
...Jangan heran jika Ekspektasi tidak seindah kenyataan. Sebab ini dunia nyata bukan dunia Khayalan. ...
...☘️...
Khadijah harus kembali menghela dalam nafas nya, mengingat kombinasi angka di tiket penerbangan nya dengan Dirga berurutan. Itu artinya juga jika Khadijah akan duduk di sebelah Dirga.
Entah sengaja atau tidak, namun memang tiket yang Khadijah terima merupakan pemberian Bu Gita. tidak menutup kemungkinan, Jika tiket milik Dirga juga merupakan pemberian mertua nya.
Tidak ingin bergulat dengan pikiran buruknya, Khadijah memutuskan untuk menerima dan menganggap jika mungkin saja Dirga memang datang karena di minta oleh mertua nya, menjaga Khadijah dalam perjalanan dan memastikan dia selamat hingga tujuan, 'pikir Khadijah pada akhirnya'.
Jika tidak ada kendala ataupun masalah lainya, kurang dari 1 jam Khadijah akan tiba di bandara tujuan 'Bandara Juanda Surabaya'.
Jujur Khadijah sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Abah dan Umi Amina.
Ini merupakan pertemuan pertama Khadijah setelah dirinya menyandang status istri. Berkunjung dan menemui Abah serta Umi Amina, meski tanpa Aksara suami nya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan ?"
Mendengar suara Dirga, Khadijah pun sadar jika dia telah mengabaikan laki-laki di sampingnya sejak tadi.
"Tidak, Aku hanya memikirkan Abah"
Mendengar jawaban Khadijah, Dirga pun hanya menganggukkan kepala saja.
Dirga tahu jika sangat sulit bagi nya untuk bisa merebut khadijah dari kakak nya, sebab wanita seperti dia tidak akan dengan mudah begitu saja memberikan hatinya pada seorang pria.
"Apa kamu bahagia ?"
Mendengar pertanyaan Dirga, sekilas Khadijah menatap wajah adik ipar nya, adik ipar yang juga tentu usia nya lebih tua dari nya.
Anggukan kepala menjadi jawaban Khadijah atas pertanyaan Dirga sebelumnya. Karena tidak mungkin bagi Khadijah mengatakan jika dia tidak bahagia, hal itu sama saja mengorek aib keluarga nya.
Keluarga yang baru saja dia bina dengan Aksara. Bahkan usia nya saja masih sangat muda.
"Alhamdulillah" jawab Khadijah.
"Syukur lah". Dirga terlihat mengangkat sudut bibirnya.
Suasana terasa canggung, hingga Khadijah hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Kamu tidak perlu cemas, aku hanya akan mengantarkan sampai Surabaya saja"
__ADS_1
Mendengar penuturan Dirga, jujur saja Khadijah merasa lega, sebab dia tidak mungkin begitu saja mengusir Dirga.
"Baik. Terima kasih"
Jujur saja Khadijah tidak mungkin membawa Dirga pulang kerumah Abah nya, sementara mereka tentu sudah cukup dewasa untuk tidak hanya berdua, sementara Khadijah telah berstatus sebagai Kakak ipar nya.
***
Keduanya telah tiba di bandara tujuan mereka, meski tanpa kata, namun Dirga selalu sigap untuk membantu Khadijah.
"Aku bisa sendiri"
"Biar Aku saja !"
Khadijah mencoba meraih kembali koper dari tangan Dirga, sebab dia tidak ingin merepotkan adik iparnya, jujur saja Khadijah merasa sungkan karena Dirga selalu membuatnya tidak nyaman atas semua perlakuan yang dia berikan.
Bukan tidak suka, hanya saja Khadijah juga manusia biasa , dan dia juga wanita biasa yang tidak memiliki kelebihan apa-apa, sementara kodrat wanita akan merasa nyaman ketika selalu di perhatikan.
Khadijah hanya takut jika kenyamanan yang Dirga berikan, justru akan menjadi bumerang dan akan membuatnya terlena pada sosok adik iparnya.
Keduanya telah berada di bagian luar bandara, Khadijah tampak celingukan mencari seseorang yang sebelumnya telah dia hubungi.
Sebuah suara terdengar dari kejauhan, Khadijah pun lantas menajamkan penglihatannya, dan benar saja di sana ada sosok Azis Kakak nya, tengah melambaikan tangan dan menunggu dirinya.
"Terima kasih sudah mengantarkan ku"
"Cukup sampai di sini saja"
"Assalamualaikum"
Dengan sopan Khadijah berpamitan, kemudian berlalu meninggalkan Dirga yang belum sempat menjawab salam darinya.
***
Khadijah baru saja keluar dari ruang ICU tempat dimana Abah Hasim berada.
Meski beberapa saat menemani sang Abah, namun tidak banyak yang bisa khadijah ucapkan, sebab Abah masih perlu banyak menjaga dirinya, mengurangi interaksi dengan orang lain.
Selain itu juga di ruangan tersebut, banyak petugas medis yang mengawasi mereka, sehingga tidak banyak obrolan yang khadijah katakan pada Abah.
Namun meski begitu Khadijah Masih bisa menemani Abah dari balik jendela kaca pembatas ruangan disana.
__ADS_1
"Kamu apa kabar Nduk ?"
Ucap Umi Amina memecah kesunyian diantara mereka. Khadijah pun lantas mengulas senyum di wajahnya.
"Alhamdulillah Umi, Dijah baik"
Mendengar jawaban Khadijah tentu sebagai orang tua Umi Amina merasa lega.
"Mertua Dijah juga baik Umi, mereka sangat sayang dengan Dijah"
Meski tidak di tanya namun entah mengapa Khadijah sangat ingin bercerita tentang mertua nya pada Umi Amina.
Khadijah sempat berfikir jika mungkin saja Umi juga beranggapan, jika mertua merupakan indikator kebahagiaan seorang istri. Dan Khadijah ingin menjelaskan pada umi bahwa kedua mertua Khadijah sangat baik pada nya.
"Ohya bagaimana kabar suamimu Nduk ?"
"Alhamdulillah Umi Mas Aksa juga baik-baik saja"
"Suami mu nggak di ajak Nduk ?"
Deg.
Khadijah lantas tersenyum mendengar pertanyaan umi Amina. Bukan Khadijah tidak mengajak Aksara, hanya saja mungkin suaminya itu memang tidak ingin ikut. 'Pikir Khadijah'
"Mas Aksa sedang banyak pekerjaan Umi"
Apa pun sebab sesungguhnya Aksara tidak ingin ikut bersama Khadijah, hal itu tidak lantas membuat nya mengatakan jika Aksara tidak mau mengantarkan diri nya.
Jawab Khadijah tidak lantas membuat Umi Amina kembali bertanya soal Aksara, sebab Umi sendiri juga merupakan saksi bahwa Aksara menikahi keponakan nya hanya karena alasan Abah yang meminta.
Melihat perubahan di wajah Khadijah, umi paham jika keponakanya tidak ingin membicarakan persoalan rumah tangga terlebih suami nya.
"Beberapa hari ini kondisi Abah mulai membaik, kata dokter bisa segera di pindah ke ruang perawatan "
Mendengar penuturan Umi Amina, Khadijah pun tampak lega.
"Alhamdulillah Umi, semoga saja"
Keduanya lantas kembali bercerita tentang banyak hal yang beberapa hari ini ingin Khadijah ceritakan pada Umi Amina.
***
__ADS_1