TAKDIR CINTA KHADIJAH

TAKDIR CINTA KHADIJAH
BAB 27. PERTEMUAN


__ADS_3

...Tidak ada hidup tanpa masalah, begitu juga tidak ada perjuangan tanpa rasa leleh. ...


...☘️...


Sudah empat puluh lima menit lamanya Aksara berkendara, namun dia tidak juga kunjung menemukan Khadijah.


Dalam kepanikannya, baru terpikirkan oleh Aksara, mengapa sebelumnya dia tidak meminta nomor ponsel Khadijah.


Entah harus berputar kemana, panik dan bingung, membuat Aksara tidak fokus dalam berkendara. Hingga Aksara memilih menepikan mobil nya. Tepat sekali saat ini Aksara berhenti di depan sebuah masjid dengan kumandang Ashar yang mulai terdengar.


Lelah tubuhnya membuat Aksara memilih untuk menyandarkan tubuh nya, menatap jauh kedepan, dan berharap semoga saja hilangnya Khadijah ini tidak sampai pada telinga keluarganya.


Tidak begitu yakin, namun dari kejauhan Aksara menyadari kesamaan gamis yang di kenakan seorang perempuan yang baru saja keluar dari masjid di samping nya. Gamis yang bisa di bilang sama persis dengan yang di kenakan Khadijah sebelum nya.


Tidak menunggu lama, Aksara meninggalkan begitu saja mobil nya, dan berlari menghampiri wanita yang tampak menjauh dari tempat nya.


Tidak ingin kehilangan jejak wanita yang Aksara anggap merupakan Khadijah. Aksara pun mempercepat langkah kaki nya, hingga semakin dekat, bahkan keduanya hanya berjarak beberapa jengkal saja, dan tidak butuh izin dari wanita di hadapan nya, Aksara memegang begitu saja pergelangan tangan nya.


"Astaghfirullah!"


Dari suara nya saja Aksara yakin jika itu Khadijah, dan benar saja setelah keduanya saling berhadapan barulah Aksara yakin jika wanita di hadapan nya benar-benar istri nya.


"Mas Aksa !" Lirih Khadijah dengan lelehan bening merembes dari sudut mata nya.


Seolah tidak lagi menghiraukan sakit hati akibat bentakan dan ucapan kasar Aksara sebelumnya, Khadijah menghambur begitu saja dalam pelukan suami nya.


Entah apa yang tengah di pikirkan Khadijah, namun yang jelas Khadijah begitu bahagia bisa kembali di pertemukan dengan suami nya.


Sementara Aksara yang masih begitu terkejut dengan Khadijah yang tiba-tiba memeluknya, hanya terdiam dan perlahan menyilangkan tangannya di belakang tubuh Khadijah.


Aksara pun dapat merasakan lelehan bening dari mata Khadijah menembus Kemeja dan menyentuh kulit dada nya.

__ADS_1


Dalam detik yang sama , Aksara paham jika Khadijah mungkin saja sedang tidak baik-baik saja. Entah mengapa, penyesalan dalam diri Aksara muncul begitu saja.


Cukup lama mereka saling berpelukan, hingga mengundang banyak pasang mata menatap kearah mereka.


Jujur saja Aksara tidak begitu nyaman dengan tatapan banyak orang di sana, namun rasa-rasanya Aksara juga tidak cukup tega, menepis tubuh Khadijah yang tengah memeluk nya.


Setelah cukup tenang, Aksara pun membawa Khadijah ke mobilnya.


Membuka Pintu samping kemudi dan membawa Khadijah masuk ke mobil nya, sementara Aksara kembali duduk di balik kemudi.


Kembali mobil melaju, memecah kebisingan dan kemacetan ibu kota, yang tentu nya saat ini merupakan waktu nya pulang kerja.


Suasana tampak canggung setelah adegan sebelumnya yang ternyata juga menciptakan rasa malu di hati Khadijah.


"Maaf Mas"


Jujur saja, setelah kembali pada mode semula, Khadijah merasa lancang telah memeluk Aksara sebelumnya, hingga permintaan maaf kembali terucap dari bibirnya.


Mendengar ucapan dan permintaan maaf Khadijah sebelumnya, Aksara lantas kembali menepikan mobil nya.


"Berikan ponsel mu !"


Entah untuk apa, namun Aksara meminta begitu saja ponsel milik Khadijah.


Namun respon lain di tunjukan Khadijah pada Aksara, Khadijah seolah bingung dan hanya menundukkan wajahnya.


"Mana !!"


Aksara kembali meminta, dengan sedikit meninggikan suara nya. Bahkan hingga Khadijah terlonjak kaget mendengar nya.


Pada akhirnya Aksara hanya melihat gelengan kepala dari Khadijah, seketika hal itu membuat Aksara bingung dengan sikap Khadijah.

__ADS_1


"Tidak jauh dari kantor Mas Aksa, Khadijah tadi di Jambret, tas dan semua yang Khadijah bawa di dalamnya mereka rampas semua"


Deg.


Terdengar lirih namun Aksara jelas masih begitu mendengar ucapan Khadijah sebelum nya.


Lagi-lagi rasa bersalah di hati Aksara semakin menjadi saja, mengingat jika mungkin saja Khadijah mengalami kesulitan akibat sikap dan ego nya. Sadar akan sikap dan tindakan yang nyatanya berlebihan, Aksara hanya bisa terdiam, jujur ingin sebetulnya mengatakan kata 'Maaf' namun ego nya meminta Aksara untuk tidak mengatakan itu pada Khadijah.


"Apa kau sudah makan ?!"


Lagi-lagi Aksara melihat gelengan kepala dari Khadijah. Gelengan kepala yang seolah memperlihatkan betapa kejam dirinya sehingga membuat wanita seperti Khadijah tidak berdaya akan sikap dirinya.


Tidak ingin membuang waktu sia-sia, Aksara kembali mengemudikan mobilnya, memecah padatnya jalanan dengan banyak sepeda motor di samping kiri dan kanan nya.


Entah kemana tujuan Aksara membawa Khadijah, yang jelas untuk saat ini Khadijah memilih untuk menurut saja.


Nyatanya 3 bulan sempat tinggal dan hidup di ibukota tidak lantas membuat Khadijah hafal dan familiar dengan susana kota Jakarta, karena saat itu dirinya yang memang tinggal di asrama dan hanya bergelut dengan pasien covid saja, untuk keluar masuk rumah sakit pun Khadiah diantar dan di jemput kembali oleh pihak kampus.


Tidak butuh waktu lama, hingga Aksara kembali memberhentikan dan memarkir kan mobilnya di depan sebuah restoran.


"Turun !"


Dingin suara Aksara memberikan instruksi pada Khadijah. Meski tidak begitu menyukai sikap kasar suami nya, namun Khadijah memilih untuk menurut saja.


Toh Aksara sudah berbaik hati mencari dan mengajaknya kesini. 'pikir Khadijah dalam hati'


Keduanya duduk di sebuah meja khusus, yang berada dalam satu ruang, tidak ada orang lain, hanya mereka berdua saja. Dan Khadijah kembali merasakan canggung tatkala hanya bersama Aksara.


Jujur saja Aksara mungkin memang telah menjadi suami nya, namun sikap dan penolakan Aksara, membuat Khadijah juga merasa sungkan ketika berhadapan dengannya, bukan apa-apa hanya saja Khadijah takut jika sikap dan perbuatanya justru membuat Aksara tidak nyaman pada nya.


Cukup tahu diri dan sadar posisi, terlebih terhadap pernikahan yang sejatinya hanya dianggap sebuah keterpaksaan saja, meski Khadijah tidak pernah menganggap demikian. Namun mungkin saja Aksara menganggapnya begitu.

__ADS_1


***


__ADS_2