
...Jangan pernah katakan Merindu, Jika kau tak pernah mau mengusahakan untuk bertemu, karena itu namanya hanya rindu palsu....
...☘️...
Belum juga sarapan usai, terdengar dering telepon yang seketika, memecah keheningan di antara mereka.
Tatapan semua orang tampaknya tertuju pada Azis yang duduk di samping Umi Amina. Dan benar saja, handphone milik nya lah yang sedari di berbunyi dan berusaha menyambungkan panggilan pada nya.
"Angkat saja dulu Zis, siapa tahu penting" Ujar umi Amina
Sebelumnya Azis sedikit ragu untuk mengangkat panggilan telepon nya, sebab ada Aksara di sana yang mungkin saja hal itu akan mengganggu nya, namun mendengar ucapan Umi Amina, Azis merasa ada benarnya juga.
"Abah, Umi, Pak Aksa, Pak Dion saya permisi" Ucap Azis pada akhirnya.
Dan anggukan kepala menjadi jawaban Aksara atas ucapan Azis sebelumnya.
Aksara dan yang lainnya pun kembali melanjutkan sarapan yang sebelumnya tertunda.
Tidak berselang lama dari kepergian Azis sebelumnya, Azis telah kembali dengan raut wajah yang berbeda. Kebahagiaan jelas mendominasi wajah Azis saat ini, dan Aksara pun dapat dengan jelas melihatnya.
Entah kebahagiaan apa, namun Aziz menghambur begitu saja pada kedua orang tuanya. Sontak hal itu pun juga membuat Abah dan Umi Amina bingung dengan sikap putra sulung nya.
"Ada apa ?"
Abah lantas bertanya. Melihat raut bahagia di wajah putranya, tentu Abah merasa penasaran akan sebab dari kebahagiaan Azis tersebut.
"Abah dan Umi pasti tidak percaya" dengan binar bahagia Azis mengatakan hal itu pada orang tua nya. Namun ucapan yang baru setengahnya, tentu semakin membuat Abah dan Umi bingung dengan maksud ucapan Aziz sebelumnya.
Tidak hanya Abah dan Umi, namun tampak nya Dion juga ikut menjadi pengamat, apa yang akan Azis sampaikan pada Orang tua nya. Hanya Aksara saja yang tampak biasa saja dan memilih untuk kembali menikmati sarapannya.
Aziz pun lantas menceritakan jika panggilan sebelum nya merupakan seseorang dari Jakarta, yang mengatakan bersedia untuk membayar rumah yang dia tawarkan, tidak tanggung-tanggung harga yang dia berikan, bahkan bisa di bilang lima kali lipat dari harga yang Azis tawarkan.
__ADS_1
Azis berpikir dengan uang itu tentu akan cukup untuk mengganti kerugian Aksara yang di sebabkan karena ulah nya.
Namun mendengar cerita putranya, bukan bahagia justru Abah dan Umi merasa bingung. Sebab dirasa ada yang tidak masuk akal dengan cerita putranya.
"Zis, kamu itu harus hati-hati, belajar dari pengalaman, Jangan gampang-gampang mau dibohongi orang"
Umi Aminah pun lantas menasehati Sang putra, agar tidak memikirkan tawaran dari telepon sebelumnya, karena bisa jadi hal itu hanya akal-akalan, atau penipu yang mencoba mencari peluang dari masalah yang tengah dihadapi keluarganya.
Mendengar ucapan Umi Aminah, Aziz pun menyadari mungkin saja ada benarnya, apa yang dikatakan Umi padanya, karena jika dipikir kembali rasanya tidak mungkin ada orang yang ingin membayar dengan harga tinggi, sementara rumah tersebut hanya berada di wilayah kabupaten kota saja, bukan di kota besar seperti Surabaya, 'pikir Azis'.
Belum juga satu menit ucapan umi Amina, Azis mendapatkan pesan singkat melalui WhatsApp miliknya.
Dua bola mata Aziz terbelalak sempurna, melihat Nominal angka pada bukti transfer yang tidak main-main jumlahnya.
Bahkan Azis berusaha mengurai debaran di jantung nya, dan ketegangan di wajahnya, sebab Apa yang dia lihat rasanya tidak masuk akal dalam pikirannya.
Tidak ada kata yang bisa Azis ucapkan, hanya bukti transfer sebelumnya yang bisa Azis diperlihatkan pada Abah dan Umi Amina.
Tanpa pikir panjang Azis pun segera memastikan semua memalui internet banking miliknya, sekedar untuk memastikan Apakah bukti transfer yang dikirim kepadanya merupakan sesuatu yang jelas dan nyata, bukan merupakan akal-akalan dari penipu saja, 'pikir Azis', seperti ucapan umi Amina sebelum nya'.
Namun alangkah terkejutnya Azis tatkala mendapati saldo di rekening nya bertambah sesuai jumlah transfer sebelum nya.
Meski nominal uang, belum mencakup seluruh harga yang disebutkan dalam telepon sebelumnya, namun dari bukti transfer tersebut, Azis yakin, jika sosok yang sebelumnya menghubungi, bukanlah seorang penipu, seperti dugaannya.
Tanpa pikir panjang, Azis pun kembali memperlihatkan layar ponselnya pada Abi dan Umi Amina. Respon yang sama ditunjukkan oleh keduanya, Abi dan Umi sama terkejutnya dengan Azis yang melihat betapa besar Nominal uang yang masuk ke dalam rekening Sang putra.
Keduanya tampak bingung, hingga tidak ada lagi ucapan yang keluar dari mulutnya, Abi dan Umi hanya Saling pandang dengan rasa tidak percaya yang masih terus menghantui hati mereka.
"Maaf apa saya sudah selesai saya permisi" ucap Aksara dengan beranjak dari duduknya .
"Oh iya Nak Aksa"
__ADS_1
Cukup lama Abah Hasyim menjawab ucapan Aksara, sebab kebingungan dan rasa tidak percaya masih terus menguasai pikirannya, hingga tanpa sadar dia pun mengabaikan Aksara begitu saja.
Melihat Aksara yang pergi meninggalkan meja makan, Dion pun memilih untuk melakukan hal yang sama, sebab dirinya juga telah selesai dengan semua urusannya.
Setelah kepergian Aksara dan Dion, tampaknya Abah, Umi dan Azis masih terus memikirkan tentang siapa sosok yang telah memberi solusi atas semua masalah yang tengah di hadapi.
***
Setelah dari meja makan sebelum nya, Aksara tampak berbeda dari sebelum nya, dan hal itu membuat Dion tidak ingin mengganggu nya, Dion memilih untuk mengekor dan diam berjalan di belakang Aksara.
Sebelum sampai di kamarnya, Aksara menghentikan langkahnya, dan berbalik pada asisten pribadinya.
"Siapkan penerbangan kita sore ini, aku ingin kembali ke Jakarta hari ini juga !"
Ucapan bernada perintah dari Aksara yang tiba-tiba, tentu membuat Dion merasa bingung, kemarin mereka datang dan hari ini Aksara meminta untuk pulang.
Menyadari hal itu, Dion pun hanya menggelengkan kepala, dan menghembuskan nafas kasarnya, sebab tidak mungkin pula dia menolak keinginan Aksara.
"Baik Pak " ucap Dion dengan menganggukkan kepalanya.
Mendengar hal itu, Aksara pun berbalik dan kembali Mengayunkan kakinya.
"Oh ya Pak, bagaimana dengan Bu Khadijah apa Saya perlu menyiapkan tiket untuk Beliau juga ?"
Mendengar pertanyaan Dian tentu aksara kembali menghentikan langkahnya. Sementara Dion yang tidak ingin salah instruksi, lebih baik menanyakan hal itu pada Aksara sebelum Dion mempersiapkan kepulangan mereka.
"Terserah !. kau tanyakan saja pada dia"
Mendengar ucapan Aksara, Dion pun membulatkan kedua bola matanya, bahkan bisa dibilang hampir keluar dari kelopak matanya, Dion hanya berfikir bukankah Aksara suaminya, kenapa tidak dia saja yang tanya, mengapa harus Dion 'Pikirnya bertanya-tanya'.
'Ah..sudahlah' Gumam Dion dengan kembali menghembuskan nafas kasarnya.
__ADS_1
***