguhnya"


Masih mendapatkan respon diamnya Khadijah, Aksara memilih tetap meyakinkan istirnya, Aksara meraih tangan Khadijah, dan mendekapnya erat dalam genggaman.


"Aku tidak tahu bagaimana Marissa bisa masuk kedalam kantor ku, bahkan bisa masuk kedalam ruangan ku"


"Aku mohon percayalah"


Terlihat Aksara menundukkan wajahnya, setelah banyaknya ucapan yang diabaikan oleh Khadijah. Aksara bahkan merutuki dirinya sendiri.


Mendengar penjelasan dari sang suami, tentu saja Khadijah memahami, bahkan meski belum meminta maaf dan memberikan penjelasan pun, Khadijah tahu jika Aksara tidak akan melakukan hal-hal yang di luar norma agama.


Hanya saja Khadijah pun hanya wanita biasa yang ingin pula mendapatkan penjelasan dari suaminya.


Meski perkenalan dan pernikahan mereka barulah seumur jagung namun Khadijah cukup yakin dengan bagaimana sikap dan kepribadian suami nya. Khadijah lantas tersenyum, menatap sang suami.


"Iya Mas, Khadijah Tahu"


Lembut suara Khadijah bagai air yang mengalir di tengah panasnya Padang pasir. Aksara lantas mendongakkan wajahnya, menatap Khadijah lekat, dan mencari kebenaran dari sorot mata nya.


"Hanya satu pesan Ku untuk Mas, Jaga Pandangan Mas Aksara, tidak hanya dari Marissa, namun juga dari siapa pun yang haram bagi Mas Aksa"


Aksara pun mengangguk penuh semangat, senyum bahagia terlihat jelas.di wajah nya.


***

__ADS_1


Di langit yang sama dan di tempat berbeda. Marissa tengah bersama seorang pria yang, merayakan kebahagiaan nya, karena merasa telah berhasil membuat rumah tangga Aksara berantakan.


"Chersss !!!"


Marissa dengan beberapa wanita dan pria kedapatan berada di sebuah bar yang dulu biasa dia gunakan untuk berkumpul dan party bersama teman-temannya.


Seakan tidak lagi ada beban di pikiran, Marissa berjoget di depan banyak pasang mata di hadapannya, menaiki sebuah meja dengan baju seksi yang membalut tubuh nya Marissa terlihat begitu menikmati alunan musik yang membuatnya semakin bahagia.


Dengan kondisi sedikit teler Marisa menangkap sebuah wajah yang tidak asing bagi nya tengah berjalan mendekati dan menyeret nya.


"Dasar anak tak berguna !!"


Sayup-sayup telinga Marissa kembali mendengar Omelan dari pria paruh baya yang tengah menyeretnya paksa.


Meski Marissa tidak ingin, namun kuatnya tangan sang papa, membuat Marissa terpaksa turun dari atas meja. Gelak tawa menghiasi bibir Marissa


"Pa. Harusnya papa itu urusin mama, bukan aku. Minggir !!!"


Marissa berusaha mengibaskan tangannya, melepaskan dari cengkraman sang papa.


Melihat kemarahan di wajah sang papa, bukan merasa takut, justru Marissa tertawa bahagia, hilang akal sehat dan kesadaran nya, sebab alkohol telah menguasai hati nya.


"Disini itu tempatnya anak muda pa !!, Bukan orang tua kaya papa !!"


Dengan sempoyongan Marissa kembali melontarkan ucapan nya, bahkan Marissa berani menunjuk sang papa.


"Diam kamu !!"


Murka mendengar sang putri membantah ucapan nya, bahkan Marissa sedikitpun tidak memperdulikan dan menghiraukan sang papa.


"Pa. Aku tu masih mau di sini !!!"


Marissa kembali tertawa dan mengangkat gelas yang ada di tangan nya, meneguk sisa minuman yang masih tersisa.


Sementara pria paruh baya di hadapan Marissa hanya menggelengkan kepala, dengan kepalan di tangan nya, wajah yang sudah memerah menahan amarah, sungguh membuat dia tidak tahan untuk menampar Marissa.

__ADS_1


***


__ADS_2