
...Tidak semua bisa di jelaskan, tidak semua bisa di ungkapkan. Karena Beberapa hal cuma bisa di lewati sendirian....
...☘️...
Waktu menunjukkan pukul 09.13.
Masih begitu pagi, namun Mentari sudah terasa begitu terik menyapa ibukota. Sama halnya dengan Khadijah yang saat ini merasa sedikit gerah dengan kehadiran Marissa.
Namun bagaimana bentuknya, dan apapun tujuannya, tetap saja Khadijah harus menghormati tamunya, selama tamu tersebut tidak bertindak kelewatan pada dirinya ataupun Aksara.
"Jika memang itu tujuanmu aku akan mencarikan Hotel untukmu, tinggal saja di sana semau mu"
Terdengar tegas dan jelas Aksara menolak permintaan Marissa, Aksara sendiri tahu jika sejak kedatangan dirinya bersama Marissa, Khadijah sedikit menampakan mimik wajah yang tidak suka, dan Aksara menyadari hal itu tentu nya.
Tidak hanya karena alasan Khadijah saja, jujur Aksara pun juga tidak begitu menyukai kehadiran Marissa, Marissa memang pernah menjadi wanita yang sangat dan begitu dia cinta, namun saat ini rasa-rasanya semua sudah berbeda.
Sedikit demi sedikit Aksara menyadari hadirnya sosok Khadijah di hatinya, meski belum sepenuhnya Khadijah mengisi renung hatinya,namun Aksara mulai merasakan dia perlu dan harus untuk melindungi istrinya.
"Tapi Aksa !. Kamu tahu sendiri kan aku buta soal Jakarta" Mohon Marissa pada Aksara.
Menyadari hal itu, Aksara pun sekilas menatap Khadijah, dan Khadijah sendiri hanya terdiam, jujur dia tidak memiliki jawaban ataupun kalimat untuk disampaikan.
"Aku mohon, Tidak ada orang lain bisa membantuku kecuali kamu"
Marissa menautkan kedua tangannya di dada, berharap belas kasihan dari pria yang sudah bersuami, sangat memalukan sebenarnya, namun Khadijah memilih untuk diam, selama situasi masih terkendali.
"Maaf. Tapi aku tetap tidak bisa !!" Tegas Aksara
"Apartemen ini bukan penampungan yang bisa kapan saja kamu jadikan tempat pelarian !!"
Tidak di sangka jika Aksara akan benar-benar tegas menolak Marissa, mendengar ucapan Aksara, tentu saja sudut hati Khadijah menghangat seketika. Entah mengapa Khadijah merasa seolah Aksara tengah melindungi diri nya.
"Tapi Aksa !!. Please!!"
Marissa masih tetap kekeh dengan usaha nya, berharap jika Aksara akan merubah keputusan nya.
__ADS_1
"Maaf ya mba bukan kami tidak mau, hanya saja di apartemen ini hanya ada satu kamar, itu sebabnya Mbak Marisa tidak bisa menginap di sini" Ujar Khadijah menimpali.
Mendengar ucapan Khadijah agak nya Marissa begitu tidak suka.
"Benarkah ? Setahuku dulu Apartemen ini memiliki dua kamar"
Jelas Marissa tahu di apartemen tersebut ada dua kamar , sebab dulu Dia juga sering ke apartemen itu. Mendengar ucapan Marissa, Khadijah pun lantas mengulas senyum di wajah cantik nya.
"Jika tidak percaya Mbak Marissa bisa lihat sendiri saja, di sebelah sana ada kamar ku dan Mas Aksa, dan di sebelahnya itu gudang"
Tunjuk Khadijah pada dua buah ruangan di belakang mereka, yang memang di sana ada dua buah ruangan satu kamar Khadijah sebelumnya, dan yang satu lagi merupakan kamar yang beralih fungsi menjadi gudang Aksara.
Khadijah begitu menegaskan kamar miliknya dan Aksara, seolah memang tidak akan ada orang lain yang bisa menginap di rumahnya.
"Aku mohon, hanya sampai besok saja, aku janji setelah itu aku akan pergi"
"Aku baru saja kehilangan kedua orang tua ku, Apa kalian tega menelantarkan ku ?"
"Aku mohon, tidak akan lama, hanya sampai aku mendapatkan tempat tinggal saja"
Marissa kembali memohon pada Aksara, namun kali ini dia juga terlihat begitu memelas pada Khadijah. Dan sepertinya usaha Marissa berhasil, sebab Khadijah tidak akan pernah tega melihat wanita yang tidak berdaya.
Berbeda dengan Khadijah yang merasa iba, justru Aksara masih pada pendirian nya, tegas dan tidak ingin lagi berurusan dengan Marissa.
Khadijah pun lantas menatap suaminya, setelah panjang lebar mendengar cerita dari Marissa, jujur saja Khadijah tidak tega, dan untuk mengizinkan Marissa tinggal di sana, tentu Khadijah membutuhkan izin dari suami nya.
Aksara yang paham dengan kode dari Khadijah, lantas kembali membuka suara nya. sebelum itu Aksara terlihat membenarkan posisi duduk nya.
"Baiklah jika kamu memaksa" Aksara lantas membuka suara nya.
Sejujurnya Khadijah memang tidak tega, namun mendengar ucapan Aksara agaknya Khadijah kembali merasa tidak suka. Namun Khadijah pun tidak dapat berbuat banyak, sebab sesama wanita tentu dia tidak akan sampai hati untuk membiarkan Marissa terlunta-lunta.
"Tapi pilihannya hanya ada dua, tidur di gudang atau di sofa, itu saja !! karena kami tidak memiliki tempat lainnya"
Marissa pun membulatkan kedua bola matanya, mendengar ucapan Aksara yang nyatanya di luar dugaannya.
__ADS_1
Sementara Marisa masih begitu terkejut dengan ucapan Aksara, Khadijah justru ingin sekali tertawa, sebab melihat ekspresi Marissa yang sangat lucu tentu nya.
Marissa pun hanya bisa mendengus kesal, tidak banyak yang bisa dia lakukan, karena memang tidak ada pilihan selain menerima tawaran Aksara. Untuk meraih kembali sesuatu yang dia inginkan tentulah Marissa harus lebih berusaha, 'begitu pikirnya'.
Setelah cukup lama terdiam, Khadijah melihat sudut bibir Marissa seketika terangkat ke atas, entah rencana apa yang tengah dipikirkan dalam otaknya, namun saat ini Marisa terlihat bahagia.
"Baiklah tidak papa, aku bisa tidur di mana saja"
Mendengar ucapan Marissa, Khadijah dan Aksara pun saling bertatapan, jujur mereka tidak menyangka jika Marissa akan menerima tawaran Aksara.
"Sayang. Kamu antar dia ke kamar nya ya" ucap Aksara
Mendengar panggilan 'sayang' dari Aksara, Khadijah pun sempat gugup seketika. Namun meski begitu dia bahagia, sebab Aksara menunjukkan kepemilikan atas dirinya di hadapan Marissa.
"Iya Mas" Jawab Khadijah dengan sedikit manja.
Tidak ingin terlibat perbincangan lebih lama, Khadijah pun memilih untuk membawa Marissa ke kamar nya.
"Mari Mba saya antar ke kamar"
Mendengar ucapan Khadijah tentu saja wajah Marissa berubah seketika, pasalnya tentu Marissa masih ingin berlama-lama dengan Aksara, sekedar mengobrol dan menanyakan banyak hal pada Aksara.
Namun agak nya Khadijah memang tidak sedikitpun memberi celah, namun tidak masalah, sebab Marissa juga bukan orang yang mudah menyerah.
Khadijah berjalan duluan, disusul Marissa yang mengekor di belakang nya. Tidak butuh waktu lama, Khadijah telah berdiri di depan sebuah pintu ruangan, yang dia sendiri juga belum sempat membuka nya, sejak semalam Aksara mengatakan itu merupakan gudang penyimpanan barang-barang bekas nya.
Ceklek.
Tidak salah yang di katakan Aksara, meski terdapat tempat tidur namun tetap saja ,disana banyak barang-barang Aksara yang sudah tidak terpakai, seperti alat-alat fitness dan kardus-kardus entah bekas apa.
Namun meski ada beberapa barang tidak terpakai , kamar tersebut terlihat masih bisa di tempati.
"Jika ingin membersihkan mba Bisa gunakan Vakum di pojok sana" tunjuk Khadijah pada sebuah ruangan kecil yang berfungsi untuk menyimpan alat-alat pembersih.
Setelah mengatakan itu, Khadijah lantas tersenyum dan segera berlalu meninggalkan Marissa.
__ADS_1
Sudah jangan di tanya bagaimana respon Marissa, tentu wanita tersebut sangat murka.
***